Di dunia di mana Peringkat Bakat adalah hukum tertinggi, Lu Chen hanyalah sebutir debu. Saat Upacara Penentuan Takdir, dia dipermalukan di depan seluruh sekte karena hanya memiliki bakat F-Rank dengan afinitas spiritual nol. Dunia mencapnya sebagai sampah, namun mereka tidak tahu bahwa Lu Chen menyembunyikan sistem SSS+ "Omnipotence Mask" yang mampu menutupi keberadaan aslinya dari mata dewa sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: IDENTITAS YANG TERBAKAR
Udara di koridor menuju bagian dalam Makam Naga terasa kian menipis, digantikan oleh aroma debu kuno yang telah mengendap selama ribuan tahun. Namun, sebelum mereka melangkah lebih jauh ke dalam rahim kegelapan itu, Lu Chen berhenti di sebuah ceruk batu yang terlindung dari embusan angin luar.
Dia menunduk, menatap pakaian yang melekat di tubuhnya. Jubah abu-abu kusam yang sudah robek di sana-sini, ternoda oleh percikan darah kering dan jelaga dari pertempuran di Gerbang Naga. Jubah ini bukan sekadar kain. Bagi Lu Chen, jubah ini adalah kulit kedua yang memuakkan—sebuah seragam budak, tanda pengenal bagi "Pelayan F-Rank" yang selama bertahun-tahun harus menundukkan kepala dan menelan ludah setiap kali dihina.
Jemarinya yang kasar meraba kain kasar itu. Dia teringat bagaimana rasanya diseret di lantai aula karena tidak cukup cepat membawakan teh, atau bagaimana dinginnya malam saat dia hanya memiliki kain tipis ini untuk menahan gigilan.
"Sesuatu yang membusuk harus dipangkas agar tunas baru bisa tumbuh," gumam Lu Chen pelan.
Yue Bing berdiri tak jauh darinya, memperhatikan dalam diam. Dia melihat bagaimana tangan Lu Chen bergerak ke kerah jubahnya. Dengan satu sentakan kuat yang penuh emosi, Lu Chen merobek kain itu. Bunyi kain yang terbelah menggema di sunyinya lorong, terdengar seperti suara rantai yang putus.
Satu demi satu, potongan jubah abu-abu itu jatuh ke lantai batu yang dingin. Lu Chen kini berdiri dengan bertelanjang dada, memperlihatkan tubuhnya yang ramping namun padat dengan otot-otot hasil latihan keras yang tersembunyi selama ini. Di punggungnya, samar-samar terlihat gurat merah yang bercahaya redup, tanda sinkronisasi sistem yang mulai menyatu dengan sarafnya.
Ignis, yang seolah mengerti suasana batin tuannya, terbang rendah. Naga kecil itu mendarat di atas tumpukan kain abu-abu di lantai. Mata reptilnya yang cerdas menatap Lu Chen, menunggu perintah.
"Bakar, Ignis. Jangan sisakan satu benang pun," perintah Lu Chen dingin.
Ignis membuka mulutnya kecil, dan sebuah percikan api biru keluar. Dalam sekejap, api itu melahap kain kusam tersebut. Api biru itu tidak meledak, melainkan merambat dengan tenang, memakan setiap serat identitas lama Lu Chen. Asap hitam membubung, membawa pergi kenangan tentang penghinaan, tentang rasa lapar, dan tentang pemuda lemah yang selalu dianggap sampah.
Lu Chen menatap api itu dengan tatapan yang kosong namun tajam. Cahaya biru memantul di pupil matanya yang kini sepenuhnya berwarna emas. Dalam pantulan api itu, dia seolah melihat sosok Lu Chen yang lama—pemuda yang penuh ketakutan—perlahan-lahan ikut hangus dan menjadi abu.
"Lu Chen yang lama sudah mati di depan Gerbang Naga," ucapnya, suaranya kini terdengar lebih berat, memiliki resonansi yang menggetarkan udara di sekitarnya. "Siapa pun yang mencarinya hanya akan menemukan kuburan tanpa nama."
Yue Bing mendekat, membawa sebuah gulungan kain hitam pekat yang ia ambil dari tas penyimpanan yang mereka jarah dari salah satu tetua. Itu adalah jubah berbahan sutra langit, hitam kelam dengan sulaman perak tipis di bagian pinggirnya yang menyerupai sisik naga. Kain itu terasa dingin dan licin, seolah-olah ditenun dari bayangan itu sendiri.
Yue Bing membantu menyampirkan jubah itu ke bahu Lu Chen. Saat jemari gadis itu bersentuhan dengan kulit punggung Lu Chen yang panas, ada jeda sesaat. Napas Yue Bing tertahan. Dia bisa merasakan aura yang menguar dari tubuh Lu Chen bukan lagi aura seorang manusia biasa. Ada sesuatu yang purba, sesuatu yang agung sekaligus mengerikan di sana.
"Kau terlihat... berbeda, Lu Chen," bisik Yue Bing sambil merapikan kerah jubah hitam itu.
Lu Chen mengikat tali jubahnya, membiarkan kain hitam itu menjuntai hingga ke mata kakinya. Penampilannya kini berubah total. Dengan rambut hitam yang berantakan tertiup angin gua dan jubah gelap yang seolah menyerap cahaya, dia tampak seperti pangeran dari kegelapan yang baru saja bangkit dari tidurnya.
"Dunia ini hanya menghargai apa yang mereka lihat," Lu Chen mengepalkan tangannya, merasakan aliran energi yang lebih stabil setelah dia melepaskan beban psikologis dari jubah lamanya. "Jika mereka ingin melihat monster, aku akan memberi mereka monster yang tidak akan pernah bisa mereka lupakan."
Dia melangkah melewati sisa abu yang masih membara di lantai. Abu itu terinjak oleh sepatunya, hancur menjadi debu halus yang tersapu angin. Identitas pelayan itu telah benar-benar lenyap, terbakar habis dalam api biru yang tak menyisakan jejak.
Namun, tepat saat mereka bersiap melanjutkan langkah, tanah di bawah mereka bergetar hebat. Suara raungan yang bukan berasal dari hewan ataupun manusia terdengar dari kedalaman makam. Itu adalah suara logam yang bergesekan, suara ribuan tahun kesepian yang meledak.
Ignis tiba-tiba terbang berputar-putar dengan panik, bulu kuduknya berdiri. Layar sistem di depan mata Lu Chen berkedip merah terang, lebih terang dari sebelumnya.
[Peringatan! Entitas Kuno Terdeteksi: Penjaga Segel Jantung Naga Telah Terbangun.]
[Status: Tidak Terhindarkan.]
Lu Chen menatap lorong di depan mereka yang tiba-tiba diterangi oleh cahaya merah darah yang merayap dari arah bawah. Dia menarik napas dalam, merasakan berat jubah barunya yang seolah memberinya kekuatan tambahan. Tidak ada lagi jalan kembali. Penyamarannya telah terbakar, dan sekarang, ujian sesungguhnya untuk membuktikan apakah dia pantas menjadi "Sang Penjinak" dimulai.
"Yue Bing, tetap di belakangku," Lu Chen menghunus pedang hitamnya yang baru, matanya terpaku pada sosok raksasa berbaju zirah karat yang mulai muncul dari balik kegelapan lorong, menyeret sebuah kapak raksasa yang memercikkan api ke lantai batu.
Langkah kaki raksasa itu membuat dinding makam retak, dan untuk pertama kalinya sejak masuk ke tempat ini, Lu Chen merasakan tekanan spiritual yang begitu kuat hingga membuat lututnya hampir goyah. Sang Penjaga telah bangun, dan ia tidak senang ada orang asing yang membakar masa lalu di rumah kematian ini.
aku mau mengajak kalian untuk berpetualang ke dunia yang baru aja aku buat. di tunggu kedatangannya ya.
terkhusus untuk Autor. semangat ya.💪