NovelToon NovelToon
Gelang Giok Pembawa Rezeki

Gelang Giok Pembawa Rezeki

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Romantis / Budidaya dan Peningkatan / Mengubah Takdir / CEO / Ruang Ajaib
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

"Lin Suyin mewarisi gelang giok dari neneknya—sebuah portal menuju dimensi ajaib tempat waktu berjalan 10x lebih cepat dan semua tanaman tumbuh sempurna. Tapi keajaiban ini membawa bahaya: ada yang memburu gelang tersebut. Bersama Xiao Zhen, CEO misterius dengan rahasia masa lalu, Suyin harus melindungi ruang ajaibnya sambil mengungkap konspirasi kuno yang menghubungkan keluarganya dengan dunia kultivator."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Keajaiban Pertama

TRING! TRING! TRING!

Suyin terbangun dengan jantung berdebar kencang. Alarm ponselnya berbunyi nyaring—sudah satu jam berlalu. Ia langsung duduk, menggapai ponsel dan mematikan alarm dengan tangan gemetar.

Satu jam. Berarti di dalam ruang dimensi sudah berlalu sepuluh jam. Apakah biji tomat yang ditanamnya sudah tumbuh?

Suyin melompat dari sofa, hampir tersandung kakinya sendiri karena terlalu bersemangat. Ia duduk bersila di lantai, menarik napas dalam untuk menenangkan diri. Fokus. Harus fokus.

Menutup mata, menyentuh gelang, membayangkan taman...

WUSH!

Kali ini Suyin sudah lebih siap. Ia mendarat dengan satu lutut di rumput, tidak jatuh seperti sebelumnya. "Yes! Makin jago," ucapnya bangga pada diri sendiri.

Tapi semua kebanggaan itu langsung terlupakan saat ia mendongak dan melihat area yang tadi ditanami.

"Tidak... mungkin..."

Suyin berdiri dengan kaki gemetar, berjalan perlahan mendekati sudut taman yang tadi masih berupa tanah kosong. Mulutnya menganga, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Lima batang tanaman tomat sudah setinggi lututnya!

Daun-daun hijau segar tumbuh subur di setiap batang. Batangnya kokoh, tegak, jauh lebih sehat dari tanaman tomat mana pun yang pernah dilihat Suyin—bahkan dibanding yang dijual di toko tanaman mahal sekalipun.

"Sepuluh jam... dan sudah sebesar ini?" Suyin berlutut di samping tanaman, menyentuh daun dengan lembut. Teksturnya sempurna—tidak ada lubang bekas dimakan ulat, tidak ada bercak penyakit, hijau merata dengan urat daun yang jelas.

Ia memeriksa tanah di sekitar akar. Masih lembap—seperti baru disiram padahal sudah sepuluh jam. Tanah ini benar-benar ajaib. Atau mungkin karena air dari mata air itu?

Suyin berdiri, berlari ke mata air, meraup air lagi dengan tangan dan berlari kembali menyiram kelima tanaman tomat. Air yang dingin menyerap sempurna ke dalam tanah.

"Oke, kalau sepuluh jam bisa sebesar ini..." Suyin menghitung dalam hati. "Berarti dalam beberapa hari—waktu dunia nyata—tanaman ini mungkin sudah berbuah?"

Jantungnya berdebar keras. Ini gila. Ini benar-benar gila dan luar biasa.

Tapi Suyin tidak mau terlalu berharap. Bagaimana kalau tanaman ini mati tiba-tiba? Bagaimana kalau ruang dimensi ini menghilang besok? Bagaimana kalau semua ini cuma keberuntungan sementara?

"Jangan overthinking, Suyin," ucapnya sambil menepuk pipi sendiri. "Nikmati saja dulu. Lihat apa yang terjadi."

Ia memutuskan untuk tidak langsung keluar. Suyin berjalan-jalan di sekitar ruang dimensi, mengeksplorasi setiap sudut. Ukuran ruang ini memang tidak terlalu besar—sekitar dua hektar kalau ia perkirakan. Sebagian besar masih tanah kosong yang menunggu dimanfaatkan.

Di dekat mata air, ada beberapa bebatuan besar yang membentuk formasi alami. Suyin duduk di salah satu batu, menatap air jernih yang terus mengalir.

"Air ini pasti punya khasiat khusus," gumamnya. Ia meraup lagi dan minum. Setiap kali minum, tubuhnya terasa semakin segar. Bahkan lelah karena kurang tidur beberapa hari terakhir langsung hilang.

Mata Suyin tertuju pada pantulan wajahnya di permukaan air. Kulitnya benar-benar terlihat lebih cerah. Kantung mata yang biasanya menghitam karena sering lembur di kantor desain interior tempat ia bekerja—hampir tidak terlihat lagi.

"Kalau air ini bisa diminum setiap hari..." bisiknya, ide mulai berputar di kepala. Tapi ia menggeleng. Satu-satu dulu. Fokus ke tanaman tomat dulu.

Setelah puas menjelajah, Suyin memutuskan keluar. Ia fokus, membayangkan apartemen—

Dan kembali mendarat di lantai ruang tamu. Kali ini lebih mulus, hanya tersandung sedikit.

"Progress!" serunya sambil tersenyum.

Jam dinding menunjukkan pukul setengah lima pagi. Masih terlalu pagi untuk melakukan apa pun. Tapi Suyin sudah tidak bisa tidur—otaknya penuh dengan rencana dan kemungkinan.

Ia duduk di meja makan kecil, membuka laptop yang sudah berdebu karena jarang dipakai akhir-akhir ini. Mengetik "bercocok tanam di rumah" di mesin pencari.

Ratusan artikel muncul. Tutorial menanam sayuran, tips merawat tanaman, jenis-jenis pupuk... Suyin membaca semuanya dengan lahap, mencatat poin-poin penting.

Tomat butuh waktu sekitar 60-80 hari dari biji sampai berbuah di dunia normal. Tapi di dalam ruang dimensi dengan waktu yang berjalan sepuluh kali lebih cepat... berarti cuma butuh 6-8 hari waktu nyata?

"Ini... ini bisa jadi peluang bisnis," bisik Suyin, matanya berbinar.

Tapi ia harus hati-hati. Tidak bisa asal jual tomat tiba-tiba tanpa penjelasan dari mana asalnya. Orang-orang akan curiga. Apalagi kalau kualitasnya terlalu bagus.

Suyin menutup laptop, bersandar di kursi. Pikirannya melayang ke nenek. Apa nenek dulu juga memakai ruang dimensi ini? Untuk apa? Kenapa nenek tidak pernah cerita?

Banyak pertanyaan tanpa jawaban. Tapi satu hal yang Suyin tahu—nenek memberikan ini padanya dengan alasan. Dan ia harus memanfaatkan hadiah ini dengan bijak.

Hari-hari berikutnya berlalu dalam rutinitas baru yang aneh tapi menyenangkan.

Setiap pagi sebelum berangkat kerja, Suyin masuk ke ruang dimensi selama "lima menit waktu nyata" untuk menyiram tanaman tomat. Lima menit di luar sama dengan lima puluh menit di dalam—cukup untuk menyiram, memeriksa pertumbuhan, dan bahkan duduk sebentar menikmati pemandangan taman.

Setiap sore sepulang kerja, ia masuk lagi untuk memeriksa perkembangan.

Hari pertama: tanaman setinggi lutut.

Hari kedua: setinggi pinggang, sudah mulai muncul bunga kuning kecil.

Hari ketiga: bunga-bunga mulai rontok, muncul bakal buah kecil hijau.

Hari keempat: buah tomat sebesar kelereng, berwarna hijau muda.

Hari kelima: buah tomat sebesar bola pingpong, mulai kemerahan di beberapa bagian.

Dan hari keenam...

"ASTAGA!"

Suyin berdiri di depan lima batang tanaman tomatnya dengan mulut menganga. Buah-buah tomat yang menggantung di setiap batang sudah sebesar kepalan tangan—merah merona sempurna, kulitnya mulus mengkilap seperti dipoles.

Ia menghitung dengan jari gemetar. "Lima... sepuluh... lima belas..." Total ada dua puluh tiga buah tomat yang sudah matang sempurna!

Dengan hati-hati, Suyin memetik satu buah. Berat. Padat. Kulitnya halus dan dingin di telapak tangan. Ia membawa tomat itu ke hidung dan mencium—aroma tomat segar yang kuat, jauh lebih wangi dari tomat supermarket.

Tanpa berpikir panjang, Suyin menggigit langsung.

"Mmmmh!"

Jus tomat meledak di mulut. Manis! Tomat ini manis seperti buah, tapi tetap ada sedikit rasa asam yang menyegarkan. Tekstur dagingnya padat tapi lembut, bijinya kecil-kecil dan tidak mengganggu. Ini tomat terenak yang pernah ia makan seumur hidup!

Suyin menghabiskan satu buah dalam tiga gigitan, lalu langsung memetik yang lain. Dan satu lagi. Baru setelah tomat ketiga ia sadar—ia harus menyimpan ini!

"Bodoh! Jangan dimakan semua!" makinya pada diri sendiri sambil tertawa.

Ia memetik semua tomat yang sudah matang—total dua puluh buah, menyisakan tiga yang masih agak kehijauan. Tidak ada keranjang atau wadah di dalam ruang dimensi, jadi Suyin melepas cardigan yang dipakainya dan menggunakannya sebagai kantong improvisasi.

Dengan dua puluh buah tomat terbungkus cardigan, Suyin keluar dari ruang dimensi dan langsung meletakkan semuanya di meja makan apartemennya.

Tomat-tomat itu berjejer rapi, merah mengkilap di bawah lampu apartemen. Suyin duduk, menatap hasil panennya dengan perasaan campur aduk—bangga, terharu, dan sedikit tidak percaya.

"Aku... aku benar-benar berhasil menanam sesuatu," bisiknya, suara tercekat.

Selama dua puluh delapan tahun hidupnya, Suyin tidak pernah berhasil merawat tanaman apa pun. Dulu ia pernah mencoba menanam kaktus—tanaman yang katanya paling gampang—dan tetap saja mati dalam sebulan. Tapi sekarang, dengan ruang dimensi ajaib ini, ia berhasil menanam tomat dari biji sampai panen dalam enam hari!

Air mata tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya. Suyin menunduk, menyentuh salah satu tomat dengan lembut.

"Nenek... terima kasih," bisiknya. "Aku nggak tahu kenapa kamu kasih aku hadiah ini. Tapi terima kasih."

Ia duduk di sana beberapa menit, membiarkan emosi mengalir. Sejak nenek meninggal, Suyin merasa hidupnya berhenti—hanya rutinitas membosankan dari apartemen ke kantor, kantor ke apartemen. Tidak ada yang ditunggu. Tidak ada yang membuatnya excited bangun pagi.

Tapi sekarang... sekarang ia punya sesuatu. Sesuatu yang ajaib, sesuatu yang hanya miliknya.

Setelah tenang, Suyin bangkit dan mengambil satu tomat. Ia pergi ke apartemen sebelah—rumah Bibi Wang, tetangga baik yang sudah seperti keluarga sendiri.

TOK TOK TOK!

"Sebentar!" terdengar suara Bibi Wang dari dalam.

Pintu terbuka, menampilkan wanita paruh baya gemuk dengan apron penuh noda masakan. "Suyin! Ada apa, Nak? Masak pagi-pagi begini..."

"Maaf ganggu, Bi. Aku cuma mau kasih ini." Suyin menyodorkan tiga buah tomat. "Aku nanem sendiri. Mau Bibi coba?"

Bibi Wang mengambil tomat dengan mata berbinar. "Lho, kamu nanem? Di mana? Kan apartemenmu kecil?"

"Eh... di... di balkon," bohong Suyin gugup. "Pakai pot gitu."

"Wah, bagus banget!" Bibi Wang membalik-balik tomat, mengamati. "Kulitnya mulus, nggak ada bintik. Lebih bagus dari tomat supermarket!"

"Coba dulu, Bi. Kasih tau nanti rasanya gimana."

Setelah pamit dari rumah Bibi Wang, Suyin kembali ke apartemennya dengan senyum lebar. Langkah pertama—tes pasar kecil-kecilan. Kalau Bibi Wang suka, berarti produknya memang bagus.

Sekarang tinggal tunggu respon.

Sore harinya, Suyin baru pulang dari kantor—seharian penuh presentasi desain interior untuk klien yang cerewet—ketika pintu apartemennya diketuk berkali-kali.

"SUYIN! SUYIN!"

Suara Bibi Wang terdengar bersemangat. Suyin membuka pintu, disambut wajah tetangganya yang berbinar-binar.

"Bi, ada apa?"

"Tomatmu itu!" seru Bibi Wang. "ENAK BANGET! Aku bikin jus tomat buat anak-anak, mereka sampai minta tambah terus! Biasanya mereka nggak suka tomat, tapi yang ini diminum sampai habis dua gelas!"

Hati Suyin menghangat. "Beneran, Bi?"

"Beneran! Aku juga pakai buat masak sup, rasanya beda banget! Lebih segar, lebih manis." Bibi Wang memegang tangan Suyin. "Kamu masih punya? Aku mau beli! Berapa harganya?"

"Ah, nggak usah bayar, Bi. Aku masih punya. Sebentar, ya."

Suyin masuk ke apartemen, mengambil lima buah tomat dari meja makan, dan memberikannya ke Bibi Wang.

"Ini banyak banget! Aku bayar, deh. Tomat segini bagusnya harganya berapa sih?" Bibi Wang sudah mengeluarkan dompet.

Suyin berpikir cepat. Tomat biasa di pasar sekitar Rp 15.000 per kilo. Tomat organik bisa Rp 30.000-40.000. Tapi tomat dia... ini kualitas premium.

"Rp 10.000 per buah aja, Bi," ucap Suyin hati-hati, siap ditawar.

"Oke! Murah!" Bibi Wang langsung menyodorkan uang lima puluh ribu. "Ini buat lima buah, ya. Kamu nanem lagi, nanti aku beli lagi!"

Suyin menerima uang itu dengan perasaan aneh. Uang pertama dari hasil panen ruang dimensinya. Lima puluh ribu mungkin nggak seberapa, tapi ini bukti—tomat dari ruang dimensi bisa dijual!

Setelah Bibi Wang pergi dengan riang, Suyin menutup pintu dan bersandar di sana, menatap uang lima puluh ribu di tangannya.

Ide yang sempat muncul beberapa hari lalu mulai mengeras jadi rencana konkret.

Bagaimana kalau... ia menanam lebih banyak? Tidak cuma tomat, tapi sayuran lain? Buah-buahan? Dan menjualnya?

Dengan ruang dimensi yang bisa mempercepat waktu, ia bisa panen setiap minggu. Kualitasnya terjamin—tanah ajaib, air ajaib, tidak ada hama. Sayuran organik premium yang orang-orang pasti mau beli.

"Tapi harus hati-hati," gumam Suyin. "Nggak bisa asal jual tanpa cover story yang masuk akal."

Ia butuh rencana. Rencana bisnis yang matang.

Suyin tersenyum—untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa punya tujuan. Punya sesuatu yang membuatnya excited untuk bangun besok pagi.

Dan semuanya dimulai dari gelang giok hijau di pergelangan tangannya.

1
Andira Rahmawati
nemu cerita bagus nihhh paling suka baca novel yg fantasi apalagi yg ada ruang ajaibnya👍👍👍
Diah Susanti
diatas dibilang 'putri adik nenek' yang menurutku maknanya 'bibinya suyin'. tapi disini dia menyebutkan dirinya 'cucunya juga'🤔🤔🤔🤔
Wahyu🐊: Anda Terlalu Teliti😅🙏 Nanti Aku Revisi Kalau Udah Tamat Masih Panjang Perjalanan nya
total 1 replies
Wahyu🐊
Nanti aku Revisi Oke
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!