Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.
Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".
Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.
Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# Bab 16: Rekaman Ibu
Reggiano berdiri di tengah ruang utama toko yang kini tampak menyedihkan. Serangan energi belerang dari Tuan Kaelen telah meninggalkan bekas luka yang nyata, kayu-kayu jati pada dinding tampak mengelupas dan menghitam, sementara ubin marmer retak seolah-olah kehilangan fondasi pengikatnya.
Bau busuk sisa energi "Taman Belati" masih tertinggal, mengancam kesehatan tanaman-tanama hias milik Nona Florence.
"Nona Florence," panggil Reggiano sambil menatap tangannya yang masih berdenyut.
"Bangunan ini sedang sekarat. Saya bisa mendengar rintihan dari struktur kayunya. Energi makhluk itu... ia memakan tempat ini dari dalam."
Seraphine Florence mendekat, wajahnya tampak lelah namun tetap agung.
"Benar, Tuan Herbert. Energi negatif itu adalah parasit. Sebagai Penjaga Taman, tugas anda bukan hanya memotong ancaman, tetapi juga merawat kehidupan. Sentuh lah bagian yang paling parah, dan berikan niat anda pada tanah."
Reggiano berlutut di depan pilar utama toko yang retak besar. Ia meletakkan telapak tangan kanannya, tepat di atas tanda sabit mawar, pada permukaan kayu yang mendingin.
Awalnya, ia merasa ditolak, logam dan semen bangunan terasa asing baginya. Namun, Seraphine membimbingnya dengan meletakkan tangannya di atas punggung tangan Reggiano.
"Jangan melihat semen atau paku itu, Tuan Herbert. Rasakan serat kayu yang dulu pernah bernapas. Ingatlah bahwa setiap benda di sini berasal dari bumi, panggil mereka kembali ke masa jaya mereka," bisik Seraphine.
Reggiano memejamkan mata. Ia mulai membayangkan aliran air jernih yang mengalir di bawah akar, membawa nutrisi dan kehidupan. Tanda sabit mawar di tangannya berpendar hijau terang, namun kali ini cahayanya terasa hangat dan lembut, bukan tajam dan mematikan.
Perlahan, keajaiban mulai terjadi..
Kayu-kayu yang menghitam mulai mengelupas, menyingkap lapisan kayu baru yang segar dan beraroma pinus. Retakan pada pilar mulai menutup, dijahit oleh sulur-sulur halus yang tumbuh dari dalam inti kayu.
Cairan hitam sisa Kaelen yang mengotori lantai mulai menguap, digantikan oleh tumbuhnya lumut hijau beludru yang menyerap sisa-sisa aroma belerang dan mengubahnya menjadi oksigen murni.
Fondasi toko yang tadinya goyah terasa semakin kokoh, Reggiano bisa merasakan akar-akar di bawah tanah mencengkeram dasar bangunan dengan lebih erat, menyatukan beton dan alam menjadi satu kesatuan yang tak tergoyahkan.
"Luar biasa, Tuan Herbert," puji Seraphine saat melihat bunga-bunga mawar di pot mulai mekar kembali dengan warna yang lebih cerah dari sebelumnya.
"Tuan telah berhasil melakukan Regenerasi Pertama. anda tidak hanya memperbaiki, anda sedang memperkuat."
Reggiano menarik tangannya, napasnya terasa lebih lega seiring dengan segarnya udara di dalam toko. Namun, ia menyadari sesuatu yang aneh. Mawar yang melilit tangannya kini memiliki satu kuncup kecil yang baru saja mekar, menandakan bahwa setiap tindakan penyembuhan juga mempererat ikatannya dengan kekuatan mistis ini.
"Saya merasakannya, Nona Florence," ucap Reggiano sambil menatap tangannya.
"Toko ini... sekarang terasa seperti bagian dari tubuh saya sendiri. Jika seseorang menyentuh dinding luar dengan niat buruk, saya akan merasakannya sebagai cubitan di kulit saya."
Seraphine mengangguk formal. "Itulah harga dari seorang Penjaga, Tuan Herbert... anda dan taman ini adalah satu. "
Ketika pembicaraan mereka mulai berangsur-angsur lama, tanpa mereka ketahui gadis kecil di pintu tengah menuju kearah mereka.
Elena melangkah mendekat dengan jemari yang gemetar, membawa sebuah kotak beludru kecil yang telah usang. Di dalamnya, terbaring setangkai bunga lili putih yang telah mengering, rapuh, dan kehilangan seluruh warnanya hingga menyerupai abu.
"Kakak..." bisik Elena, matanya berkaca-kaca menatap bunga itu. "Ini adalah peninggalan terakhir dari Ibu. Kak Reggi menjaganya dengan sangat baik selama bertahun-tahun, tapi bunga ini sudah lama mati. Bolehkah... bolehkah Nona itu menghidupkannya kembali?"
Reggiano, yang masih merasakan sisa-sisa energi regenerasi di telapak tangannya, menoleh dengan tatapan yang sulit diartikan. Baginya, bunga kering itu adalah simbol dari masa lalu mereka yang hancur, sebuah pengingat akan janji yang gagal ia tepati kepada orang tua mereka.
"Elena... Darimana kamu mendapatkan nya?" tanya Reggiano.
"A-aku... Itu... menyimpan nya dalam tas.. "
Seraphine menatap bunga kering itu, lalu beralih menatap Reggiano. "Tuan Herbert, bunga ini tidak hanya membawa kenangan, tapi juga membawa jejak garis keturunan anda yang tersisa. Kekuatan saya mungkin bisa menghijaukan seluruh kota, namun untuk menghidupkan kembali sesuatu yang memiliki ikatan darah dengan anda, dibutuhkan izin dari sang Penjaga Taman itu sendiri."
Seraphine mengisyaratkan Reggiano untuk mendekat. "Letakkan tangan anda di atas kotak itu bersama tangan Elena, Tuan Herbert. Kekuatan regenerasi yang baru saja anda pelajari tidak boleh digunakan untuk ambisi, melainkan untuk kasih sayang. Jika mawar di tangan anda menerima kenangan ini, maka bunga itu akan mekar kembali."
Reggiano ragu sejenak. Ia takut kegelapan di dalam dirinya justru akan menghancurkan sisa kenangan ibunya. Namun, melihat harapan di mata Elena, ia perlahan meletakkan tangannya yang bertanda sabit mawar di atas jemari kecil adiknya.
"Tutup mata kalian," perintah Seraphine lembut.
"Bayangkan senyumnya. Bayangkan kasih sayangnya yang tulus..."
Reggiano memejamkan mata. Seketika, tanda mawar di tangannya tidak lagi berdenyut dengan energi tempur yang dingin, melainkan dengan kehangatan yang mendalam. Ia merasakan aliran memori mengalir dari dirinya menuju kotak kayu itu.
Cahaya hijau keemasan perlahan merembes keluar dari sela-sela kotak. Di depan mata mereka yang terbelalak, bunga lili yang tadinya hancur berkeping-keping itu mulai menyusun kembali dirinya.
Kelopak-kelopaknya yang abu-abu kembali menjadi putih bersih bak salju, batangnya menguat, dan aroma manis yang sangat familiar, aroma yang mengingatkan mereka pada pelukan ibu di masa kecil, memenuhi seluruh ruangan toko roti.
"Ibu..." Elena terisak saat melihat bunga itu kini mekar sempurna, lebih indah dan lebih bercahaya daripada bunga mana pun di taman tersebut.
Namun, Reggiano merasakan sesuatu yang berbeda. Saat bunga itu hidup kembali, kuncup mawar di tangannya mekar sepenuhnya, dan ia merasakan sebuah memori bayangan ibunya sedang tersenyum sambil memegang sebuah kunci yang mirip dengan simbol yang ada pada pintu rahasia di bawah toko Seraphine.
"Nona Florence," bisik Reggiano dengan wajah pucat, "Ibu saya... mengapa ia tampak seperti mengenal tempat ini?"
Seraphine hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh teka-teki. "Beberapa benih memang ditakdirkan untuk kembali ke tanah asalnya, Tuan Herbert. Sekarang anda tahu, bahwa anda tidak terpilih secara kebetulan."
Reggiano menatap kunci kecil yang berkilau di tengah kelopak bunga lili itu dengan tatapan tidak percaya. Kunci itu tampak terbuat dari perak kuno, dihiasi dengan ukiran sulur yang sangat mirip dengan tanda mawar yang kini melilit tangannya. Getaran aneh muncul di benaknya, kunci itu seolah-olah berdenyut mengikuti detak jantungnya sendiri.
"Nona Florence," suara Reggiano terdengar parau saat ia mengambil kunci perak tersebut. "Benda ini... saya tahu di mana pasangannya. Di apartemen lama saya, di balik dinding palsu tempat saya menyimpan perlengkapan tempur, ada sebuah peti baja yang tidak pernah bisa saya buka. Saya mengiranya itu hanya peninggalan besi tua yang dibawa ibu saat kami melarikan diri dulu."
Seraphine Florence mendekat, matanya menatap kunci itu dengan rasa hormat yang mendalam. "Itu adalah Kunci Akar, Tuan Herbert. Ibu anda tidak hanya memberi anda kenangan, dia memberi anda warisan yang tertunda. Di dalam peti itu tersimpan kebenaran yang tidak bisa saya ceritakan kepada anda, karena kebenaran itu harus ditemukan, bukan diberikan."
Reggiano mengepalkan tangannya. Ia tahu risiko kembali ke apartemen lamanya sangatlah besar.
Organisasi pasti telah memasang jebakan, sensor panas, dan mungkin seluruh tim intelijen di sana untuk menunggunya muncul.
"Saya harus mengambilnya," ucap Reggiano tegas.
"Bukan sebagai pembunuh bayaran yang mencari senjatanya, tapi sebagai Penjaga Taman yang mencari identitasnya."
"Tuan Herbert," sahut Seraphine sambil merapikan jubah hijaunya, "Anda tidak bisa pergi sendirian dalam kondisi mawar anda yang sedang tidak stabil. Kekuatan regenerasi tadi telah menguras energi anda. Namun, jika anda bersikeras, gunakan kunci itu bukan hanya untuk membuka peti, tapi untuk membuka jalan yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia."
Reggiano menoleh ke arah Elena yang masih terpesona melihat bunga lili yang hidup kembali. "Elena, tetaplah di sini bersama Nona Florence. Kakak ada urusan sebentar. Jangan keluar dari garis mawar di pintu, mengerti?"
Elena mengangguk patuh, meski kecemasan terpancar di wajahnya.
"Janji Kakak akan pulang?"
Reggiano tersenyum tipis, sebuah senyum yang kini terasa lebih hangat sejak mawar itu merambat di jiwanya.
"Kakak berjanji. Lagipula, sekarang Kakak punya rumah yang harus dijaga."
......................
Reggiano bergerak menembus kegelapan kota menggunakan kemampuan barunya. Ia tidak lagi menggunakan kendaraan bermotor yang bising. Ia bergerak melalui bayang-bayang, indra pendengarannya yang tajam memungkinkannya menghindari patroli Organisasi dengan presisi seorang hantu. Setiap kali ia melangkah, ia bisa merasakan akar-akar di bawah aspal memberikan dorongan energi kecil pada kakinya.
Sesampainya di gedung apartemen lamanya yang kini telah dipasangi garis polisi dan sensor laser, Reggiano tidak melalui pintu depan. Ia memanjat dinding luar, tangannya menempel pada beton seolah-olah jarinya adalah akar yang mencengkeram tebing.
Di dalam unit apartemennya yang berantakan karena penggeledahan, ia menuju ke sudut ruangan. Dengan satu sentuhan, ia memerintahkan dinding beton itu untuk "melunak".
Beton itu bergeser, menyingkap sebuah peti baja kecil yang tertutup lumut kering, sesuatu yang seharusnya tidak mungkin ada di dalam bangunan beton.
Reggiano memasukkan kunci perak itu.
KLIK.
Peti itu terbuka, mengeluarkan cahaya hijau yang menyilaukan dan aroma tanah purba yang sangat kuat. Di dalamnya, tidak ada senjata api. Hanya ada sebuah gulungan perkamen tua dan sebotol cairan berwarna emas yang berlabel, " Tuan Bumi".
Reggiano memegang gulungan perkamen itu dengan tangan yang gemetar. Di bawah temaram lampu apartemen yang hancur, tulisan tangan yang sangat ia kenali, halus namun tegas, mulai menampakkan dirinya. Itu adalah tulisan ibunya.
Setiap kata dalam surat itu terasa seperti ibu nya yang masih berada disini.
"Gione, putraku sayang... Jika kau membaca ini, berarti kau telah menemukan jalan pulang ke tanah yang sebenarnya. Ketahuilah bahwa kematianku bukan karena kelemahan, melainkan sebuah pengorbanan untuk melindungi mu dan Elena. Aku harus 'mati' di mata dunia agar musuh-musuh dari Penjara bawah tanah berhenti memburu darah murni yang mengalir dalam tubuhmu. Aku menukarkan nyawaku dengan waktu... waktu agar kau bisa tumbuh menjadi pelindung yang tangguh."
Surat itu menjelaskan bahwa ibu mereka bukan sekadar warga sipil biasa, melainkan seorang pelarian dari jajaran petinggi Taman Belati yang menolak menggunakan kekuatan alam untuk kehancuran. Ia telah merencanakan kematiannya sendiri untuk mengalihkan perhatian musuh-musuh berat yang tidak akan ragu melenyapkan anak-anaknya jika mereka tahu potensi sebenarnya dari garis keturunan Herbert.
Reggiano terduduk lemas di lantai yang berdebu.
Selama ini ia menyalahkan dirinya sendiri karena tidak cukup kuat melindungi ibunya, namun kenyataannya, sang ibulah yang melindungi mereka dengan cara yang paling tragis.
"Semua ini... demi kami?" bisik Reggiano parau.
Ia beralih pada botol kecil berisi cairan emas bernama "Tuan Bumi". Mengikuti instruksi terakhir dalam surat itu, Reggiano meneteskan cairan tersebut ke atas tanda sabit mawar di pergelangan tangannya.
Seketika, sebuah transformasi mengerikan sekaligus indah terjadi. Tanda mawar itu menyerap cairan emas tersebut, dan mawar merah di kulitnya berubah warna menjadi emas yang berkilau di tengah kegelapan. Sabit The Reaper’s Thorn yang ia panggil keluar kini tidak lagi hanya terdiri dari duri hitam. Bilahnya kini dilapisi oleh urat-urat emas yang berdenyut, memancarkan aura panas yang mampu membelah realitas.
Bentuk sabit itu kini lebih panjang, dengan bilah ganda yang melambangkan pengorbanan dan kebangkitan. Racun di ujungnya kini bukan lagi sekadar pelumpuh, melainkan energi murni yang bisa menghancurkan sihir gelap apa pun.
"Tuan Herbert," sebuah suara muncul dari bayang-bayang. Bukan Seraphine, melainkan sebuah suara yang entah kenapa bisa ada dalam kekuatan sabitnya.
"Kini anda memegang kekuasaan atas hidup dan kehancuran. Gunakanlah untuk menyelesaikan apa yang dimulai oleh ibu anda."
Reggiano berdiri, menggenggam sabit barunya yang kini terasa seringan bulu namun seberat gunung. Ia merasakan koneksi yang luar biasa luas, ia tidak hanya merasakan toko Seraphine, ia mulai bisa merasakan detak jantung kota ini, dan musuh-musuh yang sedang bergerak di kegelapan.
Namun, saat ia bersiap untuk pergi, sensor di apartemennya mendadak berbunyi merah. Unit elit Organisasi, yang kini dipimpin langsung oleh eksekutor pengganti Reggiano, telah mengepung gedung tersebut.
Reggiano Herbert berdiri mematung di tengah reruntuhan apartemen lamanya, sebuah ruangan yang kini terasa terlalu sempit untuk menampung aura kekuasaan yang baru saja ia bangkitkan.
Di tangan kanannya, surat dari ibunya masih tergenggam erat, sementara tangan kirinya mencengkeram gagang sabit yang telah berevolusi menjadi bentuk yang jauh lebih agung, dan jauh lebih mematikan.
Cairan emas "Tuan Bumi" itu tidak hanya mengubah senjatanya, tetapi juga mengubah esensi jiwanya. Reggiano merasakan setiap atom di tubuhnya bergetar hebat. Penglihatannya menembus dinding beton, ia tidak lagi melihat dunia sebagai susunan materi, melainkan sebagai jaring energi yang saling berpaut. Dan di luar sana, jaring itu sedang tercemar oleh bintik-bintik merah yang haus darah, pasukan elit Organisasi yang telah mengepung gedung itu dengan presisi militer.
"Lompatan Akar," bisik Reggiano, sebuah nama teknik yang muncul begitu saja dari memori yang baru saja terbuka.
Tepat saat pintu apartemen itu diledakkan oleh muatan C4, Reggiano tidak bergerak mundur. Ia justru menjatuhkan dirinya ke lantai. Namun, tubuhnya tidak menghantam ubin, seolah-olah lantai itu berubah menjadi permukaan air yang tenang, tubuh Reggiano tenggelam ke dalam beton, menyatu dengan fondasi bangunan, dan menghilang tepat sebelum para agen masuk ke dalam ruangan yang kini kosong melompong.
Di luar gedung, suasana tegang menyelimuti unit elit Organisasi. Mereka menggunakan pemindai panas tercanggih, namun target mereka seolah-olah lenyap dari muka bumi.
Komandan unit, seorang pria dengan satu mata bernama Kross, pengganti posisi Reggiano, memberikan instruksi.
"Cari dia! Dia tidak mungkin mati begitu saja! Gunakan granat untuk meledakkan tempat ini, paksa dia keluar dari persembunyiannya!"
Namun, perintah itu adalah kalimat terakhir yang diucapkannya dengan tenang.
Tanpa suara, tanah di bawah kaki Kross mendadak melunak. Sebelum ia sempat bereaksi, sepasang tangan yang terbuat dari jalinan akar hitam dan emas melesat keluar, mencengkeram kakinya dan menariknya hingga terkubur sebatas pinggang ke dalam aspal jalanan yang mengeras kembali dalam sekejap.
"Apa?! Bagaimana mungkin?!" Kross berteriak, mencoba menembakkan senjatanya ke arah bawah, namun senjata itu mendadak terlilit oleh duri mawar yang tumbuh dari sela-sela jarinya sendiri.
Reggiano muncul dari bayang-bayang di belakang unit tersebut. Ia tidak berjalan, ia seolah-olah meluncur di atas permukaan tanah, dengan sabit emas raksasanya tersampir di bahu. Cahaya dari bilah sabit itu memantulkan kengerian di mata para agen.
"Kalian mencari siapa?" suara Reggiano terdengar seperti gemuruh tanah longsor, rendah dan penuh otoritas yang tak terbantahkan.
"Tembak! Hancurkan dia!" raung Kross dari tempatnya terperangkap.
Hujan peluru kaliber berat menyalak dari berbagai arah. Namun, Reggiano bahkan tidak perlu menghindar. Ia memutar sabit emasnya di udara, menciptakan pusaran energi yang disebut "Perisai Kelopak Emas". Setiap peluru yang menyentuh radius energi tersebut berubah menjadi serbuk sari bunga yang beterbangan tertiup angin, tidak berbahaya dan sama sekali tidak berdaya.
Reggiano kemudian menghentakkan pangkal sabitnya ke aspal.
Sebuah gelombang kejut berwarna emas melesat keluar dari titik hentakan itu. Gelombang ini tidak menghancurkan bangunan, namun ia memiliki sifat selektif yang mengerikan. Setiap benda dari manusia, sensor, radio, kacamata malam, hingga sistem saraf para agen, mendadak mengalami kegagalan fungsi total.
Para agen terjatuh, memegangi kepala mereka yang seolah meledak karena kelebihan beban.
Lebih kayak gangguan sinyal pas searching internet.
Reggiano berjalan perlahan menuju Kross yang masih terjepit. Setiap langkah Reggiano meninggalkan jejak bunga mawar emas yang mekar di atas aspal yang retak.
"Kross," Reggiano menyebut nama pria itu dengan nada dingin.
"Sampaikan pada Tuan mu, atau siapa pun yang mengirim kalian. Masa di mana aku menjadi alat kalian telah berakhir, aku bukan lagi pembunuh yang kalian bentuk karena aku adalah tanah yang akan mengubur ambisi kalian."
Reggiano mengangkat sabitnya.
Bilah mawar hitam dengan urat emas itu berpendar terang, menghisap sisa-sisa cahaya lampu jalan di sekitarnya hingga area itu menjadi gelap gulita, kecuali bagi cahaya yang terpancar dari tubuh Reggiano.
"Ibu ku mengorbankan nyawanya agar dunia ini tetap damai," lanjut Reggiano, ujung sabitnya kini berada tepat di leher Kross. "Dan sebagai Penjaga, aku akan memastikan bahwa darah kalian tidak akan pernah menodai taman yang ia lindungi."
Dengan satu ayunan lembut, gerakan yang lebih mirip tarian daripada serangan, Reggiano melepaskan energi pemutus jiwa. Tidak ada darah yang tumpah. Jiwa para agen itu seolah-olah "ditidurkan" secara paksa oleh kekuatan alam, membuat mereka jatuh koma permanen di tempat mereka berdiri. Senjata-senjata mereka seketika berkarat dan hancur, ditumbuhi oleh tanaman liar yang merambat cepat, menelan kendaraan taktis mereka hingga menjadi tumpukan besi tua yang diselimuti tanaman hijau.
Dalam hitungan menit, blok jalanan yang tadinya merupakan zona perang taktis berubah menjadi hutan rimba kecil yang rimbun di tengah kota. Reggiano berdiri di pusat hutan buatan itu, menatap ke arah langit malam. Ia bisa merasakan mawar di tangannya berdenyut puas, menyerap energi dari kemenangan ini.
Ia merasakan kehadiran batin Seraphine yang mengawasinya dari kejauhan.
"Pekerjaan yang mengagumkan, Tuan Herbert," bisik suara Seraphine di dalam benaknya.
"Namun ingatlah, semakin besar kekuatan yang anda tunjukkan, semakin lebar pula gerbang Taman Belati akan terbuka untuk memburu anda. Pulanglah. Ada sesuatu di dalam gulungan itu yang belum anda baca sepenuhnya."
Reggiano melipat kembali surat ibunya dan menyimpannya di balik jubahnya yang kini telah pulih secara ajaib oleh energi mawar. Ia kembali melakukan "Lompatan Akar", menghilang ke dalam tanah dan bergerak secepat kilat menuju toko roti, meninggalkan kota yang kini sedang gempar melihat keajaiban sekaligus kengerian yang baru saja terjadi di distrik apartemen lama sang Eksekutor.
Sesampainya di Flower’s Patisserie, Reggiano muncul dari lantai kayu di dapur. Seraphine sedang menunggunya dengan segelas air jernih dan wajah yang penuh arti.
"Anda sudah menemukan jati diri anda yang sebenarnya, Tuan Herbert?" tanya Seraphine formal.
Reggiano menatap tangannya yang kini memiliki pola emas yang rumit. "Saya telah menemukan tanggung jawab saya, Nona Florence. Ibu saya bukan hanya seorang pelarian. Dia adalah pemegang kunci terakhir dari 'Inti Bumi' dan sekarang, kunci itu ada pada saya."
Reggiano kemudian membuka sisa gulungan perkamen yang tadi belum sempat ia baca. Di bagian paling bawah, tertulis sebuah peringatan dalam tinta merah darah,
"Gione, jika kau telah membangkitkan Sabit Emas, ketahuilah bahwa kau sekarang adalah satu-satunya orang yang bisa membuka 'Gerbang Eden' yang tersembunyi di bawah toko Nona Florence. Tapi berhati-hatilah, karena kunci itu juga adalah kutukan yang akan membuat seluruh pemilik Taman di dunia memburu mu."
Reggiano menoleh ke arah Seraphine. "Gerbang Eden? Apa maksud dari semua ini, Nona Florence?"
Seraphine menatap ke arah lantai di bawah kaki mereka, ke arah kegelapan yang sangat dalam di bawah fondasi toko. "Itu adalah alasan mengapa toko ini ada, Tuan Herbert. Dan alasan mengapa saya membutuhkan anda. Mari kita turun, sudah waktunya anda melihat apa yang selama ini kita lindungi."
Reggiano, Seraphine, dan Elena yang kini membawa bunga lili ibunya, berdiri di depan sebuah tangga spiral yang terbuat dari akar pohon raksasa yang mendadak muncul di tengah ruang tamu.
Mereka akan turun ke tempat yang tidak pernah terjamah oleh sinar matahari selama ribuan tahun.