NovelToon NovelToon
Pendekar Naga Bintang : Perjalanan Yang Sesungguhnya

Pendekar Naga Bintang : Perjalanan Yang Sesungguhnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Anak Genius / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:110.1k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Lanjutan dari Novel Pendekar Naga Bintang

Gao Rui hanyalah murid lemah di Sekte Bukit Bintang, bocah yatim berusia tiga belas tahun tanpa latar belakang, tanpa pelindung, dan tanpa bakat mencolok. Setelah gurunya, Tetua Ciang Mu, gugur dalam sebuah misi, hidup Gao Rui berubah menjadi rangkaian hinaan dan penyingkiran. Hingga suatu hari, ia hampir mati dikhianati oleh kakak seperguruannya sendiri. Dari ambang kematian, Gao Rui diselamatkan oleh Boqin Changing, pendekar misterius yang melihat potensi tersembunyi dalam dirinya.

Di bawah tempaan kejam Boqin Changing di dunia khusus tempat waktu mengalir berbeda, Gao Rui ditempa bukan untuk cepat menjadi kuat, melainkan untuk tidak runtuh. Ketika kembali, ia mengejutkan sekte dengan menjuarai kompetisi bela diri dan mendapat julukan Pendekar Naga Bintang. Namun perpisahan dengan gurunya kembali memaksanya berjalan sendiri. Kali ini, Gao Rui siap menghadapi dunia persilatan yang kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengenali Tetua Bei

Mendengar suara itu, Gao Rui dan Tetua Peng Bei segera bergerak ke arah asal teriakan tanpa perlu banyak bicara. Tubuh Tetua Peng Bei melesat lebih dulu, langkahnya ringan namun cepat, sementara Gao Rui mengikuti di belakang dengan fokus penuh. Mereka meninggalkan jalur utama dan menembus semak-semak lebat, ranting-ranting kecil tersibak oleh aliran energi yang menyelimuti tubuh mereka.

Tak butuh waktu lama sebelum pemandangan di depan mereka terbuka. Di sebuah tanah lapang kecil di antara pepohonan, nampak sekelompok orang berbaju hitam tengah mengelilingi sebuah kereta kuda yang telah berhenti miring. Kuda penariknya tergeletak tak bergerak, lehernya bersimbah darah. Roda kereta tampak rusak, jelas telah diserang.

Di tanah sekitar kereta, beberapa mayat pengawal terkapar tak bernyawa. Pakaian mereka seragam, pedang masih tergenggam di tangan sebagian, namun tubuh mereka penuh luka. Ada yang tertusuk di dada, ada pula yang perutnya robek. Darah sudah mengering sebagian, menandakan pertarungan ini tidak baru saja dimulai.

Gao Rui menahan napas. Pemandangan itu membuat dadanya terasa sedikit sesak.

“Perampok…” gumamnya pelan.

Namun matanya segera tertarik ke satu sosok lain. Beberapa puluh langkah dari kereta kuda, seorang pendekar pengawal masih hidup tengah berlari sempoyongan menjauhi kerumunan. Napasnya terengah-engah, darah mengalir dari luka panjang di punggungnya. Setiap langkahnya terlihat berat, namun ia tetap memaksakan diri, jelas berusaha menjauh dari maut.

“Tolooong…!” teriaknya lagi, suaranya pecah dan serak.

Suara yang mereka dengar sebelumnya ternyata berasal darinya. Di belakang pendekar itu, tiga orang berbaju hitam mengejar dengan senyum dingin di wajah mereka. Salah satunya mempercepat langkah, pedang di tangannya terangkat tinggi.

“Berhenti lari!” teriak si perampok dengan nada mengejek. “Kau sudah tidak punya jalan!”

Pendekar pengawal itu tersandung, hampir jatuh. Pada saat yang sama, perampok di belakangnya menyeringai dan mengayunkan pedangnya ke arah punggung korban, tebasan itu jelas ditujukan untuk menghabisi nyawa.

Namun pedang itu tidak pernah mencapai sasaran. Sebuah bayangan melintas. Gerakannya nyaris tak terlihat oleh mata biasa. Hanya hembusan angin dingin yang lewat, disusul kilatan cahaya tipis.

Tubuh perampok itu mendadak berhenti di tempat. Matanya membelalak, ekspresinya membeku dalam keterkejutan. Sesaat kemudian, garis darah muncul di lehernya. Kepalanya meluncur jatuh ke tanah, diikuti tubuhnya yang ambruk tanpa suara.

Tetua Peng Bei telah berdiri di belakangnya. Tangannya sudah kembali ke balik lengan jubahnya, seolah ia sama sekali tidak melakukan apa-apa. Wajahnya tenang, matanya dingin tanpa emosi.

Pendekar pengawal yang hampir mati itu terhuyung dan akhirnya jatuh berlutut, napasnya tersengal. Ia menoleh ke belakang, matanya menangkap sosok Tetua Peng Bei. Bibirnya bergetar, ingin bicara, namun tak ada suara yang keluar.

Pembunuhan itu membuat pertarungan yang terjadi mendadak berhenti. Orang-orang berbaju hitam yang sebelumnya sibuk mengelilingi kereta langsung membeku di tempat. Beberapa di antara mereka refleks mundur selangkah. Yang lain mengeratkan genggaman senjata, wajah mereka berubah tegang.

Aura yang dipancarkan Tetua Peng Bei tidak meledak-ledak, tidak pula mengintimidasi secara kasar. Namun justru ketenangan itulah yang membuat bulu kuduk semua orang berdiri. Penampilannya sederhana, jubahnya biasa saja, namun perawakan tegap dan tatapan matanya memberi tekanan yang sulit dijelaskan. Seseorang yang kuat telah datang.

Gao Rui berdiri beberapa langkah di belakang Tetua Peng Bei. Ia tidak bergerak, hanya mengamati. Jantungnya berdetak lebih cepat, namun bukan karena takut, melainkan karena kewaspadaan. Ini pertama kalinya ia melihat dunia luar sekte dengan cara seperti ini.

Dari barisan perampok, seorang pria paruh baya melangkah maju. Tubuhnya tinggi besar, wajahnya penuh bekas luka. Aura yang terpancar darinya jauh lebih kuat dibanding anak buahnya. Energi di sekitarnya berputar dengan stabil, menunjukkan fondasi yang kokoh. Ia seorang pendekar raja puncak.

Pria itu menatap Tetua Peng Bei dengan sorot mata tajam, namun ada kilatan kehati-hatian di baliknya. Ia jelas menyadari bahwa orang di depannya bukan lawan yang bisa diremehkan.

“Senior,” teriaknya dengan suara keras namun tertahan, “ini bukan urusanmu!”

Ia mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat pada anak buahnya agar tetap waspada namun tidak gegabah.

“Kami sedang menjalankan urusan kami sendiri. Jika senior bijak, sebaiknya tidak ikut campur.”

Tidak ada ancaman kasar dalam ucapannya, namun pesan di baliknya jelas. Ia berharap Tetua Peng Bei mundur tanpa memperpanjang masalah.

Tetua Peng Bei tidak langsung menjawab. Ia melangkah pelan ke depan, matanya menyapu medan di hadapannya. Pandangannya jatuh pada kereta kuda yang rusak, pada mayat-mayat pengawal yang tergeletak, dan akhirnya pada lambang bendera yang masih tergantung di sisi kereta.

Lambang itu sederhana namun tegas. Simbol Keluarga Ao.

Mata Tetua Peng Bei menyipit tipis.

“Jadi begitu…” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.

Ia kini tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ini bukan konflik kecil, bukan perkelahian acak di jalanan. Dari kereta kuda dan lambang bendera yang ada, jelas bahwa ini adalah rombongan Keluarga Ao. Orang-orang berbaju hitam ini… mereka datang dengan satu tujuan. Perampokan, penculikan, atau mungkin sesuatu yang lebih dari sekadar itu.

Tetua Peng Bei akhirnya mengangkat pandangannya kembali ke arah pemimpin perampok. Tatapannya tenang, namun di baliknya tersembunyi tekanan yang membuat udara di sekitar terasa lebih berat.

Gao Rui bisa merasakannya. Ia tahu, sejak Tetua Peng Bei mengenali lambang itu, kejadian ini tidak akan berakhir sederhana.

Sebelum pemimpin perampok itu sempat membuka mulut lagi, salah satu pria berbaju hitam di barisan belakang tiba-tiba tersentak. Matanya membelalak, tubuhnya menegang seolah baru saja disambar petir. Pandangannya terpaku pada sosok Tetua Peng Bei, pada ketenangan yang terlalu familiar, pada aura halus namun dalam yang menekan napasnya tanpa ampun.

“Itu… itu tidak mungkin…” gumamnya lirih, suaranya bergetar.

Ia melangkah setengah maju tanpa sadar, lalu menunjuk dengan jari gemetar. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin mengalir di pelipisnya.

“Pe–Penguasa Kartu Cahaya…” ucapnya terbata-bata. “Tetua Ketiga Sekte Bukit Bintang… Peng Bei…!”

Nama itu meluncur keluar seperti petir di tengah langit cerah. Suasana seketika berubah.

Pemimpin perampok yang semula masih berdiri tegap langsung membeku. Sorot matanya yang sebelumnya tajam kini berubah menjadi keterkejutan murni. Ia menoleh tajam ke arah anak buahnya yang berseru tadi, seakan berharap itu hanya kesalahan.

“Apa kau yakin?” desisnya rendah.

Namun sebelum anak buahnya sempat menjawab, pemimpin perampok itu kembali menatap Tetua Peng Bei. Kali ini, kehati-hatian di matanya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam, ketakutan yang berusaha ia sembunyikan.

Nama Peng Bei bukan nama sembarangan. Penguasa Kartu Cahaya, Tetua Ketiga Sekte Bukit Bintang. Seorang pendekar suci tingkat tinggi yang namanya dikenal luas di seluruh Kekaisaran Zhou. Sosok yang kuat dan jelas di luar jangkauan mereka.

Keberadaan mereka semua di sini. Sekumpulan perampok, bahkan dengan seorang pendekar raja puncak sebagai pemimpin, jelas tidak sebanding dengan sosok itu.

Beberapa perampok mulai mundur tanpa sadar. Ada yang menelan ludah, ada pula yang tangannya bergetar saat menggenggam senjata. Ketenangan Tetua Peng Bei kini terasa seperti gunung besar yang menjulang di hadapan mereka, tak tergoyahkan, siap runtuh kapan saja.

Tetua Peng Bei akhirnya membuka mulut.

“Oh,” ucapnya ringan, seolah baru menyadari sesuatu yang sepele. “Jadi kalian sudah mengenalku.”

Nada suaranya datar, hampir santai. Ia melangkah setengah langkah ke depan, lalu berhenti. Pandangannya beralih ke arah kereta kuda dan ke bagian dalamnya, tempat beberapa anggota Keluarga Ao kemungkinan masih di dalam.

“Jika begitu,” lanjutnya, “lepaskan orang-orang Keluarga Ao. Sekarang.”

Tidak ada ancaman dalam kata-katanya. Tidak ada tekanan berlebihan. Namun justru itu yang membuat dada pemimpin perampok terasa sesak. Ia tahu, ini bukan permintaan. Ini perintah.

Gao Rui yang berdiri di samping Tetua Peng Bei justru mengernyit. Ia menoleh cepat ke arah tetuanya, jelas terkejut dengan keputusan itu.

“Tetua,” katanya, suaranya jernih namun tegas, “mengapa harus melepaskan mereka begitu saja?”

Beberapa perampok refleks menoleh ke arahnya, mata mereka memicing tajam. Seorang bocah berani menyela di hadapan Peng Bei?

Gao Rui melanjutkan, tatapannya lurus ke depan.

“Jika mereka dilepaskan, para pendekar aliran hitam ini akan berbuat kejahatan lagi di lain waktu. Mereka bahkan sudah membunuh pengawal-pengawal itu.”

Udara seakan membeku. Tetua Peng Bei terdiam.

Untuk sesaat, wajah tenangnya menunjukkan kebingungan yang sangat tipis. Sesuatu yang hampir tak pernah terlihat. Ia memang berniat menyelesaikan masalah ini tanpa menambah darah di hadapan Gao Rui. Sejujurnya, ia ingin memberi pelajaran pada mereka semua, bahkan jika itu berarti menghabisi mereka di tempat. Namun pembunuhan akan tercipta.

Menurutnya, tidak baik memperlihatkan pembantaian itu di mata Gao Rui. Dunia luar memang keras, tetapi ia tidak ingin bocah itu merasa tidak nyaman, atau terbebani oleh darah yang seharusnya belum perlu ia lihat.

Hanya saja… kini bocah itu justru mempertanyakan keputusannya. Tetua Peng Bei menarik napas pelan. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa murid di sampingnya mungkin tidak selembut yang ia kira.

Sementara itu, pemimpin perampok mengumpat dalam hati.

“Sialan…” makinya. “Bocah ini…”

Tatapannya menyapu Gao Rui dengan dingin. Dalam benaknya, bocah itu mungkin murid Peng Bei dan murid itu baru saja membuka kemungkinan terburuk bagi mereka semua.

1
Zainal Arifin
joooooooosssss 💪💪💪
Kadek Erdiyasa
semangat thor💪💪 perbanyak lgi upnya mkin seru critanya ni
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
Mahayabank
Yaudah lanjuuuut lagi 🔁🔁
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
Eko Lana
mantap ayooo tunjukkan kemampuan mu Gao Rui
Andi Heryadi
ayo Gao Rui basmi semua siluman,biar mereka tahu kehebatanmu.
Tosari Agung
persis seperti gurunya chang er muridmu berkembang
Mamat Stone
🐲💥
Mamat Stone
Pria sejati 😈💥
Mamat Stone
🔪💥
Mamat Stone
👊💥
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Tongue/
Mamat Stone
/Drool/
Mamat Stone
💥
Mamat Stone
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!