Takdir memang gemar memainkan jalannya sendiri, mempertemukan hal-hal yang tampak mustahil dalam satu waktu yang sama. Di masa ini, takdir mempertemukan dua arus waktu yang saling berlawanan. Seseorang dari masa depan yang kembali ke masa lalunya, dan seseorang yang bangkit dari masa lalunya untuk menapaki kembali jalan yang pernah ia lalui.
Apa yang akan terjadi pada takdir keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyerap Batu Pelangi Surga untuk Kesekian Kalinya...
Boqin Changing tertegun. Tatapannya yang semula tenang langsung mengeras, menatap Sha Nuo dengan sorot tak percaya.
“Kau?” ulangnya pelan.
Ia benar-benar tidak pernah memikirkan kemungkinan itu. Dalam benaknya, sejak awal, ia sudah mengesampingkan Sha Nuo sebagai pilihan. Bukan karena meremehkan, tetapi justru karena ia tahu betapa mengerikannya proses itu.
Ia masih mengingat jelas rasa saat pertama kali mencoba menyerap Batu Pelangi Surga itu. Energinya bukan sekadar liar. Ia seperti inti badai besar yang dipaksa masuk ke dalam tubuh manusia.
Ia tahu betul betapa sakitnya saat menyerap sumber daya itu. Dan ia ragu… Sha Nuo mampu menahannya.
Boqin Changing langsung menggeleng tegas.
“Tidak,” katanya cepat. “Jangan gegabah.”
Sha Nuo mengernyit tipis.
“Rasa sakitnya bukan sekadar sakit biasa,” lanjut Boqin Changing, suaranya merendah namun serius. “Itu benar-benar sakit. Bahkan… lebih sakit dari petir siksaan dunia.”
Ia tidak melebih-lebihkan. Ia pernah merasakan petir itu beberapa waktu lalu. Batu Pelangi Surga itu… berada di level rasa sakit yang jauh berbeda.
Sha Nuo terdiam sesaat. Lalu ia justru tertawa. Tawa itu ringan, percaya diri.
“Tuan Muda,” katanya santai, “jangan meremehkanku.”
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kayu, menatap Boqin Changing dengan mata yang berkilat.
“Lagipula… sekarang aku berada di ranah pendekar langit.”
Kalimat itu membuat Boqin Changing terdiam. Ranah pendekar langit.
Ia menatap Sha Nuo lebih saksama. Aura pria itu memang telah berubah. Qi di dalam tubuhnya tidak lagi seperti sungai deras, melainkan seperti lautan dalam yang luas dan stabil
Ia mulai berpikir. Saat ini jika memang ada seseorang di sekitarnya yang mampu menahan luapan energi Batu Pelangi Surga… Mungkin… memang Sha Nuo.
Sebuah kemungkinan yang selama ini ia abaikan, kini muncul kembali. Jika Sha Nuo benar-benar bisa membantunya… ia mungkin benar-benar bisa menyerap Batu Pelangi Surga itu sepenuhnya.
Jika itu berhasil… setengah langkah menuju pendekar langit akan runtuh. Ia akan benar-benar menembusnya.
Sha Nuo melihat keraguan di mata Boqin Changing dan segera memanfaatkan celah itu.
“Aku tidak akan gegabah,” katanya lebih serius. “Aku sudah belajar menahan kekuatanku sendiri. Energi liar bukan sesuatu yang asing bagiku. Jika aku bisa mengendalikan pertahananku, mengapa aku tidak bisa membantu menahan badai kecil di batu itu?”
Boqin Changing menyipitkan mata.
“Badai kecil?” ulangnya pelan.
Sha Nuo tersenyum lebar.
“Baiklah, mungkin bukan kecil,” ia mengangkat bahu. “Tapi aku tidak akan tahu jika tidak mencobanya.”
Keheningan kembali turun. Boqin Changing merasakan pertarungan di dalam dirinya. Ia selalu terbiasa menanggung segalanya sendiri. Terbiasa berdiri sendirian. Bergantung pada orang lain… bukan sifatnya. Namun ini bukan soal harga diri. Ini soal menembus batas.
Ia perlahan mengembuskan napas.
“Jika kau tidak kuat,” katanya akhirnya, suaranya tegas, “kau harus segera menghentikan bantuannya. Jangan memaksakan diri.”
Sha Nuo langsung tertawa puas.
“Sepakat.”
Mata mereka saling bertemu. Tidak ada lagi canda. Hanya tekad.
“Sebentar lagi,” ucap Boqin Changing perlahan, “aku akan kembali menyerap Batu Pelangi Surga.”
Udara di ruangan itu seolah menegang. Namun sebelum itu, Boqin Changing berdiri.
“Ada satu hal yang harus kau pelajari terlebih dahulu.”
Sha Nuo mengangkat alis.
Boqin Changing mengangkat tangannya. Qi di dalam tubuhnya bergerak perlahan, membentuk pusaran kecil di telapak tangannya. Lalu api biru tipis menyala.
Bukan panas yang membakar. Justru hangat… namun mengandung tekanan aneh yang membuat kulit merinding.
“Teknik ini bernama Phoenix Biru Ektomi,” ucapnya tenang.
Api biru itu membesar sedikit, menyelimuti lengannya tanpa membakar kain maupun kulitnya.
“Teknik penyembuhan,” lanjutnya. “Api ini tidak membakar tubuh penggunanya. Ia justru menyembuhkan. Menutup luka dalam dan luar, memperbaiki tubuh yang rusak.”
Sha Nuo menatap api biru itu sambil tersenyum.
“Lebih dari itu,” tambah Boqin Changing, tatapannya serius, “teknik ini mampu meredam rasa sakit berlebihan. Ia menstabilkan saraf dan menenangkan gejolak tubuh. Saat kau menahan luapan energi Batu Pelangi Surga nanti… kau akan membutuhkannya.”
Api biru itu perlahan padam.
“Aku akan menjelaskan,” perintahnya singkat.
Sha Nuo langsung menurut tanpa protes.
Malam semakin larut. Di dalam rumah kecil itu, dua sosok duduk berhadapan. Boqin Changing mulai menjelaskan alur sirkulasi qi Phoenix Biru Ektomi dengan detail presisi, menunjukkan jalur meridian yang harus diaktifkan, titik-titik tekanan yang perlu dijaga tetap terbuka.
Beberapa kali, api biru kecil muncul di telapak tangan Sha Nuo masih redup, masih goyah. Namun ia belajar cepat. Sangat cepat.
Di luar rumah, angin malam berhembus lebih kencang. Awan tipis menutupi bulan. Di dalam, dua pendekar bersiap menghadapi badai yang bahkan langit pun mungkin enggan menyentuhnya.
Dan untuk pertama kalinya, Boqin Changing benar-benar mempertimbangkan kemungkinan bahwa hari ini… langkahnya menuju pendekar langit mungkin benar-benar terwujud.
...*******...
Api biru itu kembali menyala. Kali ini bukan di telapak tangan Boqin Changing, melainkan di tangan Sha Nuo.
Pria itu duduk tegak, napasnya teratur. Api biru yang sebelumnya goyah kini stabil, membentuk selubung tipis yang menyelimuti kedua lengannya tanpa sedikit pun membakar kulit atau pakaiannya. Ia membuka mata perlahan.
“Aku sudah memahami alurnya,” katanya tenang.
Boqin Changing menatapnya tajam. Ia mengamati sirkulasi qi di tubuh Sha Nuo dengan cermat. Tidak ada gejolak. Tidak ada penyimpangan. Jalur meridian yang tadi ia jelaskan kini berpendar samar di bawah kulit Sha Nuo, tanda teknik Phoenix Biru Ektomi telah benar-benar dikuasai.
Untuk pertama kalinya, Boqin Changing mengangguk pelan.
“Baik.”
Rencananya memang hari ini ia akan kembali menyerap Batu Pelangi Surga. Ia tidak ingin menunda lagi. Keduanya kini sudah berada di kamar Boqin Changing.
Pintu tertutup rapat. Udara di dalam ruangan terasa berat oleh tekanan qi yang sengaja ditekan agar tidak bocor keluar.
Boqin Changing mencabut sebuah pedang hitam legam di pinggangnya. Pedang itu tidak memancarkan cahaya, justru seperti menelan cahaya di sekitarnya. Ia menancapkan pedang itu ke lantai kayu tepat di depan mereka.
“Jaga kami.”
Suara Boqin Changing rendah, namun berwibawa.
Ia mulai merapal mantra. Dalam sekejap, simbol-simbol formasi yang telah ia ukir sebelumnya di lantai menyala satu per satu. Garis-garis qi hitam menyebar membentuk lingkaran besar yang menyelimuti seluruh ruangan.
Aura gelap yang dingin merayap naik dari pedang, membentuk kubah tak kasatmata. Formasi pelindung aktif.
Roh pusaka Pedang Neraka Kegelapan akan menjaga mereka jika ada gangguan dari luar. Aura kematiannya akan menekan siapapun yang berusaha masuk dalam formasi perlindungan ini.
Sha Nuo menatap sekeliling, lalu tersenyum tipis.
“Kau benar-benar penuh persiapan.”
Boqin Changing tidak menjawab. Ia mengeluarkan beberapa pil dari botol giok kecil. Aromanya tajam, penuh vitalitas.
“Telan,” katanya singkat.
Itu adalah pil penstabil qi dan pil penguat tubuh. Keduanya akan membantu tubuh menahan tekanan energi ekstrem nantinya.
Sha Nuo tanpa ragu menelannya. Boqin Changing melakukan hal yang sama. Energi pil itu segera menyebar di dalam tubuh mereka, menghangatkan dantian dan memperkuat fondasi fisik.
Mereka duduk bersila. Sha Nuo bergerak ke belakang Boqin Changing. Ia duduk bersila tepat di punggungnya, jarak hanya sejengkal. Kedua tangannya perlahan menyentuh punggung Boqin Changing.
Saat kontak itu terjadi, qi mereka bersinggungan. Api biru muncul dari telapak tangan Sha Nuo. Tidak liar. Tidak berkobar. Api itu menyala lembut, lalu mulai menyelimuti tubuh Boqin Changing dari belakang, menutupinya seperti selimut tipis yang hidup.
Boqin Changing memejamkan mata. Ia melakukan hal yang sama. Api biru Phoenix Biru Ektomi muncul di tubuhnya sendiri, menyatu dengan api milik Sha Nuo. Dua aliran energi penyembuhan berpadu, membentuk lapisan ganda. Udara di ruangan menjadi panas, bukan panas membakar, melainkan panas tekanan qi yang meningkat.
Perlahan, Boqin Changing membuka cincin ruangnya sekali lagi. Sebuah batu muncul di tangannya. Batu Pelangi Surga.
Batu itu tidak besar, seukuran kepalan tangan. Namun di dalamnya, cahaya berlapis tujuh warna berputar perlahan. Setiap warna memancarkan tekanan berbeda. Tenang di permukaan… namun liar di inti terdalamnya.
Sha Nuo kini bisa merasakannya bahkan dari belakang.
“Sekarang aku mengerti kenapa kau menyebutnya badai,” gumamnya pelan.
Boqin Changing menggenggam batu itu erat. Telapak tangannya langsung bergetar. Energi di dalam batu itu seperti makhluk hidup yang merasakan sentuhan manusia.
Ia menarik napas panjang.
“Fokus,” ucapnya.
Sha Nuo memperkuat aliran api birunya. Kedua tangannya menekan lebih mantap di punggung Boqin Changing, menyalurkan pertahanan terbaik ke dalam tubuh pria itu.
Formasi pelindung berdengung pelan. Boqin Changing menutup mata sepenuhnya.
Qi di tubuhnya berputar. Tangannya mengencang. Dan tanpa ragu sedikit pun, ia mulai menyerapnya. Cahaya tujuh warna dari Batu Pelangi Surga meledak keluar seperti retakan langit.
Energi pertama menembus telapak tangannya. Rasa sakit itu datang seketika. Bukan seperti api. Bukan seperti petir. Melainkan seperti tulang-tulangnya diremas dari dalam.
Otot-ototnya menegang keras. Namun api biru menyelimuti tubuhnya, meredam gejolak saraf yang hampir putus.
Sha Nuo menggertakkan giginya. Gelombang energi itu tidak hanya menghantam Boqin Changing, getarannya ikut menjalar ke tubuhnya.
“Ini benar-benar gila…” bisiknya tertahan.
Namun ia tidak menarik tangannya. Api biru dari telapak tangannya semakin terang. Energi Batu Pelangi Surga terus mengalir, seperti sungai pelangi yang dipaksa masuk ke dalam tubuh manusia.
Tubuh Boqin Changing bergetar hebat. Formasi pelindung berkilat. Udara di ruangan bergetar. Proses penyerapan Batu Pelangi Surga benar-benar dimulai.
berasa kurang baca nya...
tidak suka diamcam...
MOANTAP TENAAAAN...