Chen Li, pemuda desa yang tampak biasa-biasa saja, sebenarnya bukan anak miskin pada umumnya. Terpelajar dan cerdas, ia mengelola pabrik teh besar untuk Tuan Sun, sambil memahami kehidupan keras orang miskin. Ayahnya, seorang pemimpin pemberontakan, menghilang tanpa jejak, meninggalkan Chen Li dengan pelajaran hidup tentang keadilan, kemiskinan, dan batas-batas yang harus ia terima. Di sisi lain, ada Yun Xiao, gadis pemberani yang menentang ketidakadilan. Ia membenci mereka yang memanfaatkan kekuasaan untuk menindas orang lemah, dan tindakannya yang berani membuat para pejabat kekaisaran terus memperhatikannya. Suatu hari, puisi yang ditulis Yun Xiao diterbangkan angin hingga menarik perhatian putri bungsu kekaisaran. Putri itu langsung datang untuk menahannya, tapi Chen Li menghadangnya dengan berdebat hingga akhirnya Membuatnya di bawah ke istana, memaksanya memahami kekuasaan dan permainan politik yang rumit, penuh tipu muslihat bak catur hidup dan mati untuk hidup, tentang ayahny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Transisi
Madam Xu sedang minum teh. Hari-harinya selalu tenang. Dia akan memulai hari dengan minum teh kemudian pergi ke pabrik tenun keluarga. Dan pada malam harinya dia akan membaca di perpustakaan, sesekali berbicara dengan anak-anaknya, bahkan dengan Yun Taoshi. Lingkungan keluarga terasa damai dan berangsur-angsur pulih setelah insiden kematian kepala keluarga. Namun semua orang tahu, jika keluarga Yun ingin terus berkembang harus ada pengganti lain sebagai kepala keluarga.
Sementara di sebuah rumah sederhana, tiga orang sedang duduk bersama. Seorang pelayan menghidangkan teh untuk masing-masing orang. Mereka adalah tiga orang badan intelijen, hanya diam dan menikmati tehnya masing-masing.
Pelayan yang menghidangkan teh membungkuk, menutup pintu lalu akhirnya pergi.
“Apa kita akan melanjutkanya?”
Salah seorang pria berjubah hitam memulai pembicara pertama lalu meminum tehnya.
Sementara itu di jendela seseorang pria berjubah sedang memegang pedang di dadanya dan menatap rumah-rumah penduduk. Rambutnya panjang dan bersih. Dia berkata tanpa menoleh, “Julukannya pedang absolut. Anggota organisasi pembunuh. Tidak lemah. Sangat berbakat. Aku bahkan kesulitan melawannya. Jika waktu itu aku berhasil membunuhnya maka semuanya akan baik-baik saja. Tapi setelah ini tidak mudah membunuhnya.”
Dia diam sebentar dan mengingat tangannya yang gemetar, tiga naga hitam yang meraung dengan suara yang menyakitkan telinganya seperti digigit dan juga bagaimana suara aduan pedangnya yang menghancurkan fokus lawan-lawannya. Itu membuatnya berpikir siapa guru yang mengajarinya dan mengapa ada seorang pemuda yang sangat kuat seperti itu? Apa dia hanya sedang menyamar?
Dia tidak tahu bagaimana kebenarannya. Tapi melihat kemampuannya, dia sadar musuhnya tangguh. Dia kemudian menghela nafas dan meletakan jari telunjuknya di bibir gelas dan mulai mengerakannya dengan memutar.
Tiga anggota intelijen terdiam dan berpikir.
Salah satunya berkata, “Jadi kau tidak berani mencobanya lagi?”
Pria itu tidak berbalik tapi mendengar. Dia diam sejenak. “Aku bisa mencobanya, tapi aku tidak akan mau melakukannya sendirian. Organisasi pembunuh punya banyak anggota dan kita tidak tahu pasti berapa jumlahnya. Jika kalian ingin mencoba menangkapnya, maka kita perlu orang lain lagi.”
Apa yang dikatakan ada benarnya dan semua orang mengangguk setuju. Dan kasus ini tidak boleh berhenti begitu saja. Jika ini dihentikan meskipun risikonya besar maka itu akan mempengaruhi kepercayaan masyarakat.
Dan Chen, salah satu anggota berkata, “Kita hanya perlu bergerak pelan.”
“Aku akan mencari orangnya,” tambah Xiao Han.
Dan satu orang lainya, Fang Hu hanya diam. Dia tidak punya solusi apa pun untuk masalah seperti ini. Melibatkan organisasi pembunuh sangat berbahaya. Mereka harus bergerak perlahan-lahan untuk kasus ini. Tapi apa mereka akan bisa melakukannya? Dalam beberapa tahun ini pembunuhan yang melibatkan organisasi pembunuh pelakunya tidak pernah di tangkap. Apa mereka akan berhasil kali ini? Dan selain itu... Dia membuka mulutnya, “mengapa kita tidak mencari tahu siapa yang menyuruhnya? Dalam kasus ini, kita pasti tidak kesulitan mencari pelakunya? Tentu saja bukan orang biasa yang mampu membayar pembunuh tingkat tinggi?”
Apa yang di katakan Fang Fu ada benarnya dan dua orang lainya menganggukkan setuju, hanya pria yang berjubah hitam masih diam dan memperhatikan orang-orang di luar yang lalu lalang. Waktu itu adalah suasana pagi hari yang cerah, jadi sangat bagus menyaksikan pemandangan musim semi.
Lalu tidak ada percakapan lagi. Fang Fu, Dan Chen dan Xiao Han tenggelam dalam pikiran masing-masing. Mereka bahkan lupa menghabiskan teh mereka dan sibuk berpikir seolah teh hanya formalitas.
*****
Sementara ketegangan itu terjadi Chen Li terus bekerja tanpa hambatan apa pun dan semuanya berjalan damai. Yun Xiao tetap berjualan meskipun semakin hari semakin sepi dan mulai juga berjualan buku.
Lalu badan intelijen bekerja keras memecahkan kasus ini. Dan untuk keluarga Yun, bisnis berlangsung dan semuanya terlihat baik-baik saja.
Dan terakhir, Kerata Cha Yin akhirnya memasuki gerbang ibukota. Dia hanya menyibak sebentar korden untuk melihatnya lalu kembali menutupnya.
****
Tuan putri bungsu membuka jendela dan angin malam masuk, pemandangannya juga tersajikan. Dia menguap dan menutup mulutnya dengan tangan kecil yang rapuh hampir seperti ranting-ranting persik. Menatap sebenar pemandangan malam, dia menarik kursi dan memperbaiki gaun nya agar tidak kusut ketika duduk. Mengambil tusuk rambut di meja, menyadarkan kepalanya pada tangan satunya, dia teringat dengan seorang di masa lalu yang tidak pernah dia ketahui siapa namanya. Tapi dia mencuri ciuman pertamanya hingga membuat menutupnya dengan kedua tangannya.
Pemuda itu tersenyum dan berkata, “Aku hanya menciummu. Kita masih kecil, itu tidak akan apa-apa.”
“Kamu mencium bibirku! Kamu tidak boleh melakannya. Aku seorang tuan putri, bahkan jika kamu mencium pipiku!”
Tuan putri sangat kesal waktu itu sehingga pergi begitu saja. Mereka memiliki master yang sama, tapi tidak selalu bertemu. Tuan putri penasaran bagaimana rupa laki-laki itu sekarang. Ketika dia bertemu dengannya nanti, dia pasti akan menghukumnya.
Dia lalu menoleh dan melihat buku kumpulan pusi yang di dapatkannya dari pelayan. Membukanya sekilas lalu berpikir dan menegakkan tubuhnya.
“Buku ini menarik.”
Dia mulai membuka dan membacanya.
Sementara langit malam dari jendela memperlihatkan bulan penuh dan beberapa kali awan-awan lewat. Juga ada angin yang berhembus.
Tuan putri menguap lagi. Menutup buku itu kemudian berdiri mendekati cermin. Dia menarik hiasan rambutnya satu persatu hingga membuat rambut panjangnya terurai. Dia menatap wajahnya sebentar lalu menguap lagi. Menutup jendela dan akhirinya tertidur.