Fang Yuan kehilangan kedua orang tuanya karena ulah kultivator.Lalu Ia hidup bersama kakeknya hingga akhirnya sang kakek pun meninggalkannya seorang diri.
Di tengah kerasnya dunia, Fang Yuan menemukan sebuah buku kultivasi. Tanpa bakat, tanpa dukungan, hanya dengan tekad.
“Aku akan melakukan apa pun 1000 kali… sampai berhasil.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Pijar Langit(fix)
Kegelapan masih menyelimuti Kota Awan Putih saat Fang Yuan menyelinap keluar dari penginapan.
Udara pagi yang menusuk tulang terasa seperti jarum-jarum es yang menembus kulitnya.
Tas kecilnya terikat erat di punggung, berisi seluruh "asuransi" nyawanya: belati, racun, dan sedikit makanan.
"Kerja keras hanyalah pondasi. Kelicikan adalah atapnya." bisik Fang Yuan pada dirinya sendiri.
Sejak kematian kakeknya, kepercayaan adalah kemewahan yang tidak lagi ia miliki. Baginya, setiap bayangan adalah musuh, dan setiap suara adalah ancaman.
Ia menyalakan obor. Api kecil itu menari-nari, melemparkan bayangan panjang yang aneh di atas jalanan setapak yang licin.
Saat ia memasuki batas hutan di kaki Gunung Awan, ketegangan mulai merayap di tengkuknya.
SREK! SREK!
Fang Yuan berhenti mendadak. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging.
Ia mencabut belati hitamnya, jemarinya gemetar sedikit—bukan karena takut, tapi karena adrenalin yang meluap.
GRERWW!
Sesosok raksasa gelap melompat dari semak-semak, mendarat tepat di depan Fang Yuan.
"T-ternyata itu kau, Chi Yan Zhu!" Fang Yuan mengembuskan napas panjang yang tertahan. Sosok babi hutan raksasa itu mengibaskan ekornya, matanya yang merah berkilat dalam kegelapan. "Kau hampir membuat jantungku copot, dasar babi sialan."
Fang Yuan melemparkan sepotong daging asap sebagai hadiah, lalu naik ke punggung keras makhluk itu. "Ayo. Kita punya harta yang harus dicuri."
Chi Yan Zhu melaju seperti kilat merah di tengah kegelapan hutan.
Saat matahari mulai mengintip dan mengusir kabut, mereka tiba di dataran tinggi yang menakjubkan. Di depan mereka berdiri Pohon Raksasa yang disebutkan dalam catatan itu.
Pohon itu begitu besar sehingga akarnya tampak seperti naga yang membelit gunung.
Batangnya berwarna kelabu tua dengan guratan-guratan biru yang sesekali memercikkan listrik statis.
Puncaknya hilang di balik gumpalan awan tebal, seolah-olah ia adalah pilar yang menahan langit agar tidak runtuh.
Fang Yuan turun dan mulai mencari. "Akar yang tersambar petir abadi ..."
Ia mulai menggali. Tanah di sekitar pohon itu sangat keras, hampir seperti semen. Menit berganti jam.
Kukunya mulai berdarah, pakaiannya penuh lumpur, dan peluhnya bercampur dengan debu tanah.
"Satu jam ... belum ada."
"Dua jam ... masih nihil."
Bagi orang lain, ini mungkin waktu untuk menyerah. Tapi bagi Fang Yuan, ia sudah terbiasa dengan "seribu percobaan".
Pada jam ketiga, saat ia menggali di celah akar yang paling dalam, ujung belatinya menghantam sesuatu yang keras dan berbunyi 'TOK'.
Fang Yuan menarik sebuah kotak kayu kuno yang dibalut segel kertas yang sudah lapuk. Begitu ia membuka tutupnya, sebuah cahaya ungu terang meledak keluar.
Mutiara Petir.
Benda itu hanya seukuran kepalan tangan bayi, namun di dalamnya terdapat badai petir yang terperangkap. Getarannya begitu kuat hingga rambut Fang Yuan berdiri tegak.
"Sial! Ini terlalu kuat!" seru Fang Yuan panik.
Ia mencoba menutup kotak itu kembali, namun terlambat. Mutiara itu bereaksi terhadap Qi di udara pegunungan.
Sebuah pilar cahaya ungu kebiruan melesat keluar dari kotak, menghantam langit dengan suara gemuruh yang dahsyat.
WHOSH! BOOM!
Langit di atas Gunung Awan yang tadinya cerah mendadak dipenuhi awan hitam yang berputar. Pilar cahaya itu seolah-olah menjadi suar yang meneriakkan lokasi Fang Yuan ke seluruh penjuru dunia.
"Chi Yan Zhu, lari!"
Fang Yuan melompat ke punggung peliharaannya tanpa peduli pada kotak yang kini terasa panas membara. Mereka melesat menuruni lereng gunung secepat mungkin.
Jauh di atas sana, melayang di atas sebuah pedang terbang yang diselimuti aura hijau, seorang pria paruh baya dengan janggut tipis tersenyum licik.
Matanya yang tajam menatap pilar cahaya tersebut dengan kepuasan yang mendalam.
"Sepuluh tahun aku mencari petunjuknya ... dan ternyata bajingan tua itu menyembunyikannya di bawah hidungku." ucap pria itu, yang tak lain adalah Bai Lie.
Ia membelai janggutnya, melihat sosok kecil Fang Yuan yang sedang melarikan diri di kejauhan.
"Bagus sekali, Nak. Kau telah membantuku menggali harta ini. Sekarang, biarkan aku membantumu melepaskan beban berat itu dari tanganmu ... selamanya."
Bai Lie menghentakkan kakinya pada pedang terbangnya, melesat turun seperti elang yang mengincar kelinci di padang rumput.
ini mengingatkanku pada wang lin.
tapi aku menyukai alur ini, sangat menarik.