NovelToon NovelToon
Fattah Possessive Badboy

Fattah Possessive Badboy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kapten cantik

DI LARANG MENJIPLAK CERITA INI!!!

"Jangan pernah berpikir buat bisa keluar dari dunia gue! Kalau sampai lo nekat kabur, berantakan hidup lo.

Ngerti?"

"Who are you? Siapa lo berani ngancam gue?"

"Kalau lo nggak amnesia, gue suami lo sekarang. Gue cuma mau lo nurut. Gampang, kan?"
_____________________________________

Fattah Andara Fernandez-badboy utama SMA Taruna Jaya Prawira yang memegang bidak king. Di kenal kasar dengan karisma menindas.

Fattah memiliki segalanya. Membuat dia dengan mudah mengikat sesuatu dan menghancurkan apapun yang dia mau.

Kecuali satu...

Aqqela Calista.

Karena pembalasan dendam atas kematian Sandrina -kekasihnya, ayah Aqqela tewas. Tidak puas, Fattah justru menarik Aqqela dan menjeratnya dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.

Membawa Aqqela ke Jakarta Selatan dan meninggalkan segalanya di Jakarta Pusat termasuk Oliver Glenn Roberts-pacarnya sekaligus musuh Fattah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kapten cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Perang Lapangan

"Lepasin gue!" Aqqela menepis kasar tangan Oliver, lalu memutar badan-menatapnya tajam, "Jangan bikin malu diri lo sendiri di sini!"

Oliver menyadari jika seluruh pasang mata menatap keduanya sekarang, tapi dia masa bodoh.

"Terus kamu pikir aku peduli sama mereka? Enggak, Qell."

Aqqela mengalihkan wajah, di susul senyum sinis, "Terserah lo," katanya lalu membalikkan badan ingin beranjak.

"Aqqela..." Oliver menarik lengannya lembut, mencegahnya pergi, "Aku minta maaf! Aku nggak akan bela diri lagi sekarang."

Aqqela mendongak, memandangnya.

"Semuanya emang karena papa kamu. Karena dia, mama di penjara padahal mama aku nggak salah." Pemuda itu meraih kedua pipi Aqqela, "I'm really sorry! Harusnya aku nggak libatin kamu ke masalah ini."

"Denger, semuanya udah selesai. Antara kita udah nggak ada apa-apa lagi. Buat apa lo jelasin semuanya? Supaya gue makin benci sama lo?"

"Qell..."

"Kalau lo tanya apa lo berhasil bikin gue sakit hati?" Aqqela mengangguk, "Ya, lo berhasil. Jadi, gue nggak perlu teriak-teriak sekarang, supaya lo ngerti, kalau gue udah benci banget sama lo sekarang."

Aqqela berbalik badan, "Stop di sana!" sentak gadis itu saat Oliver ingin menyusulnya, "Please, jangan muncul lagi! Gue susah payah pengen ngelupain semuanya tentang kita. Gue juga nggak berusaha pengen balas dendam sama lo. Jadi tolong, jangan ganggu gue lagi! Kita jalan masing-masing sekarang."

Aqqela menghapus bulir yang jatuh ke pipinya, "Bukannya bagus, lo nggak ngerasa terbebani lagi pacaran sama anak dari hakim licik itu? Dan lo hebat banget karena berhasil bikin gue jatuh cinta."

Aqqela tersenyum sinis dan melangkah menjauh dari Oliver yang menelan ludah tercekat.

"Kamu nggak pernah sayang sendirian, Qell!" seru Oliver lantang membuat Aqqela menghentikan langkah dan orang-orang yang menonton ikut terdiam, "Pikiran kamu yang bilang aku terlalu jahat di sini. Tapi aku sayang sama kamu. Aku nggak bohong."

Oliver bergerak cepat mendekat, meraih tangannya-meminta Aqqela melihat ke arahnya.

"Aku kalah. Aku kalah sama permainan aku sendiri."

Setetes air mata lolos di pipi Aqqela, sementara mata Oliver memerah.

"Harusnya aku nggak boleh pakai hati sejak awal. Tapi bodohnya, aku malah ngerasa bahagia setiap bareng kamu. Aku seneng tiap lihat kamu ngomel karena aku nakal, aku ngerasa hidup lagi setiap sama kamu, dan aku selalu cemburu setiap kamu deket sama cowok lain di sekolah."

Oliver menggigit bibir, "Jimmy pernah bilang, aku lagi dapat karma. Karena kalau aku rasain itu semua, berarti aku udah sayang sama kamu."

Aqqela mengalihkan wajah sesaat dan memandang Oliver dingin, "Buat apa lo jelasin? Gue nggak peduli," katanya menepis tangan Oliver, membuat pemuda itu terdiam.

Aqqela mundur beberapa langkah, "Lo pikir setelah semua kebohongan lo, gue bakalan percaya sama mulut lo? Lo aja bisa acting selama satu tahun lebih, sampai gue beneran ketipu sama lo."

Tenggorokan Oliver terasa kering. Untuk membuka suaranya saja dia sudah tidak mampu.

"Gimana rasanya punya dua pacar? Lo nggak pusing mikirin jadwal apel?" sindir Aqqela, "Hebat banget."

Oliver tersentak kaget, "Aku nggak pernah suka sama Vicky. Dari awal-"

"Gue nggak peduli sama urusan kalian. Lo berdua tuh sama aja tau nggak. Sama-sama pemain handal."

"Kenapa tiba-tiba kamu jadi keras kepala kayak gini? Aku nggak bohong kalau semua yang kita lewatin itu nggak ada yang palsu. Aku beneran bahagia setiap sama kamu," katanya dengan nada lembut.

Aqqela menarik napas panjang dan mendongak menatap Oliver, "Kita sampai di sini aja! Semuanya udah salah dari awal."

"Nggak. Aku nggak mau." Oliver menggeleng tegas, lalu memegang kedua bahu Aqqela, menghadapkan ke arahnya, "Bukannya aku sering bilang, kalau lagi berantem, bukan begini caranya, Qell. Nggak dengan langsung kamu minta putus."

"Terus elo mau apa? Nggak ada lagi yang bisa di pertahanin."

"Ada. Aku tau kamu masih sayang sama aku. Dan aku sayang banget sama kamu."

Aqqela menunduk, tak berani mengangkat wajahnya. Dia menatap nanar sepatunya.

"Bahkan sesayang-sayangnya gue sama lo, gue nggak akan cari lo lagi," lanjut Aqqela tegas.

Gadis itu membulatkan tekad, menepis tangan Oliver dan berlari menjauh, membuat Oliver seketika mengumpat dan berlari menyusulnya.

"Qel, please! Jangan kayak gini!" pintanya saat mereka di pinggiran lapangan.

Aqqela menggigit bibir. Mati-matian tetap ingin tegar di depannya, meski matanya sudah memerah sekarang, "Gue udah bilang kan, jangan ganggu gue lagi! Semua hal tentang lo, udah bikin gue capek tau nggak. Gue nggak mau peduli sama lo lagi, gue nggak mau sayang sama lo lagi, gue nggak mau kangen lo lagi. Gue muak sama semua

GREP!!!

Semua orang membulatkan mata saat Oliver tiba-tiba menyentakkan tubuh Aqqela ke arahnya, membuat tubuh Aqqela menegang.

"Maaf!" bisik Oliver lembut dengan mata memerah.

Pemuda itu memejamkan mata, menaruh dagunya di atas puncak kepala Aqqela, dengan kedua tangannya semakin merengkuh tubuh gadis itu-kian erat.

Kedua tangan Aqqela mengepal di kedua sisi tubuhnya, sementara Oliver menguatkan dekapan, enggan melepaskan.

"Aku harus gimana lagi biar kamu mau maafin aku? Aku salah, tapi aku nggak mau lepas kamu," kata Oliver sambil menaruh wajahnya di bahu Aqqela dan terisak pelan.

Sementara itu, di pintu masuk GOR, Fattah sudah meronta-ronta ketika tangannya di tahan-tahan anak basket supaya tidak menghampiri mereka-karena tau apa yang akan terjadi.

Apalagi Noel yang paling heboh.

"KALEM BOS, YA ALLAH!" rancau Noel memegangi dada Fattah.

"MASIH PAGI WOI YA AMPUN!" kata Mattew ikutan lebay.

"Sabar Ka, sabar! Mungkin itu mereka lagi nyelesaiin konflik aja," kata Jefan paling kalem.

"Lepasin gue brengsek!" umpat Fattah, tetapi tubuhnya masih di tahan anak basket dengan kompak.

"НЕНННН JANGAN MAJU!" Mattew mendorong jidat Fattah agar cowok itu mundur lagi.

"Kenyalkan hatimu, Fat!" seru seseorang yang memegangi pundak Fattah.

Pemuda itu mengeraskan rahang dan menatap dingin ke arah Aqqela yang kini mendorong pelan dada Oliver.

Mereka saling bertatapan, membuat dada Fattah bergemuruh, merasa tersinggung begitu saja.

Fattah benci gadis itu di dekati cowok lain-terutama Oliver Roberts seseorang yang masih Aqqela cintai.

"Gue nggak akan aneh-aneh. Apaan sih?!" amuknya meronta.

"Bos, dengarkan daku!" Noel meraih kedua pipi Fattah agar menatapnya, "Kita melakukan ini demi kebaikanmu bos."

"JIJIK GOBLOK!" Mattew mendorong sebal mukanya.

***

Aqqela duduk di kursi pinggir lapangan sambil merunduk ke kertas di meja dengan wajah dingin, menulis skor akhir untuk SMA Sevit melawan SMA Dharma Wijaya.

Di sini, Aqqela kebagian menjadi penulis skor secara manual di kertas, atas perintah pak Sofyan.

Sejak tadi, anak-anak OSIS tidak ada yang berani menegurnya, karena tau suasana hati Aqqela lagi buruk setelah bertemu mantannya.

"Gimana? Aman, kan?" tanya Arsen merunduk ke kertas Aqqela.

"Iya, udah sama kok sama skor di papan digital."

Arsen mengangguk, lalu menoleh ke Cakra, "Lanjut, Cak!"

"Oke, untuk para peserta semua yang sudah hadir di sini," seru Cakra dengan mikrofon di tangan dan merunduk ke skema pertandingan, "Pertandingan akan kami lanjutkan."

"Pertandingan selanjutnya, antara SMA Starlight, melawan SMA Taruna Jaya Prawira. Beri tepuk tangan yang meriah wooo!" seru Cakra membuat gerakan menulis Aqqela terhenti, "Untuk para pemain di harap segera masuk ke lapangan."

Semua orang mulai ternganga tegang, mendengar nama sekolah yang di sebutkan barusan.

"Cak, itu serius?" tanya Arsen memastikan.

"Lah, sesuai di skema kan, Sen?" tanya Cakra polos.

Aqqela mengulum bibirnya, melihat Fattah dan Oliver mulai masuk dari sudut lapangan berbeda-di susul anggota mereka yang lain beserta pelatih.

Gadis itu kembali merunduk, menulis nama-nama sekolah di pertandingan setelah ini.

Fattah duduk di bangku pemain, mengikat tali sepatunya dengan wajah dingin, membuat Mattew dan Noel lempar pandang penuh kode.

"HMMMMMMMMMM..."

Mereka manggut-manggut secara bersamaan dengan wajah misterius.

"Elo lagi mikir sama kayak gue kan, kalau bakalan ada badai setelah ini?" tanya Mattew sok tau.

"Bukan. Gue lagi mikir, dingin-dingin begini paling enak makan Indomie Soto pakai telur setengah matang."

Mattew langsung mengumpat dan menabok kepalanya.

Di sisi lapangan lainnya, Oliver menatap tajam Fattah yang lagi duduk di bangku pemain.

Jimmy menyenggol lengan Diego, "Gue yakin, kalau bakalan ada bom habis ini."

Diego mengangguk cepat.

"Untuk seluruh pemain, di harap langsung merapat ke tengah lapangan pertandingan sekarang juga. Terimakasih!" ujar Aqqela menggunakan mikrofon, mewakilkan Cakra yang pergi ke toilet.

Oliver dan Fattah kompak menoleh ke arah gadis itu.

Kedua kubu langsung melangkah ke tengah lapangan, dengan Fattah dan Oliver kini berpandangan tajam.

Aqqela sampai merunduk, menutupi wajahnya, tidak sanggup melihat apa yang akan terjadi.

Sementara Noel, Mattew, Jimmy dan Diego malah ikut-ikutan saling melotot satu sama lain, dengan wajah menantang.

Jefan hanya bisa menghela napas, sementara para penonton sudah riuh, walau beberapa harap-harap cemas.

"AQQELA!" panggil Noel membuat Fattah dan Oliver tersentak, apalagi saat Aqqela melihat ke arah mereka, "Mau dukung yang mana, neh? Mantan tersayang atau gebetan baru?" godanya.

Aqqela membelalak dan mengumpat pelan.

Sementara Fattah dan Oliver melirik geram cowok kurus itu.

"AW-AW!" Satu lapangan ikutan menyoraki.

"ASEK-ASEK JOS!"

Sementara cewek-cewek sudah merengek ingin menjadi Aqqela yang di perebutkan dua kapten.

Sementara atlet sekolah lain yang awalnya tak tau apapun, jadi mulai paham.

"Dukung Oliver aja, Qell! Lebih menjamin sayangnya," kata Jimmy.

Mattew mendelik kecil, "Ya nggak bisa gitu dong. Aqqela harus sportif dukung sekolahnya sendiri."

"Lah, suka-suka dong." Jimmy melotot menantang.

Aqqela mendengus. Gemas ingin melempar mereka pakai sepatu. Dia meraih mikrofon di depannya, "Gue nggak dukung siapa-siapa. Udah, kalian semua main yang bener!"

"KYAAAAAAAA!!!" Satu lapangan langsung ambyar saat Aqqela menyahut, sementara Arsen di sebelah Aqqela terkekeh pelan.

"Tepuk tangan yang meriah, ya! Jangan ada yang tegang," seru Aqqela padahal dia sendiri tegang.

"Elo lihat kejadian tadi, kan?" tanya Oliver tersenyum miring ke Fattah.

Tatapan tajam Fattah berubah dingin, "Maksud lo?"

"Gue yakin lo nggak budeg, buat denger semuanya, kalau Aqqela masih sayang sama gue."

Fattah tersenyum sinis, "So?"

"Gue harap lo tau diri aja, sih. Buat nggak usah ngejar-ngejar dia lagi."

"Who are you? Lo juga cuma mantannya sekarang."

Rahang Oliver mengeras begitu saja, "Dia cuma lagi marah sama gue. Dia bakalan balik lagi sama gue setelah ini," katanya dingin.

"Oh, ya? Selagi gue belum lepas dia, Aqqela nggak akan bisa kemana-mana."

"Brengsek! Lo-"

"Bagaimana? Sudah siap?" Wasit memasuki lapangan dan berdiri di antara mereka.

Para pemain langsung bersiap di posisi masing-masing dengan kedua kapten berpandangan di dekat wasit yang memegang bola.

"Ingat, buat selalu sportif!" ujar wasit.

Oliver dan Fattah mengangkat alis sejenak, lalu mengangguk.

"Oke, go!"

PRITTTTTT!!!

Peluit di bunyikan bersamaan dengan bola basket di lempar ke atas.

Fattah dan Oliver melompat kompak, dengan Fattah lebih dulu menolakkan bola basket ke arah Noel yang langsung berlari sambil men-dribble-nya cepat.

"Shit!" umpat Oliver dan berlari mengejar.

"El, oper-oper!" seru Fattah mengangkat tangannya.

Noel dengan cepat mengoper bola di tangannya ke arah Fattah yang langsung menggiring bola itu pergi sambil berlari cepat.

Oliver berhenti di depannya, lalu melompat ke atas mem-block bola yang akan di oper Fattah ke Jefan.

"Brengsek!" Umpat Fattah saat bola itu di giring Oliver pergi.

Mattew berlari mencegahnya, namun Oliver lebih cerdik dengan melemparnya ke belakang, yang di terima langsung oleh Jimmy dan di shoot cepat ke ring.

BRAK!!!

Bola berhasil masuk.

Poin pertama untuk SMA Starlight.

"YES!!!" sorak Oliver ber-tos ria dengan teman-temannya membuat Fattah meremas kepalanya sambil mengumpat.

Oliver menoleh ke pinggir lapangan, tersenyum begitu saja pada Aqqela yang menatapnya tenang.

Jefan menepuk bahu Fattah, "Fokus!"

Fattah mengangguk pelan.

Permainan di lanjutkan. Kali ini SMA Taruna Jaya Prawira menguasai bola, dengan Jefan men-dribble bola itu cepat, lalu di oper dan di sambut Fattah yang berlari menggiring bola.

"MAJU TERUS FAT, TUNJUKIN KALAU LO KAPTEN!" seru Cakra bersorak heboh dari pinggir lapangan.

Aqqela duduk di sebelahnya, memandang jalannya pertandingan sengit itu.

Para penonton sendiri sudah terbakar antusias saat para pemain saling berlarian menggiring dan mengejar bola.

Terlebih saat mereka tau, ini bukan tentang pertandingan, tapi tentang dua geng motor yang tidak pernah akur sejak dulu.

"Shoot langsung Fat, shoot!" seru Dani anggota OSIS.

Oliver melesat cepat ke ring, menyadari Fattah hendak men-shoot bola ke ring, namun Fattah lebih cerdik dengan memutar tubuhnya merasa Oliver menubruknya pelan dan segera melempar ke Mattew yang melompat menerimanya.

"Anjing!" umpat Oliver pelan.

Bola di oper oleh Mattew ke Fattah, dengan Mattew segera menahan Oliver, memberikan kesempatan Fattah menembakkan angka.

Fattah masih memegang bola, berlari dua langkah dan melompat, menekuk pergelangan tangan, lalu melempar dengan kekuatan dan mata fokus.

BRAKKK!!

Bola berhasil masuk.

"WOAHHHH!!" Teriak semua orang histeris, sementara Fattah sudah berpelukan dengan teman satu tim-nya heboh merayakan.

Aqqela merunduk menulis poin pertama untuk tim sekolahnya.

Bola kali ini di pegang oleh Diego-tim SMA Starlight. Namun saat ingin di oper ke Jimmy, bola itu justru di tangkap cepat oleh Fattah yang melesat maju.

Namun baru akan men-shoot-nya ke ring, tiba-tiba Oliver muncul dari sampingnya-

BRAK!!!

Semua orang tersentak saat Fattah terbentur Oliver dan tersungkur ke lantai lapangan dengan keras.

"Fatt...!" Aqqela berdiri kaget tanpa sadar.

Fattah memejamkan mata, merasakan sakit luar biasa di bagian lututnya. Dia menoleh dingin ke Oliver yang menatapnya sinis.

BUGH!!

"ANJING!" Fattah melayangkan kepalan tangannya ke sudut bibir Oliver hingga berdarah.

Oliver jatuh ke lapangan dan terkejut begitu saja.

"BOS!!" panik Jimmy.

"Brengsek lo!" Oliver menendang perut Fattah tak mau kalah.

"Lo sengaja kan mau bikin gue cidera? Bangsat lo emang!" kata Fattah.

BUGH!!

Fattah memukul pelipis Oliver, membuat semua orang terkejut.

"Gue nggak sengaja anjing! Apaan, sih?" Oliver membalasnya dengan pukulan serupa.

PRITTTTTTTT!!!

Wasit sudah meniupkan peluit, tetapi pertengkaran di lapangan masih di lanjutkan.

Semua penonton di tribun ternganga tegang dan antusias melihat kejadian ini.

"OLIV WOI UDAH!" seru Diego memisahkan.

"ASTAGHFIRULLOH BOS!" Noel menahan-nahannya panik.

Fattah dan Oliver menepis kasar tangan mereka, kemudian saling serang satu sama lain, dengan tangan saling mencekik leher satu sama lain dengan rahang mengeras.

"Lepasin Aqqela! Dia nggak cocok sama lo," kata Oliver mendorong dada Fattah kasar.

"Kenapa? Lo takut kalah saing?" sinis Fattah mendorongnya balik.

Semua orang makin panik tak karuan.

"Aduh, perang lagi nih kayaknya," kata Catu di bangku tim cheerleaders.

"Lo emang anjing, ya! Siapa yang takut saingan sama lo?" umpat Oliver menendangnya kasar.

"Lo yang anjing, bangsat!" Fattah melayangkan pukulan lagi, sampai Oliver memekik sakit.

PRITTTTTT PRITTTTT!!

Wasit kembali memisahkan dan meniup peluit, tetapi masih tidak di gubris.

"Bos lo tuh emang bacotnya gede," kata Jimmy pada Noel.

Noel ternganga dan mendorongnya balik, "Bos lo kelakuannya yang kayak sampah setan," amuknya.

"WOI-WOI UDAH!" lerai Jefan memisahkan mereka.

"Anak Starlight emang anjing semua!" seru Mattew membuat Diego mengumpat.

"Bilang apa lo? Kelakuan anak-anak sekolah lo yang kayak anjing ya," bentak Diego.

"Apa? Lo nantang?" Mattew langsung menjepit leher Diego dengan lengannya, membuat Diego tak mau kalah dan menjepit lehernya balik.

Alhasil, kedua tim sekarang malah sibuk tawuran di lapangan, membuat semua orang histeris.

"WOI KALEM WOI, ASTAGA!" Cakra berlari ke tengah lapangan.

Aqqela sendiri berlari dan mati-matian mencoba memisahkan Fattah dan Oliver.

"OLIVER, UDAH!" teriak Aqqela histeris mendorong dadanya cepat, "FATTAH, STOP!" serunya karena mereka masih saling serang.

Aqqela bahkan terlempar berkali-kali karena dorongan kasar keduanya, tetapi dia kembali berdiri dengan susah payah.

Fattah mencengkram leher Oliver kasar dan menatapnya dingin, membuat Oliver terbatuk-batuk dan menyerangnya balik.

Aqqela menarik kasar lengan Fattah.

PLAK!!

Fattah tersentak saat pipinya di tampar keras oleh Aqqela.

Gadis itu mendorong Oliver dengan kasar kali ini.

PLAK!!

Oliver juga sama terkejutnya saat pipinya di tampar oleh gadis itu.

Keduanya reflek mundur, tersadar begitu saja dengan apa yang mereka lakukan.

Oliver dan Fattah juga sama-sama tersentak melihat siku Aqqela yang berdarah karena sempat terjatuh beberapa kali demi memisahkan keduanya.

"LO BERDUA TUH UDAH GILA, YA?" bentak Aqqela meradang, membuat Fattah dan Oliver langsung terdiam, "Nggak malu bertingkah kayak anak kecil begini?"

Napas Fattah terengah lelah, memegangi sudut bibirnya yang terluka, pun dengan Oliver yang tidak kalah babak belurnya.

Anak-anak basket yang lain juga ikut terdiam sekarang.

"Lo semua juga sama, bukannya misahin temen yang berantem malah ikut tawuran," seru Aqqela marah.

Wasit melengos keras, "Untuk tim dari SMA Starlight dan SMA Taruna Jaya Prawira, kalian di diskualifikasi."

Seluruh orang berseru tidak terima, terutama Oliver dan Fattah yang melebarkan mata kaget, dengan raut wajah memprotes.

"Silahkan keluar dari lapangan! Tidak ada bantahan," kata wasit tegas dan berlalu pergi.

Anggota PMR yang berjaga di pinggir lapangan, langsung merapat ke lapangan, membantu para pemain basket yang terluka.

"Qell, urusin mereka!" kata Arsen dan menyusul yang lain.

Meninggalkan Aqqela yang terdiam di antara dua pemuda itu.

Pandangannya menoleh ke Oliver yang terluka parah, lalu beralih ke Fattah yang sama babak belurnya.

Kedua pemuda itu sama-sama merunduk, tak berani menatap Aqqela, karena malu sudah bertingkah se-kekanakan ini.

Aqqela menghela napas.

Sekarang, Aqqela yang bingung, karena di posisi sulit ini.

***

1
Amanda Safira
Mirip cerita Natusa&Rhysaka di pf sebelah kak, Aku termasuk followers penulisnya 😂
Langit Biru
kamu terinspirasi dari sinet agz ya? semangat menulis nya, ntar kalau udh tamat aku kemari lagi😍
Kapten Cantik: Terima kasih kk suportnya🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!