Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.
Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."
Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?
Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.
Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Luka di Punggung Risma
Hari ke-1.553. Tengah malam.
Ada yang hangat merembes di punggungku.
Aryo terbangun dengan jantung berdebar. Gelap. Hanya lampu minyak di sudut kamar yang menyala redup, membuat bayangan-bayangan aneh menari di dinding. Kutempelkan telapak tangan ke kasur. Hangat. Basah. Bukan pipis. Ini lain. Ini lebih kental.
Kulihat Risma di sebelah Budi. Ia terbaring diam seperti biasa. Tapi di bawah tubuhnya... hitam. Basah hitam meresap ke kasur tipis kami.
Kutelusuri sumber basah itu. Jari-jariku gemetar menyentuh kain sarung Risma. Dari bawah punggungnya. Kuangkat tubuhnya yang ringan—Tuhan, kenapa ia seringan ini untuk anak lima tahun?—dan kulihat sesuatu yang membuat jantungku berhenti.
Luka.
Luka besar di punggungnya.
Sebesar telapak tanganku. Hitam di pinggir, merah keunguan di tengah. Membusuk. Berisi nanah dan darah kering yang membasahi bajunya. Dan—
bergerak.
Belatung. Puluhan belatung putih gemuk bergerak di dalam luka. Menggeliat. Memakan daging anakku.
Dunia serasa runtuh dalam diam.
Risma tak bersuara. Tak bisa berteriak. Tak bisa protes. Tak bisa bilang, "Pa, sakit." Ia hanya diam berhari-hari. Berminggu-minggu. Menahan sendiri. Sementara aku dan Dewi tidur nyenyak di sampingnya.
"RISMA!"
Jeritanku memecah malam. Kuguncang tubuh mungilnya. Matanya terbuka. Samar. Redup. Tapi ia melihatku. Bibirnya bergetar mencoba tersenyum. Seperti biasa. Seperti selalu.
"Pa... Risma kedinginan..."
Suaranya hampir tak terdengar. Seperti daun kering tersapu angin.
Dewi terbangun. "Mas? Ada apa—"
Aku tak sempat bilang apa-apa. Dewi melihat punggung Risma. Wajahnya pucat pasi. Matanya membelalak. Ia memegangi dadanya, ingin berteriak tapi suaranya tak keluar. Lantas tubuhnya jatuh ke samping. Pingsan.
"Ayu! Dewi!" Aku goyang-goyang istriku. Tak sadar. Di pelukanku, Risma menggigil. Napasnya cepat. Pendek-pendek. Seperti orang kehabisan napas. Seperti orang yang lelah berperang sendirian.
"Pa... adik nangis..."
Kulihat Budi. Bangun. Menatapku dengan mata bulat penuh ketakutan. Bibirnya bergetar. Belum mengerti apa yang terjadi, tapi tangisnya pecah. Keras. Melengking.
Aku bingung harus pegang siapa dulu. Istri pingsan. Anak pertama sekarat. Anak kedua menangis ketakutan.
"Di-am, Nak... di-am..." Suaraku serak. Gemetar. "Pa urus kakak dulu, ya?"
Kutidurkan Risma perlahan. Kuraih jaket tipis di pojok kamar. Kukenakan ke tubuhnya yang kaku. Risma meringis. Sakit. Tapi tak bersuara.
Dari lubang di punggungnya, bau busuk menyengat. Bau daging mati. Aku mual. Ingin muntah. Kutahan.
"Pa mau ke mana?" Suara Budi makin keras.
"Pa ke rumah sakit bawa kakak. Adik di sini sama Mbah Kar, ya?"
Budi menggeleng keras. "Budi ikut! Budi takut!"
Tak ada waktu. Kugendong Risma. Kuselimuti tubuhnya dengan sarung. Kutatap Budi. "Duduk di samping ibu. Jangan kemana-mana. Pa cepat balik."
Budi nangis meraung-raung. Tapi aku harus pergi.
Kubuka pintu. Hujan deras menyambut. Deras sekali sampai jalanan depan rumah sudah seperti sungai kecil. Gelap. Tak ada lampu. Hanya suara air dan petir di kejauhan.
Kulangkahkan kaki. Lari.
"TOLONG! TOLONG, PAK!"
Suaraku tertelan hujan. Tak ada yang dengar. Rumah-rumah sepi. Orang pada tidur. Aku sendiri. Berlari di tengah malam buta dengan anak sekarat di gendongan.
Jalanan licin. Lumpur. Kakiku terpeleset. Tubuhku oleng. Aku jatuh.
Buk.
Risma terguling. Jatuh di lumpur. Kepalanya membentur batu kecil. Ia diam. Tak menangis. Tapi napasnya... napasnya makin cepat. Seperti ikan kehabisan air.
"Maaf, Nak... maaf... Bapak goblok..."
Kugendong lagi. Tubuhnya basah kuyup. Kedinginan. Kesakitan. Di balik suara hujan, kudengar suara napasnya. Pendek-pendek. "Hah... hah... hah..."
Seperti orang sekarat.
Kulirik ke belakang. Jalanan kosong. Tak ada ojek. Tak ada becak. Tak ada siapa. Aku terus berlari. Sepatuku penuh air. Kaki lecet. Tapi tak kuhiraukan.
Di tengah lari, kurasakan sesuatu.
Jari Risma. Menggenggam bajuku.
Lemah. Hampir tak terasa. Tapi ada. Seperti bilang, "Bapak, aku masih di sini. Jangan tinggalin aku."
Air mataku bercampur hujan.
---
Puskesmas. Satu setengah jam kemudian. Pintu sudah digembok. Kugedor keras-keras.
"TOLONG BUKA! DARURAT!"
Sepuluh menit baru dibuka. Petugas jaga mengantuk. Begitu lihat Risma di gendonganku, ia tersentak.
"Cepet, Pak, masuk!"
Di ruang UGD sederhana, perawat membersihkan luka Risma. Wajahnya berubah. Ia panggil dokter lewat telepon. Lima belas menit kemudian dokter datang. Masih pakai kaos oblong. Matanya sembab baru bangun tidur.
Dokter itu membuka perban darurat. Begitu luka terlihat, ia menghela napas panjang. Kulihat rahangnya mengeras.
"Pak, ini luka tekan. Bed sores. Sudah grade 4."
Aku tak paham. "Maksud Dokter?"
Dokter itu menatapku. Matanya tajam. Tapi ada iba di sana. "Anak Bapak terbaring terlalu lama tanpa digerakkan. Pantat dan punggung yang terus menempel kasur, apalagi kalau basah, bisa bolong. Dagingnya mati. Ini sudah mencapai tulang, Pak."
Dunia serasa berputar.
"Makanya Risma gak bisa BAB..." bisikku. "Makanya dia gak nafsu makan... dia sakit... dan kita kira dia..."
Dokter mengangguk pelan. "Infeksinya berat. Harus operasi segera. Buang semua jaringan mati. Kalau tidak, sepsis. Nyawa tidak tertolong."
Aku lemas. "O... operasi?"
"Iya, Pak. Operasi darurat. Biaya 3 juta untuk tindakan. Belum rawat inap. Bisa?"
Tanganku gemetar merogoh saku. Kukeluarkan semua isinya. Uang lima puluh ribu rupiah. Koin beberapa.
Dokter melihat uang di tanganku. Lantas menatapku. Tak berkata apa-apa. Tapi tatapannya seperti pisau. Menusuk.
Aku jatuh berlutut di lantai UGD yang dingin.
"Dok... tolong anak saya... saya bayar nggih... saya gadai apa saja... saya jual apa saja... saya..."
Dokter menghela napas. "Saya usahakan operasi dulu, Pak. Tapi administrasi tetap harus dipenuhi. Cari keluarga. Pinjam. Cepat."
Kukeluarkan ponsel jadul. Pulsa habis. Tak ada sinyal. Di luar hujan masih deras.
Kulihat Risma di atas ranjang. Tubuhnya mungil. Wajahnya pucat pasi. Matanya terpejam. Napasnya makin lemah. Di hidungnya sekarang ada selang oksigen.
Tiba-tiba teringat Mbah Kar.
Kutelepon. Satu kali. Tak diangkat. Dua kali. Tak diangkat. Ketiga kali, suara berat di seberang.
"Mas Aryo? Jam dua pagi, ada apa—"
"Mbah... Risma... opname... butuh tiga juta... Mbah tolong saya..."
Hening. Lantas suara Mbah Kar, tenang. "Tunggu di rumah sakit. Mbah datang."
Satu jam. Dua jam. Aku menunggu di depan UGD. Tubuhku basah. Menggigil. Tapi tak kuhiraukan. Pikiranku hanya pada Risma.
Mbah Kar datang pukul empat pagi. Basah kuyup. Rambut putihnya lepek. Jaket hujannya masih meneteskan air. Di tangannya amplop coklat.
"Tiga juta, Mas. Cepat urus administrasi."
Aku tertegun. "Mbah... dari mana?"
Mbah Kar tersenyum getir. Buka jaket hujannya. Di lehernya yang keriput... kosong. Kalung emas peninggalan mendiang istrinya—satu-satunya kenangan selama 40 tahun menikah—sudah tak ada.
"Aku gadai sama tetangga. Istriku pasti ikhlas, Mas. Buat Risma."
Aku jatuh berlutut di depannya. Menangis. Memeluk kakinya. "Mbah... Mbah... aku gak bisa bayar Mbah..."
Mbah Kar mengangkatku. Tangannya kasar. Tapi hangat. "Urus Risma, Mas. Cepat. Mbah tunggu di luar."
---
Empat jam kemudian.
Operasi selesai. Risma dirawat di ICU kelas tiga. Tubuhnya mungil dikelilingi monitor dan selang. Tapi napasnya lebih stabil. Warna kulitnya mulai membaik. Dokter keluar ruangan. Wajahnya lelah. Tapi serius.
"Pak, operasi bersih. Jaringan mati sudah kita buang semua. Tapi..."
Dadaku berdebar. "Tapi apa, Dok?"
Dokter itu duduk di sampingku. Suaranya pelan. "Infeksinya sudah menyebar ke tulang punggung, Pak. Anak Bapak mungkin tidak bisa bernapas tanpa alat mulai minggu depan."
Dunia runtuh untuk kedua kalinya.
Mungkin?
Mungkin?
Apa artinya "mungkin" untuk anak sekecil Risma?
Dewi datang bersama Budi. Diantarkan Mbah Kar. Dewi masih pucat. Begitu dengar kabar dari dokter, ia diam. Tak menangis. Tapi matanya... kosong. Seperti orang kehilangan jiwa.
Di lorong rumah sakit, kami berpelukan. Bertiga. Budi, Dewi, aku. Dari kejauhan, suara monitor jantung Risma berbunyi.
Tit... tit... tit...
Untuk berapa lama lagi?
---
Malam tiba lagi. Aku duduk di samping Risma di ICU. Tubuhnya kecil. Penuh selang dan kabel. Tangannya lebam bekas infus. Wajahnya tenang. Seperti tidur biasa. Seperti tak ada luka. Seperti tak ada belatung yang memakan dagingnya semalam.
Kuperhatikan garis di monitor. Naik. Turun. Naik. Turun.
Kuperhatikan dadanya. Bergerak pelan. Setiap napas adalah perjuangan.
Kugenggam tangannya. Dingin. Kutatap wajahnya. Cantik. Matanya terpejam rapat. Bulu matanya panjang. Alisnya tipis. Hidungnya mancung sedikit, seperti ibunya.
"Maafin Bapak, Nak..." bisikku. "Bapak gak tahu. Bapak pikir Cuma batuk biasa. Bapak pikir Cuma capek. Bapak pikir... Bapak pikir banyak hal. Tapi Bapak gak pernah mikir kamu sakit di sini."
Kutunjuk punggungnya.
"Bapak tidur nyenyak. Bapak gak tahu kamu menahan sakit sendiri. Kamu gak bisa ngomong. Kamu gak bisa minta tolong. Kamu cuma... diam."
Air mataku jatuh ke tangannya.
"Kamu anak hebat, Ris. Kamu anak kuat. Bapak yang lemah. Bapak yang goblok. Maafin Bapak, Nak..."
Tiba-tiba.
Jari Risma bergerak.
Bukan refleks. Tapi sengaja. Meraih jariku. Menggenggam.
Aku tersentak. Kutatap wajahnya. Risma membuka mata sedikit. Samar. Tapi ada. Menatapku. Lama. Lantas bibirnya bergerak. Susah payah. Hampir tak terdengar.
"Pa... pa..."
Aku nangis. "Iya, Nak. Bapak di sini."
Risma tersenyum. Senyum tipis. Lalu terpejam lagi.
Pintu ICU terbuka. Dokter jaga masuk. Memeriksa monitor. Wajahnya terkejut. Berubah. Antara tidak percaya dan takjub.
"Pak, saturasi oksigennya naik. Padahal tadi... ini di luar dugaan."
Aku tak tahu harus merasa apa. Antara harapan dan takut. Antara percaya dan ragu.
"Apakah... apakah Risma sembuh, Dok?"
Dokter itu menggeleng pelan. "Saya tak bisa bilang begitu, Pak. Infeksinya sudah parah. Tapi tubuh anak Bapak... dia berjuang. Dia belum menyerah."
Aku menatap Risma. Tubuh mungilnya. Napasnya yang teratur. Tangannya yang masih menggenggam jariku.
Kau benar, Dok. Dia belum menyerah.
Dari balik kaca ICU, kulihat Mbah Kar. Duduk di kursi tunggu. Menatap ke dalam. Tersenyum. Ia tahu. Risma anak kuat. Risma akan bertahan.
Besok, hidup akan terus menguji. Biaya rumah sakit. Tagihan berikutnya. Makan sehari-hari. Utang 8 juta yang masih mengintai. Semua masih menunggu.
Tapi malam ini, di ruang ICU yang dingin, ada keajaiban kecil.
Keajaiban bernama Risma.
Jari-jarinya masih menggenggam jariku. Erat. Seolah bilang, "Bapak, jangan tinggalin aku. Aku takut."
Kutatap wajahnya.
"Bapak di sini, Nak. Bapak gak ke mana-mana."
Dan di luar, hujan mulai reda.
---
Paginya, Aryo dibangunkan oleh sentuhan kecil.
Risma membuka mata. Benar-benar membuka. Matanya jernih. Bukan sayu seperti kemarin. Bukan redup seperti malam saat ditemukan. Tapi jernih. Bercahaya.
"Pa..."
Suaranya masih lemah. Tapi jelas. Jelas sekali.
Aryo tersentak. "Nak? Nak, Bapak di sini."
Risma menatapnya. Lama. Lalu tangannya yang kaku bergerak. Meraih wajah Aryo. Menyentuh pipinya yang kusam. Yang semalaman tak tidur.
"Pa jangan nangis."
Aryo baru sadar. Air matanya jatuh. Tanpa suara.
Risma tersenyum. Senyum tipis itu. Senyum yang selalu membuat Aryo lupa semua masalah.
"Risma sayang Pa."
Dunia serasa berhenti.
Aryo memeluknya. Hati-hati. Menghindari luka di punggung. Tapi erat. Erat sekali.
"Bapak juga sayang Risma. Bapak sayang banget."
Di luar, matahari mulai naik. Sinar hangat masuk melalui jendela ICU.
Mbah Kar tersenyum di balik kaca. Dewi memeluk Budi. Budi melambai-lambai kecil.
Risma melihat mereka. Tersenyum.
Lalu berkata pelan, "Pa, Risma mau pulang."
Aryo mengusap air mata. "Iya, Nak. Nanti kita pulang. Bareng-bareng."
Risma mengangguk kecil. Matanya mulai sayu. Lelah. Tapi senyumnya tetap ada.
Ia terpejam. Napasnya teratur.
Monitor berbunyi tit... tit... tit... Irama kehidupan.
Untuk berapa lama lagi?
Tak ada yang tahu.
Tapi untuk saat ini, untuk detik ini, Risma masih di sini.
Masih berjuang.
Masih tersenyum.
---
[BERSAMBUNG KE BAB 23: OPERASI DAN PERJUANGAN BIASA]
---