NovelToon NovelToon
Bibit Kembar Cinta Masalalu

Bibit Kembar Cinta Masalalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / One Night Stand / Cintapertama
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Axlyn mengira ia akan selamanya menjadi sosok yang terlupakan oleh seorang Kayvaran Cano Xavier sejak kejadian 5 tahun yang lalu di Kota Xennor. Namun, siapa sangka takdir malah mempertemukan mereka kembali hingga tanpa sengaja bibit kembar Kay kini tumbuh di dalam perutnya.

Dimana Axlyn malah terjebak menjadi pengawal pribadi dari gadis kecil yang ia kira sebagai putri kandung Kay. Axlyn dituntut untuk melindungi anak dari pria yang menjadi ayah dari dua janin yang tengah dikandungnya.

“Kay, apa yang harus aku lakukan dengan dua janin yang tidak berdosa ini? Haruskah aku kembali memasuki hidupmu demi anak kita atau tetap menjadi yang terlupakan?”

Akankah Axlyn memberitahukan tentang kehamilannya? Ataukah Kau yang lebih dulu mengingat kembali tentang Axlyn? Atau mungkin takdir kembali mempermainkan kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 09

Di Praha…

Perut Axlyn masih belum terlalu tampak, karena ini baru memasuki usia kehamilan menyentuh 2 bulan. Akan tetapi, ia sudah bisa merasakan perubahan bukan hanya pada tubuhnya, melainkan juga pada caranya memandang dunia. Skorsnya resmi berakhir. Ia kembali dipanggil ke kantor, langkahnya mantap meski hatinya penuh pertimbangan.

Di ruang briefing, atasannya menyebutkan nama Negara B. Penugasan pengawalan tingkat menengah, durasi pengawalan hanya 3 bulan. Lingkungan relatif aman, protokol ketat. Mengawal seorang putri pengusaha yang masih berusia 5 tahun, itulah tugas yang diberikan oleh atasannya.

“Kami tahu situasimu sekarang, Axlyn.” kata atasannya datar namun tidak dingin. “Ini adalah kesempatan yang sangat bagus dengan gaji paling tinggi. Dan kami tidak akan menempatkanmu di zona berisiko tinggi. Keputusan tetap di tanganmu mau menerimanya atau tidak?”

Axlyn terdiam sejenak. Tangannya refleks menyentuh perutnya. Dua kehidupan kecil bergantung padanya sekarang. Namun di sisi lain, menjadi pengawal bukan sekadar pekerjaan… itu identitasnya, napas yang selama ini ia jalani. Dan juga, ia masih membutuhkan uang untuk membesarkan kedua anaknya kelak.

“Baiklah! Aku terima,” jawabnya akhirnya, suaranya tenang.

Awalnya Axlyn datang dengan tujuan keluar dari pekerjaannya. Namun, ketika mendengar tawaran tugas itu yang ia pikir akan mudah dilakukan setidaknya sampai kandungannya cukup besar. Akhirnya, Axlyn setuju menerima tugas tersebut. Ia berpikir membutuhkan sedikit lebih banyak uang untuk biaya persalinan dan keperluan kedua anaknya nanti.

“Aaah, benar? Bagaimana aku menjelaskan tentang hal ini pada Kak Sherin. Aku pergi dengan alasan akan menyerahkan surat pengunduran diri, tapi aku malah menerima tugas lagi. Kak Sherin pasti akan marah besar setelah mengetahui tentang hal ini,” ucapnya di tengah perjalanan pulang. “Sudahlah, Kak Sherin pasti akan mengerti jika aku menjelaskannya secara baik-baik.”

...****************...

Langit senja menggantung muram di balik tirai apartemen kecil itu. Cahaya oranye yang redup jatuh di wajah Axlyn yang berdiri mematung di depan meja makan. Tangannya mengepal di sisi tubuh, sementara Sherin—kakak perempuannya masih sibuk menyiapkan bahan untuk membuat makan malam merek.

“Aku nggak jadi mengundurkan diri, Kak!” kata Axlyn akhirnya.

Sherin berhenti dari kegiatannya mengatur bahan makanan yang baru saja ia beli. Bayam segar yang akan ia masukan ke dalam kulkas, ia lempar di atas meja dapur. “Maksud kamu?”

Axlyn menarik napas panjang. “Aku menerima satu tugas pengawalan lagi. Terakhir. Setelah itu selesai, kontrakku benar-benar berakhir.”

Sunyi menyergap ruangan. Lalu perlahan, Sherin mendekatinya menatap langsung ke matanya.

“Kamu sedang hamil, Axlyn.”

“Aku tahu.”

“Hamil muda,” ulang Sherin, suaranya mulai bergetar. “Dan kamu masih bicara soal tugas pengawalan seolah kamu cuma mau lembur di kantor, Hah? Apakah kau tidak memikirkan dirimu sendiri dan juga kedua bayimu?”

Axlyn menegakkan bahu. “Ini klien besar. Hanya melindungi anak berusia 5 tahun dan gajinya sangat tinggi. Mereka secara khusus meminta aku. Kalau aku mundur sekarang—”

“Bagus!” potong Sherin tajam. “Mundur saja! Itu justru yang seharusnya kau lakukan sejak awal!”

Axlyn menggeleng pelan. “Tapi, Kak! Kontraknya sudah terlanjur ditandatangani. Kalau aku membatalkan sepihak, dendanya hampir setengah miliar.”

Kata-kata itu seperti menyulut api. Mata Sherin membesar tak percaya. “Apa?!”

“Dan itu belum termasuk blacklist dari agensi,” lanjut Axlyn pelan. “Aku bisa dituntut. Tabungan kita nggak akan cukup. Kakak tidak ingin ‘kan aku melahirkan kedua anakku di penjara karena tidak bisa membayar dendanya?”

Wajah Sherin memucat. Amarahnya masih menyala, tetapi kini dibungkus ketakutan yang lebih nyata. Situasi mereka seperti buah simalakama, maju kena mundur pun kena seolah tidak ada pilihan lain diantara kedua pilihan tersebut.

“Jadi kamu memilih mempertaruhkan nyawa kamu?” suaranya meninggi. “Nyawa anak kamu? Demi menghindari denda? Bukankah tadi kau bilang hanya ingin memberikan surat pengunduran dirimu. Kenapa jadi seperti ini?”

“Aku memilih menyelesaikan tanggung jawabku,” jawab Axlyn, lebih tegas dari sebelumnya. “Satu misi terakhir. Aku akan ditempatkan di tim inti, bukan di garis depan. Aku bisa atur posisi.”

Sherin tertawa pahit. “Sejak kapan pengawal bisa ‘mengatur posisi’ kalau peluru mulai beterbangan, Hah?”

Keheningan kembali menekan. Axlyn tidak bisa membuat alasan lagi, ucapan kakaknya telah membuatnya terdiam. Di luar, suara kendaraan samar terdengar dari jalan raya. Di dalam, hanya ada napas berat Sherin dan detak jam dinding serta keterdiaman Axlyn.

“Kamu egois, Axlyn.” bisik Sherin akhirnya, matanya mulai berkaca-kaca. “Kamu pikir aku kuat, aku bisa tenang melihat kamu pergi bertugas lagi? Bahkan dengan kondisi seperti ini? Kondisi kau sedang hamil muda, mengandung dua bayi kembar sekaligus?”

Axlyn semakin menunduk, tangannya refleks menyentuh perutnya yang masih rata. “Justru karena aku akan jadi ibu, aku nggak bisa kabur begitu saja. Aku nggak mau anakku lahir dari seorang pengecut yang lari dari tanggung jawab.”

“Ini bukan soal pengecut!” Sherin membentak. “Ini soal hidup dan matimu serta anak dalam kandunganmu!”

Suasana memuncak. Namun setelah beberapa detik, amarah itu runtuh menjadi helaan napas panjang. Sherin berbalik, berjalan mondar-mandir, jemarinya meremas rambutnya sendiri. Ia sudah tidak habis pikir lagi dengan kelakuan adiknya, tiba-tiba mengatakan dirinya hamil tanpa mengatakan siapa ayahnya dan sekarang malah memilih kembali bertugas sebagai pengawal. Namun apa dayanya, semua sudah terlanjur disetujui.

“Setengah miliar…” gumamnya lirih. “Kita memang nggak punya pilihan, ya?”

Axlyn tidak menjawab. Diamnya sudah cukup. Sherin berhenti melangkah. Wajahnya masih keras, tapi sorot matanya berubah, bukan lagi semata marah, melainkan keputusan yang pahit.

“Baik,” katanya akhirnya, suara rendah namun mantap. “Kalau kamu tetap pergi, aku ikut.”

Axlyn terperanjat. “Apa?”

“Aku ikut ke mana pun kamu ditugaskan.” Sherin menatapnya lurus. “Aku nggak peduli harus ambil cuti panjang atau berhenti kerja. Aku nggak akan membiarkan kamu menghadapi risiko itu sendirian.”

“Kak, ini bukan perjalanan wisata. Ini zona ber—”

“Lalu?” potong Sherin tegas. “Kau sedang hamil,” Lanjutnya tajam. “Kalau kau bisa keras kepala mempertahankan kontrakmu, aku juga bisa keras kepala menjaga adikku.”

Axlyn terdiam. Ada sesuatu yang menghangat di dadanya antara campuran syukur dan rasa bersalah.

“Kamu nggak perlu melakukan ini,” ucapnya pelan.

“Aku perlu,” sahut Sherin tanpa ragu. “Karena kalau terjadi apa-apa, aku nggak akan pernah memaafkan diriku sendiri.”

Keheningan kali ini terasa berbeda. Bukan lagi ledakan emosi, melainkan kesepakatan tak terucap yang berat. Axlyn melangkah mendekat dan memeluk kakaknya erat. Di sela pelukan itu, Sherin berbisik dengan suara serak, “Ini benar-benar yang terakhir, Axlyn. Hanya tiga bulan tidak boleh lebih. Setelah ini kamu berhenti. Demi anakmu. Demi kita.”

Bersambung….

1
Sri Yatun
pikiran yg blm pasti memang menakut kan tp g tau kedepannya sprt apa, pusing pusing mikirin masa lalu dan masa depan ternyata wanita satu yg d pikir kan,yg JD pertanyaan spancer adalah musuh dan dalang lupa ingatan mu Kay,bukan kecelakaan mobil,tp bersabar pelan pelan dengan bertarung kembali mungkin akan mengingat memori yg hilang,dan merencanakan strategi pun mungkin akan perlahan mengingat sedikit sedikit, semangat dan bersabar y calon ayah
Rani R.I
apa harus menunggu anak yg ada di dalam kandungan Axlyn baru mereka menyadari dan menyesal..knp seperti pada egois semua...kay tersiksa,, apa lg Axlyn....
Rani R.I: jgn sampai twins celaka dulu baru Spencer memberi tahu semua orang,,, nanti semakin rumit
total 1 replies
Shee_👚
jangan sampai salah oranh
Shee_👚
tenang aja g perlu milih noah, karena orang yang kalian cari dan bicarakan orang yang sama
Shee_👚
orang bingung menjelaskan nya kay, kalau mereka bercerita otomatis dispenser juga ke bawa, dan mereka g mau kalian saling bermusuhan lagi.
Desyi Alawiyah
𝘒𝘢𝘬 𝘈𝘶𝘵𝘩𝘰𝘳.. 𝘵𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘷𝘪𝘴𝘶𝘢𝘭 𝘥𝘰𝘯𝘨.. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘳𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵𝘬𝘶 𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴.. 😌

𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘺𝘢𝘩 𝘒𝘢𝘬, 𝘳𝘦𝘢𝘥𝘦𝘢𝘳𝘴 𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶𝘯𝘺𝘢... 🤭😭
Rani R.I
egois sedikit untuk merebut kay dari istri nya gituu 🤣🤣🤣🤣🤣🤣.. istri angin Kay 🤣🤣🤣🤣
Rani R.I
sebenarnya akuu sedikit kesel sama Axlyn,,yg slalu salah paham...bkn nya cari tahu atau bertanya sama, misalnya nanya sama anak atau Noah atau bodyguard nya kai,, padahal mantan detektif 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
slalu menyimpulkan sendiri,,jgn sampai anak mu knp knp Baru kamu nangis nangis,dan bilang maafkan mamah yg tidak bisa menjaga kalian,, padahal dirimu yg slalu salah paham dan bisa di egois
Budhe Satryo
Noah kau ini seneng bngt mancing" pak mil y
Budhe Satryo
semoga nanti tau kalu axlyn wanita dipraha disaat yg tepat y Kay moga bisa memaafkan dispencer yg LBH dulu tau
Fahmi Ardiansyah
skrg gak perlu mencari wanita itu LG Noah Krn wanita itu udah ada di antara kalian semua.berkat Spencer udah di temukan.tunggu kejutannya selanjutnya😄😄
Fahmi Ardiansyah
pelan pelan Kay akan mengingatnya.
Ratna Sumaroh
tumben kekuatan Xavier kalah 🤔🤔
malah si dispenser yang duluan nemuin siapa wanita yang selama ini di cari keluarga Xavier🤭🤭
Desyi Alawiyah: 𝘐𝘺𝘢 𝘒𝘢𝘬.. 𝘪𝘯𝘴𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘚𝘱𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵, 𝘫𝘦𝘭𝘪... 𝘚𝘢𝘮𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘌𝘷𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘬𝘦𝘬𝘯𝘺𝘢... ☺

𝘊𝘶𝘮𝘢 𝘣𝘦𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘌𝘷𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘸𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘫𝘢𝘩𝘢𝘵, 𝘬𝘢𝘭𝘰 𝘚𝘱𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘸𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘢𝘩𝘢𝘵 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘪𝘬.. 😁
total 1 replies
Fahmi Ardiansyah
iya maunya org itu bermusuhan terus n ingin menguasai dunia jadi ya gak mau menyerah.
Lisa Halik
semangat thor😍😍
Susi Susilawati
iya kay dulu axel jga manggil papah..
Desyi Alawiyah
𝘞𝘢𝘩, 𝘚𝘱𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘪𝘥𝘪𝘬𝘪 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘯𝘪𝘩? 𝘈𝘱𝘢 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯-𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘪𝘥𝘪𝘬𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘹𝘭𝘺𝘯?

𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘚𝘱𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘪𝘥𝘪𝘬𝘪𝘯𝘺𝘢? 🤔
Desyi Alawiyah: 𝘚𝘢𝘣𝘢𝘳 𝘒𝘢𝘬.. 𝘈𝘬𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘢 😝
total 2 replies
Desyi Alawiyah
𝘐𝘺𝘢... 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘢𝘥𝘪𝘬𝘮𝘶, 𝘈𝘹𝘦𝘭, 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭𝘮𝘶 '𝘗𝘢𝘱𝘢𝘩' 𝘭𝘰𝘩.. 🤣
Desyi Alawiyah: 𝘈𝘹𝘭𝘺𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘱𝘦 𝘤𝘦𝘸𝘦𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘭𝘦𝘮𝘢𝘩 𝘭𝘦𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘒𝘢𝘬, 𝘣𝘦𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘈𝘹𝘭𝘺𝘯 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘓𝘶𝘤𝘢 𝘥𝘶𝘭𝘶.. 😁

𝘋𝘪𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘺𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭, 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘏𝘦𝘻𝘭𝘺𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢, 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘈𝘹𝘭𝘺𝘯 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘵𝘦𝘨𝘢...

𝘔𝘦𝘴𝘬𝘪𝘱𝘶𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘏𝘦𝘻𝘭𝘺𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘒𝘢𝘺.. 🤭
total 2 replies
Desyi Alawiyah
𝘔𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘌𝘷𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶 𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘛𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢...

𝘒𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘌𝘷𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴𝘢, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘤𝘶𝘯𝘺𝘢..

𝘏𝘶𝘩, 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 😌😌😌
Mulaini
Tunggu ingatan mu kembali tentang Axlyn, Kay.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!