NovelToon NovelToon
Bibit Kembar Cinta Masalalu

Bibit Kembar Cinta Masalalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / One Night Stand / Cintapertama
Popularitas:33.3k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Axlyn mengira ia akan selamanya menjadi sosok yang terlupakan oleh seorang Kayvaran Cano Xavier sejak kejadian 5 tahun yang lalu di Kota Xennor. Namun, siapa sangka takdir malah mempertemukan mereka kembali hingga tanpa sengaja bibit kembar Kay kini tumbuh di dalam perutnya.

Dimana Axlyn malah terjebak menjadi pengawal pribadi dari gadis kecil yang ia kira sebagai putri kandung Kay. Axlyn dituntut untuk melindungi anak dari pria yang menjadi ayah dari dua janin yang tengah dikandungnya.

“Kay, apa yang harus aku lakukan dengan dua janin yang tidak berdosa ini? Haruskah aku kembali memasuki hidupmu demi anak kita atau tetap menjadi yang terlupakan?”

Akankah Axlyn memberitahukan tentang kehamilannya? Ataukah Kau yang lebih dulu mengingat kembali tentang Axlyn? Atau mungkin takdir kembali mempermainkan kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 09

Di Praha…

Perut Axlyn masih belum terlalu tampak, karena ini baru memasuki usia kehamilan menyentuh 2 bulan. Akan tetapi, ia sudah bisa merasakan perubahan bukan hanya pada tubuhnya, melainkan juga pada caranya memandang dunia. Skorsnya resmi berakhir. Ia kembali dipanggil ke kantor, langkahnya mantap meski hatinya penuh pertimbangan.

Di ruang briefing, atasannya menyebutkan nama Negara B. Penugasan pengawalan tingkat menengah, durasi pengawalan hanya 3 bulan. Lingkungan relatif aman, protokol ketat. Mengawal seorang putri pengusaha yang masih berusia 5 tahun, itulah tugas yang diberikan oleh atasannya.

“Kami tahu situasimu sekarang, Axlyn.” kata atasannya datar namun tidak dingin. “Ini adalah kesempatan yang sangat bagus dengan gaji paling tinggi. Dan kami tidak akan menempatkanmu di zona berisiko tinggi. Keputusan tetap di tanganmu mau menerimanya atau tidak?”

Axlyn terdiam sejenak. Tangannya refleks menyentuh perutnya. Dua kehidupan kecil bergantung padanya sekarang. Namun di sisi lain, menjadi pengawal bukan sekadar pekerjaan… itu identitasnya, napas yang selama ini ia jalani. Dan juga, ia masih membutuhkan uang untuk membesarkan kedua anaknya kelak.

“Baiklah! Aku terima,” jawabnya akhirnya, suaranya tenang.

Awalnya Axlyn datang dengan tujuan keluar dari pekerjaannya. Namun, ketika mendengar tawaran tugas itu yang ia pikir akan mudah dilakukan setidaknya sampai kandungannya cukup besar. Akhirnya, Axlyn setuju menerima tugas tersebut. Ia berpikir membutuhkan sedikit lebih banyak uang untuk biaya persalinan dan keperluan kedua anaknya nanti.

“Aaah, benar? Bagaimana aku menjelaskan tentang hal ini pada Kak Sherin. Aku pergi dengan alasan akan menyerahkan surat pengunduran diri, tapi aku malah menerima tugas lagi. Kak Sherin pasti akan marah besar setelah mengetahui tentang hal ini,” ucapnya di tengah perjalanan pulang. “Sudahlah, Kak Sherin pasti akan mengerti jika aku menjelaskannya secara baik-baik.”

...****************...

Langit senja menggantung muram di balik tirai apartemen kecil itu. Cahaya oranye yang redup jatuh di wajah Axlyn yang berdiri mematung di depan meja makan. Tangannya mengepal di sisi tubuh, sementara Sherin—kakak perempuannya masih sibuk menyiapkan bahan untuk membuat makan malam merek.

“Aku nggak jadi mengundurkan diri, Kak!” kata Axlyn akhirnya.

Sherin berhenti dari kegiatannya mengatur bahan makanan yang baru saja ia beli. Bayam segar yang akan ia masukan ke dalam kulkas, ia lempar di atas meja dapur. “Maksud kamu?”

Axlyn menarik napas panjang. “Aku menerima satu tugas pengawalan lagi. Terakhir. Setelah itu selesai, kontrakku benar-benar berakhir.”

Sunyi menyergap ruangan. Lalu perlahan, Sherin mendekatinya menatap langsung ke matanya.

“Kamu sedang hamil, Axlyn.”

“Aku tahu.”

“Hamil muda,” ulang Sherin, suaranya mulai bergetar. “Dan kamu masih bicara soal tugas pengawalan seolah kamu cuma mau lembur di kantor, Hah? Apakah kau tidak memikirkan dirimu sendiri dan juga kedua bayimu?”

Axlyn menegakkan bahu. “Ini klien besar. Hanya melindungi anak berusia 5 tahun dan gajinya sangat tinggi. Mereka secara khusus meminta aku. Kalau aku mundur sekarang—”

“Bagus!” potong Sherin tajam. “Mundur saja! Itu justru yang seharusnya kau lakukan sejak awal!”

Axlyn menggeleng pelan. “Tapi, Kak! Kontraknya sudah terlanjur ditandatangani. Kalau aku membatalkan sepihak, dendanya hampir setengah miliar.”

Kata-kata itu seperti menyulut api. Mata Sherin membesar tak percaya. “Apa?!”

“Dan itu belum termasuk blacklist dari agensi,” lanjut Axlyn pelan. “Aku bisa dituntut. Tabungan kita nggak akan cukup. Kakak tidak ingin ‘kan aku melahirkan kedua anakku di penjara karena tidak bisa membayar dendanya?”

Wajah Sherin memucat. Amarahnya masih menyala, tetapi kini dibungkus ketakutan yang lebih nyata. Situasi mereka seperti buah simalakama, maju kena mundur pun kena seolah tidak ada pilihan lain diantara kedua pilihan tersebut.

“Jadi kamu memilih mempertaruhkan nyawa kamu?” suaranya meninggi. “Nyawa anak kamu? Demi menghindari denda? Bukankah tadi kau bilang hanya ingin memberikan surat pengunduran dirimu. Kenapa jadi seperti ini?”

“Aku memilih menyelesaikan tanggung jawabku,” jawab Axlyn, lebih tegas dari sebelumnya. “Satu misi terakhir. Aku akan ditempatkan di tim inti, bukan di garis depan. Aku bisa atur posisi.”

Sherin tertawa pahit. “Sejak kapan pengawal bisa ‘mengatur posisi’ kalau peluru mulai beterbangan, Hah?”

Keheningan kembali menekan. Axlyn tidak bisa membuat alasan lagi, ucapan kakaknya telah membuatnya terdiam. Di luar, suara kendaraan samar terdengar dari jalan raya. Di dalam, hanya ada napas berat Sherin dan detak jam dinding serta keterdiaman Axlyn.

“Kamu egois, Axlyn.” bisik Sherin akhirnya, matanya mulai berkaca-kaca. “Kamu pikir aku kuat, aku bisa tenang melihat kamu pergi bertugas lagi? Bahkan dengan kondisi seperti ini? Kondisi kau sedang hamil muda, mengandung dua bayi kembar sekaligus?”

Axlyn semakin menunduk, tangannya refleks menyentuh perutnya yang masih rata. “Justru karena aku akan jadi ibu, aku nggak bisa kabur begitu saja. Aku nggak mau anakku lahir dari seorang pengecut yang lari dari tanggung jawab.”

“Ini bukan soal pengecut!” Sherin membentak. “Ini soal hidup dan matimu serta anak dalam kandunganmu!”

Suasana memuncak. Namun setelah beberapa detik, amarah itu runtuh menjadi helaan napas panjang. Sherin berbalik, berjalan mondar-mandir, jemarinya meremas rambutnya sendiri. Ia sudah tidak habis pikir lagi dengan kelakuan adiknya, tiba-tiba mengatakan dirinya hamil tanpa mengatakan siapa ayahnya dan sekarang malah memilih kembali bertugas sebagai pengawal. Namun apa dayanya, semua sudah terlanjur disetujui.

“Setengah miliar…” gumamnya lirih. “Kita memang nggak punya pilihan, ya?”

Axlyn tidak menjawab. Diamnya sudah cukup. Sherin berhenti melangkah. Wajahnya masih keras, tapi sorot matanya berubah, bukan lagi semata marah, melainkan keputusan yang pahit.

“Baik,” katanya akhirnya, suara rendah namun mantap. “Kalau kamu tetap pergi, aku ikut.”

Axlyn terperanjat. “Apa?”

“Aku ikut ke mana pun kamu ditugaskan.” Sherin menatapnya lurus. “Aku nggak peduli harus ambil cuti panjang atau berhenti kerja. Aku nggak akan membiarkan kamu menghadapi risiko itu sendirian.”

“Kak, ini bukan perjalanan wisata. Ini zona ber—”

“Lalu?” potong Sherin tegas. “Kau sedang hamil,” Lanjutnya tajam. “Kalau kau bisa keras kepala mempertahankan kontrakmu, aku juga bisa keras kepala menjaga adikku.”

Axlyn terdiam. Ada sesuatu yang menghangat di dadanya antara campuran syukur dan rasa bersalah.

“Kamu nggak perlu melakukan ini,” ucapnya pelan.

“Aku perlu,” sahut Sherin tanpa ragu. “Karena kalau terjadi apa-apa, aku nggak akan pernah memaafkan diriku sendiri.”

Keheningan kali ini terasa berbeda. Bukan lagi ledakan emosi, melainkan kesepakatan tak terucap yang berat. Axlyn melangkah mendekat dan memeluk kakaknya erat. Di sela pelukan itu, Sherin berbisik dengan suara serak, “Ini benar-benar yang terakhir, Axlyn. Hanya tiga bulan tidak boleh lebih. Setelah ini kamu berhenti. Demi anakmu. Demi kita.”

Bersambung….

1
Lisa Halik
kapan mau update thor
Fahmi Ardiansyah
Thor mana kelanjutannya kok belum up
Rani R.I
kok blm up sihh niy
Desyi Alawiyah: Biasanya sekali up langsung banyak Kak 🤭 Aku juga penasaran sih kelanjutannya gimana... 😩
total 1 replies
Widi Astuti
author...aku nungguin lanjutannya....harus rapel yaaa cerita nyaa...😘😘
Susi Susilawati
c Levi emng penakut
nizham muafa
perasaan makin dikit up nya 🤭
Fahmi Ardiansyah
ku tunggu lanjutannya klu bisa yg banyak Thor
Fahmi Ardiansyah
benar axlyn maka kmu harus jujur secepatnya batalkan perjanjian mu Ama Spencer n bersatulah sama kay biar Kay gak frustasi terus.
Fahmi Ardiansyah
ya calon BPK n suamimu.
Fahmi Ardiansyah
semoga Kay bisa mendengarkan kata kata Spencer walau gak jelas
Fahmi Ardiansyah
🤣🤣🤣🤣 ya Alloh ampek ke pingkel2 klu Levi masih aja takut hantu kuntilanak.
Fahmi Ardiansyah
😄😄😄😄 mencari pelampiasan LR pasti seru
Rani R.I
🤭🤭🤭🤭🤭 semoga kay ngegou biar Axlyn bisa dgr sendiri isi hati kay,,biar Axlyn jujur sama kay,,, kasihan mamah Joana,, semoga Lion cepat dpt obatnya dan kembali sehatt... nanti pasti ada pertempuran nihhh..
Rani R.I: coba sepencer ceritain ke Felix sama jaydon bahwa yg menjadi musuhnya saat ini adalah anak buah nya evant yg tersisa,,, biar mengamuk keluarga Xavier 🤣🤣🤣🤣🤣🤣,,,gk sabarrr ingin melihat mereka bertarung lg 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
nyaks 💜
Kay sadar kayyyyy 😂😂😂
nyaks 💜
😅😅😅😅
Budhe Satryo
pasti donk kamu yg membuat nya mabuk kok lyn🤣🤣🤣
Desyi Alawiyah
Kak Author, kisah Ivory dan Ragnar kok belum ada lanjutannya..

Aku masih nungguin loh 🤭☺
Desyi Alawiyah
Bener dong.. Kay merasa frustasi, sebab dia masih mencintai Axlyn... Tapi di satu sisi dia harus bertanggung jawab pada perempuan yang tidur dengannya di praha...

Dan tanpa Kay sadari, kedua perempuan itu adalah orang yang sama 😝

Wah, seru ini 🤭
Rani R.I: sepencer nanti di jodohkan sama Sherin 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
dia yg pernah menyakiti Sherin,,biar dia juga yg membahagiakan Sherin..dan Noah sama Maria 🤣 ,,sudah seperti tom and Jerry mereka ituu 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Desyi Alawiyah
Dia calon suamimu Axlyn.. 🤭
Desyi Alawiyah
🤣🤣🤣 Ngakak aku... seorang Levi yang dikenal sebagai bocah psikopat dan dewa kematian, takut sama mba kunti... 🤭

Eh, maksudnya mantan bocah psikopat.. Kan Levi udah bukan bocah lagi... ☺✌
Rani R.I: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ngakak akuu setiap adegan nya Levi di pertempuran,, bersama Felix, jaydon,, William..yg masih mengingat kan ku bikin ngakak cerita Levi saat di hadang oleh suruhan pamannya waktu itu,,yg di mana Levi pura pura polos 🤣🤣🤣,,yg membuat Will, jaydon,, Felix pengen muntah lihat drama sok polos Levi 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!