NovelToon NovelToon
SETELAH KAMU MENJADI ASING

SETELAH KAMU MENJADI ASING

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Diam-Diam Cinta / Mantan / Balas Dendam
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Menjadi orang asing adalah satu-satunya cara kita bisa bekerja sama tanpa harus saling menghancurkan lagi."
Lima tahun lalu, Maya pergi membawa luka yang tidak sempat ia jelaskan. Ia mengira waktu dan jarak akan menghapus segalanya. Namun, takdir memiliki selera humor yang pahit. Maya dipaksa kembali ke hadapan Arlan Dirgantara—pria yang kini menjadi sosok dingin, berkuasa, dan penuh kebencian.
Arlan bukan lagi pria hangat yang dulu ia cintai. Arlan yang sekarang adalah klien sekaligus "penjara" bagi karier Maya. Arlan menuntut profesionalisme, namun tatapannya masih menyimpan bara dendam yang menolak padam.
Di tengah proyek renovasi rumah tua yang penuh kenangan, mereka terjebak dalam permainan pura-pura. Berpura-pura tidak kenal, berpura-pura tidak peduli, dan berpura-pura bahwa getaran di antara mereka sudah mati.
Mampukah mereka tetap menjadi asing saat setiap sudut ruangan mengingatkan mereka pada janji yang pernah terucap? Ataukah kembali mengenal satu sama lain justru akan membu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Krisan yang Berdarah

Gelap menyelimuti ruang bawah tanah itu bagaikan kain kafan. Arlan tidak menyalakan senter; ia tahu cahaya sekecil apa pun akan menjadi sasaran empuk bagi penembak jitu di luar sana. Ia menarik Maya ke sudut yang paling terlindungi oleh pilar beton, tempat di mana peluru tidak akan bisa menembus.

"Arlan, perutku..." Maya berbisik, suaranya bergetar. Ketakutan akan kehilangan janin di rahimnya jauh lebih besar daripada ketakutan akan kematiannya sendiri.

"Tetap rendah, May. Atur napasmu," Arlan merogoh saku jaketnya, mengeluarkan kacamata night vision taktis dan memberikannya kepada Maya. "Pakai ini. Kamu harus bisa melihat kalau sesuatu terjadi padaku."

"Jangan bicara begitu!" Maya menahan isak tangisnya sambil memasang kacamata itu. Dunia yang tadinya hitam pekat kini berubah menjadi hijau pudar dengan kontur yang jelas.

Arlan sendiri hanya mengandalkan insting dan pendengarannya yang sudah terlatih bertahun-tahun dalam kegelapan. Ia memasang peredam suara pada senjatanya dengan gerakan yang sangat tenang, seolah-olah ia sedang melakukan pekerjaan arsitekturnya yang biasa.

Tuk. Tuk. Tuk.

Suara langkah kaki di atas lantai kayu ruang tengah terdengar pelan, namun bagi Arlan, itu terdengar seperti guntur. Seseorang sudah masuk ke dalam rumah. Bukan lewat pintu depan, tapi lewat jendela dapur yang sengaja tidak dipasangi teralis untuk estetika.

"Ada dua orang di atas," bisik Arlan tepat di telinga Maya. "Mereka bergerak menuju tangga. Kamu tetap di sini. Jangan bergerak, jangan bersuara, apa pun yang kamu dengar."

Arlan merangkak keluar dari perlindungan, menghilang di balik bayangan lorong bawah tanah. Maya menatap punggung suaminya lewat lensa hijau kacamatanya. Ia melihat Arlan bergerak seperti bayangan—tak bersuara, tanpa cela.

Di lantai atas, suara gesekan kain dan napas tertahan semakin jelas. Dua pria berpakaian taktis serba hitam dengan logo bunga krisan kecil di kerah baju mereka menuruni tangga menuju ruang bawah tanah. Mereka memegang senapan mesin ringan dengan laser merah yang menyapu ruangan.

Klik.

Salah satu laser merah itu hampir mengenai kepala Maya. Maya mematung, menahan napas hingga dadanya terasa sakit.

Tiba-tiba, sesosok bayangan muncul dari balik pilar di belakang kedua pria itu. Arlan.

Tanpa suara, Arlan menyergap pria yang berada di posisi belakang. Ia memiting leher pria itu dengan satu lengan, sementara tangan lainnya menusukkan belati kecil ke titik syaraf di pangkal leher. Pria itu tumbang tanpa sempat mengeluarkan suara.

Pria yang satunya lagi tersentak, ia segera memutar tubuhnya, tapi Arlan lebih cepat. Arlan menendang lutut pria itu hingga terdengar bunyi tulang yang patah, lalu menghantamkan gagang senjatanya ke pelipis lawan.

Bruk.

Kedua penyusup itu tergeletak tak berdaya. Maya gemetar melihat betapa efisiennya Arlan dalam melumpuhkan manusia. Pria yang ia nikahi ini benar-benar memiliki sisi yang mengerikan.

"Satu menit tersisa," gumam Arlan, melirik jam tangannya yang berpijar. "May, kita harus keluar dari rumah ini sekarang. Mereka tidak akan masuk hanya lewat satu titik."

Arlan membantu Maya berdiri. Mereka berlari menuju terowongan pelarian yang tersembunyi di balik lemari penyimpanan anggur. Namun, saat mereka baru saja mencapai pintu besi terowongan, sebuah ledakan keras mengguncang bagian depan rumah.

BOOM!

Langit-langit ruang bawah tanah retak. Debu dan puing berjatuhan. Arlan melindungi tubuh Maya dengan tubuhnya sendiri.

"Pengecut," desis Arlan. "Mereka menggunakan peledak remot."

Dari pengeras suara di luar, suara dingin itu kembali terdengar. "Tiga puluh detik lagi, Arlan. Serahkan koper itu atau kami ratakan rumah ini dengan tanah."

"Lan, kasih saja kopernya!" teriak Maya panik. "Nyawa kita lebih penting!"

"Koper itu berisi daftar pengkhianat, May. Kalau mereka mendapatkannya, mereka akan membunuh semua saksi, termasuk ibumu di Jakarta!" Arlan membuka pintu terowongan. "Ayo, masuk!"

Mereka merangkak menyusuri terowongan sempit yang lembap. Maya bisa merasakan tanah di atasnya bergetar karena langkah kaki lebih banyak orang yang masuk ke rumah mereka.

Saat mereka mencapai ujung terowongan yang keluar di area hutan pinus, Arlan berhenti. Ia melihat sebuah drone pengintai dengan lampu merah kecil terbang rendah di atas pepohonan.

"Mereka melacak kita lewat suhu tubuh," Arlan mengeluarkan sebuah alat kecil berbentuk kotak dari sakunya. Signal Jammer. Ia menyalakannya, dan drone itu seketika kehilangan kendali, menabrak pohon pinus dan meledak.

"Lari ke arah sungai, May! Yudha sudah menunggu di sana dengan mobil cadangan!"

Mereka berlari menembus lebatnya hutan Dago di tengah malam. Ranting-ranting pohon menggores kulit mereka, namun Maya tidak peduli. Ia hanya ingin menjauh dari rumah yang kini menjadi neraka.

Begitu mereka mencapai pinggir sungai, sebuah mobil jeep tua tanpa lampu depan menyala mendekat. Yudha keluar dengan senjata laras panjang.

"Bos! Mbak Maya! Cepat masuk!"

Arlan mendorong Maya masuk ke dalam mobil. Namun, sebelum Arlan sempat masuk, sebuah peluru melesat dari arah kegelapan hutan dan menghantam pundak Arlan.

"ARLAN!" jerit Maya.

Arlan terjatuh berlutut, memegangi pundaknya yang bersimbah darah. Di kejauhan, di antara pepohonan, muncul seorang wanita dengan pakaian militer. Siska. Sekretaris Maya yang selama ini terlihat lugu, kini berdiri dengan senapan runduk (sniper) di tangannya.

"Mbak Maya, maaf," ucap Siska dengan nada datar, tanpa penyesalan. "Tapi koper itu bukan milik keluarga Dirgantara. Itu milik kami."

Siska mengarahkan senjatanya tepat ke jantung Arlan yang sedang tak berdaya. Maya membeku. Ia menatap kunci kecil di genggamannya, lalu menatap Arlan. Dalam satu detik yang menentukan, Maya menyadari bahwa untuk menyelamatkan suaminya, ia tidak bisa lagi menjadi arsitek yang lembut.

Ia harus menjadi bagian dari kegelapan ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!