Aurely Tania Baskoro, dulu percaya hidup akan selalu memihaknya. Cantik, mapan, dicintai, dikagumi. Ia tak pernah mengenal kata kekurangan.
Namun ketika kebangkrutan merenggut segalanya, Aurely harus meninggalkan kota, kampus, dan orang-orang yang katanya mencintainya.
Desa menjadi rumah barunya, tempat yang tak pernah ia inginkan.
Di sana, ia melihat ayahnya berkeringat tanpa mengeluh. Anak-anak kecil bekerja tanpa kehilangan tawa, orang-orang yang tetap rendah hati meski punya segalanya... Dan Rizky Perdana Sigit, pemuda desa yang tulus menolongnya..
Pelan pelan, Aurely belajar bahwa jatuh bukan akhir segalanya. Harga diri tidak selalu lahir dari kemewahan. Dan kadang pertemuan paling penting… terjadi saat kita berada di titik paling rendah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 1.
Aurely Tania Baskoro (18 tahun) hidup dalam kemewahan dan sejak kecil hampir semua hal selalu berjalan sesuai keinginannya. Ia tumbuh dalam dunia yang rapi, berkilau dan semua tersedia tanpa pernah ia minta.
Di kampus ternama di jantung ibu kota, gedung-gedung tinggi berlapis kaca mengilap, kafe mahal di setiap sudut jalan, serta sorot mata kagum yang selalu mengikutinya ke mana pun ia melangkah.
Aurely tahu dirinya cantik. Ia juga tahu bahwa kehadirannya selalu diperhatikan.
“Beb, nanti malam jadi kan dinner?” tanya Kevin pemuda tampan.. pacarnya, ia bersandar santai di mobil sport hitam mengilap miliknya. Menatap Aurely dengan pandangan penuh cinta, bangga dan kekaguman.
Aurely tersenyum tipis, manis.. senyum yang sudah ia kuasai sejak lama. Senyum yang pas, tidak berlebihan, tapi cukup membuat orang ingin menunggu jawabannya.
“Lihat nanti yach..” jawabnya ringan. “Aku masih ada meeting UKM.”
Kevin tertawa kecil, tawa bangga.. “Primadona kampus sibuk banget sih.”
Aurely menyibakkan rambut panjangnya dengan gerakan anggun. Ia menyukai sebutan itu. Primadona. Seolah dunia memang diciptakan untuk berputar di sekelilingnya.
Namun sore itu, ponselnya bergetar berkali-kali.
Ayah.
Aurely mengernyit. Ayahnya jarang sekali menelepon di jam kuliah.
“Ayah ada apa?” ucapnya setelah menggeser tombol hijau, sambil melangkah menjauh dari kerumunan.
Suara di seberang terdengar berat. Terlalu berat untuk sekadar basa-basi.
“Aurel… pulang ke rumah sekarang ya.”
“Kenapa?”
“Ada yang harus kita bicarakan.”
“Tapi aku masih ada meeting, Yah..”
“Batalkan. Ini lebih penting.”
Nada itu membuat dada Aurely terasa tidak nyaman. Ada sesuatu yang tidak beres. Tanpa membantah lagi. Aurely segera pulang ke rumah diantar oleh Kevin.
Sesampai di rumah, Aurely merasakan aura yang berbeda. Rumah yang biasanya terang dan ramai kini terasa sunyi. Terlalu sunyi.
Aurely membuka pintu perlahan.. tidak ada pelayan yang biasanya menyambutnya..
Ibunya duduk di sofa dengan mata sembab, seolah baru saja menangis lama. Ayahnya, Pak Baskoro berdiri di dekat jendela. Punggungnya terlihat lebih membungkuk dari yang Aurely ingat.
“Ada apa sih?” Aurely memecah keheningan, nada suaranya mulai kehilangan kesabaran.
Pak Baskoro menoleh, menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata,
“Perusahaan ayah bangkrut.”
Kata itu menghantam lebih keras daripada tamparan.
“Apa?” Aurely menatap ayahnya tidak percaya.
“Investasi gagal. Utang menumpuk. Semua aset disita.” Ucap Pak Baskoro pelan..
Aurely tertawa pendek, tawa kosong tanpa makna.
“Ini bercanda, kan? Ayah seorang pengusaha besar.” Ucap Aurely sambil mendudukkan pantatnya di samping Ibunya.
Ibunya menggeleng pelan. “Kita harus menjual rumah ini dan barang lainnya.”
Dunia Aurely seakan berhenti berputar.
“Terus… kita tinggal di mana?” suaranya bergetar tanpa ia sadari.
Pak Baskoro menatapnya lurus. “Kita pindah ke desa. Rumah peninggalan kakekmu. Ayah akan mulai usaha dari sana.”
Detik itu juga Aurely berdiri.
“Tidak!” suaranya meninggi. “Aku tidak mau! Aku akan tetap tinggal di kota ini!”
“Aurely…” suara ayah dan ibunya hampir bersamaan.
“Desa itu apa?” lanjut Aurely dengan napas tersengal. “Tempat terpencil? Aku kuliah di sini, Yah! Hidupku di sini!”
“Aku akan kost di kota ini!” katanya lagi, keras kepala.
“Ayah sudah mengurus pindah kampus,” ucap Pak Baskoro pelan tapi tegas. “Dan tidak ada anggaran untuk kost, biaya kampus, atau biaya hidup kamu di sini.”
“Tidak! Aku bisa kerja!” Aurely memotong. “Aku tidak akan tinggal di desa! Itu memalukan!”
Ibunya berdiri, mencoba meraih tangan Aurely. “Nak, ini cuma sementara.”
“Apa Bunda tahu apa arti desa buat aku?” mata Aurely mulai berkaca-kaca.
“Orang-orang akan menertawakanku. Kita sudah bangkrut, lalu hidup di desa?”
Air mata jatuh satu per satu.
Pak Baskoro menunduk. “Kita tidak punya pilihan. Kamu harus ikut ke desa.”
Kalimat itu menjadi palu terakhir yang meremukkan segalanya.
“Kita masih punya waktu beberapa hari di sini,” ucap Bu Baskoro sambil memeluk Aurely. “Untuk mengurus kepindahan dan berpamitan.”
Aurely tidak bisa berkata kata lagi.. Hanya mampu menangis di dalam pelukan Ibunya..
☀️☀️☀️
Keesokan harinya, kabar itu menyebar lebih cepat dari yang Aurely kira.
Pagi itu, ia datang ke kampus naik ojek online. Bukan dengan mobilnya, karena sudah tidak ada di rumah. Bukan pula dijemput Kevin.
“Vin! Kamu kok nggak jemput aku?” teriak Aurely sambil berlari mendekati Kevin pacarnya.
Kevin yang sedang berdiri bersama teman temannya .. menoleh singkat. “Maaf, Rel. Aku sibuk banget tak ada waktu... Aku lagi fokus ke karier dan study.”
Lalu Kevin pergi begitu saja. Teman temannya satu persatu juga melangkah pergi meninggalkan Aurely.
Aurely terpaku di tempatnya berdiri, karena Kevin tidak biasanya seperti itu. Kevin selalu ada waktu buat dirinya..
Langkah Kevin menjauh begitu ringan, seolah ia baru saja meletakkan beban kecil.. bukan menambah hancur dunia seseorang.
Beberapa mahasiswa di sekitar mereka saling melirik, berbisik pelan. Aurely bisa merasakan tatapan itu: tajam, penasaran, dan sedikit puas.
“Kevin,” panggilnya tertahan. “Maksud kamu apa?” Aurely berlari kecil mengejar..
Kevin berhenti, menoleh setengah badan. Wajahnya datar, jauh dari senyum yang dulu selalu ia berikan.
“Kamu sudah berubah, Aurel,” katanya dingin. “Aku butuh pasangan yang selevel. Bukan yang bikin masalah.”
“Aku cuma lagi kena musibah,” balas Aurely cepat. “Aku masih aku yang sama.”
Kevin tersenyum miring. “Justru itu. Kamu akan jadi masalahku. Mengganggu karier dan study aku.”
Kevin pergi tanpa menoleh lagi.
Aurely membuka ponselnya dengan tangan gemetar. Notifikasi bermunculan. Kevin menghapus tag. Kevin menghapus foto... Kevin unfollow Aurely... Secepat itu, ia dihapus dari hidup seseorang.
Hari-hari berikutnya terasa asing buat Aurely. Teman-teman kampus yang dulu berebut duduk di sebelahnya kini menjaga jarak. Beberapa berpura-pura ramah, tapi bisikan selalu mengikuti langkahnya.
“Itu Aurely sudah beda ya?”
“Katanya bokek sekarang.”
“Pacarnya aja ninggalin.”
Kevin tidak benar-benar menghilang. Ia justru sering muncul.. tertawa bersama perempuan lain, sengaja melewati Aurely di koridor, menatapnya dari ujung kepala sampai kaki. Semua yang dikenakan Aurely adalah barang lama. Tidak ada yang baru.
Suatu sore, di hari terakhirnya di kampus itu, Aurely memberanikan diri mendekati Kevin.
“Vin.. Kita bisa ngobrol baik-baik?” tanyanya pelan dan sangat hati hati.
Kevin melirik jam tangan mewahnya. “Ngapain? Kamu mau minta tolong?”
Nada itu membuat Aurely mematung. “Aku cuma ma.. ”
“Dengar,” potong Kevin. “Aku tidak ada waktu! Dan aku capek kalau jadi sandaran kamu. Dulu kamu bersinar. Sekarang kamu cuma bayangan masalah.”
Setiap kata terasa mengikis sisa kepercayaan diri Aurely.
Ia pulang hari itu dengan langkah gontai, menyadari bahwa yang paling menyakitkan bukan kehilangan harta. Melainkan kehilangan nilai dirinya di mata orang yang dulu membuatnya merasa paling berharga.
Undangan nongkrong menghilang... apalagi undangan untuk pesta perpisahannya... Nama Aurely yang dulu dielu-elukan kini terasa asing... Bahkan mulai menghilang..
Ia menatap ponselnya lama, lalu melemparkannya ke kasur.
“Munafik,” gumamnya.
Di depannya koper setengah terisi, Aurely duduk lemas. Gaun mahal, sepatu hak tinggi, tas bermerek.. semuanya terasa tidak berguna.
Ibunya mengetuk pintu.
“Aurely… ayo siap-siap.”
Aurely menoleh ke arah pintu yang sudah dibuka oleh Ibunya..
“Aku benci hidup ini, Bun!" ucap Aurely dengan mata merah.
gak banyak drama2 yg bikin hatinya bertambah luka
sampai2 ada yg dapat foto ayah Aurel pas lagi bekerja? kayaknya niat banget deh ngepoin keluarga Aurel
optimis bahwa kmu bisa
suatu saat pasti menang dan karya mu jdi luar biasa
juga.. dapat pelajaran juga dari elang dan elin..kamu tidak sendirian...karena terlalu lama di zona nyaman🤭
dan hebat aurel
harus lebih kuat dong rel
tp tak apa ya pak bas slow aja spa tau nnti dpt yg lebih gede lagi rezekinya
harus kuat dan tahan banting