Ravela Natakusuma, seorang kapten TNI-AD, tiba-tiba harus menerima perjodohan dengan Kaivan Wiratama, seorang CEO pewaris perusahaan besar, demi memenuhi permintaan ayah Kaivan yang tengah kritis.
Mereka sepakat menikah tanpa pernah benar-benar bertemu. Kaivan hanya mengenal Ravela dari satu foto saat Ravela baru lulus sebagai perwira yang diberikan oleh Ibunya, sementara Ravela bahkan tak tahu wajah calon suaminya.
Sehari sebelum pernikahan, Ravela mendadak ditugaskan ke Timur Tengah untuk misi perdamaian. Meski keluarga memintanya menolak, Ravela tetap berangkat sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai abdi negara.
Hari pernikahan pun berlangsung tanpa mempelai wanita. Kaivan menikah seorang diri, sementara istrinya berada di medan konflik.
Lalu, bagaimana kisah pernikahan dua orang asing ini akan berlanjut ketika jarak, bahaya, dan takdir terus memisahkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu ibu mertua
Hari kedua cuti Ravela berjalan tenang hingga sebuah mobil berhenti di depan rumah. Nadira yang berada di ruang tengah langsung pergi ke pintu utama begitu mendengar seseorang datang. Saat pintu dibuka, senyum ramah langsung terukir di wajahnya.
“Keisha,” sapa Nadira hangat. “Silakan masuk.”
Keisha membalas senyum itu. “Terima kasih, Nadira.”
Nadira mempersilakan Keisha masuk. Keduanya duduk berdampingan di sofa ruang tamu.
Keisha menoleh ke sekeliling. “Ravela mana ya? Aku pengen ketemu menantuku itu,” ucapnya, terdengar tak sabar.
“Ravela ada di kamarnya,” jawab Nadira. “Tunggu sebentar, aku panggilkan dulu.”
Keisha mengangguk. Nadira lalu berdiri dan melangkah menuju kamar Ravela. Ia mengetuk pintu pelan.
“Masuk, Bun,” terdengar suara Ravela dari dalam.
Pintu terbuka. Ravela menatap ibunya. “Ada apa, Bun?”
“Di ruang tamu ada ibu mertuamu datang,” kata Nadira.
Jantung Ravela langsung berdegup lebih cepat.
“Kaivan juga datang?” tanyanya spontan. Dalam hati, ia sadar dirinya belum siap bertemu pria yang secara status sudah menjadi suaminya sirinya itu.
Nadira menggeleng. “Tidak. Ibu mertuamu datang sendiri.”
Ravela menghembuskan napas lega. “Tunggu sebentar ya, Bun. Aku siap-siap dulu.”
“Iya, cepetan,” balas Nadira sambil tersenyum kecil.
Setelah pintu tertutup, Ravela segera membuka lemari. Ia memilih dress selutut dengan aksen bunga-bunga yang sederhana namun elegan.
Setelah berganti pakaian, ia merapikan rambut panjangnya, membiarkannya terurai, lalu menambahkan sedikit riasan tipis di wajahnya. Tak ingin membuat tamu menunggu lama, ia segera keluar kamar.
Langkahnya melambat saat mendengar suara sayup-sayup dari ruang tamu.
“Sebenarnya dulu Kaivan sempat menolak perjodohan ini,” suara Keisha terdengar. “Dia bilang, kalau menikah dengan tentara, nanti istrinya lebih sering pergi tugas daripada di rumah. Dia takut selalu ditinggal.”
Nadira menjawab pelan, “Saya bisa mengerti kekhawatiran itu.”
Dada Ravela terasa sedikit sesak mendengarnya. Ucapan itu menariknya kembali pada masa lalu, pada hubungan yang pernah kandas hanya karena profesinya.
Kini, hal serupa kembali terlintas. Kaivan memang tetap menerimanya, meski Ravela tahu, penerimaan itu datang karena keterpaksaan.
Ravela berhenti sejenak, menarik napas dalam, lalu melangkah ke ruang tamu.
Keisha langsung berdiri dan tersenyum hangat. “Ravela,” panggilnya. “Sini, duduk dekat Mamah.”
Ravela mengangguk dan duduk di tengah-tengah antara Keisha dan Nadira. Keisha memeluk Ravela sebentar. “Mamah kangen banget sama kamu.”
“Tante, apa kabar?” tanya Ravela sopan.
“Mamah baik,” jawab Keisha sambil menggenggam tangan Ravela. “Panggilnya jangan Tante ya. Panggil Mamah. Kamu kan menantu Mamah.”
“Baik, Mah,” ucap Ravela. “Aku turut berduka cita atas kepergian Papah Aditya. Maaf, aku tidak di sini waktu itu.”
Keisha tersenyum, meski sorot matanya menyimpan kesedihan. “Tidak apa-apa, Nak. Mamah paham. Kamu sedang menjalankan tugas negara.”
Keisha lalu melanjutkan, “Oh ya... sekarang Kaivan sedang di luar kota. Ada proyek yang harus dia tangani langsung. Suamimu itu sudah di sana sekitar semingguan dan kemungkinan baru kembali ke Jakarta sekitar dua mingguan lagi.”
Ravela mengangguk pelan. Namun kata suamimu yang meluncur dari bibir Keisha membuat dadanya berdesir sekaligus canggung.
“Setelah dia pulang,” lanjut Keisha, “Kalian berdua harus segera mengurus pernikahan secara resmi. Daftar ke KUA, atau jalur pengadilan sesuai aturan. Dan tentu saja, lapor ke atasanmu.”
“Aku mengerti, Mah,” jawab Ravela singkat. “Aku akan mengikuti semua prosedurnya.”
Nadira kemudian mengambil sebuah kotak beludru merah dari meja kecil dan menyodorkannya pada Ravela. “Ini,” katanya lembut. “Cincin nikahmu, Nak.”
Ravela membuka kotak itu perlahan. “Apa nikah siri juga pakai cincin?” tanyanya ragu.
Keisha tersenyum. “Boleh saja. Ini hanya pengikat sementara. Cincin yang resmi nanti saat kalian sudah sah secara hukum, agama, dan administrasi TNI.”
Ravela menutup kotak itu kembali. “Maaf Mah, tapi aku tidak bisa memakainya sehari-hari. Walaupun tentara boleh pakai cincin nikah, namun status kami belum resmi. Karena itu akan melanggar aturan.”
Keisha mengangguk paham. “Tidak apa-apa, Mamah ngerti itu. Simpan saja dulu. Anggap ini sebagai pengingat.”
Ravela hanya mengangguk pelan sambil menggenggam kotak itu dengan hati-hati.
Di sisi lain, Kaivan berdiri di tepi area proyek hunian sementara. Ia mengenakan rompi keselamatan, helm putih, dan sepatu lapangan yang sudah dipenuhi debu.
Pandangannya menyapu barisan rangka bangunan yang mulai berdiri satu per satu. Di sampingnya, Sandy berdiri sambil memegang tablet berisi data progres pekerjaan.
“Pastikan bahan bangunan yang datang sore ini langsung dicek,” kata Kaivan tanpa menoleh. “Kalau ada yang rusak atau tidak layak, jangan digunakan.”
“Siap, Pak,” jawab Sandy.
Belum sempat Sandy melanjutkan laporan, seorang perempuan mendekat dari arah luar area proyek. Pakaiannya sederhana, kaos polos dan rok panjang sebatas betis. Di tangannya ada rantang bertingkat yang dibawanya. Wajah perempuan itu terlihat cantik natural.
Sandy melirik sebentar, lalu kembali ke layar tabletnya.
Perempuan itu berhenti tepat di depan Kaivan.
“Akang Kaivan,” panggilnya lembut. “Ini ada makanan buat Akang.”
Kaivan menoleh. Ia mengenali perempuan itu. Tari, putri kepala desa. Semenjak hari pertama kedatangannya kesini, Tari selalu mencoba mendekatinya namun tidak terlalu ditanggapi oleh Kaivan.
“Terima kasih, Tari. Sebenarnya kamu tidak perlu repot-repot seperti ini,” kata Kaivan.
Tari tersenyum lebih lebar. “Tidak repot kok, Kang. Saya memang sengaja masak buat Akang. Ambil ya.”
Kaivan ragu sejenak. Ia tahu menolak terang-terangan hanya akan membuat situasi jadi canggung. Akhirnya ia menerima rantang itu untuk menghargai.
“Terima kasih. Tapi kamu sebaiknya tidak usah berlama-lama di sini. Banyak truk material keluar masuk. Kamu juga tidak pakai helm pengaman, bisa bahaya nantinya,” ucap Kaivan mencoba cari kata-kata untuk mengusir Tari secara halus.
Alih-alih tersinggung, Tari justru terlihat senang karena merasa diperhatikan Kaivan. Ia menunduk sedikit, senyum malu-malu tersungging. “Iya, Kang. Saya pergi dulu. Jangan lupa makanannya dihabiskan,” katanya.
Tari pun melangkah pergi, meninggalkan Kaivan dan Sandy di tempat semula.
Begitu Tari menjauh, Kaivan menghembuskan napas pelan. Ia menoleh ke Sandy dan menyerahkan rantang itu. “Buat kamu.”
Sandy terperangah. “Hah? Buat saya, Pak?”
Kaivan mengangguk. “Iya. Dimakan sampai habis.”
“Tapi ini kan buat Bapak,” kata Sandy ragu.
“Saya tidak lapar. Kalau nanti saya lapar, saya bisa pesan sendiri.”
Sandy menerima rantang itu sambil tersenyum kecil. “Sepertinya Tari itu suka sama Bapak.”
Kaivan menatap lurus ke depan. “Biarkan saja. Dia bukan tipe saya.”
Sandy melirik ke arah atasannya itu. “Kalau boleh tahu, tipe Anda seperti apa, Pak?” tanyanya penasaran karena sudah hampir usia tiga puluh tiga tahun namun bosnya itu belum juga menikah hingga sekarang.
Kaivan terdiam sejenak. Pandangannya kosong, seolah menembus kerangka bangunan di depannya. Dalam benaknya, terlintas wajah seorang wanita yang fotonya selalu ia pandangi sebelum tidur.
“Tentunya dia harus cantik, kuat dan pemberani. Bukan perempuan yang hidupnya hanya memperhatikan soal penampilan dan shopping saja,” ujar Kaivan.
Sandy mengangkat alis. “Berarti bisa seperti perempuan yang berprofesi sebagai tentara dong, Pak?” tanyanya.
Kaivan mengangguk kecil, sudut bibirnya terangkat tipis. “Anggap saja begitu.” Ia lalu menepuk ringan bahu Sandy. “Sudah. Jangan banyak bicara. Awasi mereka.”
Sandy mengangguk patuh. Kaivan kembali fokus ke proyek di hadapannya.