NovelToon NovelToon
Blood Of Sin - Tsumi No Chi

Blood Of Sin - Tsumi No Chi

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action
Popularitas:667
Nilai: 5
Nama Author: samSara

罪から生まれ、 遺産を求める血に追われる。 Tsumi kara umare, isan o motomeru chi ni owareru. (Born from sin. Hunted by blood that demands legacy) Nakamura Noa, gadis miskin yang bekerja serabutan sekaligus merawat ibunya yang sakit parah. Noa dan ibunya yang sedang dalam persembunyian, tidak sadar bahwa klan besar Yamaguchi-gumi telah mengawasi mereka sejak lama. Mereka beranggapan bahwa Noa adalah pewaris roh leluhur Yamaguchi: 'Kuraokami' yang bangkit saat berada diambang batas. Sampai akhirnya Noa dijemput paksa dan dibawa kembali ke dunia kelam para algojo. Ia harus memilih: tunduk pada mereka atau hancurkan warisan yang telah merenggut hidupnya. ⛔️"DILARANG KERAS menyalin atau mengambil ide, alur, plot twist, tokoh, dialog, maupun bagian cerita, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa izin penulis."⛔️ Copyright© 12/07/2025 - SAMSARA. Technical Advisor : Aimarstories Cover : pinterest Dark psychological thriller Dengan gaya sinematic noir - slow burn

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samSara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1 - Nakamura part I

...**...

...⚠️ Perhatian, Ada Lompatan Waktu ⚠️ ...

...— Alur Maju —...

...⛩️🏮⛩️...

...泥土に埋められた血...

...-Dorobou ni Umerareta Chi-...

...'Darah yang Tertanam di Lumpur'...

...⛩️🏮⛩️...

...•...

...•...

...•...

...•...

...•...

...•...

...•...

...•...

...❗️❗️❗️❗️❗️❗️❗️❗️❗️❗️❗️...

...– DELAPAN BELAS TAHUN KEMUDIAN –...

...Shugitani, Prefektur Kyoto....

Desa yang tak berubah, bahkan ketika dunia di luar tumbuh dengan kegilaan. Rumah-rumah kayu di lereng bukit masih berdiri dengan jendela kusam dan genteng tua yang digerogoti oleh lumut. Jalannya sempit, berkelok, dan belum sepenuhnya beraspal, diapit sawah serta hutan bambu yang tampak seperti dunia lain saat kabut turun.

Di sinilah gadis yang bernama Nakamura Noa tumbuh dalam keheningan yang tidak pernah memberinya pilihan.

Dimata warga desa, Noa hidup bersama seorang wanita bernama Misao yang mengaku sebagai bibinya. Wanita itu hampir tidak pernah keluar rumah, tidak pernah bergosip, tidak pernah ikut kegiatan desa. Ia seperti menjaga jarak, bahkan dari para tetua. Itu semua bukan karena memiliki sifat pendiam... tapi karena rasa takut. Misao tidak ingin siapa pun tahu hubungan sebenarnya dengan gadis itu. Bahkan Noa sekalipun.

Namun Noa, gadis kecil yang dibesarkannya dengan pelan dan sabar, masih terlalu kecil untuk mengerti dalam batasan itu. Sejak usia dini hingga sekarang, Noa lebih suka memanggil wanita itu dengan sebutan "ibu". Dan Misao, meski sempat terkejut saat pertama kali mendengarnya, ia tidak pernah menegur.

Warga tidak merasa aneh. Mereka menganggap panggilan itu sebagai bentuk kasih sayang anak kecil yang dibesarkan hanya oleh satu sosok wanita. Mereka memahami: tidak ada orang tua, tidak ada keluarga lain, hanya dua orang perempuan yang saling bertahan dalam rumah tua yang jauh dari jalan utama. Maka panggilan "ibu" terdengar wajar. Bahkan menyentuh hati.

Yang tidak mereka tahu, panggilan itu sebenarnya memiliki makna lebih dalam bagi Misao daripada yang bisa diungkapkan. Karena jauh di lubuk hatinya, ia bahagia. Noa memang anaknya. Darah dagingnya. Tapi keadaan memaksanya untuk menutupi, menyembunyikannya dari dunia, seolah keberadaan gadis itu sendiri adalah dosa yang harus ditebus dalam diam.

...⛩️🏮⛩️...

Hujan turun sejak pagi tadi, membasahi atap rumah-rumah tua di desa sunyi itu.

Air merembes dari celah-celah kayu lapuk rumah Noa, menetes ke ember-ember yang telah disiapkannya sejak malam kemarin. Malam ini, Ia tidak terbangun karena suara hujan, melainkan oleh batuk ibunya.

Batuk yang sama. Dengan nada yang semakin memprihatinkan dan sulit dihentikan.

"Noa..." suara lirih itu memanggil, nyaris tak terdengar dari balik kamar sebelah.

"A (Iya), okaa (Ibu) , Aku di sini."

Gadis remaja itu bangkit dari kasur tipis beralaskan selimut tua. Rambut hitamnya diikat asal dengan pita murah. Ia masih mengenakan baju kerja, kerahnya basah oleh peluh yang belum sempat mengering.

Misao yang dulu disebut wanita penghibur di lorong-lorong Minowa, kini hanya bayang-bayang masa lalu. Wajahnya pucat. Paru-parunya digerogoti penyakit yang tak pernah ada secara resmi dalam kartu asuransi yang mereka tak pernah memilikinya.

Noa mengganti air di termos kecil, merapikan selimut, lalu menyuapi obat yang ia beli seadanya dari toko obat kecil di desa. Ia tak bicara banyak. Ibunya pun tak meminta banyak. Ada kesepahaman di antara mereka, yang lahir dari kebiasaan bertahan hidup: diam lebih hemat daripada harapan.

Noa menarik selimut lusuh sampai menutupi bahu ibunya. Misao, yang dulu dikenal sebagai wanita cantik dengan tatapan sedingin sake, kini hanya kulit dan tulang. Di balik selimut, Tubuhnya melengkung seperti huruf S, napasnya berderak, batuk-batuknya mewarnai hampir di setiap malam.

Noa, sembilan belas tahun, tidak pernah bertanya siapa ayahnya. Ia belajar sejak kecil bahwa beberapa pertanyaan hanya akan melukai satu-satunya orang yang masih bisa tersenyum untuknya. Misao sebisa mungkin masih memberi senyuman.

Setelah memastikan ibunya terlelap, Noa menuju dapur yang diwarnai oleh karat dan jamur. Ia membuka dompet: satu lembar 1.000 yen yang sudah lecek, tiga koin, dan kartu ID kerjanya yang buram.

Sisa hidup mereka.

...•...

...•...

...•...

...⛩️🏮⛩️...

Di tempat lain, jauh dari mata siapa pun. Jauh dari Kyoto.

Gudang tua yang terbengkalai di luar pelabuhan malam itu begitu sunyi. Hanya bunyi ombak yang menghantam kayu dermaga, bercampur aroma asin laut dan karat besi. Lentera minyak tergantung rendah di langit-langit, menebarkan cahaya kuning redup yang memantul pada genangan air asin bercampur darah.

Seorang pria—Tateishi Gen—terikat di kursi, tubuhnya sudah penuh luka lebam dan sayatan-sayatan liar nan dalam yang masih mengeluarkan cairan merah tua segar. Nafasnya berat, dada naik-turun tersengal. Percikan darah kering menodai wajah dan pakaiannya.

Mikami Torao—pria tinggi berotot, berdiri tepat di belakangnya, pedang masih merah menyala—perpaduan terkena pantulan lampu tua yang redup dan cairan merah manusia. Tatapannya tajam, dingin, tanpa belas kasihan.

Di sisi lain, Tadashi menarik sebuah kursi tua dan merubah arah posisinya. Ia duduk santai memegang sandaran belakang kursi yang kini berada di depan tubuhnya. Jemarinya mengetuk-ngetuk pelan sandaran kursi itu, ritmis, sarat akan makna.

Tuk. Tuk. Tuk. Di balik setiap ketukan, ada tekanan halus yang membuat udara di ruangan kian berat. Sorot matanya menelusup, menusuk, menelanjangi kebohongan tanpa perlu banyak bicara.

"Jūhachi-nen mo kokugai ni kiete ita na."

(Delapan belas tahun kau menghilang ke luar negeri) suara Tadashi datar, tapi setiap katanya seperti beban yang menekan.

"Naze ima, modotte kita no ka... fun?"

(Kenapa kau kembali sekarang, hm?)

Gen terbatuk, darah menetes di sudut bibirnya. "Aa... yamete... hanashite... ikasete..."

(Aku... aku... tolong... lepaskan aku... biarkan aku pergi...)

Tadashi memicingkan mata, mencondongkan badan tepat di hadapan Gen. Suaranya nyaris seperti bisikan. Ia menepuk pipi Gen yang basah oleh darah dan keringat.

"Kau pikir setelah sembunyi selama itu, klan tidak akan tahu dan melupakanmu? Kau salah, Gen. Waktu hanya memperpanjang penderitaanmu."

Tiba-tiba.

Sret—jrab. Pisau kecil menancap di lengannya. Gerakan Torao cepat, efisien.

Aarrrghh.

Erangan Gen pecah, menggema di gudang tua itu.

Tadashi tidak menoleh. Ia hanya mengetuk sandaran kursi sekali lagi. Tuk.

"Di malam itu," katanya pelan.

"Delapan belas tahun lalu."

Ia berhenti sejenak. Cukup lama untuk membuat udara terasa menegang.

"Aku tahu kau tidak buta."

Nada suaranya tetap rendah. Tidak meninggi. Tidak mendesak. Namun setiap kata jatuh seperti palu.

"Katakan," lanjutnya.

"Siapa yang membantu wanita itu pergi?"

Gen terdiam. Mata merahnya berkedut. Helaan napasnya kacau.

"... bukan aku yang mengkhianati..." bisiknya nyaris tak terdengar.

Torao meremas gagang pisau yang menancap. "Hakkiri kotaero!" (Jawab dengan jelas!)

Gen menunduk, suara tercekat. "Aku... aku hanya lihat... seorang di antara kalian... yang seharusnya bersumpah setia... tapi malah—"

Ia berhenti, seperti ada beban di lidahnya.

Tadashi condong sedikit ke depan, sorot matanya tajam. "Namae." (Nama)

Gen terisak. "Aku... aku tidak berani. Aku sudah bersumpah..."

Torao mengangkat pedangnya, bayangannya memanjang di dinding. Gerakannya terasa mengancam.

Mata Gen memejam, tubuhnya gemetar. Lalu kalimat itu meluncur lirih, terputus-putus.

"Orang itu... bukan prajurit biasa... dia... bagian inti... selalu di sisi Oyabun..."

Tadashi menatapnya lama, lalu tersenyum tipis tanpa kehangatan. Tok... tok... tok. Jemarinya kembali mengetuk kursi.

"... Jūbun da." (... Cukup)

Torao lalu mengayunkan pedang.

Jraass... ! Dug... !

Dan suara besi yang menebas leher menutup malam itu.

Di luar, ombak menghantam dermaga, menenggelamkan rahasia yang selama ini hanya dimiliki Oyabun dan tiga bayangan setianya.

...—つづく— (Tsuzuku)...

...—Bersambung.....

Untuk bab Nakamura, selama Noa berada di desa Shugitani, bahasa Jepangnya menggunakan dialek Kyoto (Kyoto-ben) dengan khas pedesaan alias kasar (Tamba-ben). Fyi, Shugitani adalah nama desa fiktif yang hanya ada di cerita ini.

Tetapi untuk percakapan anggota klan Yamaguchi memakai dialek Tokyo (Tokyo-ben) atau umum.

1
Dylla
jadi sekalian belajar bahasa jepang kan kwkw emosional banget alurnya mak
Dylla
ga bisa berkata-kata lagi. suka banget detail nya
Faeyza Al-Farizi
bagian ini penuh teka-teki, yang paling bikin penasaran sih... siapa bapaknya si bayi. apakah oyabun? atau.... ah mari kita cari petunjuknya di bab berikutnya 👍
Faeyza Al-Farizi
Noa, mati waktu lahir. Tapi keknya bakalan mati lagi di depan. walau secara kertas lagi🥲
Faeyza Al-Farizi
walau kebenaran dikubur sekalipun, suatu saat akan bangkit 🥴
Hasif Akbar
Kasihan ya ... Misao, pasti menanggung klan Yamaguchi dan pasti menjadi buronan, sudah dipisahkan sama ibunya, ngeness gak bisa menikmati sisi cahaya dunia 🙏
Chuen lie Liem
serpihan puzzle yang ditemukan Tadashi saling melengkapi. dia yakin ini semua bukan kebetulan, RIN DAN ANAKNYA MASIH HIDUP HANYA GANTI IDENTITAS, pen. di satu tempat terpencil. Bagaimana keadaan Rin dan anaknya ? apa yang akan dilakukan Tadashi? Kita lihat saja episode berikutnya, alur ini semakin menarik, penasaran dengan plot twistnya...
Diaz Ardi
pada akhirnya tetap dipenggal, meski gen membuka mulutnya, sedari awal tadashi tidak memberikan pilihan untuk hidup.
​disisi lain, noa bener² berjuang bertahan hidup bersama bibi yang memang sebenarnya ibu kandungnya. kondisi yang cukup memprihatinkan untuk mereka berdua yang sebatang kara
Happy Netta
Ceritanya terenyuh banget, apalagi sosok bayi tak berdosa harus tumbuh didalam rahim namun keluar sudah tak bernyawa dan ngerinya berstatus cacat.. tapi salut dengan perempuan itu yg melahirkannya, ia tetap merawatnya didalam kandungan sampe di hari persalinan yg walaupun tidak akan pernah ia bisa rawat seperti saat didalam kandungannya.🥹
Happy Netta
Di awal udah negthink, tp ternyata bikin nyesek.. author bisa aja ngasih settingannya se real itu. Omg.. wajib masuk list bacaan nih!!!
Dylla
patriaki garis keras ini. apalagi latar waktunya zaman baheula
Chuen lie Liem
Hidup Rin se-derita itu, seorang gadis penghibur yang pasti cantik, mempunyai anak dari bangsawan Jepang. Bayi itu tak diakui, ibunya iusir dan didengungkan berulang anak yang lahir itu cacat dan mati. Setelah ini Rin hidup tanpa identitas, dengan anak yang tumbuh bersamanya di suatu tempat yang tersembunyi. Diksi cerita ini kuat, penjabaran membawa kita masuk ke dalam cerita tanpa dapat ditolak. padahal ini baru prolog udh sebagus ini. sangat bikin penasaran.
Zainab Firman
Langkah atau tindakan apakah yang akan dilakukan Tadashi terhadap Misao yang tak lain adalah Rin?
sungguh alur cerita ini membuat penasaran untuk terus membacanya
Zainab Firman
Karya yang sangat interest untuk dibaca, seperti mudah ditebak alur ceritanya, padahal tidak, alur ceritanya sangat kompleks dan penuh intrik
Faeyza Al-Farizi
Sumpah, ini baru prolog loh. catat, prolog.
kuat banget udahan, pengambilan konfliknya juga menarik. Geisha, si penghibur yang dihargai di Jepang. pasti si Rin ini cantik banget sampai kayaknya jadi pusat. Btw kakak Author kamu risetnya jalur film apa pernah kesana, bisa buat setting yang jepang banget 👍
Diaz Ardi
Apakah Rin ini seorang yamato nadeshiko? Tetapi menjalin hubungan dengan orang yang tak seharusnya ia bersamanya? Sehingga saat memiliki buah hati bersama sang Oya-bun. Keberadaannya harus dihapuskan bersama jejak kelahiran anak tersebut.
Faeyza Al-Farizi
kalau gitu kenapa disentuh dan dibuat ada si bayi 😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!