"Hanya anak yang lahir dari Tulang wangi yang akan selamat! Istrimu, adalah keturunan penganut iblis. Dia tidak akan memberimu anak, setiap kali dia hamil, maka anaknya akan di berikan kepada sesembahannya. Sebagai pengganti nyawanya, keturunan ke tujuh yang seharusnya mati."
Pria bernama Sagara itu terdiam kecewa, istri yang telah ia nikahi sepuluh tahun ternyata sudah menipunya.
"Pantas saja, dia selalu keguguran. Ternyata bukan musuhnya yang membuat anak ku mati, tapi dia sendiri!"
Sagara pulang dengan kecewa, diketahui sang istri adalah seorang paranormal dengan bayaran selangit, kekuatannya tak di ragukan lagi. Ternyata....
"Lang, kamu tahu tidak, ciri-ciri perempuan yang memiliki tulang wangi?" tanya Sagara, putus asa.
"Tahu Tuan, kebetulan kekasihku di kampung merupakan tulang wangi." jawab Alang, membuat Sagara tertarik.
"Dia cantik, tapi lemah. Hari-hari tertentu dia akan merasa seluruh tulangnya nyeri, kadang tiduran berhari-hari."
Sagara tertarik, menatap Alang penuh arti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ani meninggal, Saga bertengkar
Semua orang menuju halaman belakang, dimana banyak pohon rimbun menutupi pandangan mata. Tubuh Ani tergeletak kaku tak bernyawa, lehernya biru seperti bekas cekikan jari yang rapat tak bercela. Tapi, tak hanya itu, ketika tubuh Ani diangkat, rambutnya bergerindil, ada bekas darah mengering.
"Mbak Ani!" gumam Niken, entah apa yang menyebabkan Ani meninggal. Niken ikut mengiringi tubuh Ani yang di bawa Alang dan Didit, supir pribadi di rumah itu.
"Saga! Bagaimana aku menjelaskan dengan anak dan ibunya?" ucap Mak Puah, dia berdiri bingung melihat Ani telah tiada.
"Aku akan mengurus mereka Mak." sahut Saga, dia benar-benar tak bisa berkata-kata. Sejak Saga masih kecil dan sepuluh tahun berumah tangga, tinggal di rumah itu. Dari rumah sederhana hingga berubah menjadi rumah bak istana. Baru kali ini ada yang meninggal secara tak wajar.
Selama ini, hanya calon bayi tak bersalah yang menjadi korban, entah itu anak Gendis sendiri, atau anak orang yang menjadi pengganti kekuatan untuk menghabisi nyawa orang.
Saga menatap pintu kamar Gendis yang terbuka, wanita itu tampak diam memandangi orang-orang yang mengerumuni jenazah Ani diambang pintu. Saga mengepalkan tangannya kuat-kuat. Mengapa harus Ani? mengapa harus orang yang di pekerjakan Saga?
Saga segera naik ke lantai dua, menemui sang istri yang tampak tenang, bersilang dada memakai gaun tidur yang indah.
"Atas kepentingan apa, sehingga harus menghabisi nyawanya?" tanya Saga, menyeret tangan gendis masuk ke dalam kamar.
"Mengapa tanya aku?" jawab Gendis, menghempas tangannya pelan.
"Karena di rumah ini, semuanya manusia kecuali kamu!" Saga menunjuk wajah Gendis penuh emosi.
"Kamu juga, Mas Sagara." jawab Gendis, tersenyum sinis.
"Cuih! Aku lebih baik mati, daripada menjadi seperti mu."
Gendis terkekeh, ia duduk di atas ranjang sambil memandangi Saga.
"Kamu, sudah punya perempuan lain?" tanya Gendis, menelisik curiga.
"Mau punya atau tidak, bukan urusan mu!" kesal Saga, pembahasannya tentang Ani, kini malah jadi tentang dia sendiri. Gendis, seperti bisa membaca pikiran Saga.
"Tentu saja urusan ku. Kamu tidak akan bisa pergi dariku Mas. Kita ini satu, kita akan selalu bersama. Bersabarlah sebentar Mas, kita bisa punya anak setelah_"
"Aku tidak sudi punya anak darimu. Kau mau menjadi setan, atau kau mau mati! Sendiri saja, tidak perlu mengajak aku!" marah Saga.
"Saga! Aku begini karena terpaksa!" ucap Gendis.
"Terpaksa apa? Kau punya pilihan! Sejak awal kau ingin hebat, berkuasa, dan terkenal. Kau sendiri yang memilih melakukannya. Kau sendiri yang ingin mengalahkan saingan mu dengan segala cara." Saga tersenyum kecut. Dia mengatai Gendis dengan berani.
Gendis sampai tak bisa menjawab, hari ini Saga sungguh berbeda.
"Aku diam bukan tidak mencari tahu. Keturunan ketujuh itu harusnya saudara perempuan mu, kau membunuhnya!"
"Tidak! Siapa yang memberitahumu? Mereka bohong!" Gendis jadi gemetar mendengarnya.
"Demi ambisimu. Agar menjadi kuat? Agar menjadi yang hebat? Jalan seperti ini, kau sendiri yang menginginkannya. Sampai menjadi setan pun kau bersedia?"
"Saga! Siapa yang mau menjadi setan! Siapa yang mau menjadi seperti aku? Aku juga tidak mau! Aku takut, aku tidak mau seperti ini. Aku mohon kamu mengerti, tetaplah bersama ku demi cinta kita, demi pernikahan yang sudah kita jalani sepuluh tahun."
Gendis meraih lengan Saga
"Sepuluh tahun kau perlakukan aku seperti laki-laki bodoh! Tertipu dengan ucapan mu. Kau beri aku makanan menjijikan agar aku sama dengan mu. Kau wanita gila! Iblis mungkin lebih baik darimu." geram Saga.
"Aku melakukan hal itu karena aku mencintaimu, dengan begitu kita akan selalu bersama."
"Aku tidak mau! Kita, bercerai!"
"Kita tidak bisa bercerai!" Gendis meraih lengan Saga.
"Kata siapa? Kata Setan yang menjadi tuhan mu?" Saga terkekeh.
"Ini dunia, Gendis! Aku, bukan milik setan mu!" Saga mencengkeram leher Gendis, menekannya cukup kuat lalu melepaskannya.
Pekikan kemarahan Gendis terdengar, sehingga orang-orang yang berduka mendongak ke lantai dua, dimana kini Saga menuruni anak tangga dengan wajah merah padam.
"SAGAA!!!!"
Sekali lagi, Teriakan Gendis terdengar mengerikan. Sorot matanya tajam menatap Saga.
"Ken, aku takut." Dewi memeluk lengan Niken, dia gemetar melihat Gendis seperti itu.
Mereka semua keluar dari rumah besar itu, kecuali laki-laki dan Mak Puah. Pertengkaran Saga dan Gendis membuat mereka merasa sulit bernafas. Bingung, curiga, juga takut.
"Ken, kita pulang saja ke kampung ya?" bujuk Dewi.
"Iya Mbak." jawab Niken, menenangkan Dewi. Dari sikapnya, ketakutan Dewi itu berlebihan. "Apa, kemarin Mbak Ani bekerja seperti biasa?" tanya Niken.
Dewi mengangguk, tapi raut wajahnya masih begitu panik.
"Malam kemarin, waktu Mbak Dewi sakit perut. Mbak Ani yang jagain Mbak Dewi, kan?" tanya Niken.
"Ada, Mbak Ani sempat ke kamar sebentar, lalu pergi mengambilkan aku air hangat." jelas Dewi, mengingat malam itu. "Tapi, nggak balik-balik lagi. Nggak nganter air hangat juga."
Kali ini, kening Niken yang berkerut. "Terus, siapa yang jagain Mbak di kamar?" tanya Niken.
"Aku sendirian, Mas Alang beli pembalut." jawab Dewi.
"Nyonya Gendis?" susul Niken, semakin penasaran.
"Enggak ada." jawab Dewi.
Aneh, padahal Ani sempat bercerita melihat Gendis.
"Aku benar-benar mau pulang Ken, kandungan ku juga, rembes terus. Kalau terus begini, takutnya aku kehilangan dia." kata Dewi mengelus perutnya, membuat Niken semakin khawatir.
"Mbak, sebaiknya memang Mbak Dewi pulang kampung, baik itu bersama Mas Alang atau sendiri dulu. Lihatlah, di sini sekarang sedang kacau."
Dewi meremat tangannya sendiri, menatap rumah besar itu saat ini seperti sedang melihat kuburan sendiri.
"Ken, sebaiknya bukan hanya Mbak yang pulang, tapi kamu juga. Di sini, berbahaya untuk kita semua." bisik Dewi, menatap wajah Niken serius.
"Bahaya apa Mbak?" tanya Niken, harap-harap itu tentang kematian Ani.
"Sebenarnya, kemarin itu Mbak tak sengaja mendengar, kalau Bibi sedang bekerjasama dengan seorang ustadz, untuk menghabisi seseorang. Dan gantinya, ustadz itu ngasih...." Dewi berbisik tepat di dalam telinga Niken.
"Hah!" Niken terkejut, meskipun Dewi buru-buru menenangkannya. "Mbak, memangnya dia mau menghabisi siapa?" tanya Niken.
"Kalau tidak salah, namanya Kiyai Yusuf."
Seketika membuat Niken terperangah, mengingat nama itu adalah nama yang di cari Saga.
Tapi, Ani?
Kalau meninggalnya Ani karena ia sempat melihat Gendis, tapi mengapa pengakuannya berbeda dengan Dewi? Seketika kepala Niken di penuhi segala pertanyaan. Mengingat Ani itu adalah teman pertamanya di sini.
Jasad Ani di periksa, di bersihkan. Lalu di bawa pulang ke kediamannya. Niken dan yang lainnya ikut mengantar, kecuali Gendis.
Bekerja sebagai pembantu, demi menghidupi ibu dan anak, sampai harus meregang nyawa. Beruntung mereka tak memperpanjang urusannya, bukan karena ikhlas, tapi mereka adalah keluarga miskin yang tak berdaya.
Saga duduk menyandar sambil menutup matanya, hari ini membuat ia benar-benar kecewa terhadap Gendis.
Mak Puah dan Niken masuk ke dalam mobil, selesai pemakaman ini, mereka akan kembali pulang.
Saga meraih lengan Niken hingga gadis itu jatuh mendekat.
"Sayang, hibur aku." ucap Saga.
Seketika Mak Puah menatap keduanya. Niken terdiam tegang, sedangkan Saga malah semakin erat memeluk dan menenggelamkan wajahnya di bahu Niken.
Tiba-tiba bahunya terasa hangat dan basah. Niken mengusap wajah Saga, pelan-pelan mengangkatnya hingga mendongak.
"Saga!" Mak Puah memekik, darah segar keluar dari hidungnya.
jangan jangan Sagara mau sama Niken karena dia wanita tulang wangi
tinggal Alang nih ....
apakah dia mau menyerahkan Niken ke Sagara 🤔
emang kalau paranormal ga bisa punya anak ??
Niken sendirian di rumah kayu itu
ditinggalkan tanpa ikatan yang jelas
hanya memegang janji manusia
bukan suami istri
tapi ......
apa yg sebenarnya terjadi hayoo
smg di di sini kya yusuf bisa menyadari nya krn 2 anak di besarkan bukan dr tngan sndri melainkan di titipkan
nahh kek mana oraan ne
setelah tau anak2 nya menemukan jalan masing2
selamat menjalankan ibadah puasa thor
niken ngidam nya hiiii aq bayangin aja udh ngerasa gigi ngilu
dulu aq ngidam buah tp semua buah harus manis
klo g manis aq ogah
🙈🙈🙈🙈
kyo lagune kae lho lho
tresno iku esek3
okeh isine lancar traksine
trsno iku esek3
kosong isi ne ora ono regone
urip butuh duit
tresno iku g keno di kresit
akan menikah secara resmi
di pesantren ,bareng Arimbi & imam
semoga lancar sampai hari kemenangan
aamiin
merencanakan kejahatan mereka
jgn2 kebakaran rumah haji Ibrahim juga perbuatan mereka
layaknya saudara angkat donk
Krn di asuh kiyai Hasan