NovelToon NovelToon
Kontrak Dendam Ceo

Kontrak Dendam Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Pohon Rindang

"aku tidak mencintai mu,aira.aku hanya ingin melihat mu menderita. "
Arlan Dirgantara, CEO angkuh yang dipenuhi dendam, mengikat Aira Senja dalam sebuah kontrak kejam. Bagi Arlan, Aira adalah pengkhianat yang harus membayar kesalahan masa lalu. Bagi Aira, Arlan adalah luka terdalam sekaligus satu-satunya harapan.
Di bawah atap yang sama, kebencian bercampur dengan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Saat rahasia masa lalu terungkap, dendam itu berubah menjadi obsesi.
Akankah kontrak ini berakhir dengan kehancuran…
atau justru menyatukan dua hati yang terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pohon Rindang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: KESETIAAN YANG DIPERTANYAKAN

Ruang rapat direksi terasa lebih dingin dari biasanya.

Bukan karena pendingin udara.

Melainkan karena tatapan.

Tatapan yang tidak lagi netral.

Tatapan yang menimbang.

Dan sebagian… menuduh.

Aira berdiri di sisi layar presentasi. Tangannya memegang remote, tapi jemarinya terasa kaku. Di layar, grafik kuartal terakhir terpampang rapi.

Angka pertumbuhan yang seharusnya naik.

Namun garisnya justru turun.

Ia menelan ludah.

“Ini tidak sesuai data terakhir yang saya kirimkan,” ucapnya pelan.

Seorang komisaris senior menyilangkan tangan. “Tapi ini yang masuk ke sistem pusat, Nona Aira.”

Tatapan lain beralih ke Arlan.

CEO itu duduk di ujung meja panjang. Wajahnya tanpa ekspresi. Tidak membela. Tidak menyela.

Diam.

Dan diamnya lebih menekan daripada tuduhan.

Aira membuka file cadangannya. Versi berbeda. Versi yang benar.

“Tanggal revisi terakhir?” tanya Arlan akhirnya.

“Dua malam lalu, Pak.”

Arlan menatap layar. “Sistem mencatat perubahan terakhir dilakukan tadi pagi. Pukul 05.17.”

Ruangan hening.

Aira membeku.

“Itu tidak mungkin,” bisiknya.

Komisaris lain bersuara, nada halus tapi tajam. “Akses data ini terbatas. Hanya tim inti. Dan asisten CEO.”

Kalimat itu menggantung.

Seperti pisau yang tidak perlu diayunkan.

Arlan bersandar perlahan. “Apa Anda menyangkal perubahan itu?”

Aira menatapnya.

Untuk sepersekian detik, ia berharap melihat kepercayaan.

Yang ia temukan… kosong.

“Saya tidak melakukannya,” jawabnya, kali ini lebih tegas.

“Bukti?” tanya Arlan datar.

Pertanyaan itu menghantam lebih keras dari tuduhan komisaris.

Bukti.

Ia tidak punya.

Karena ia tidak pernah merasa perlu membela diri atas sesuatu yang tidak ia lakukan.

Arlan menutup map di depannya.

“Kita tunda pembahasan,” ucapnya singkat. “Rapat selesai.”

Kursi-kursi bergeser. Bisik-bisik pelan terdengar saat para direksi keluar satu per satu.

Aira masih berdiri.

Sendiri.

“Masuk ke ruanganku,” kata Arlan tanpa menatapnya.

Pintu ruang CEO tertutup rapat.

Sunyi.

Arlan berdiri di dekat jendela, punggungnya menghadap Aira.

“Kesalahan seperti ini bisa menjatuhkan saham,” ucapnya pelan.

“Saya tidak mengubahnya,” balas Aira, suaranya mulai bergetar.

“Aksesmu eksklusif.”

“Saya tahu.”

“Lalu siapa?”

Pertanyaan itu tidak bernada tuduhan.

Tapi juga tidak bernada percaya.

Aira mengepalkan tangan. “Saya tidak tahu.”

Arlan berbalik.

Langkahnya pelan, terukur. Ia berhenti di depan meja, menatap Aira seolah mencoba membaca sesuatu yang tak tertulis.

“Kau sadar,” katanya rendah, “bahwa dalam posisi ini, kepercayaan lebih mahal daripada kompetensi.”

Kata-kata itu menyakitkan.

“Jika Bapak meragukan saya, katakan saja,” ucap Aira lirih.

Hening.

Lalu Arlan berkata pelan, hampir tak terdengar:

“Yang aku ragukan bukan hanya kau.”

Aira terdiam.

“Apa maksudnya?”

Arlan tidak menjawab. Ia justru berjalan kembali ke meja dan mengambil ponselnya.

“Saya beri waktu dua puluh empat jam,” katanya akhirnya. “Temukan jawabannya. Jika tidak…”

Kalimat itu dibiarkan menggantung.

Aira menunduk. “Baik, Pak.”

Ia berbalik.

Namun sebelum tangannya menyentuh gagang pintu—

“Dan Aira.”

Ia berhenti.

“Mulai sekarang, jangan percaya siapa pun di lantai ini.”

Nada itu berubah.

Bukan dingin.

Tapi waspada.

Malam itu, setelah seluruh lantai eksekutif kosong, lampu ruang CEO masih menyala.

Arlan duduk sendirian.

Laptopnya terbuka. Layar menampilkan log akses sistem internal.

Ia tidak pernah percaya sepenuhnya pada sistem.

Dan ia tidak pernah percaya sepenuhnya pada manusia.

Kursor bergerak perlahan.

05.17 – Perubahan data.

IP address internal.

Namun bukan dari perangkat Aira.

Arlan menyipitkan mata.

Ia membuka akses lain.

Server cadangan.

Jejak login menggunakan kredensial admin sementara.

Kredensial yang ia tahu hanya dipinjamkan… kepada satu orang.

Clarissa Mahendra.

Rahanya mengeras.

Ia tidak terkejut.

Ia hanya… mengonfirmasi.

Ponselnya bergetar.

Pesan masuk.

Clarissa: Aku dengar rapatnya panas hari ini. Kasihan sekali asistennya.

Arlan menatap layar lama.

Lalu membalas singkat.

Kita bicara besok.

Ia menutup laptopnya perlahan.

“Bermain di belakang sistem…” gumamnya pelan.

Di apartemennya, Aira duduk memandangi layar laptopnya sendiri. Mencoba melacak sesuatu yang bahkan ia tidak tahu harus dicari dari mana.

Ia merasa sendirian.

Diragukan.

Dipertanyakan.

Dan yang paling menyakitkan—

tidak dibela.

Padahal untuk pertama kalinya dalam waktu lama…

ia mulai percaya bahwa mungkin Arlan tidak lagi sepenuhnya membencinya.

Sementara itu, di ruangannya yang luas dan tenang, Arlan berdiri menatap kota dari balik kaca tinggi.

Ia tidak membela Aira di ruang rapat.

Bukan karena ia meragukannya.

Melainkan karena ia ingin melihat—

siapa yang akan bergerak saat ia diam.

Dan kini ia tahu.

Permainan itu tidak lagi sekadar kontrak.

Ini sudah menjadi perang tak terlihat.

Dan kali ini,

ia tidak akan membiarkan Aira berdiri sendirian.

Meski ia belum akan memberitahunya.

1
Arkana Luis
bagus.
sangat seru
Rumah Berpenghuni
ayo thor lanjut an nya mana
Rumah Berpenghuni
iss si arlan jahat, tapi aira nya kasian🥺
Pohon Rindang: makasih udah mampir ☺
total 1 replies
Rumah Berpenghuni
semangat author, seru nii
Pohon Rindang: makasih semangat nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!