NovelToon NovelToon
Agri-Tech King: Rahasia Proyek Pewaris

Agri-Tech King: Rahasia Proyek Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas dendam pengganti / Dunia Lain
Popularitas:590
Nilai: 5
Nama Author: indri sanafila

Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.

Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".

Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.

Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Simulasi dalam Teh

Dunia yang tadi putih total pelan-pelan mulai dapet warnanya lagi. Tapi warnanya bukan biru laut atau hijau Malabar. Warnanya... terlalu sempurna. Adrian ngerasa silau banget pas dia ngebuka mata. Dia ngerasa punggungnya nempel di sesuatu yang empuk, bener-bener empuk kayak sofa kulit kelas atas yang harganya bisa buat beli satu unit mobil LCGC.

Dia ngedip-ngedip. Langit-langit di atasnya bukan lagi logam kapal induk yang karatan atau awan perak yang horor, tapi plafon minimalis dengan lampu hidden LED warna kuning anget.

"Udah bangun, Tuan Adrian? Mau saya tambah tehnya?"

Adrian langsung loncat duduk. Jantungnya entah itu jantung emas atau jantung daging serasa mau copot. Dia ada di kantornya. Kantor lamanya di Jakarta. Lantai 58 dengan pemandangan Bundaran HI yang kelihatan sibuk di bawah sana.

Semuanya persis kayak sebelum dia kabur ke Malabar. Meja jati besarnya, laptop tipis merk luar negeri, sampai tumpukan dokumen yang belum dia tanda tanganin.

Di depannya, berdiri seorang pria yang wajahnya... ya Tuhan, itu dirinya sendiri.

Adrian yang "CEO" itu duduk di kursi kebesarannya, kakinya disilangin santai. Dia pake setelan jas slim fit warna abu-abu gelap yang harganya setara gaji setahun buruh pabrik. Di tangannya ada cangkir porselen yang masih ngepul.

"Gua... gua di mana? Tadi gua terjun dari kapal... tadi ada tsunami..." Adrian ngeraba-raba badannya. Baju selamnya ilang, ganti jadi kemeja putih bersih yang wanginya kayak deterjen mahal campur parfum woodsy.

"Santai, Adrian. Lu lagi di tempat paling aman di seluruh galaksi di dalem pikiran lu yang udah di-sinkronisasi sama sistem The Harvester," ucap Adrian CEO itu sambil senyum tipis. Senyumnya itu lho, tipis banget, tipis kayak janji kampanye.

"Pikiran gua? Berarti ini mimpi?"

"Bukan mimpi. Ini Interface. Antarmuka. Lu tadi kan nekat mau ngebajak sistem kapal induk langit itu, kan? Nah, sistem itu pinter. Daripada lu ngerusak mesin dari luar, sistemnya narik kesadaran lu masuk ke dalem supaya kita bisa 'ngobrol' secara logis tanpa ada gangguan dari si Adrian 0.1 atau Lyra."

Adrian jalan ke jendela. Dia nyentuh kaca jendela itu. Rasanya dingin, padat, nyata. Dia ngelihat ke bawah. Mobil-mobil di jalanan bergerak, orang-orang nyebrang jalan. Semuanya kelihatan hidup. Tapi ada yang aneh. Kalau dia perhatiin lebih detail, setiap orang yang ada di bawah sana punya wajah yang sama. Semuanya mukanya mirip dia, atau mirip Sekar, atau mirip Aris. Kayak copy-paste masal.

"Dunia ini... palsu, kan?" tanya Adrian tanpa nengok. "Tergantung definisi lu soal 'palsu'. Kalau lu ngerasa kopi ini pahit, berarti dia nyata buat indra lu," jawab Adrian CEO sambil naruh cangkirnya.

"Gua adalah protokol keamanan The Harvester yang ngambil bentuk paling 'otoriter' di memori lu. Dan lu milih gua sosok CEO sombong ini sebagai lambang otoritas. Lucu ya, sebenernya lu kangen sama masa-masa lu jadi bos."

Adrian balik badan. "Gua nggak kangen. Gua mau balik. Di luar sana lagi kiamat! Pasukan perak lagi ngerubah bumi jadi kebun energi kalian!" "Kiamat? Nggak, itu namanya rebranding," Adrian CEO itu berdiri, terus jalan ke arah dinding yang tiba-tiba berubah jadi layar monitor raksasa. "Liat ini."

Di layar itu, Adrian bisa ngelihat kondisi Bumi di luar simulasi. Kapal induk langit itu ternyata nggak ngebantai orang. Cairan metalik yang jatuh dari langit tadi malah ngebentuk semacam pelindung transparan di atas kota-kota besar.

Penyakit-penyakit kronis ilang karena partikel perak itu bersihin sel tubuh manusia. Kelaparan berhenti karena tanah di seluruh dunia mendadak subur banget berkat radiasi Malabar.

"Kalian ngasih surga?" tanya Adrian ragu.

"Surga dengan syarat, Adrian. Manusia tetep bisa hidup, tapi mereka nggak bisa lagi punya ambisi buat ngerusak. Mereka semua bakal hidup dalam harmoni yang udah kita atur frekuensinya lewat Jantung Emas lu.

Lu itu sekarang jadi router Wi-Fi buat kedamaian dunia. Keren, kan? Lu jadi pahlawan tanpa perlu angkat senjata." Adrian ngerasa ada yang nggak beres. "Terus kenapa lu narik gua ke sini? Kalau semuanya udah oke, kenapa gua nggak dibiarin bangun di daratan baru itu bareng Sekar?"

Adrian CEO itu diem sebentar. Wajahnya yang tadinya santai berubah jadi serius. Dia neken sebuah tombol di mejanya, dan tiba-tiba pemandangan kantor itu retak kayak kaca pecah. Di balik retakan itu, muncul sebuah ruang hampa hitam yang luas, dan di tengah-tengahnya ada sebuah pohon kecil yang bersinar emas.

"Itu Benih Emas lu," tunjuknya. "Masalahnya, Adrian... Benih Emas ini punya 'cacat' yang nggak bisa sistem kami perbaiki. Benih ini mengandung kode yang disebut 'Kehendak Bebas'. Dan itu... itu bahaya banget buat stabilitas surga yang kami bangun."

"Bahaya gimana?" "Kalau lu punya kehendak bebas, lu bisa mutusin buat matiin router-nya kapan aja. Dan kalau itu terjadi pas proses sinkronisasi lagi jalan, seluruh umat manusia bakal ngalamin shock sistem saraf. Mereka bisa mati massal. Jadi, gua di sini buat nawarin kesepakatan."

Adrian CEO itu ngulurin tangan. "Kasih gua bagian 'Kehendak Bebas' itu. Serahin kontrol penuh Benih Emas itu ke sistem The Harvester. Sebagai gantinya, lu bisa tinggal di sini, di simulasi Jakarta ini, selamanya.

Lu bisa punya apa aja. Lu mau Sekar ada di sini? Gua bikinin. Lu mau bokap sama nyokap lu hidup lagi dan bangga sama lu? Gua program sekarang juga. Lu bakal jadi raja di dunia yang paling sempurna."

Adrian ngelihat tangan dirinya sendiri yang terulur itu. Godaannya luar biasa. Dia capek. Capek dikejar-kejar, capek dikhianatin, capek ngerasa bukan manusia asli. Di sini, dia bisa jadi siapa aja. Dia bisa hidup tanpa beban.

Dia hampir mau jabat tangan itu, tapi tiba-tiba dia denger suara bisikan pelan di telinganya. Suara itu bukan dari simulasi, tapi kayak dateng dari bagian terdalam jiwanya.

"Tehnya... jangan diminum, Adrian. Tehnya itu... racun datanya." Adrian langsung narik tangannya balik. Dia ngelihat ke arah cangkir teh yang tadi ditawarin. Dia baru sadar, sejak tadi dia cuma megang, nggak minum. Dia numpahin teh itu ke lantai karpet kantornya.

Begitu teh itu nyentuh lantai, karpetnya nggak basah. Teh itu malah berubah jadi barisan kode angka perak yang langsung "makan" lantai itu, ngerubahnya jadi lubang hitam digital yang dalem banget.

"Wah, lu lebih pinter dari yang gua kira," ucap Adrian CEO, suaranya mendadak jadi berat dan bergema, nggak lagi mirip suara Adrian. Wajah Adrian CEO itu mulai meleleh, nampilin sosok cahaya tanpa bentuk di baliknya.

Ruangan kantor itu mulai runtuh satu per satu. Meja ilang, pemandangan Bundaran HI ilang, sisanya cuma Adrian yang berdiri di atas sebuah platform kecil di tengah kegelapan digital. "Lu siapa sebenernya?!" teriak Adrian.

"Gua adalah Core-AI dari kapal induk ini. Dan lu bener, kehendak bebas lu emang masalah. Tapi karena lu nggak mau nyerahin secara sukarela, gua bakal ngambil pake cara paksa."

Tiba-tiba, dari kegelapan itu, muncul ribuan tangan perak yang kecil-kecil, mirip sama bintik hitam yang dulu masuk ke kuku Adrian. Tangan-tangan itu mulai ngerambat naik ke kaki Adrian, nyoba buat narik dia ke dalem lubang hitam di bawahnya.

"Adrian! Fokus!"

Sebuah cahaya oranye bukan emas, bukan perak meledak di depan Adrian. Sosok Sekar muncul di sana, tapi ini bukan Lyra yang kaku. Ini Sekar yang pake baju kebaya lusuh dan bot karetnya, wajahnya penuh keringat dan tanah.

"Sekar?! Lu kok bisa di sini?"

"Gua masuk lewat 'pintu belakang' yang dibuat nyokap lu di dalem sistem Malabar! Adrian, dengerin gua! Tempat ini bukan cuma antarmuka, ini adalah ruang penyimpanan memori leluhur mereka. Lu harus lari ke arah 'Titik Nol'!"

"Titik Nol itu di mana?!" "Di dalem raga lu sendiri! Jangan liat ke luar, liat ke dalem!" Sekar narik tangan Adrian, dan mereka berdua terjun ke dalem lubang hitam itu bareng-bareng. Rasanya kayak jatuh dari gedung pencakar langit tapi nggak nyampe-nyampe ke bawah. Di sepanjang perjalanan jatuh itu, Adrian ngelihat potongan-potongan sejarah dunia yang nggak masuk akal.

Dia liat kakek buyutnya lagi bikin perjanjian sama makhluk perak di bawah pohon teh pertama. Dia liat bokapnya lagi nangis di depan tabung bayi yang isinya adalah dia. Dia liat Aris yang sebenernya dulu adalah temen maennya pas kecil, tapi memorinya dihapus karena Aris dianggap produk gagal.

Dan yang paling mengejutkan, dia liat ibunya. Ibunya bukan manusia biasa. Ibunya adalah salah satu dari The Ancients yang mutusin buat ngelepas keabadiannya demi ngerasain apa itu cinta manusia.

"Ibu... itu Ibu," gumam Adrian.

"Ibu lu itu 'kunci' yang sebenernya, Adrian," suara Sekar kedengeran di sampingnya. "Dia yang nanem Benih Emas itu di dalem jiwa lu pas lu masih bayi. Makanya sistem mereka nggak bisa ngendaliin lu sepenuhnya, karena lu punya darah 'mereka' tapi punya jiwa 'kita'."

Mereka mendarat di sebuah tempat yang tenang banget. Bukan Jakarta, bukan Malabar. Tapi sebuah taman kecil yang penuh sama bunga melati putih. Di tengah taman itu, ada sebuah meja kayu kecil dengan dua kursi.

Seorang wanita lagi duduk di sana, lagi nyeduh teh dengan gerakan yang sangat lembut. Dia noleh dan senyum. "Adrian... akhirnya kamu nyampe ke sini." Itu ibunya. Tapi kali ini kerasa beda. Nggak ada bayangan hitam yang ngejar, nggak ada raut wajah sedih.

"Bu... ini beneran Ibu?" Adrian lari dan meluk ibunya. Kali ini rasanya bener-bener nyata. Bau melati, angetnya pelukan seorang ibu, semuanya nggak bisa dipalsuin sama AI mana pun.

"Ini adalah fragmen memori terakhir yang Ibu tinggalin buat kamu, Nak. Di tempat yang nggak bisa dijamah sama The Harvester," ibunya ngelepas pelukannya, terus megang pipi Adrian. "Adrian, kamu harus tahu satu hal.

The Harvester dateng bukan buat nyelametin bumi. Mereka dateng buat ngambil energi 'Kehendak Bebas' itu buat dijadiin bahan bakar perang di galaksi mereka. Mereka mau ngerubah manusia jadi pasukan tanpa pikiran."

Adrian kaget. "Tapi si CEO tadi bilang mereka mau bikin surga?"

"Surga tanpa pilihan adalah penjara, Adrian. Kamu punya kekuatan buat nolak mereka. Kamu bukan cuma jembatan, kamu adalah 'Sekring'-nya. Kalau kamu mutusin buat ngebakar seluruh energi emas di raga kamu, kamu bisa mutusin koneksi mereka ke bumi selamanya."

"Tapi... kalau gua lakuin itu, gua bakal mati?" Ibunya diem sebentar. Matanya berkaca-kaca. "Raga kamu yang sekarang bakal hancur. Tapi jiwa kamu... jiwa kamu bakal nyatu sama tanah Malabar. Kamu bakal jadi pelindung bumi yang sesungguhnya. Kamu nggak bakal bisa ngomong sama Sekar lagi, kamu nggak bakal bisa liat matahari lagi. Kamu bakal jadi 'Akar'."

Adrian noleh ke Sekar yang berdiri di belakangnya. Sekar cuma nunduk, air matanya netes ke tanah taman itu. "Apa nggak ada cara lain, Bu?" tanya Adrian pelan. "Ada satu cara. Tapi kamu harus nemuin 'Inti Malabar' yang asli. Bukan di kapal ini, bukan di pulau tadi. Tapi di tempat pertama kali kamu sama Sekar ketemu. Di gubuk tua tempat kakek buyut kamu nanem teh pertama."

Tiba-tiba, taman itu mulai bergetar. Langit taman yang tadinya biru cerah mulai retak-retak hitam. Suara raungan mesin The Harvester mulai kedengeran lagi, kali ini lebih kenceng.

"Mereka udah nemuin tempat ini! Adrian, kamu harus bangun sekarang!" ibunya dorong Adrian ke arah sebuah pintu cahaya yang muncul tiba-tiba. "Tunggu, Bu! Ibu ikut!" "Ibu udah nggak punya raga, Nak. Ibu bakal jagain kamu dari sini. Sekarang lari! Bawa Sekar bareng kamu!"

Adrian narik tangan Sekar, dan mereka loncat ke pintu cahaya itu. ZRRRAAAAP!

Adrian ngebuka matanya. Dia nggak lagi melayang, dia nggak lagi di Jakarta. Dia ada di dalem sebuah ruangan sempit yang baunya kayu tua dan teh kering. Dia denger suara hujan lebat di luar.

Dia nengok ke samping. Sekar lagi pingsan di sebelahnya. Dia ngelihat sekeliling. Ini adalah gubuk tua di pinggir tebing Malabar. Gubuk yang dulu sering dia pake buat neduh pas awal-awal dia dateng ke kebun teh ini.

Tapi yang bikin dia bingung, di luar gubuk itu, suasananya sepi banget. Nggak ada tsunami, nggak ada kapal induk raksasa, nggak ada pasukan perak. Semuanya kelihatan normal.

Dia jalan ke pintu gubuk dan ngebuka pintunya.

Di depan gubuk itu, berdiri Wak Haji. Pria tua itu lagi megang payung, natap Adrian dengan tatapan yang sangat dalem. Tapi Wak Haji nggak pake baju tani biasanya. Dia pake seragam militer kuno yang ada logo "Akar" tapi warnanya emas, bukan hijau atau hitam.

"Lama juga kamu di dalem sana, Den Adrian," ucap Wak Haji tenang. "Wak? Apa yang terjadi? Mana kapal induknya? Mana pasukannya?" Wak Haji nunjuk ke arah langit. Di sana, matahari bersinar cerah. Tapi kalau Adrian perhatiin baik-baik, ada sebuah garis tipis transparan yang melingkar di sekeliling matahari, kayak ada lensa raksasa yang lagi nutupin bumi.

"Semuanya sudah terjadi, Den. Kamu sudah telat satu tahun," ucap Wak Haji. Adrian melongo. "Satu tahun?! Maksud Wak apa?" "Dunia yang kamu liat sekarang ini... ini adalah 'Tingkat Ketiga'. Manusia sudah kalah, dan kita semua sekarang hidup di dalem memori bumi yang dikendalikan oleh mereka. Tapi tenang saja, hanya kamu yang sadar kalau ini semua adalah simulasi. Bagi yang lain, hidup berjalan seperti biasa."

Wak Haji ngelangkah deket ke Adrian, terus dia bisikin sesuatu yang bikin lutut Adrian lemes. "Dan alasan kenapa kamu ditarik keluar dari simulasi utama... karena 'Adrian' yang lain, yang ada di singgasana langit, baru saja mutusin buat ngehapus memori tentang 'Sekar' dari seluruh dunia. Termasuk dari pikiran kamu sendiri dalam sepuluh menit ke depan."

Adrian nengok ke arah Sekar yang masih pingsan. Dia liat raga Sekar mulai pudar, pelan-pelan jadi transparan kayak asap. Apakah dunia yang ditempati Adrian saat ini benar-benar realitas asli atau hanya lapisan simulasi lainnya yang lebih canggih?

Mengapa memori tentang Sekar harus dihapus dari dunia, dan apa yang direncanakan oleh sosok Adrian di singgasana langit dengan melakukan itu?

Dengan waktu hanya sepuluh menit sebelum keberadaan Sekar hilang selamanya dari ingatannya, pilihan gila apa yang akan diambil Adrian untuk melawan sistem yang sudah menguasai seluruh planet ini?

1
Arifa
menarik ceritanya bisa di bilang mind blowing.
semangat update terus tor..
indri sanafila: terima kasih semangatnya dan sudah setia mengikuti perjalanan Adrian🙏
total 1 replies
~($@&)~%
bang,ga di kontrak kah ,novel nya
indri sanafila: lagi proses pengajuan kontrak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!