Eva sangat membenci ibunya yang terus-menerus membuat masalah, sementara ia harus bekerja keras seorang diri demi bertahan hidup.
Untuk meredakan stres, Eva gemar menari. Ia bekerja sebagai cleaning-service di sebuah perusahaan balet dan kerap mencuri waktu untuk menari sendirian saat gedung sudah kosong.
Hingga suatu malam, pemilik gedung yang tampan itu memergokinya, mengira Eva adalah penari balet sungguhan, dan Eva memilih tidak meluruskan kesalahpahaman itu. Pekerjaan ini terlalu penting untuk dipertaruhkan.
Farris Delaney.
Hampir semua perempuan di perusahaan itu tergila-gila padanya. Banyak yang berharap bisa menjadi kekasihnya. Eva berbeda. Ia hanya ingin rahasianya aman dan sebisa mungkin menjauh darinya.
Masalahnya, dosa-dosa ibunya kembali menyeretnya ke masalah yang lebih dalam. Dan perlahan Eva menyadari, Farris memiliki kuasa untuk mengubah hidupnya, bahkan menyelamatkannya dari kematian. Tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa.
୨ৎ MARUNDA SEASON IV ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Falling in Love
...୨ৎ──── F A R R I S ────જ⁀➴...
Waktu aku masuk ke rumah Tully, aku dengar salah satu bayi kembar lagi menangis.
Mengikuti sumber suara itu, aku menemukan Tully di ruang tamu, lagi berusaha menenangkan Draco.
"Hei," kataku. Sambil senyum ke bocah itu, aku ambil Draco dari tangan Tully. "Ahw … kamu kangen sama Om Farris, ya."
Aku sandarkan dia ke dadaku dan mengecup kepalanya.
Draco masukkan ibu jarinya ke mulut dan mulai tenang.
"Gimana caranya kamu bisa gitu?" tanya Tully sambil menjatuhkan diri ke salah satu sofa.
Aku duduk, bersandar, lalu kasih ciuman lagi ke rambut Draco yang lembut.
"Tangan aku itu ajaib!" Aku tertawa.
Dalam hitungan detik, bocah kecil itu ketiduran di pelukanku, bikin Tully melihatku dengan tatapan penuh terima kasih.
"Ceritain soal cewek yang lagi kamu deketin itu."
"Baru kencan pertama," jawabku.
"Kamu bawa dia ke restorannya Quinn. Itu artinya kamu serius," kata Tully, menyatakan fakta yang enggak bisa aku bantah.
Aku berhenti sebentar buat mengecek perasaanku dan merapikan pikiran sebelum mengaku, "Aku suka banget sama dia. Dia beda dari cewek-cewek lain."
Tully menatapku tajam. "Kalian ketemu di mana?"
"Aku lihat dia lagi nari di perusahaan balet, dan dari situ semuanya ngalir aja."
Dia angkat satu alis. "Oh, jadi dia balerina?"
Aku geleng kepala. "Bukan, dia kerja sebagai pelayan di sebuah kedai makan."
Keningku berkerut. "Jujur aja, aku enggak yakin sebenarnya dia ngapain di perusahaan balet itu."
"Dan kamu enggak kepikiran buat ngecek?" Dia condong ke depan, menyangga lengan di lutut. "Ngeretas dan ngelacak itu kerjaan kamu."
"Aku tahu." Aku angkat bahu dan mengaku. "Aku enggak mau nerobos privasinya. Aku pingin ngenal dia sebagai orang biasa."
"Aku anggap, dia belum tahu kalau kamu bagian dari Marunda," gumamnya.
Aku mengangguk sambil mengusap punggung Draco.
"Aku bakal bilang begitu kami beneran serius."
Tully mengeluarkan napas panjang. "Semoga berhasil. Aku hampir kehilangan Lyorr waktu dia tahu."
Iya. Aku sama sekali enggak tahu bagaimana reaksi Eva nanti waktu tahu aku bos mafia, tapi itu masalah buat nanti.
Sudut bibir Tully naik. "Kamu udah tidur sama dia?"
Aku menengok ke arah sahabatku. "Aku enggak bakal cerita apa pun soal kehidupan seks aku!"
Dia tertawa keras sampai bikin Draco gerak-gerak di pelukanku.
"Aku anggap itu jawaban iya, yang berarti kamu lebih serius sama cewek itu."
"Aku enggak pernah bilang aku enggak serius soal Eva."
Kami diam sebentar. Aku tarik napas dalam-dalam, menghirup aroma bayi Draco yang bikin nagih, lalu aku bilang, "Aku minta Ambon buat ngawasin Eva."
Wajah Tully langsung mengeras waktu dia bertanya, "Ambon, si gangster itu?"
"Iya. Eva tinggal di Gang Royal."
"Ya, Tuhan!" gumam sahabat aku. "Cavell baru aja nyatain perang ke gengnya Maliki. Kamu enggak denger apa pun yang dia omongin di rapat?"
"Aku tahu betul apa yang lagi terjadi di Gang Royal, makanya aku minta Ambon buat jaga Eva."
"Kenapa enggak kamu bawa aja dia keluar dari sana?" tanyanya.
"Eva itu keras kepala dan defensif parah. Kalau aku maksa, aku bakal kehilangan dia."
"Culik aja!"
"Jatah penculikan aku udah kepakai buat nyolong Barbbie di awal minggu ini."
"Siapa lagi si bangsad Barbbie?"
Senyum melebar di wajahku sambil mengeluarkan HP dari saku. "Sini duduk, biar aku tunjukin fotonya."
Waktu Tully duduk di samping aku, aku buka galeri di HP dan men-scroll foto Barbbie satu per satu.
"Anjing," gumam Tully. "Kamu nyolong anjing?"
"Ini bukan anjing sembarangan. Dia imut banget, kan?"
"Itu anjing, Farris!"
Aku melotot ke arah sahabatku. "Dia bukan anjing sembarangan! Dia bayi aku."
Satu foto Barbbie lagi tidur di tempat tidur bareng aku muncul, dan aku senyum lagi. "Lihat yang ini. Gemes banget. Aku bisa aja langsung ngunyah dia."
Tully tertawa sambil geleng-geleng kepala, lalu mengulurkan tangan ke Draco. "Biar aku taruh dia ke tempat tidur."
"Aku cabut dulu," kataku sambil berdiri.
"Makasih udah mampir."
Begitu aku keluar rumah dan duduk di balik kemudi SUV, pikiranku langsung ke Eva.
Hari ini aku belajar banyak soal dia. Walaupun dia petarung, dia juga haus akan cinta. Cara dia melihatku waktu aku menciumnya sudah menjelaskan semuanya.
Sial.
Aku suka banget cium dia.
Memikirkan kondisi hidupnya yang kacau membuat rahangku mengeras dan tanganku mencengkeram setir.
Dengan sekali jentikan jari, aku bisa mengubah seluruh hidupnya, tapi aku tahu dia bakal melawanku soal itu. Eva enggak kelihatan seperti tipe orang yang mau menerima belas kasihan dari seseorang.
Setelah mengecek perasaanku sendiri, aku bisa bilang kalau aku peduli sama dia. Dia seharusnya punya kendali atas diriku.
Dengan laju hubungan kami sekarang, cuma soal waktu, sebelum aku jatuh cinta sepenuhnya sama dia.
Setelah parkir SUV di parkiran bawah tanah, aku naik lift ke apartemenku. Begitu pintu terbuka, Barbbie langsung menggonggong, dan sedetik kemudian dia lari ke arahku dengan pantat bergoyang-goyang penuh semangat.
Aku angkat dia dan biarkan dia menjilat daguku, lalu aku bilang, "Kamu kangen sama Papa?"
Rozalla berdiri dari tempatnya nonton TV dan aku senyum ke arahnya.
"Makasih udah jadi babysitter."
Dia mengusap kepala Barbbie. "Dia baik banget. Dia nyenggol aku pakai moncongnya tiap kali mau keluar."
"Ahh?"
"Dia harusnya baik-baik aja sampai malam," kata Rozalla sambil tekan tombol lift.
"Sampai ketemu besok."
Rozalla turun dari lift ke lantai lima, tempat apartemennya berada. Aku juga punya satu apartemen di lantai itu, yang aku beli buat investasi, tapi belum pernah dapat penyewa. Itu bakal aku urus kalau aku punya waktu luang.
Aku matikan semua lampu dan masuk ke kamar sambil menggendong Barbbie, sambil mengingat kalau Rozalla sudah ada di sisi aku di masa-masa baik maupun buruk.
Dia lebih kayak keluarga, apalagi setelah orang tua aku meninggal dalam kebakaran yang hampir membunuhku juga.
Untungnya Rozalla bangun tepat waktu dan berhasil tarik kami keluar, tapi orang tuaku enggak seberuntung itu.
Aku taruh Barbbie di kasur sebelum mengambil celana training. Waktu aku ke kamar mandi, dia mengikuti aku.
Selama aku mandi, Barbbie tiduran di tumpukan baju yang aku taruh di lantai.
Aku suka banget bagaimana dia mengikuti aku ke mana pun.
"Kamu senang aku culik, kan?" tanyaku ke dia.
Dia angkat kepala dan cuma memandangku sebentar sebelum balik tidur.
Begitu selesai dari kamar mandi, aku naik ke kasur dan angkat selimut biar Barbbie bisa merangkak masuk ke bawahnya.
Dia nempel di sisiku dan menyandarkan kepala ke dadaku sebelum langsung ketiduran lagi.
"Andai aku bisa tidur secepat kamu," gumamku sambil menyelipkan satu tangan di bawah kepala.
Sambil menatap langit-langit, pikiranku balik ke Eva dan aku mikir, bagaimana penari cantik itu pelan-pelan menyerbu hati aku.
Aku ambil HP, buka kuncinya, dan mengetik pesan.
...📩...
Farris: Aku pingin ketemu kamu lagi. Jangan suruh aku nunggu seminggu lagi.
Sadar dia mungkin lagi tidur, aku taruh HP itu dan memejam.
Kalau Eva bilang dia cuma bisa ketemu aku hari Minggu, aku enggak bakal senang.
Ada ledakan bahagia di dadaku waktu aku sadar kalau aku ingin lihat dia setiap detik, setiap hari.
Ya Tuhan.
Aku sudah jatuh cinta sama dia.
JD penasaran Endingnya