NovelToon NovelToon
Takdir Cinta Aurora

Takdir Cinta Aurora

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Karang Biru Samudera

Apa yang sebenarnya di maksud dengan cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karang Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cemburu

Enjoy gays...

Kompetisi basket tahunan antar kampus adalah salah satu kompetisi yang paling bergengsi dan di tunggu oleh seluruh mahasiswa, baik itu yang kampus mereka ikut berkompetisi di dalamnya ataupun hanya sekedar menjadi penonton dan pendukung semata.

Kebetulan tahun ini yang menjadi tuan rumah acara adalah kampus Aurora, jadi wajar jika sejak pagi sudah banyak orang dari berbagai kalangan mahasiswa datang untuk menyaksikan pertandingan. Tak terkecuali dengan Aurora dan teman-temannya serta Luca dan kawan-kawannya. Hanya saja, mereka bersebrangan tempat duduk dan hanya bisa saling menyapa lewat kejauhan.

Berkumpul di tribun penonton bersama kumpulan manusia yang lain, mereka tengah menunggu pemain masuk ke dalam lapangan sebagai tanda di mulainya pertandingan.

Kali ini, tim kampus UNINDRA yang akan menjadi lawan Audrey dan teman-teman untuk melangkah ke babak selanjutnya.

Sorak sorai serta teriakan dan sambutan dari para penonton mengiringi langkah pemain masuk ke area pertandingan.

Audrey yang menjadi kapten tim langsung berdiri di tengah lapangan bersama kapten tim lawan untuk merebutkan bola pertama.

Prittt....

Bunyi peluit dari sang pengadil lapangan menandakan di mulainya pertandingan. Audrey berhasil mengambil bola pertama yang di lemparkan ke udara dan langsung memberikannya pada teman yang ada di belakangnya.

Untuk urusan siapa suporter paling heboh, Alice sudah tentu menjadi pilihannya. Menjadi support sistem terbaik untuk sahabat-sahabatnya selalu Alice lakukan dengan totalitas dan tak pernah mengecewakan.

Seperti sekarang, dia terus saja berteriak dan menyemangati Audrey yang tengah berjuang di atas lapangan demi kemenangan tim basket kampus mereka. Sementara Aurora, Alexa dan Alina yang duduk di sebelahnya hanya mampu pasrah sembari sesekali menutup telinga karena suara kencang Alice yang memekan telinga.

Pertandingan berjalan cukup seru dan sedikit sengit. Jual beli serangan terus terjadi sampai menit terakhir dan peluit tanda berakhirnya pertandingan berbunyi.

Beruntungnya tim Audrey mampu memenangkan pertandingan dan lanjut ke babak selanjutnya.

Selesai pertandingan, masih ada jeda waktu 30 menit sebelum lanjut ke pertandingan ke dua. Tak mungkin hanya menunggu, Aurora dan Alice pun memutuskan untuk keluar dari bangku penonton guna mencari cemilan dan minuman.

Berbeda dengan yang lain, Luca yang juga ikut keluar dari bangku penonton justru terlihat berdiri di depan gedung olahraga seperti tengah menunggu kedatangan seseorang sembari terus mengecek handphonenya saat Alice dan Aurora baru saja kembali dari kantin dan hendak masuk ke dalam gedung.

"Itu Luca bukan sih? Ngapain dia berdiri di sana?" Tanya Alice mengalihkan perhatian Aurora yang hendak mengambil langkah masuk ke dalam gedung.

"Mana gue tau. Ya lo tanya sendiri aja sana sama orangnya." Sahut Aurora sok tak peduli padahal dia sendiri juga penasaran.

"Ya udah, samperin yuk."

Baru juga keduanya akan melangkah, seorang perempuan cantik tiba-tiba datang menghampiri Luca dan langsung memeluk Luca begitu saja. Keduanya bahkan saling melempar senyum satu sama lain dan terlihat begitu akrab.

"Siapa tuh cewek? Lo kenal Ra?" Tanya Alice penasaran namun menatap gadis itu dengan tak suka. Terlebih ekspresi datar yang Aurora perlihatkan jelas mengisyaratkan jika dia juga tak suka dengan kedekatan mereka.

"Gak."

Bukan Alice namanya jika membiarkan rasa penasarannya hinggap terlalu lama. Menarik tangan Aurora begitu saja, Alice langsung menghampiri keduanya.

"Hei Luca." Sapa Alice mengejutkan keduanya.

"Eh, Alice, Ara. Kebetulan banget kalian ada di sini. Kenalin dia Olivia. Adiknya temen gue."

"Hai.... Olivia." Mengulurkan tangannya dengan ramah, gadis itu tersenyum memperkenalkan diri.

"Alice." Ikut tersenyum, Alice menyambut ukuran tangan itu juga tak kalah ramah.

"Aurora." Ucap Aurora memperkenalkan diri dengan sebuah senyuman tipis.

"Aurora ini calon istri gue. Bentar lagi kita nikah. Gue harap lo sama Lay bisa dateng ya?" Tanpa rasa sungkan dan dengan penuh rasa bangga, Luca memberitahu Olivia jika Aurora adalah calon istrinya. Padahal tadinya mereka pikir jika Luca tak akan mengatakannya.

"Pasti gue usahain."  Balas Olivia tersenyum bahagia.

"Lo mau bareng kita masuk ke dalam? Kakak lo pasti masih lama datengnya. Tau sendiri dia orangnya kayak gimana kalo udah masalah kerjaan." Ajak Luca memberi tawaran.

"Iya juga sih.... Tapi, gue gak ganggu waktu kalian?"

"Gak sama sekali kok. Yuk."

Entah sadar atau tidak melakukannya, tapi Luca justru melangkah lebih dulu bersama Olivia dan meninggalkan Aurora begitu saja yang membuat Alice sangat terkejut saat melihatnya,

Berusaha berpikir positif, Alice pun mengajak Aurora untuk ikut masuk ke dalam gedung karena pertandingan kedua akan segera di mulai.

***

Bagi mereka yang sekilas melihatnya atau mungkin baru mengenai Aurora, tak ada yang berbeda dari sikap gadis berambut pendek itu. Tapi bagi Alice dan kedua temannya yang sudah sejak lama mengenai Aurora, tentu mereka tahu dan hafal betul tentang perubahan sikap Aurora saat ini. Lebih-lebih, saat mereka tahu jika pemicunya tak lain dan tak bukan adalah Luca sang calon suami.

Ya, memang, Luca sudah memperkenalkan Olivia sebagai adik dari temannya kepada Aurora juga mengakuinya sebagai calon istrinya. Tapi kedekatan diantara keduanya lah yang sejak tadi terpantau oleh mata yang justru membuat Aurora diam seribu bahasa meski pandangannya tertuju pada pertandingan yang sedang berlangsung di depan mata.

Tembakan 3 point yang baru saja Audrey lakukan menjadi penentuan kemenangan tim mereka di pertandingan final sekaligus menobatkan mereka menjadi juara pertama ajang tahunan tersebut.

Seremoni pemberian hadiah serta ucapan selamat dari berbagai pihak telah di lakukan. Dengan senyum bahagia dan perasaan bangga, Audrey menghampiri teman-temannya yang sudah menunggunya di tengah lapangan.

"Congrats ya Rey, lo hebat." Ucap Leon lebih dulu memberikan selamat.

"Thank you Leon."

"Sekali lagi selamet buat kemenangannya. Lo tadi keren banget mainnya."  Ucap Vino memuji seraya memberikan dua acungan jempol.

"Thank you Vino."

Menyadari jika ada sosok baru di sebelah Luca, rasa penasaran pun membawa Audrey untuk bertanya.

"Sorry kalo gue gak sopan. Tapi lo siapa?" Tanya Audrey menatap Olivia dengan tatapan penuh selidik.

"Dia Olivia, adik temen gue. Dia baru balik dari Korea sama kakaknya. Tapi karena kakaknya lagi sibuk sama urusan kerjaan jadi dia nitipin Olivia bentar sama gue." Jawab Luca menjelaskan.

"Ohhh... Kenalin, gue Audrey." Mengulurkan tangannya, Audrey dengan ramah memperkenalkan diri.

"Olivia. Lo keren tadi pas di lapangan." Ucap Olivia tak malu memuji seraya menyambut ukuran tangan itu.

"Thank you. Berarti kalo di luar lapangan kayak gini udah gak ya?" Tanya Audrey menggoda.

"Masih tetep keren kok." Ucap Olivia tertawa.

"Next time boleh nih main bareng. Kebetulan gue sama Leo juga seneng main basket." Ucap Vino.

"Boleh. Atur aja waktunya."

"Gak adil kalo 2 lawan 1. Sama cewek lagi." Sahut seseorang mengejutkan mereka. Membuat semuanya berbalik ke sumber suara.

"Sayang?" Kaget Audrey tak percaya karena yang barusan berkata adalah kekasihnya.

"Kakak?" Sahut Olivia juga sama terkejutnya. Karena dia pikir sang kakak masih sibuk dengan pekerjaannya.

"Harusnya 2 lawan 2. Itu baru fer." Ucap Lay seraya berjalan menghampiri mereka lalu berdiri di sebelah Audrey dan merangkul pinggangnya.

"Selamet ya buat kemenangannya. Aku bangga banget sama kamu." Ucapnya tersenyum manis seraya memberikan bunga yang dia bawa untuk Audrey.

"Makasih sayang." Tersenyum bahagia, Audrey dengan senang hati menerima dan memeluk Lay.

"Tunggu-tunggu, kalian berdua pacaran?" Tanya Luca dengan tampang polosnya seraya menunjuk Audrey dan Lay bergantian. Dan dengan senyum yang masih terpancar, Lay menjawabnya dengan anggukan kepala penuh keyakinan.

"Jadi, cewek yang sering lo ceritain sama gue itu Audrey?" Lagi, Lay mengangguk sebagai jawaban.

"Tunggu, lo tadi manggil dia apa? Kakak?" Kali ini giliran Audrey yang bertanya menatap Olivia saat dia baru menyadari jika sesuatu aneh tadi terjadi.

Dengan senyuman, Olivia mengangguk sebagai jawaban.

"Dia kakak lo?" Tanya Audrey sekali lagi masih tak percaya menatap keduanya bergantian.

"Dia adik aku sayang...." Ucap Lay tersenyum meyakinkan seraya membelai rambut Audrey.

"Pantesan kak Lay bela-belain buat dateng ke indo hari ini. Ternyata demi ini to.... Alesannya ada kerjaan, pinter lo kak." Ucap Olivia menyindir sang kakak sekaligus menggodanya.

"Sorry gue gak tau kalo lo adiknya Lay." Ucap Audrey menyesal.

"Gak papa. Lagian kita emang belum pernah ketemu juga, jadi wajar." Balas Olivia tersenyum memaklumi. Toh, Audrey juga tidak bersikap buruk padanya.

"Kalian berdua udah berapa lama pacaran? Kok bisa gak saling kenal gini?" Tanya Leo penasaran.

"Mau 3 tahun. Gue sama Audrey jadian pas dia masih kelas 3 SMA. Setelah itu gue lanjut kuliah di Korea. Di sana, gue ketemu sama Luca. Gue emang belum sempet kenalin Audrey sama keluarga gue karena waktu itu gue di Indo cuma 2 tahun dan tinggal sendiri." Jawab Lay menjelaskan.

"Alice? Ara mana?" Tanya Leon mengedarkan pandangannya ke segala arah. Karena dia pikir Aurora sedang ada urusan sebentar tadi. Tapi dia yang tak kunjung kembali membuat Leon jadi penasaran dan sedikit khawatir.

"Eh iya, baru nyadar gue. Ara mana? Kok gak keliatan?" Sahut Audrey ikut bertanya. Kehadiran sang kekasih yang tiba-tiba membuat Audrey jadi tak sengaja melupakan kehadiran sahabatnya itu.

"Sorry gue lupa ngasih tau. Ara udah pulang duluan tadi." Jawab Alice memberitahu.

"Kok pulang?" Tanya Luca heran.

"Iya, gara-gara lo soalnya?" Sahut Alexa kesal menunjuk Luca.

"Kenapa gue?"

"Makanya peka dikit dong Luca.... Lo itu dari tadi sibuk banget sama Olivia. Aurora itu cemburu sama lo." Sahut Alice ikutan kesal dan mempertegas.

"Huh? Cemburu?"

"Kaget kan lo kalo dia bisa cemburu?" Luca mengangguk polos menjawabnya.

"Sama, kita juga." Ucap Alexa menimpali.

"Kita aja pertamanya gak nyangka kalo perubahan sikapnya yang tiba-tiba itu karena dia cemburu sama lo. Tapi setelah kita perhatiin lebih lanjut, dia emang beneran cemburu sama lo." Imbuh Alice menjelaskan.

"Tapi kenapa harus cemburu? Gue kan udah bilang kalo Olivia cuma adik temen gue doang..."

"Kedekatan kalian berdua yang bikin dia cemburu Luca.... Lo gak nyadar apa kalo interaksi kalian dari tadi intens banget?" Lagi dan lagi Luca menggeleng sebagai jawaban.

"Lagian, cemburu itu gak perlu alasan." Aline yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara.

"Mending sekarang lo samperin dia kerumahnya." Ucap Leon memberi saran seraya menepuk bahu Luca.

"Ara mungkin selalu bilang kalo dia belum punya rasa apapun sama lo sekarang. Tapi dari sikapnya ke lo aja, kita semua udah tau kalo dia emang beneran nyaman dan suka sama lo. Sebelumnya, Ara gak pernah kayak gini sama cowok. Termasuk pas dia sama Kenzo." Ucap Audrey ikut memberi penjelasan dan pengertian agar tidak ada kesalahpahaman diantara mereka.

"Bro, cemburu itu emang api asmara. Tapi kalo apinya terlalu gede yang ada malah kebakaran. Lo paham kan apa maksud gue?" Sebagai seorang sahabat yang baik, Lay juga ikut memberi nasehatnya untuk Luca.

"Apalagi bentar lagi kalian berdua bakalan merried kan? Itu wajar kok." Timpal Leo seraya tersenyum. Membuat Luca semakin menyadari jika kini sesuatu yang dia lakukan tak bisa sembarangan karena ada hati yang perlu dia jaga kebaikannya.

"Ya udah, gue duluan ya? Thanks ya gays." Pamit Luca lalu bergegas pergi.

"Sama-sama."

Bernafas lega menatap kepergian Luca, mereka bersyukur karena Luca dengan sigap mengambil keputusan untuk hubungannya dengan Aurora. Meskipun Luca sendiri adalah seseorang yang tidak terlalu peka dengan keadaan tapi dia adalah orang yang mau belajar tentang cinta. Terlebih saat mereka semua memberi pengertian dan penjelasan bagaimana langkah yang harus dia ambil.

"Jadi, kemenangannya mau di rayain kapan?" Tanya Lay tersenyum lembut menatap Audrey.

"Emang kamu bakalan lama di Indo?" Tanya Audrey sedikit tak yakin jika keduanya akan mempunyai banyak waktu bersama.

"Gak juga sih... Cuma 2 minggu."

"Ya udah, weekend aja gimana? Kamu bisa kan?"

"Bisa dong..... Kan aku dateng ke sini buat habisin waktu sama kamu, masak iya gak bisa?"

"Makasih sayang." Memeluk Lay penuh rasa bahagia, Audrey benar-benar senang hari ini. Selain dia yang bisa memenangkan pertandingan juga hadirnya sang kekasih yang memberinya kejutan.

"Kalian semua bisa kan kalo weekend kita ngumpul bareng sekalian rayain kemenangannya Audrey? Nanti biar gue yang atur tempatnya." Ucap Lay menatap semua orang di sana.

"Bisa kok. Lo kabarin aja." Sahut Leo yang memang tak memiliki jadwal apapun di hari weekend.

"Oke. Ya udah yuk, pulang."

Karena tak ada lagi yang perlu mereka lakukan di sana, mereka pun bubar dari tempat itu bersama-sama.

***

Bingung dengan dirinya sendiri, Aurora berkali-kali membolak-balikan tubuhnya di atas kasur karena perasaan tidak jelas yang kini dia rasakan. Sampai tiba-tiba, dering ponsel dari dalam tasnya terdengar.

Mengambil handphone itu dari dalam sana, nama Luca yang tertera di layar ponsel. Dengan segera Aurora mengangkat panggilan itu entah apa penyebabnya.

"Halo Ra?"

^^^"Iya, kenapa Ca?"^^^

"Dimana?"

^^^"Di rumah."^^^

"Mau martabak telor gak?"

^^^"Mau kalo di beliin."^^^

"Ya udah tunggu ya... Bentar lagi gue ke rumah."

Mungkin hanya obrolan singkat sederhana yang tak berarti apa-apa, tapi entah kenapa hal itu justru membuat Aurora tersenyum dengan sendirinya. Apa mungkin karena dirinya sedang dilanda jatuh cinta? Entahlah.

***

Awalnya, Luca hanya berinisiatif membelikan Aurora martabak telor sebagai permintaan maaf juga agar dia tidak datang dengan tangan kosong. Tapi rupanya itu adalah salah satu makanan favorit Aurora yang Luca tahu dari Alice  lewat chat mereka. Benar-benar kebetulan yang menguntungkan untuknya. Pantas Aurora langsung menerima tawarannya.

"Mas, pesanannya." Beritahu penjual martabak menyadarkan Luca dari lamunannya.

Bangkit dari kursinya, Luca menghampiri sang penjual dan mengeluarkan dompetnya.

"Berapa mas?" Tanya Luca.

"60.000"

"Ambil aja kembaliannya." Menyerahkan selembar uang 100 ribu itu di atas gerobak, Luca mengambil pesanannya.

"Makasih mas."

"Sama-sama."

***

Menuruni anak tangga rumahnya, Aurora berniat mengambil segelas air dari dapur untuk di kamarnya agar nanti dia tidak perlu turun lagi saat terbangun malam hari atau di pagi hari.

"Eh, Non Ara mau pergi sama Den Luca ya?" Tanya Bi Asih yang kebetulan berpapasan dengan Aurora di ujung tangga.

"Enggak Bi, kenapa?"

"Lha itu Den Luca udah ada di depan."

"Ohh.... Dia cuma main aja. Terus kenapa gak di suruh masuk?"

"Udah. Tapi lagi ngobrol sama Mang Diman."

"Hey Ra." Sapa Luca dengan senyuman seraya melangkah mendekati keduanya dan memberikan kresek yang dia bawa.

"Makasih Luca." Ucap Aurora dengan senang hati menerimanya.

"Sama-sama."

"Bibi tinggal ya Den, Non." Pamit Bi Asih karena tak ingin menjadi pengganggu keduanya.

"Iya Bi."

Mengurungkan niatnya, Aurora membawa martabak pemberian Luca ke ruang keluarga yang tak jauh dari anak tangga dan duduk di sana. Membukanya dengan semangat lalu menyalakan televisi dan mulai menikmatinya dengan hikmat.

"Suka banget sama martabak telor?" Tanya Luca tersenyum bahagia melihat Aurora begitu lahap  menikmati makanannya seraya fokus dengan tontonan filmnya.

"Dari dulu Papa sama Mama sering bawaan gue ini kalo mereka pulang kerja."

Sadar jika kedatangannya tak hanya untuk membawakan Aurora martabak serta tak ingin suasana diantara menjadi canggung, salah paham atau lain sebagainya, Luca pun merubah posisinya jadi lebih nyaman untuk menatap Aurora.

"Ra?" Panggil Luca dengan raut wajah serius dan nada serius.

"Hm?" Gumam Aurora karena mulutnya yang masih penuh dengan makanan.

"Sorry kalo kedekatan gue sama Olivia tadi bikin lo sakit hati."

"Gak papa kok, nyantai aja. Mungkin guenya aya yang lebay." Tak menampik jika tadi dia sempat terluka saat melihat Luca begitu dengan gadis lain selain dirinya. Tapi setelah itu Aurora sadar jika dirinya tak punya hak sepenuhnya untuk melarang Luca bergaul dengan teman-temannya. Toh, Luca juga sudah menjelaskan kepadanya siapa Olivia. Jadi seharusnya dia tak perlu khawatir akan hal itu.

"Lo cemburu?"

"Gak tau. Gue belum pernah rasain ini sebelumnya."

"Itu artinya lo cemburu. Kalo lo tau, lo pasti bisa sebutin alasannya kenapa."

Mengelap tangannya dengan tisu yang ada di sana, Aurora akhirnya mau menatap Luca dengan ekspresi tak kalah serius.

"Kalo gue emang beneran cemburu, lo gimana?"

"Ya gak gimana-gimana. Itu artinya lo mulai jatuh cinta sama gue."

Tentang perasaannya itu,  jujur Aurora belum yakin sepenuhnya. Apakah dia benar sudah jatuh cinta pada Luca atau itu hanya perasaan sesaat yang tiba-tiba muncul karena dirinya tak biasa melihat Luca bersama gadis lain selain dia dan teman-temannya.

"Lain kali bilang aja kalo lo emang gak suka, gue pasti bakalan bisa ngerti kok." Ucap Luca lemah lembut diiringi senyuman sembari menggenggam tangan Aurora.

Untuk beberapa saat, Aurora sempat terpesona dengan perlakuan manis Luca. Di tambah lagi, senyuman itu sungguh menambah tingkat ketampanan yang ada di diri Luca.

"Mau minum apa? Biar gue buatin." Tanya Aurora  mengalihkan pembicaraan setelah tersadar seraya melepas genggaman tangan Luca.

"Gak usah. Liatin lo makan aja gue udah seneng." Balas Luca masih dengan senyumannya. Terlihat jelas bahwa dia begitu bahagia hanya dengan duduk di samping Aurora seperti sekarang.

"Enak. Mau cobain gak?" Mengambil potongan martabak yang masih tersisa, Aurora tanpa rasa sungkan menyuapi Luca. Hal itu pun Luca terima dengan senang gembira.

Luca sungguh tak menyangka jika meluluhkan hati Aurora sangatlah mudah. Dulu, dia pikir Aurora adalah wanita yang sulit untuk membuka hati. Tapi ternyata, Luca salah besar. Aurora justru dengan mudah menerimanya walaupun terkadang sifat cuek masih mendominasi dirinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!