NovelToon NovelToon
Mahkota Duri Dinasti Yang Terluka

Mahkota Duri Dinasti Yang Terluka

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pelakor / CEO / Hamil di luar nikah / Dark Romance / Balas Dendam
Popularitas:67
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

"Di dunia yang dibangun di atas emas dan darah, cinta adalah kelemahan yang mematikan."
Kenzo Matsuda adalah kesempurnaan yang dingin—seorang diktator korporat yang tidak mengenal ampun. Namun, satu malam penuh kegilaan di bawah pengaruh alkohol dan bayang-bayang masa lalu mengubah segalanya. Ia melakukan dosa tak termaafkan kepada Hana Sato, putri dari wanita yang pernah menghancurkan hatinya.
Hana, yang selama ini hidup dalam kehampaan emosi keluarga Aishi, kini membawa pewaris takhta Matsuda di rahimnya. Ia terjebak dalam sangkar emas milik pria yang paling ia benci. Namun, saat dinasti lama mencoba meruntuhkan mereka, Hana menyadari bahwa ia bukan sekadar tawanan. Ia adalah pemangsa yang sedang menunggu waktu untuk merebut mahkota.
Antara dendam yang membara dan hasrat yang terlarang, mampukah mereka bersatu demi bayi yang akan mengguncang dunia? Ataukah mahkota duri ini akan menghancurkan mereka sebelum fajar dinasti baru menyingsing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: LABIRIN KULIT DAN OBSESI

Hujan di Tokyo malam ini tidak hanya membasahi jalanan, tapi seolah ingin menenggelamkan seluruh kota dalam kedinginan yang absolut. Di dalam kabin limusin Matsuda yang antipeluru, suara rintik hujan hanya terdengar seperti bisikan samar yang mengganggu, kalah jauh oleh detak jantung gadis yang terduduk kaku di atas jok kulit nappa hitam itu. Setiap kali kilat menyambar di langit malam, cahaya putih instan menerangi wajah pria di hadapannya, membuat Kenzo Matsuda tampak seperti pahatan dewa kematian yang baru saja menjemput mangsanya dari dunia fana.

Udara di dalam kabin terasa tebal dan menyesakkan, dipenuhi aroma maskulin yang mengintimidasi—campuran antara tembakau cerutu mahal, cologne kayu cendana yang berat, dan aroma tajam wiski yang menguap dari gelas kristal. Kenzo duduk dengan keangkuhan seorang raja, matanya yang berwarna perak tidak lepas menatap gadis di hadapannya, Hana Sato.

"Kenapa kau gemetar, Hana?" Suara Kenzo rendah, bergetar di frekuensi yang membuat bulu kuduk berdiri.

Kenzo condong ke depan, memangkas jarak hingga Hana bisa mencium aroma alkohol dari napasnya yang hangat. Ia meletakkan gelas kristalnya, lalu jemarinya yang panjang mulai menelusuri garis rahang Hana. Sentuhannya posesif, seolah ia sedang memeriksa barang antik yang sangat berharga yang baru saja ia tebus dari pelelangan gelap.

"Hukum?" Kenzo tertawa kering saat Hana menyebut kata itu. "Hana, aku adalah pemilik dari tanah yang kau injak dan udara yang kau hirup. Aku tidak menculikmu. Aku hanya mengembalikanmu ke satu-satunya tempat di mana kau diizinkan untuk bernapas."

Cengkeraman Kenzo mengeras di dagu Hana, memaksa mata mereka bertemu. Di mata perak pria itu, tidak ada cinta. Hanya ada obsesi yang sudah membusuk selama tiga dekade—obsesi yang ditujukan untuk ibu Hana, Rena Sato.

POV Hana Sato

Aku merasa paru-paruku menyempit. Setiap inci kulitku berteriak ingin menjauh dari sentuhan pria ini, namun tubuhku seolah lumpuh di bawah tatapan peraknya yang menghujam. Kenzo Matsuda bukan sekadar pria kaya; dia adalah monster yang memakai setelan jas seharga ribuan dolar.

Kenapa dia menatapku seperti itu? Aku bisa melihat pantulan diriku di matanya, tapi aku tahu, bukan aku yang dia lihat. Dia sedang melihat hantu. Dia melihat ibuku, Rena, di dalam wajahku.

"Jika kau menginginkanku hanya karena aku mirip dengannya," aku berbisik, mencoba mengumpulkan sisa keberanian yang tercecer. Aku nekat melingkarkan tanganku di lehernya, menariknya hingga hidung kami bersentuhan. Aku ingin dia tahu bahwa aku bukan mangsa yang mudah. "Maka bersiaplah untuk dihancurkan lebih hebat dari cara dia menghancurkanmu dulu. Aku bukan Rena yang lembut, Kenzo-sama. Aku adalah racun yang akan kau minum dengan sukarela."

Aku bisa merasakan tubuh Kenzo menegang. Napasnya memburu. Untuk sesaat, aku melihat kilasan luka di matanya sebelum kegelapan kembali menelannya. Dia menarikku ke dalam dekapannya dengan kasar, membuat dadaku sesak. Penyekat kaca naik perlahan, mengunci kami dalam ruang kedap suara yang merah temaram.

Tuhan, tolong aku, batin duniaku saat kurasakan tangannya yang dingin mulai menjelajahi leherku. Aku harus bertahan. Aku tidak boleh hancur di sini.

Limusin itu akhirnya melambat saat memasuki gerbang besi raksasa Mansion Matsuda. Bangunan Gotik itu berdiri angkuh di puncak bukit, dikelilingi pohon sakura yang meranggas seperti jari-jari mayat yang mencoba menggapai langit badai. Saat pintu dibuka, Kenzo menyeret Hana masuk ke aula utama tanpa sedikit pun rasa iba.

Di sana, barisan pelayan membungkuk rendah. Namun, ketenangan mereka retak saat melihat wajah Hana. Beberapa pelayan tua memucat, tangan mereka gemetar. Mereka melihat sosok dari tahun 1989 kembali berjalan di lorong ini. Di ujung tangga, berdiri Shizuka Matsuda, istri sah Kenzo. Wanita itu menatap Hana dengan kebencian murni yang sanggup membunuh tanpa senjata.

Kenzo mengabaikan istrinya. Ia membawa Hana ke sebuah pintu kayu ek hitam di lantai atas. "Kamar ini sudah kusiapkan selama tiga dekade hanya untukmu, Reina kecilku," ucap Kenzo dengan suara yang menyerupai janji sekaligus kutukan.

POV Hana Sato

Kenzo membuka pintu itu dengan satu sentakan. Aku melangkah masuk, berharap menemukan kamar mewah biasa, tapi kakiku mendadak lemas. Napas terhenti di tenggorokan.

Seluruh dinding kamar itu ditutupi oleh foto. Ratusan foto. Dan semuanya adalah fotoku. Ada foto saat aku sedang berjalan ke kampus, saat aku tertidur di kafe, bahkan foto saat aku sedang menyisir rambut di depan jendela kamarku semalam. Dia sudah mengawasiku. Selama bertahun-tahun, aku hidup di bawah bidikan lensanya tanpa pernah menyadarinya.

Lalu, mataku tertuju pada tengah ruangan. Sebuah manekin berdiri mengenakan gaun pengantin sutra putih yang sudah menguning dimakan usia. Di bagian dadanya, terdapat bercak merah kecokelatan yang lebar—darah kering.

"Selamat datang di rumah, Hana," bisik Kenzo tepat di telingaku. Aroma wiskinya menyengat indra penciumanku.

Aku berbalik dengan gemetar, dan saat itulah aku melihatnya. Di tangan Kenzo, ia memegang sebuah belati perak kecil dengan ukiran bunga lili di gagangnya. Jantungku hampir berhenti detak. Itu belati milik ibuku yang hilang sepuluh tahun lalu, tepat di hari dia menghilang tanpa jejak.

"Kenapa kau memiliki itu?" suaraku pecah, nyaris tak terdengar.

Kenzo menyeringai, sebuah ekspresi predator yang baru saja memojokkan mangsanya di ujung jurang. Ia mendekat, ujung belati itu kini menempel di daguku, memaksaku menatapnya kembali.

"Ibuku... di mana ibuku?!" teriakku histeris.

Kenzo tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menarik pinggangku, mendekapku begitu erat hingga aku bisa merasakan belati dingin itu mulai menggores sedikit kulit leherku. Suara kunci pintu yang diputar dari luar bergema—sebuah tanda bahwa aku resmi terkunci di neraka ini.

"Ibumu tidak pernah pergi, Hana," bisiknya dengan nada yang sangat tenang namun mematikan. "Dia hanya sedang menunggu... di bawah lantai kamar ini. Dan malam ini, kau akan menemaninya jika kau mencoba lari dariku."

Aku membelalak. Horor murni menjalar di seluruh nadiku. Saat petir menyambar di luar, lampu kamar padam total, menyisakan kegelapan yang pekat dan suara napas Kenzo yang semakin mendekat ke bibirku.

Napas Kenzo yang berat menyapu bibirku, seolah ia sedang menghirup sisa-sama kewarasanku. Ujung belati itu masih menekan daguku, memaksa kepalaku mendongak hingga aku bisa melihat kegelapan yang tak berdasar di mata peraknya.

Keheningan di dalam kabin limusin itu terasa lebih mematikan daripada gemuruh badai di luar. Kenzo tidak bergerak, namun intensitas tatapannya seolah sedang menelanjangi jiwaku, mencari sisa-sisa keberadaan ibuku di dalam manik mataku sendiri.

"Mata itu," bisik Kenzo, jemarinya kini berpindah dari dagu ke kelopak mataku, menyentuhnya dengan kelembutan yang mengerikan. "Setiap kali kau menatapku dengan kebencian, aku merasa dia kembali hidup. Rena selalu menatapku seperti itu sebelum dia menyerah."

Aku mencoba memalingkan wajah, namun cengkeramannya di rahangku mengunci posisiku. "Aku bukan dia, Kenzo-sama. Berhenti mencari hantu di wajahku."

Kenzo tertawa rendah, suara yang bergetar di dalam dadanya yang bidang. Ia menyesap sisa wiski di gelas kristalnya, lalu meletakkannya dengan denting halus yang memecah kesunyian. "Kau benar. Kau bukan dia. Kau jauh lebih berbahaya karena kau memiliki darahku dan darahnya yang bercampur dalam obsesi ini. Kau adalah mahakarya yang tertunda selama tiga dekade."

Tiba-tiba, Kenzo menarik tubuhku hingga aku jatuh tepat di atas pangkuannya. Aku tersentak, tanganku secara insting menahan dadanya agar tidak terlalu dekat, namun aroma maskulin dan alkohol itu kini mengepungku tanpa ampun. Di bawah kami, limusin Matsuda terus melaju tenang menembus genangan air Tokyo, seolah dunia di luar sana tidak lagi memiliki kuasa atas apa yang terjadi di dalam ruang kedap suara ini.

"Kau tahu apa yang paling aku sukai dari mangsa yang mencoba melawan?" Kenzo mendekatkan wajahnya, hidung kami bersentuhan. "Hancurnya harapan mereka tepat di saat mereka merasa hampir menang."

Ia meraih tangan kananku, memaksaku menyentuh saku jas mahalnya. Di sana, aku merasakan bentuk sebuah benda logam yang dingin dan tajam. Jantungku hampir berhenti. Belati perak ibuku.

"Kau ingin tahu di mana ibumu berada, Hana?" tanyanya dengan nada suara yang mendadak sangat datar, hampir klinis.

Aku membeku. Seluruh bulu kudukku berdiri. "Kau tahu di mana dia?"

Kenzo tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menekan tombol di panel kendali samping jok kulitnya. Penyekat antara kabin penumpang dan sopir menurun perlahan, namun bukan jalanan Tokyo yang kulihat. Sebuah layar monitor tersembunyi menyala, menampilkan rekaman CCTV hitam putih dari sebuah ruangan bawah tanah yang gelap di Mansion Matsuda.

Di sana, aku melihat sebuah peti kaca yang dikelilingi oleh bunga lili putih yang tidak pernah layu—bunga plastik yang terlihat sangat nyata. Di dalam peti itu, seorang wanita terbaring diam. Wajahnya persis seperti bayanganku di cermin, namun kulitnya sepucat porselen.

"Dia tidak pernah pergi, Hana," bisik Kenzo tepat di telingaku, sementara tangannya mulai merayap ke tengkukku. "Dia hanya sedang menunggu... menunggu putrinya datang untuk menggantikan posisinya di sisiku."

Lututku lemas seketika. Horor murni menjalar di nadiku saat menyadari bahwa pria yang sedang memelukku ini adalah seorang nekrofilis mental yang telah menyimpan jasad ibuku selama bertahun-tahun.

"Kau... kau membunuhnya untuk menyimpannya?" suaraku pecah, nyaris tak terdengar di antara isak tangis yang tertahan.

Kenzo menyeringai, sebuah ekspresi predator yang baru saja memojokkan mangsanya di ujung jurang. "Aku tidak membunuhnya. Dia memilih untuk 'berhenti' saat menyadari dia tidak bisa lepas dariku. Dan sekarang, limusin ini sedang membawamu menuju peti yang sama, kecuali jika kau memilih untuk menjadi 'Ratu' yang hidup daripada 'Dewi' yang mati."

Limusin itu melambat. Cahaya lampu gerbang Mansion Matsuda mulai menerangi kabin, memantul di mata perak Kenzo yang kini berkilat penuh kemenangan.

Saat pintu limusin dibuka oleh pelayan berseragam, Kenzo membungkuk dan membisikkan satu kalimat terakhir yang membuat duniaku runtuh: "Istriku, Shizuka, sudah menyiapkan pesta penyambutan untukmu di aula. Tapi dia tidak tahu, bahwa di bawah lantai aula itu, ibumu sedang mendengarkan setiap langkah kaki yang akan kau ambil malam ini."

Kenzo melangkah keluar, lalu mengulurkan tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam, menungguku untuk menyambut nasibku di neraka yang megah ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!