NovelToon NovelToon
A WINTER OF MY HEART

A WINTER OF MY HEART

Status: tamat
Genre:Karir / Angst / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Sinopsis
Aruna Rembulan Maharani
Gadis dengan kata-kata yang membelenggu.
Ia adalah editor handal yang hidup di balik tirai kata-kata puitis namun kosong. Di permukaan, Aruna terlihat tenang dan terkendali, seorang gadis yang pandai memoles keburukan dunia menjadi narasi yang indah.
Biru Laksmana Langit
Laki-laki dengan lensa yang memburu kebenaran.
Lahir di tengah gelimang harta keluarga Laksmana, Biru justru memilih menjadi anomali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab spesial 5 :Musim yang bersemi

​Waktu di pesisir tidak lagi dihitung dengan detak jarum jam dinding yang kaku atau tenggat waktu editor yang mengejar di balik layar monitor. Di sini, waktu diukur dengan pasang surut air laut yang menjilat bibir pantai dan perubahan arah angin yang membawa aroma garam serta rahasia samudera. Namun, pagi ini ada sesuatu yang berbeda dalam udara yang kuhirup. Ada rasa mendebarkan yang lebih manis dari biasanya, sesuatu yang membuat dadaku terasa penuh bahkan sebelum fajar benar-benar pecah di ufuk timur.

​Aku menemukan Biru di dermaga tua, tempat favoritnya untuk menyepi sebelum desa terbangun dan keriuhan pasar dimulai. Ia sedang duduk bersila, jemarinya bergerak dengan ketelitian seorang pengrajin saat ia membersihkan lensa kameranya dari sisa uap laut. Cahaya biru gelap perlahan bergeser menjadi ungu kemerahan di cakrawala, menciptakan siluet tubuhnya yang tampak kokoh sekaligus tenang. Ia seolah-olah telah mencapai perdamaian abadi dengan semesta, seolah semua badai di masa lalunya kini hanyalah riak kecil yang tak lagi mampu menggoyahkannya.

​Aku berjalan mendekat, merasakan butiran pasir pantai yang masih dingin di sela jempol kakiku. Bunyi derit kayu dermaga yang lapuk di bawah langkahku membuatnya menoleh.

​"Aruna," panggilnya pelan.

​Suaranya selalu memiliki daya magis yang bisa meruntuhkan pertahanan terakhirku. Ia tersenyum, dan senyum itu merekah bahkan sebelum aku sempat mengucapkan sepatah kata pun. "Kamu bangun lebih awal hari ini, Na. Masih terlalu dingin untuk berjalan ke sini tanpa jaket. Sini, duduk di dekatku."

​Aku tidak menjawab. Lidahku terasa kelu oleh kebahagiaan yang menyesakkan. Aku hanya mendekat dan memberikan sebuah amplop kecil berwarna putih yang sejak tadi kugenggam erat hingga sudutnya sedikit tertekuk oleh keringat dingin di telapak tanganku. Amplop itu baru saja kuterima dari puskesmas desa kemarin sore, namun aku butuh semalaman untuk sekadar menatap langit-langit kamar, meyakinkan diriku bahwa ini bukan sekadar mimpi yang akan menguap saat aku terbangun.

​Biru meletakkan kameranya dengan hati-hati ke dalam tas, lalu menerima amplop itu dengan dahi berkerut. Ia terdiam cukup lama. Matanya bergerak cepat, membaca baris demi baris hasil pemeriksaan medis di bawah cahaya remang fajar yang mulai menyapa. Aku melihat jakunnya bergerak saat ia menelan ludah dengan susah payah.

​Tangannya mulai bergetar kecil—sebuah pemandangan langka bagi pria sekokoh Biru. Ia menatapku, lalu menatap perutku yang masih rata di balik daster katun tipis, lalu kembali menatap kertas itu seolah-olah sedang membaca naskah paling penting yang pernah ia pegang seumur hidupnya.

​"Aruna... ini benar? Ini bukan..." suaranya serak, berat oleh emosi yang membuncah hingga ke tenggorokan.

​Aku mengangguk dengan air mata yang mulai menggenang, membiarkan satu tetes jatuh membasahi pipiku, hangat di tengah udara laut yang dingin. "Ada detak jantung baru di dalam sini, Biru. Sebuah cerita baru yang belum pernah kita tulis dalam buku mana pun. Sebuah nyawa yang lahir dari kedamaian yang kita bangun dengan susah payah."

​Biru tiba-tiba berlutut di hadapanku, di atas kayu dermaga yang sudah kasar dimakan usia dan air garam. Ia tidak peduli pada celananya yang kotor atau deburan ombak yang sesekali memercikkan air ke wajahnya. Ia menyandarkan telinganya di perutku, memejamkan mata erat-erat, dan mengabaikan seluruh dunia di sekitar kami. Aku bisa merasakan pundaknya yang lebar itu bergetar karena tangis haru yang akhirnya pecah tanpa suara.

​"Halo, Kecil," bisiknya lirih, suaranya tenggelam di antara suara ombak namun bergema sangat jelas di hatiku. "Selamat datang di dunia yang sederhana ini. Ayah dan Ibu tidak menjanjikanmu istana, kemewahan keluarga Laksmana, atau mahkota Maharani. Kami tidak punya saham besar atau gedung tinggi untuk diberikan padamu nanti sebagai warisan."

​Ia mendongak, menatapku dengan mata yang basah namun berbinar paling terang yang pernah kulihat selama aku mengenalnya.

​"Tapi kami berjanji," lanjutnya, meraih tanganku dan mencium punggung tanganku lama sekali, seolah sedang mengikat janji suci yang baru. "Kamu akan tumbuh di rumah di mana kamu bisa menjadi siapa pun yang kamu inginkan. Kamu akan melihat laut setiap hari, menghirup udara yang tidak dicemari oleh dusta dan ambisi yang buta. Kamu akan belajar bahwa cinta tidak butuh suara yang keras atau panggung yang megah untuk bisa didengar oleh semesta."

​Kami menghabiskan pagi itu dengan duduk di tepi dermaga, membiarkan kaki kami menggantung bebas di atas air, menunggu matahari terbit sepenuhnya untuk menyinari kami berdua—bukan, berdua dan setengah. Kami membicarakan tentang kamar yang harus kami cat dengan warna alam, tentang bagaimana kami akan menanam lebih banyak pohon buah di halaman agar dia bisa memanjatnya nanti, dan tentang nama yang tidak boleh membawa beban masa lalu, namun harus membawa semangat kebebasan yang kami temukan di sini.

​Dulu, kami melarikan diri ke pesisir ini hanya untuk menyelamatkan sisa-sisa jiwa kami yang nyaris hancur berkeping-keping. Kami pikir ini adalah bab terakhir—sebuah tempat untuk bersembunyi dan perlahan menua dalam kesunyian yang aman. Namun ternyata, desa ini bukan hanya tempat untuk mengubur bangkai masa lalu, melainkan tanah yang luar biasa subur untuk menanam masa depan yang baru saja mulai bersemi.

​Sore nanti, Biru mungkin akan kembali ke pagar galeri kita, memajang foto-foto baru dengan senyum yang lebih lebar. Dan aku akan kembali ke meja kayu jatiku, merangkai kata-kata tentang kehidupan nelayan. Namun kini, semua itu terasa berbeda. Semuanya terasa lebih bermakna karena ada warisan yang sedang kami persiapkan di dalam rahimku.

​Saat matahari naik semakin tinggi, memantulkan cahaya keemasan yang menyilaukan di atas permukaan laut yang tenang, aku tahu bahwa bab-bab tersulit dan penuh air mata dalam hidup kami telah benar-benar selesai. Buku tentang pelarian itu telah kami tutup, kami kunci, dan kami simpan di rak paling atas untuk diingat sebagai pelajaran, bukan lagi sebagai luka.

​Kini, sebuah buku baru dengan lembaran putih bersih sedang terbuka lebar di hadapan kami. Halaman pertamanya tidak ditulis dengan tinta hitam, melainkan dengan detak jantung yang teratur, napas yang tenang, dan cinta yang paling murni antara seorang laki-laki bernama Biru dan perempuan bernama Aruna.

​Kami bukan lagi sekadar pelarian yang kalah dari kejamnya kota. Kami adalah pemenang atas hidup kami sendiri. Dan di rahimku, sebuah harapan baru sedang tumbuh untuk meneruskan galeri tanpa dinding ini, membawa cahaya fajar dan luasnya langit ke generasi berikutnya.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Wiwik Darwasih
bagus👍
deepey
bikin meleleh..
deepey
salam kenal kk.
Isti Mariella Ahmad: Salam kenal 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!