NovelToon NovelToon
Identitas Tersembunyi Panglima

Identitas Tersembunyi Panglima

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Kehidupan Tentara / Perperangan / Keluarga / Raja Tentara/Dewa Perang
Popularitas:30.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di mata keluarga besar Severe, Jay Ares hanyalah seorang menantu benalu. Tanpa harta, tanpa jabatan, dan hanya bekerja sebagai sopir taksi online. Ia kenyang menelan hinaan mertua dan cemoohan kakak ipar, bertahan hanya demi cintanya pada sang istri, Angeline.

Namun, tak ada yang tahu rahasia mengerikan di balik sikap tenangnya.

Jay Ares adalah "Panglima Zero" legenda hidup militer Negara Arvanta, satu-satunya manusia yang pernah mendapat gelar Dewa Perang sebelum memutuskan pensiun dan menghilang.

Ketika organisasi bayangan Black Sun mulai mengusik ketenangan kota dan nyawa Angeline terancam oleh konspirasi tingkat tinggi, "Sang Naga Tidur" terpaksa membuka matanya. Jay harus kembali terjun ke dunia yang ia tinggalkan: dunia darah, peluru, dan intrik kekuasaan.

Saat identitas aslinya terbongkar, seluruh Negara Arvanta akan guncang. Mereka yang pernah menghinanya akan berlutut, dan mereka yang mengusik keluarganya... akan rata dengan tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Dunia yang Dingin

Pagi itu, sinar matahari Kota Langit Biru terasa tidak sehangat biasanya bagi Angeline.

Ia berdiri di depan kasir sebuah kedai kopi waralaba, wajahnya memerah menahan malu. Di belakangnya, antrean pelanggan mulai memanjang dan terdengar gumaman tidak sabar.

"Maaf, Nyonya," kata kasir itu sambil mengembalikan kartu kredit platinum milik Angeline. "Kartu ini ditolak. Keterangannya Dibekukan oleh penerbit."

Angeline mencoba kartu kedua. Ditolak. Kartu debit. Ditolak.

Demian Severe tidak main-main. Kurang dari 12 jam setelah pertengkaran itu, ayahnya benar-benar memutus semua akses keuangannya. Ia memblokir rekening, membekukan aset, dan memastikan putrinya tidak punya satu sen pun uang tunai.

"Saya... bayar pakai tunai saja," Angeline merogoh dasar tasnya, mengumpulkan uang receh sisa kembalian. Pas-pasan untuk segelas kopi hitam termurah. Tanpa roti.

Ia berjalan keluar kedai dengan langkah gontai. Di parkiran, sedan tua Jay sudah menunggu. Tidak ada lagi sopir pribadi berseragam, tidak ada lagi mobil mewah dengan kursi kulit yang empuk.

Jay membuka pintu penumpang dari dalam. "Pagi, Angel. Kopi?"

"Pahit," jawab Angeline singkat, masuk ke dalam mobil. Ia menyesap kopinya, berusaha menyembunyikan getaran di tangannya. "Jay, kita harus hemat mulai sekarang. Ayah benar-benar membekukan semuanya."

"Tenang saja," kata Jay santai sambil memutar kemudi. "Aku baru dapat bonus performa dari aplikasi taksi. Cukup untuk belanja bulanan. Kau mau ke mana sekarang? Kantor Severe Group?"

"Tidak," Angeline menggeleng lemah. "Aku sudah dipecat lewat email subuh tadi. Aksesku ke gedung sudah dicabut. Antar aku ke Bank Sentral Arvanta. Aku mau mengajukan pinjaman modal usaha. Aku punya rencana bisnis sendiri yang sudah lama kusiapkan."

Jay melirik istrinya. Ada api kecil di mata wanita itu. Dia tidak menyerah. Jay tersenyum bangga.

"Siap, Bos," kata Jay.

Bank Sentral Arvanta, Ruang Manajer Kredit.

Satu jam kemudian, api di mata Angeline padam, digantikan oleh air mata keputusasaan.

Seorang manajer bank gemuk dengan kacamata tebal melempar proposal bisnis Angeline ke atas meja seolah itu sampah.

"Proposalmu bagus, Nyonya Angeline. Sangat bagus malah," kata manajer itu tanpa basa-basi. "Tapi kami tidak bisa mencairkan dana."

"Kenapa? Jaminannya sertifikat rumah kecil yang kutempati bersama suamiku. Itu atas namaku sendiri, bukan keluarga Severe," protes Angeline.

Manajer itu menghela napas. "Dengar, pagi ini kami dapat memo internal. Siapa pun yang memberikan pinjaman pada Angeline Severe akan dianggap sebagai musuh Severe Group dan Keluarga Arkady. Tidak ada bank di kota ini yang berani mengambil risiko itu, Nyonya. Kau sudah di blacklist."

Angeline terdiam. Victor Han dan ayahnya benar-benar ingin membunuhnya perlahan.

"Pulanglah," usir manajer itu dingin.

Angeline berjalan keluar dari bank dengan langkah berat. Di lobi, Jay sedang duduk membaca koran bekas. Melihat wajah istrinya yang murung, Jay sudah tahu jawabannya.

Jay tidak bertanya apa-apa. Ia hanya merangkul bahu istrinya, membimbingnya keluar dari gedung yang dingin itu.

"Aku lapar," kata Jay tiba-tiba, memecah kesunyian. "Ada kedai mi enak di dekat sini. Murah meriah. Kau mau menemaniku?"

Angeline mengangguk lemah. Ia terlalu lelah untuk berpikir.

Sementara Angeline berjalan menuju mobil lebih dulu, Jay berhenti sejenak di dekat pilar besar. Ia mengeluarkan ponsel bututnya.

Ia mengetik pesan singkat ke sebuah nomor yang tidak tersimpan di kontak. Nomor itu hanya terdiri dari deretan kode biner.

[Sender: Zero] [Pesan: Aktifkan Protokol Orion. Beli Gedung Sky Tower di pusat kota. Sekarang.]

Detik berikutnya, balasan masuk.

[Receiver: Leon] [Konfirmasi: Dana cair 5 Triliun. Transaksi diproses. Apa perintah selanjutnya, Jenderal?]

Jay mengetik dengan cepat.

[Pesan: Cari perusahaan yang sedang butuh konsultan pemasaran. Buat kontrak kerja sama dengan 'Angeline Severe'. Nilai kontrak: 10 Miliar. Syarat: Jangan sampai dia tahu ini dariku. Buat seolah-olah dia mendapatkannya karena keahliannya.]

[Receiver: Leon] [Siap laksanakan. Waktu eksekusi: 15 menit.]

Jay memasukkan ponselnya ke saku, lalu tersenyum lebar dan berlari kecil menyusul istrinya.

"Ayo, Angel! Keburu antre."

15 Menit Kemudian.

Mereka sedang duduk di kedai mi pinggir jalan. Angeline hanya mengaduk-aduk mi di mangkuknya, nafsu makannya hilang. Ia sedang menghitung sisa tabungan receh di kepalanya, memikirkan bagaimana cara membayar listrik bulan depan.

Tiba-tiba, ponsel Angeline berdering. Nomor asing.

"Halo?" jawab Angeline lemas.

"Selamat siang. Apa benar ini dengan Nyonya Angeline Severe?" Suara di seberang sana terdengar profesional, seorang wanita.

"Ya, benar. Siapa ini?"

"Saya sekretaris dari CEO Orion Group. Kami baru saja membuka kantor cabang utama di Kota Langit Biru. Bos kami melihat portofolio proyek pemasaran Anda di LinkedIn dan beliau sangat tertarik dengan visi Anda."

Angeline mengerutkan kening. Orion Group? Itu perusahaan investasi raksasa internasional yang baru saja masuk berita karena membeli gedung pencakar langit Sky Tower secara tunai pagi ini.

"Maaf, tapi saya... saya sedang ada masalah dengan keluarga saya. Mungkin Anda salah sambung," kata Angeline ragu.

"Kami tahu," potong suara itu tegas. "Orion Group tidak peduli dengan politik lokal atau boikot keluarga. Kami hanya peduli pada bakat. Kami ingin menawarkan kontrak kerja sama eksklusif untuk memimpin divisi pemasaran kami. Nilai awal kontraknya 10 Miliar."

Angeline tersedak ludahnya sendiri. Ponselnya nyaris jatuh ke dalam mangkuk mi.

"Se... sepuluh miliar?"

"Ya. Jika Anda setuju, silakan datang ke Sky Tower lantai 50 jam dua siang ini untuk tanda tangan kontrak. Mobil jemputan sudah kami kirim ke lokasi Anda."

Telepon ditutup.

Angeline mematung. Ia menatap layar ponselnya, lalu menatap Jay yang sedang asyik menyeruput kuah mi dengan suara keras.

"Jay..." suara Angeline gemetar. "Kau tidak akan percaya ini."

"Ada apa? Siapa yang telepon? Penagih utang?" tanya Jay dengan wajah polos, sambil mengunyah.

"Bukan... Orion Group. Mereka... mereka mau merekrutku! Kontrak 10 Miliar!" mata Angeline berkaca-kaca, kali ini karena bahagia. "Mereka bilang mereka tidak peduli dengan boikot Ayah!"

Jay pura-pura kaget, matanya membelalak (sedikit terlalu berlebihan, tapi Angeline terlalu senang untuk menyadarinya).

"Wow! Serius? Itu hebat sekali, Angel! Lihat kan? Aku bilang juga apa. Kamu jangan berputus asa dulu!"

Angeline langsung memeluk leher Jay erat-erat, tidak peduli mereka sedang di warung pinggir jalan yang ramai.

"Terima kasih, Jay... Terima kasih sudah selalu menyemangatiku."

Jay membalas pelukan itu, menepuk punggung istrinya pelan. Di balik bahu Angeline, mata Jay menatap tajam ke arah gedung pencakar langit Sky Tower yang terlihat di kejauhan.

Leon bergerak cepat, batin Jay. Sekarang, kau punya panggungmu sendiri, Istriku. Tunjukkan pada mereka siapa yang sebenarnya rugi.

"Habiskan makanannya," kata Jay sambil melepaskan pelukan. "Kau butuh tenaga untuk negosiasi nanti."

Angeline mengangguk semangat. Kali ini, ia melahap mi itu dengan rakus.

Di seberang jalan, di dalam sebuah sedan hitam yang terparkir gelap, seorang pria dengan teropong sedang mengamati mereka. Pria itu menekan earpiece di telinganya.

"Lapor, Tuan Victor. Target tidak terlihat depresi. Mereka justru terlihat... merayakan sesuatu."

Di ujung sana, suara Victor Han terdengar dingin. "Cari tahu apa yang terjadi. Dan... pastikan kecelakaan kecil terjadi sebelum Angeline sampai ke tempat tujuannya. Aku ingin dia merangkak kembali padaku."

1
Hendra Yana
lanjut
Mamat Stone
/Bomb//Bomb/💥
Mamat Stone
tok tik tok 👊💥👊
MyOne
Ⓜ️🔜⏩🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🆗🆗🆗Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🙄👀🙄Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😡😡😡Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🤬🤬🤬🤬Ⓜ️
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
☮️
Mamat Stone
☯️
Mamat Stone
🐲
Mamat Stone
😈
Mamat Stone
/Toasted/
Mamat Stone
/Gosh/
MyOne
Ⓜ️😵😵‍💫😵Ⓜ️
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
💥☮️💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!