Pernikahan Amel yang sudah di depan mata itu mendadak batal karena calon suaminya terjebak cinta satu malam dengan perempuan lain. Demi untuk menutupi rasa malunya akhirnya Amel bersedia dinikahi oleh pria yang baru dikenalnya di acara pernikahannya tersebut. Revan yang bekerja sebagai hacker itu akhirnya menjadi suami Amel. Serba-serbi unik dua manusia asing yang terikat dalam hubungan pernikahan itu membuat warna tersendiri pada kehidupan keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rens16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 : Meluruskan kesalah pahaman
Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam, tapi hingga detik itu juga Revan belum menunjukan batang hidungnya.
Amel bergerak untuk melihat apakah ada tanda-tanda Revan kembali, dan hasilnya tetap nihil.
"Dia kenapa sih? Dari tadi dichat, ditelpon juga nggak bales! Marah sama gue? Ngambek gitu?" tanya Amel pada bayangannya sendiri.
Amel memilih merebahkan diri sambil memencet remote mencari channel hiburan televisi dari satu stasiun ke stasiun yang lain.
"Nggak ada yang bagus!" Amel membanting remote ke sofa lalu memilih merebahkan tubuhnya ke kursi empuk itu.
Pikiran Amel sedang mengelana ke kejadian tadi pagi tentang apakah ada sesuatu yang salah yang dia perbuat tadi.
Amel sedang melamun sampai suara dering ponsel yang cukup nyaring membangunkan lamunannya.
"Apa?!" tanya Amel judes.
"Wuihhhh...galak amat sih, Neng?" Sasi dari seberang sana terkekeh pelan.
"Gue lagi nggak bisa sabar hari ini!" ketus Amel membuat Sasi semakin kencang saja tertawanya.
"Kenapa sih, Shay? Masih belum move on sama Doni yang mau nikah sama Nita?" tanya Sasi setelah die meredakan tawanya.
"Ngapain gue nggak bisa move on sama Doni? Gue lagi mikirin laki gue yang jam segini belum nyampai rumah juga!" jawab Amel kesal.
"Lhah, kan lo bisa chat, bisa telpon juga!"
"Dari tadi nggak direspon! Gue kepikiran tahu!" curhat Amel.
"Lo nggak chat Abel? Tanya ke dia Revan kemana gitu!" usul Sasi.
"Adek lo itu jawabannya ngeselin habis, bikin gue tambah emosi!"
"Adik gue, adik lo juga!" Sasi tertawa lagi.
"Kalau gue boleh minta sama Tuhan, gue mau minta tuker adik, nggak mau punya adek lo atau Abel, sama-sama ngeselin!"
"Tunggu aja, pasti juga Revan bakalan pulang!"
"Orang dibilangin gue kepikiran kok suruh nunggu mulu, aneh!"
"Cie Amel udah mulai jatuh cinta sama Revan, cie!" goda Sasi semakin bersemangat menggoda Amel.
"Emang salah kalau gue jatuh cinta sama laki gue sendiri? Salah tuh kalau gue jatuh cinta sama laki orang! Udah ah, lo mau ngapain nelpon gue?" Amel semakin emosi karena diledek terus sama Sasi.
"Mau laporan aja kalau design yang kita ajukan untuk Java Jewelery sudah di acc dan mulai besok pengrajin kita mulai mengerjakan pesanan mereka!"
"Pastikan semua aman, dana dan stock bahan bakunya!"
"Mereka only minta produk kita yang silver, jadi semuanya aman dan terkendali."
"Oke kalau gitu, thanks untuk informasinya, Si!"
"Sama-sama saudaraku yang cantik, selamat malam selamat menikmati kegalauan anda!"
"Anjirrr sih lo!" maki Amel lalu mematikan panggilan tersebut.
Tanpa Amel tahu bahwa sejak tadi Revan mendengarkan pembicaraan Amel dan Sasi tersebut.
Rasa emosi dan marah karena kejadian tadi luntur seketika mendengar pengakuan Amel yang khawatir dan jatuh cinta terhadap Revan.
Kalau saja Revan itu tipikal laki-laki alay seperti banyak orang diluaran sana, sudah bisa dipastikan kalau Revan akan salto untuk mengekspresikan rasa bahagianya.
Amel langsung bangun dari rebahannya begitu melihat Revan masuk ke dalam rumah.
"Kok belum tidur?" tanya Revan pura-pura cool.
Amel ingin meledakkan amarahnya karena Revan mengacuhkan chat dan teleponnya sepanjang hari itu.
"Nungguin kamu!" Akhirnya hanya itu yang bisa Amel ucapankan.
Amel memilih menyeduhkan teh dan meletakkannya ke atas meja, Revan tersenyum manis mendapat perlakuan manis tersebut.
"Makanan udah aku panasin semua, nanti kalau nggak habis masukin saja ke kulkas! Aku mau tidur dulu, ngantuk banget!" Amel pun memilih masuk ke dalan kamar dan menumpahkan rasa kesalnya.
Revan masuk tak lama kemudian. "Sop dagingnya enak! Tadi habis aku makan sisanya aku masukin ke kulkas!" ucap Revan sambil merebahkan diri di samping Amel yang sengaja tidur dengan posisi miring membelakangi Revan.
Revan memiringkan tubuhnya dan menatap punggung Amek yang membelakanginya.
Revan menggeser tidurnya hingga tidur miring dan mendusel ke rambut Amel yang wangi.
"Mau dateng ke nikahannya mantan kamu?" tanya Revan dengan lembut.
Amel mendadak menolehkan kepalanya dan menatap Revan. "Mau ngapain dateng? Nggak penting banget!" jawab Amel ketus, dia masih marah perihal diabaikannya chat dan panggilannya oleh Revan tadi.
"Ya buat nunjukin ke mantan kamu itu kalau kamu hidup bahagia sama aku!" ucap Revan dengan senyum lebar.
"Kebahagiaan itu nggak perlu dipamer-pamerin apalagi sama yang namanya mantan! Aku sih males bersinggungan sama mereka lagi!" ucap Amel ketus.
"Ya udah kalau kamunya nggak mau dateng. Aku sih kamu mau dateng atau nggak itu sih terserah kamu, aku ngikut keputusan kamu!" ucap Revan santai, padahal sepanjang hari itu Revan terlihat uring-uringan dan cemburu berat karena undangan dari mantan pacar Amel tersebut.
"Nanti aku pikirin lagi! Awas ah jangan peluk-peluk, aku sesek pengen tidur, ngantuk banget!" Amel mencoba melepaskan tangan Revan yang sekarang membelit perutnya dengan posesif.
"Aku kangen banget, Ney!" bisik Revan sambil menghidu rambut Amel lagi dan lagi.
"Sepanjang hari ini kamu kemana? Aku chat, aku teleponin tapi kamu nggak ngeresponin!" ucap Amel kesel.
"Maaf, aku sibuk banget!" jawab Revan.
Padahal ya sepanjang hari itu Revan hanya menghabiskan waktu dengan bermain game dan tidur di kantornya.
Revan malas melakukan hal lain karena rasa cemburu menguasai dirinya.
Amel hanya menghela nafas panjang, namanya juga perempuan yang beberapa harinya dikuasai PMS yang menyebabkan emosinya sering naik dan turun.
"Maaf aku keasyikan kerja tadi, hp aku geletakin begitu aja di meja!" ucap Revan saat melihat Amel terdiam dan seperti menahan diri.
"Aku nggak suka diabaikan, kalau kamu memang lagi sibuk paling nggak bisa ngabarin aku, aku khawatir kamu kenapa-napa!" ucap Amel lirih.
"Iya maaf, nanti aku bakalan kasih tahu aku kemana dan lagi ngapain!"
"Nggak yang harus ngasih tahu secara detail, yang penting ngasih tahu kalau pas lagi nggak bisa balas chat atau nerima teleponku!" ucap Amel.
"Iya." Revan mengangguk pelan.
"Ngomong-ngomong kalau kamu lagi datang bulan gitu biasanya selesainya berapa hari?" tanya Revan penasaran.
"Kenapa emang?" Amel tak menjawab malah membalikkan pertanyaan itu.
"Ya buat persiapan aja!" jawab Revan.
"Persiapan apa?" tanya Amel bingung.
"Yang ketunda tadi pagi itu lho!" jawab Revan.
"Oh yang itu!" Amel bergumam dan karena rasa kesalnya yang diabaikan sepanjang hari itu membuat Amel ingin mengerjai Revan.
"Jadi berapa hari selesainya?" tanya Revan lagi.
"Antara dua belas sampai lima belas hari sih biasanya!" jawab Amel sambil menahan tawanya.
"Hah?! Masa selama itu? Tadi aku baca di internet katanya nggak selama itu lho!" gumam Revan.
"Jadi kamu bisa baca artikel tapi nggak bisa jawab chat aku?!" tanya Amel dengan suara meninggi. Amel jadi ngambek lagi. Hahahaha.