Tittle : EXPIREDENS
Author : Karamellatee Clandestories
VOL. 1 : Keturunan tanah darah Kutukan
Cerita tentang bagaimana para mahasiswa yang membangun akar dari masalah menghubungkan timbal balik antara masa lalu dan masa depan, terciptanya gelombang tanpa ampunan bagi mereka sang pendosa harus diselesaikan oleh kelima mahasiswa ini. Terjebak antar ruang dan waktu merajalela nyawa satu per satu, nyawa adalah taruhan dan mereka adalah detak jantung dari setiap tragedi yang akan memutarbalikkan fakta.
Pada kenyataannya mereka adalah manusia biasa yang menjadi tokoh utama dari setiap kelam nya masa lalu?
Menyusun harmoni yang ada dalam monarki, disaat semua orang memiliki pemahaman komunisme, fanatisme, dan liberalisme. Sungguh, tekad yang membawa mereka dalam angan-angan kematian. Diiringi kisah pilu, dalam nestapa berdiam diri, goyah oleh setiap godaan ingatan terukir, takkan pernah terkikis oleh waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 11: Dendam tidak bermoral [1]
...●◉◎◈◎◉●...
...#1 Original story [@clandestories]...
...#2 No Plagiatrism...
...#3 Polite and non-discriminatory comments...
...•...
...•...
...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...
Saka Liorlikoza baru saja selesai mengecek detail look untuk proyek semesterannya saat suasana kampus berubah drastis. Sore itu, gedung Fakultas Bisnis Fashion yang biasanya dipenuhi mahasiswa dengan outfit paling update mendadak sunyi.
Semua bermula saat Saka menemukan Aris, teman seprodi sekaligus asisten desainer berbakat, tewas di ruang penyimpanan kain. Aris ditemukan terduduk dengan tangan yang masih memegang gunting kain emas, namun yang membuat Saka merinding adalah seluruh tubuh Aris telah dibungkus rapat-rapat oleh kain perca warna-warni, dijahit secara sempurna hingga Aris terlihat seperti mumi karya seni yang mengerikan.
Di telapak tangan Aris yang tidak tertutup kain, tertulis angka menggunakan spidol tekstil permanen: 00:59.
Permainan Dimulai.
"Aris... ini nggak mungkin," bisik Saka, tangannya gemetar. Sebagai orang yang punya jiwa sosial bagus, Saka nggak bisa cuma lari.
Dia ingin menolong, tapi Aris sudah tidak bernapas.
Tiba-tiba, layar monitor di ruang penyimpanan itu menyala. Muncul sebuah teks teka-teki dengan latar belakang statik hitam putih:
"Keindahan yang kau kejar adalah kulit yang akan mengelupas. Jika kau ingin teman-temanmu tetap bernapas, carilah 'Pola yang Tidak Pernah Digunting' di tempat di mana semua cermin berbohong."
Saka tersentak saat ponselnya berbunyi. Bukan pesan dari Rakes atau anak asrama lain, melainkan sebuah foto yang dikirim dari nomor tak dikenal. Foto itu menunjukkan beberapa teman kelasnya yang lain sedang terkunci di studio jahit utama, dengan mesin jahit yang berjalan otomatis tanpa ada yang menggerakkan.
Jarum-jarum mesin itu bergerak naik turun dengan kecepatan gila, seolah siap menjahit kulit siapa pun yang mendekat.
Saka langsung paham maksud "tempat di mana semua cermin berbohong". Itu adalah Lab Fitting & Visual Merchandising, sebuah ruangan yang dikelilingi cermin 360 derajat untuk mengecek siluet pakaian.
Saka berlari menyusuri koridor. Setiap kali dia melewati manekin, manekin itu seolah-olah menoleh. Pakaian yang dikenakan manekin itu perlahan berubah menjadi gaya fashion yang sangat Saka kenali—baju-baju yang pernah dia desain, tapi sekarang semuanya robek dan mengeluarkan cairan hitam kental.
Begitu sampai di Lab Fitting, Saka mendapati ruangan itu gelap total, kecuali satu sorotan lampu pada sebuah manekin di tengah ruangan. Di sana, tidak ada baju. Hanya ada selembar pola kertas raksasa yang belum digunting, menempel di dada manekin itu.
Saka mendekat, tapi langkahnya terhenti saat melihat pantulannya di cermin. Di dalam cermin, Saka tidak memakai kemeja linen favoritnya yang rapi. Pantulannya menunjukkan Saka yang penuh luka jahitan di wajah, dengan ekspresi dingin yang sangat asing.
"Pola yang tidak pernah digunting..." gumam Saka, otaknya yang biasa berpikir kreatif kini dipaksa bekerja di bawah tekanan maut.
Saka melihat pola kertas itu dengan teliti. Pola itu bukan berbentuk baju, melainkan sebuah denah gedung kampus yang rumit. Di tengah denah itu, ada sebuah titik merah tepat di posisi Gedung Arsip Lama.
Tiba-tiba, bayangan Saka di dalam cermin keluar dari bingkai kaca. Sosok "Saka Jahitan" itu melangkah maju dengan membawa penggaris besi tajam.
"Teka-teki pertama, Saka," suara itu keluar dari semua cermin secara bersamaan. "Seorang desainer harus tahu kapan harus memotong, dan kapan harus menyatukan. Jika kau memilih menyelamatkan teman-temanmu, kau harus merobek pola ini. Tapi jika kau merobeknya, kau akan kehilangan indra penglihatan mu terhadap warna selamanya."
Saka terdiam. Bagi seorang mahasiswa fashion, kehilangan kemampuan melihat warna adalah kiamat bagi kariernya. Namun, melihat foto teman-temannya yang ketakutan di studio jahit, jiwa green flag Saka memberontak.
"Warna bisa dipelajari, tapi nyawa ngga bisa dijahit ulang," tegas Saka.
Saka meraih pola kertas itu dan siap merobeknya, namun ia menyadari sesuatu. Ada tulisan kecil di pojok pola: "Gunakan benang yang tak terlihat."
Saka mundur teratur, napasnya memburu. Sebagai mahasiswa Fashion Business yang selalu tampil tenang dan terkendali, melihat versi dirinya sendiri yang mengerikan di dalam cermin benar-benar merusak logikanya.
"Engga, ngga. Ini udah nggak masuk akal," gumamnya.
Jiwa sosialnya memang tinggi, tapi Saka juga manusia biasa yang bisa merasa terpojok. Dia memutuskan untuk tidak gegabah merobek pola itu. Dengan tangan gemetar, dia merogoh saku celana chino-nya dan mengambil ponsel.
Satu-satunya orang yang terlintas di pikirannya adalah Rakes. Meskipun mereka baru benar-benar kenal di asrama, Saka tahu Rakes itu Ketua BEM yang punya koneksi luas dan yang paling penting sering menghadapi situasi-situasi gila yang ngga bisa dijelaskan secara normal.
Saka berlari keluar dari Lab Fitting, mengabaikan suara tawa parau dari balik cermin. Dia bersembunyi di balik pilar besar di koridor yang remang-remang, lalu menekan kontak Rakes.
Tuut...
Tuut...
"Angkat, Rak... angkat..." bisik Saka panik.
"Halo? Sak? Tumben amat lo nelpon gue jam segini? Lagi butuh model buat catwalk dadakan?" suara Rakes terdengar santai di seberang sana, kontras banget sama situasi Saka yang lagi di ambang maut.
"Rak! Lo di mana?!" potong Saka cepat, suaranya naik satu oktav.
"Gua di fakultas... Aris, Rak! Aris mati! Dan gua sekarang terjebak di Lab Fitting. Semuanya gila, ada manekin gerak sendiri dan gua dapet teka-teki soal nyawa temen-temen seprodi gua!"
Hening sejenak di seberang telepon. Suara bising di latar belakang Rakes, sepertinya dia lagi di ruang sekretariat BEM— mendadak hilang.
"Sak, dengerin gua," suara Rakes berubah serius, otoritasnya sebagai Ketua BEM keluar. "Jangan sentuh apa pun. Jangan robek pola apa pun. Gua denger ada desas-desus aneh soal gedung fashion dari tadi sore, tapi gua pikir itu cuma prank anak seni. Lo stay di situ, atau cari tempat yang nggak ada cerminnya. Gua ke sana sekarang!"
"Tapi Aris, Rak... dia dijahit pake kain perca..." Saka hampir terisak, jiwa kebingungan yang hancur melihat temannya jadi korban.
"Gua tau, Sak. Gua tau. Lo tenang. Gua bakal bawa bantuan. Jangan nekat dulu, lo belum bantuin gua milih jas buat pelantikan bulan depan, kan?" Rakes mencoba menyelipkan candaan tipis buat nenangin adek asramanya itu.
Tiba-tiba, telinga Saka menangkap suara lain. Bukan dari telepon, tapi dari ujung koridor. Suara mesin jahit yang tadi dia dengar di studio utama, sekarang terdengar mendekat.
Tak-tak-tak-tak!
Lampu-lampu di koridor mulai mati satu per satu, menjalar dari ujung menuju tempat Saka berdiri.
"Rak! Lampunya mati! Sesuatu dateng!" teriak Saka ke ponselnya.
"Saka! Lari ke arah tangga darurat! Jangan lewat lift!" teriak Rakes dari telepon sebelum sinyalnya mendadak berubah jadi suara statik yang memekakkan telinga.
Saka melihat ke arah tangga darurat, tapi di depannya, sesosok manekin tanpa kepala sudah berdiri menghalangi jalan. Manekin itu mengenakan jaket yang sangat Saka kenali— jaket yang sedang dipakai Rakes hari ini.
Di dada manekin itu, tertulis sebuah angka baru dengan benang merah: 00:45.
Saka hampir saja menjatuhkan ponselnya ketika lampu di depannya meledak, menyisakan kegelapan yang pekat. Namun, di tengah keputusasaan itu, suara deru mesin mobil yang dipacu kencang terdengar dari arah gerbang depan fakultas, diikuti suara decitan ban yang membelah kesunyian.
Satu menit kemudian, pintu kaca lobi gedung pecah berkeping-keping. Bukan karena hantu, tapi karena ditendang paksa.
"Saka! Di mana lo?!" teriak suara yang sangat familiar.
Itu Rakes. Dia muncul dengan napas memburu, jaket BEM-nya sedikit berantakan. Namun yang membuat Saka lebih terkejut adalah sosok di belakang Rakes.
Hamu. Si mahasiswa paling lowkey di asrama yang seleranya cuma hitam-putih itu berjalan dengan tenang, seolah-olah suasana horor di kampus ini cuma masalah teknis kecil yang mengganggu jadwal tidurnya.
"Rakes! Bang Hamu!" Saka berlari keluar dari balik pilar, hampir menubruk Hamu. "Aris... studio jahit... manekin..." Saka bicara terbata-bata, tangannya menunjuk-nunjuk ke arah koridor yang gelap.
Hamu langsung memegang pundak Saka, berusaha menenangkan adek asramanya itu. "Tenang, Sak. Gua sama Rakes di sini. Gua juga ikut karena tadi pas banget gua lagi bareng dia di parkiran."
Rakes tidak banyak bicara. Dia melangkah maju, membetulkan letak kacamatanya sambil menatap manekin tanpa kepala yang tadi menghalangi jalan Saka. Rakes memperhatikan angka 00:45 yang dijahit dengan benang merah di dada manekin itu.
"Saka," suara Hamu terdengar dingin tapi stabil, sangat kontras dengan kepanikan di sekitar mereka. "Pola yang lo liat di ruang cermin tadi... apa bentuknya simetris?"
Saka tertegun, otaknya yang panik dipaksa berpikir. "Enggak, Rak. Itu pola asimetris, kayak potongan dekonstruksi. Tapi pas gua liat di cermin, polanya jadi kelihatan sempurna."
Hamu berjalan mendekat dan mencoba melihatnya lagi. "Itu kuncinya. Rakes, lo bisa paham sama alurnya. Siapa pun yang bikin teka-teki ini, dia mainin sudut pandang desainer."
Saka frustasi, tangannya sudah mengepal siap menghajar apa pun yang terlihat padat. "Terus kita gimana? Studio jahit di lantai atas udah terkunci otomatis. Anak-anak prodi gua ada di dalem sana Bang! "
Tiba-tiba, suara mesin jahit yang tadinya cuma terdengar di ujung koridor, sekarang bergema dari segala arah.
Tak-tak-tak-tak!
Lantai koridor mulai dipenuhi gulungan benang merah yang bergerak sendiri, melilit kaki mereka seperti jerat.
"Gua ngga bakal biarin temen-temen gua dijahit hidup-hidup!" Saka mencoba melepaskan diri dari lilitan benang. "Bang Hamu, teka-tekinya bilang 'Gunakan benang yang tak terlihat'. Apa maksudnya?!"
Hamu menatap Saka, lalu melirik ke arah tas sketsa yang masih didekap Saka. "Saka, lo itu mahasiswa Fashion Business. Lo tau kan apa satu-satunya hal dalam pakaian yang mengikat semuanya tapi nggak pernah kelihatan dari luar?"
Saka terdiam sejenak. Matanya membelalak. "Kampuh! Atau... invisible stitch?"
"Bukan," sela Hamu sambil menunjuk ke arah manekin. "Itu adalah Niat. Tapi dalam teknis tekstil, itu adalah Serat Inti."
Hamu merampas gunting kain yang entah sejak kapan ada di tangan manekin itu. "Rakes, lo tahan semua manekin yang bakal muncul. Saka, lo balik ke ruang cermin bareng gua. Kita ngga perlu ngerobek polanya. Kita cuma perlu nemuin 'jahitan' yang ngga ada di sana."
Rakes menyeringai, memutar lehernya sampai berbunyi krek. "Oke, bagian otot biar jadi urusan Ketua BEM. Kalian berdua, urusin masalah estetikanya. Pergi sekarang!"
Baru saja Saka dan Hamu ingin berlari, semua manekin di koridor itu mendadak mengeluarkan suara tangis massal yang mengerikan. Dari balik bayangan, muncul sosok manekin raksasa yang dibuat dari tumpukan baju-baju bekas, tingginya mencapai langit-langit gedung.
"Cepet jalan!" teriak Rakes sambil menerjang manekin raksasa itu.
Baru saja Rakes memasang kuda-kuda dan Saka serta Hamu bersiap lari, suasana mencekam itu mendadak sunyi total. Suara mesin jahit yang tadinya memekakkan telinga berhenti seketika. Manekin raksasa yang tampak mengancam itu tiba-tiba kehilangan tumpuannya, ambruk dan tercerai-berai menjadi tumpukan baju bekas yang tak bernyawa.
Bukan cuma itu, semua manekin di koridor roboh secara bersamaan seperti domino yang dijatuhkan. Benang-benang merah yang tadi melilit kaki mereka putus begitu saja, kehilangan daya magisnya.
Saka terengah-engah, matanya membelalak melihat perubahan drastis itu. "Kok... kok semuanya berhenti? Angkanya juga hilang!" serunya sambil menunjuk dada manekin yang kini hanya berupa tumpukan kain biasa.
Hamu menyesuaikan kacamatanya, matanya yang tajam menyapu sekeliling koridor yang kini hanya menyisakan sunyi yang ganjil. "Tekanannya hilang. Seolah-olah 'penggeraknya' baru saja memutuskan untuk menarik diri karena keberadaan kita terlalu ramai, atau mungkin misinya sudah selesai."
"Gila... jantung gue hampir copot," Rakes menyeka keringat di dahinya, masih waspada. "Tapi kita ngga bisa di sini terus. Bau amisnya makin parah."
"Bentar!" Saka, meski masih gemetar, merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan ponsel. Sebagai mahasiswa fashion yang terbiasa mendokumentasikan setiap detail, instingnya muncul.
"Kita butuh bukti. Kalau kita lapor polisi atau dosen besok, mereka cuma bakal liat tumpukan kain. Gue harus foto Aris dan pola-pola gila ini."
Cekrek! Cekrek!
Saka memfoto posisi mayat Aris dari kejauhan yang sekarang tampak lebih seperti instalasi seni yang mengerikan, dan juga tumpukan manekin yang roboh membentuk formasi aneh di koridor. Rakes dan Hamu pun ikut mengambil beberapa foto dari sudut yang berbeda sebagai cadangan.
"Udah, Sak? Ayo cabut! Gua ngga mau nunggu monster kain itu bangun lagi buat minta feedback desain lo," ajak Rakes sambil menarik lengan Saka.
"Tapi Rak, temen-temen gu—"
Ting!
Sebuah pesan masuk kedalam room chat Saka, memperlihatkan bahwa teman-teman nya sudah keluar dari ruangan sejak 5 menit yang lalu membuat Saka semakin bingung oleh kejadian saat ini.
Mereka bertiga akhirnya berlari menyusuri tangga darurat, mengabaikan lift yang lampunya masih berkedip-kedip merah. Begitu sampai di parkiran dan masuk ke dalam mobil, Rakes langsung tancap gas meninggalkan area kampus yang gelap gulita.
Di dalam mobil, suasana sangat hening. Saka hanya menatap layar ponselnya, melihat kembali foto-foto yang ia ambil. "Aris mati cuma gara-gara teka-teki itu, Rak. Bang Hamu... kalian liat kan tadi? Itu bukan halusinasi."
Hamu yang duduk di kursi belakang menatap keluar jendela ke arah gedung fakultas yang semakin menjauh.
"Ini baru permulaan, Saka. Kejadiannya terlalu rapi untuk kecelakaan gaib. Seseorang atau sesuatu sedang menguji kita."
Saka terdiam, ia melihat foto terakhir yang ia ambil: sebuah pantulan di kaca studio yang menunjukkan angka 00:00. Waktunya habis tepat saat mereka memutuskan pergi.
"Sekarang kita ke mana? Balik ke asrama?" tanya Saka pelan.
Rakes mencengkeram setir mobil dengan kuat. "Kita balik ke asrama. Kita harus kasih tau yang lain kalau kampus udah ngga aman. Dan Sak... simpan foto-foto itu baik-baik. Jangan kasih liat siapa pun selain kita di asrama."
Saka mengangguk pelan, memeluk tas sketsanya erat-erat. Jiwa green flag-nya merasa bersalah karena meninggalkan Aris, tapi akal sehatnya tahu bahwa tinggal di sana berarti ikut "dijahit" ke dalam sejarah gelap kampus tersebut.
...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...