Di usia delapan belas tahun, saat gadis-gadis seusianya sibuk mengejar mimpi dan bangku perkuliahan, Gisella Amanda memilih jalan yang tak lazim: menjadi istri Arlan Bramantyo sekaligus ibu tiri bagi Keira Zivanna.
Baginya, Arlan bukan sekadar suami, melainkan pelindung dan tempatnya pulang. Namun, angan-angan tentang rumah tangga yang hangat perlahan luruh. Gisel justru terjebak dalam perang dingin melawan bayang-bayang masa lalu dan tumpukan kesalahpahaman yang tak kunjung usai.
Tanpa pamit, Gisel melangkah pergi membawa luka yang menganga. Ia mengubur identitas gadis ceria yang dulu dicintai Arlan, lalu membangun dinding kokoh di hatinya.
Kini, mampukah Arlan mengejar jejak yang sengaja dihilangkan? Dan ketika maaf terucap, apakah ia masih sanggup meruntuhkan dinding yang telah Gisel bangun dengan rasa kecewa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinding yang Mulai Retak
Gisella Amanda duduk bersila di atas ranjangnya, menatap sebuah jepit rambut kecil berbentuk buah strawberi yang tergeletak di telapak tangannya. Warna merahnya yang cerah tampak kontras dengan sprai kamarnya yang sudah memudar. Jepit itu ia temukan terselip di balik bantal saat ia baru saja menginjakkan kaki kembali dari perjalanan melelahkan di Kota Flora.
"Kakak!" Suara bisikan Reyhan memecah keheningan. Anak laki-laki itu menyelinap masuk, menutup pintu kamar Gisel dengan sangat hati-hati.
"Ada apa, Rey? Dan... jepit ini, kamu tahu punya siapa?" tanya Gisel, mengangkat benda kecil itu.
Reyhan mengangguk cepat. "Itu punya Keira. Malam saat Kakak tidak ada, dia datang bersama papanya. Keira menangis hebat, dia sempat tidur di sini sebelum akhirnya dibawa pulang paksa."
"
Kamu tahu dari mana?”
“Tante Manda.”
“Tante Manda yang cerita?" tanya Gisel merasa bingung karena Tante Manda yang dikenalnya bukanlah type yang suka ikut campur masalah orang lain.
"Tidak hanya Tante Manda. Semua orang di gang tahu, Kak. Malam itu Keira mencari 'Mama' sampai suaranya serak." Reyhan bercerita menirukan gosip para perempuan Jalan Bunga yang ia dengar.
Gisel terdiam. Jantungnya berdenyut aneh. Ada rasa kasihan yang menyeruak, namun segera ia tepis. Untuk apa dia memikirkan anak orang kaya seperti Keira? Dia hanyalah orang asing yang kebetulan bertemu. Namun, kenyataan bahwa Om Arman menghukumnya begitu ekstrim kali ini membuat Gisel mulai menarik benang merah.
Selama tiga hari terakhir, Gisel menjalani hukuman kurungan. Ponselnya disita dan ia dilarang menginjakkan kaki ke sekolah. Biasanya, Om Arman hanya akan mengajaknya sparring tinju di halaman belakang untuk "mendisiplinkannya” jika ia membangkang. Tapi kali ini, Om Arman seolah ingin mengisolasi Gisel dari dunia luar.
Hukuman ini bukan hanya soal "dua kamar" di Kota Flora. Ini adalah bentuk penjara yang dibangun Om Arman untuk mencegah Arlan atau Keira menyentuh kehidupan keponakannya lagi.
"Ini..." Reyhan dengan tangan gemetar menyodorkan sebuah benda dari balik kausnya. Itu ponsel milik Gisel yang dicuri Reyhan dari laci meja ayahnya.
"Reyhan! Berani-beraninya kamu!"
Gisel belum sempat menyentuh ponsel itu saat pintu kamarnya ditendang kasar dari luar. Om Arman berdiri di sana dengan napas memburu. Matanya merah, menatap tajam ke arah tangan Reyhan.
"A-ayah!" Reyhan beringsut, bersembunyi di balik punggung Gisel. Tubuhnya gemetar hebat.
"Aku tidak pernah mengajarkan anakku menjadi pencuri! Kemari kamu, Reyhan!" bentak Om Arman. Ia melangkah maju, tangannya yang kekar terjulur untuk menyeret Reyhan keluar.
Namun, langkahnya terhenti saat sesosok wanita berdiri di ambang pintu dengan wajah yang tak kalah garang. Tante Ira.
"Sebegitu sayangnya kamu pada keponakanmu, sampai anak kandungmu sendiri kamu jadikan samsak?" teriak Tante Ira, suaranya melengking tajam.
"Aku hanya mendisiplinkannya, Ira! Jangan ikut campur!" sahut Om Arman sengit.
"Mendisplinkan? Kamu memukuli Fajri sampai babak belur dan sekarang mau menyentuh Reyhan hanya karena ponsel rongsokan ini? Kamu melakukannya setiap kali ada yang berhubungan dengan Gisel!" Tante Ira melangkah masuk, menyambar tangan Reyhan dan menariknya menjauh dari jangkauan Arman.
"Jangan lagi kamu lampiaskan amarahmu pada anak-anakku hanya karena kamu takut kehilangan Gisel!"
Tante Ira pergi membawa Reyhan, meninggalkan keheningan yang menyesakkan. Om Arman berdiri terpaku, wajahnya pias. Ia tidak menatap Gisel, melainkan menatap lantai dengan tangan terkepal. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan pergi, meninggalkan aroma tembakau dan kemarahan yang tertinggal di udara.
Gisel merosot di lantai. Kata-kata Tante Ira seperti sembilu. Di rumah ini, kehadirannya seolah menjadi kutukan bagi sepupu-sepupunya. Om Arman melindunginya dengan cara yang salah, dan itu membuat Gisel merasa asing di tempat yang seharusnya ia sebut rumah.
Keesokan harinya, suasana berubah menjadi aneh. Om Arman bangun lebih awal, mengenakan jaket kulitnya, dan bersikeras mengantarkan Gisel ke sekolah. Ini adalah kebiasaan lama yang sudah bertahun-tahun ditinggalkan sejak Arman sibuk dengan "bisnis" malamnya di Jalan Bunga.
"Nanti Om jemput. Jangan pulang sendirian!" ucap Om Arman setelah Gisel mencium punggung tangannya di depan gerbang sekolah.
Gisel hanya mengangguk, tak berani membantah. Begitu motor besar pamannya menghilang di tikungan, teman-temannya Sena dan Diana langsung menyerbu dengan rentetan pertanyaan.
"Kenapa lama sekali di Kota Flora? Kami sampai dilarang masuk ke gangmu oleh anak buah Om Arman!" tanya Diana penasaran.
"Hanya karena hujan lebat, jalannya tertutup," bohong Gisel sembari memaksakan senyum. Ia tidak mungkin menceritakan tentang hukuman kurungan atau memar di wajah Fajri.
Di depan kelas, sosok Regis sudah menunggu. Pemuda itu tampak gelisah, namun wajahnya cerah saat melihat Gisel. Sena dan Diana yang mengerti situasi segera menarik diri, meninggalkan Gisel dan Regis berdua.
"Kamu ke mana saja, Sel? Aku khawatir," tanya Regis tulus.
"Hanya ada urusan keluarga, Kak. Ada apa mencariku?" jawab Gisel datar.
"Aku... aku ingin minta maaf soal Karin. Aku baru tahu dia melabrakmu minggu lalu. Aku sudah memintanya berhenti," Regis mencoba meraih tangan Gisel, namun gadis itu segera menghindar.
"Terima kasih, Kak. Tapi ke depannya, tolong menjauh dariku. Itu cara terbaik agar Karin tidak mencari gara-gara lagi denganku."
"Tapi kita bisa tetap berteman, kan?"
Gisel menatap Regis dengan tatapan yang sulit diartikan. Di sekolah ini, semua orang tahu Gisel berasal dari Jalan Bunga. Regis mendekatinya karena taruhan, sebuah fakta menyakitkan yang Gisel ketahui dari bisikan di kantin. Meskipun Regis terlihat mulai tulus, bagi Gisel, laki-laki seperti Regis adalah ancaman bagi kedamaiannya yang rapuh.
"Tidak, Kak. Taruhanmu sudah menang saat kita berkenalan. Sekarang, anggap saja kita tidak pernah saling kenal," pungkas Gisel ketus sebelum melangkah masuk ke kelas, meninggalkan Regis yang terpaku di koridor.
Regis menatap punggung Gisel dengan perasaan berkecamuk. Ia tahu Gisel berbeda. Gadis itu bukan "bunga" yang bisa dipetik di pinggir jalan. Ada dinding kokoh yang melindungi Gisel, dinding yang dibangun oleh trauma dan lingkungan yang keras. Dan Regis sadar, ia terlalu pengecut untuk meruntuhkan dinding itu.
Saat bel pulang berbunyi, Om Arman benar-benar sudah ada di sana. Ia duduk di atas motornya, menyesap rokok dengan mata yang menyisir setiap sudut gerbang sekolah seperti elang yang mencari mangsa. Ia tampak waspada, seolah-olah Arlan atau siapa pun dari "dunia lain" itu akan muncul secara tiba-tiba untuk merebut keponakannya.
Gisel segera menghampiri, mengenakan helm, dan naik ke boncengan tanpa banyak bicara. Saat motor membelah kemacetan kota, Gisel menyandarkan kepalanya di punggung lebar Om Arman.
Dalam hatinya, Gisel menghitung hari. Hanya tinggal beberapa bulan lagi menuju kelulusan. Ia harus bertahan. Ia harus kuliah dan keluar dari Jalan Bunga agar Om Arman tidak perlu lagi memukuli anak-anaknya demi melindunginya.
Namun, saat jepit rambut strawberi di dalam sakunya menyentuh kulitnya, Gisel menyadari satu hal: melarikan diri dari Jalan Bunga mungkin mudah, tapi melarikan diri dari perasaan yang mulai tumbuh untuk seorang anak kecil bernama Keira, mungkin akan jauh lebih sulit.
Tanpa sepengetahuan mereka, di seberang jalan, sebuah mobil hitam dengan kaca gelap mengikuti dari kejauhan.
maaf kak,
kayaknya bab nya terbalik ya🙏🙏