Lastri menjadi janda paling dibicarakan di desa setelah membongkar aib suaminya, seorang Kepala Desa ke internet.
Kejujurannya membuatnya diceraikan dan dikucilkan, namun ia memilih tetap tinggal, mengolah ladang milik orang tuanya dengan kepala tegak.
Kehadiran Malvin, pria pendiam yang sering datang ke desa perlahan mengubah hidup Lastri. Tak banyak yang tahu, Malvin adalah seorang Presiden Direktur perusahaan besar yang sedang menyamar untuk proyek desa.
Di antara hamparan sawah, dan gosip warga, tumbuh perasaan yang pelan tapi dalam. Tentang perempuan yang dilukai, dan pria yang jatuh cinta pada ketegaran sang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter³⁴ — Kamu Bukan Tipe Malvin.
“Hentikan mobil!”
Begitu mobil berhenti, Mama Weni langsung membuka pintu dan turun dengan cepat. Langkahnya tergesa-gesa menuju Fahira.
Di pinggir jalan, Fahira masih duduk menunduk. Tubuhnya lemas, seperti orang yang sudah kehabisan tenaga.
“Fahira? Kenapa kamu ada di sini? Kamu kenapa begini?” Mama Weni memberondong pertanyaan.
Fahira perlahan mengangkat wajah. Tatapannya kosong, seperti orang linglung.
Mama Weni maju hendak menyentuh bahunya, namun tiba-tiba ia mengernyit. “Bau apa ini?”
Kalvin dan Alya yang ikut turun refleks ikut menahan nafas.
“Kayaknya dari Mbak Fahira,” Kalvin mengipas-ngipas hidungnya. “Bau orang nggak mandi berhari-hari.”
Fahira membuka mulut, tapi suaranya tidak jelas. “Auu… uuhh…”
“Kamu bilang apa?” Mama Weni bertanya, kali ini sambil menutup hidung.
“Ii… inumm…”
“Minum?” Alya menebak.
Fahira mengangguk.
Mama Weni langsung menoleh ke supir. “Ambilkan air!”
Tak lama, botol minum disodorkan. Namun Fahira langsung merebutnya tanpa sopan santun. Sekali teguk, air habis tanpa sisa.
“Ahhhhh…” Fahira menghela napas panjang, wajahnya tampak sedikit lega setelah menghabiskan satu botol air itu.
Tapi ketenangan itu hanya sebentar, botol kosongnya ia lempar begitu saja. Fahira berdiri dengan mata menyala, penuh amarah.
“Ini gara-gara orang-orang kampungan itu!” suaranya meninggi. “Aku datang kesini untuk cari Malvin! Tapi orang-orang kampung itu kurang ajar semua! Mereka menipuku! Aku dibuat kesasar… lalu aku dicopet! Tas dan ponselku diambil, aku bahkan nggak bisa menghubungi siapa pun.”
“Harusnya Mbak minta tolong, nggak mungkin nggak ada yang nolong.” Ucap Alya.
“Cih! Aku nggak sudi minta tolong sama orang kampungan di sini!” Fahira mendengus tajam. “Mereka semua sama! Lebih baik aku mati!”
“Udah kayak gini masih sombong, pantes warga sini males nolong dan ngerjain Mbak. Mbak sadar nggak, sih? Mbak Fahira... udah kayak gembel.” Kalvin terkekeh, ia sulit menahan tawa melihat Fahira yang biasanya tampil mewah dan anggun, sekarang justru mirip gelandangan.
Mama Weni menarik napas panjang, jelas menahan emosi. “Sudah! Ayo naik, kita ke rumah tempat Malvin tinggal.”
Fahira masih berdiri dengan dada naik turun. Rambutnya acak-acakan, bajunya kusut, wajahnya penuh debu, tapi harga dirinya… masih utuh. Bahkan mungkin lebih tebal dari bedak yang biasa ia pakai.
Begitu pintu mobil ditutup, supir langsung menyalakan AC. Namun bukannya lega, Kalvin malah makin menahan nafas. Alya sampai menutup mulut.
Mama Weni menoleh pelan, menatap Fahira dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Fahira, kamu ini… beneran nggak mandi berapa hari?”
“Aku nggak ngerti apa-apa di sini, buat beli minum aja nggak ada!” Fahira mendengus tajam, seolah dunia lah yang bersalah karena ia tak punya uang sepeser pun.
Alya menahan tawa, tapi tetap menyodorkan tisu basah dari tasnya. “Mbak, ini… minimal lap-lap dulu sedikit biar agak wangian.”
Fahira menatap tisu itu seolah tisu itu penghinaan terbesar dalam hidupnya. Tapi beberapa detik kemudian, dia mengambilnya juga. Dengan gaya yang sok elegan, Fahira mengelap wajahnya. Tapi makin ia mengelap, makin terlihat betapa kacau kondisinya.
Mama Weni menatap lurus ke depan. “Kita langsung ke rumah tempat Malvin tinggal.”
Supir mengangguk, lalu melajukan mobil. Di perjalanan, suasana di dalam mobil masih campur aduk.
Fahira masih mendumel sendiri. “Mereka licik, aku ditipu! Aku dibuat berputar-putar mencari jalan ke rumah Malvin, tapi malah diarahkan ke sawah dan kebun. Aku sampai jatuh berkali-kali di sana!”
Tak ada yang menyahut, semua malah sibuk menahan napas dan menutup hidung.
Mobil akhirnya berhenti di sebuah rumah sederhana. Tidak besar, tapi terlihat bersih dan tenang.
Mama Weni turun lebih dulu.
Alya ikut turun.
Kalvin menyusul.
Fahira turun paling terakhir, dengan wajah seperti ratu yang dipaksa menginjak tanah desa. Ia menatap rumah itu lama, seolah tidak percaya.
“Jadi, selama di sini… Malvin tinggal di rumah kecil seperti ini?” Fahira menatap sekeliling dengan jijik. “Bahkan luasnya mungkin cuma sebanding dengan kandang anjing di rumah besarku.”
Nada suaranya penuh penghinaan.
Kalvin langsung menimpali, suaranya sinis. “Buat apa pamer rumah mewah kalau hatinya sempit?”
Fahira menoleh tajam, matanya melotot ke arah Kalvin.
Namun sebelum suasana benar-benar meledak, Alya cepat menarik lengan kakaknya memberi isyarat agar tidak terpancing.
Mama Weni melangkah ke depan pintu, ia mengetuknya.
Tok.
Tok.
Tok.
Tak lama, pintu terbuka. Dan... Lastri muncul di ambang pintu.
Wanita itu memakai baju sederhana seperti biasanya, tanpa aksesori berlebihan. Wajahnya cantik alami tanpa riasan, namun ada aura kuat yang melekat pada dirinya. Matanya tajam, tapi tetap tenang.
Begitu melihat Mama Weni, Lastri sedikit terkejut. Namun saat pandangannya turun ke Fahira… Lastri terdiam.
Hening.
Udara seperti membeku.
Fahira juga terdiam. Mereka berdua saling menatap, lalu Fahira tersenyum miring penuh hinaan saat melihat tampilan Lastri. “Kamu pembantu Malvin.”
“Bukan.”
Fahira tertawa kecil, sinis. “Jangan bilang, kamu wanitanya Malvin? Kamu bukan tipe Malvin, dia nggak mungkin sampai memilih perempuan yang berpenampilan seperti pembantu.”
Lastri tidak terpancing, ia hanya menatap Fahira datar tanpa ekspresi berlebihan.
Mama Weni ikut menatap Lastri, sorot matanya tajam. “Aku ibunya Malvin, dia ada di rumah?”
Lastri segera menguasai diri, ia mengangguk pelan. “Ada, tapi Bang Malvin tadi sedang tidur.”
Fahira langsung maju setengah langkah. “Minggir, biar aku bangunkan! Aku mau ketemu!”
Lastri tetap berdiri di depan pintu, menghalangi jalan masuk. Suaranya tenang, tapi tegas. “Tolong jaga sopan santun, jangan nyelonong masuk begitu saja.”
Fahira melotot. “Kamu berani melarangku!”
Lastri menatapnya tanpa gentar. “Saya tidak melarang, saya hanya meminta Anda... untuk menjaga etika saat bertamu.”
Mama Weni menghela nafas panjang, jelas menahan emosi. Dan tepat saat suasana makin memanas, dari dalam rumah terdengar suara langkah.
“Lastri… siapa di luar?”
Lastri menoleh.
Mama Weni ikut menoleh, tatapannya langsung tertuju pada putra sulungnya—dingin dan penuh tekanan.
semoga kalvin nanti jatuh cinta
Awas aja klo sampe bucin kau kalvin🫵