NovelToon NovelToon
Istri Pilihan Gus Azkar

Istri Pilihan Gus Azkar

Status: tamat
Genre:Romansa / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.

Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.

Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22Gendongan di Depan Khalayak

Gus Azkar tersenyum tipis, sebuah senyuman kemenangan yang sangat halus. "Alhamdulillah, Ustadz. Sesuai takdir Allah, kemarin saya sudah meminang Rina secara resmi dan kami sudah melangsungkan akad. Mulai hari ini, Rina bukan lagi sekadar santriwati, tapi ia adalah istri saya."

Duar! Kalimat itu seperti petir di siang bolong bagi Ustadz Zidan. Ia terdiam seribu bahasa, melihat Rina yang hanya diam di balik lindungan Gus Azkar. Penyesalan mendalam menghujam hatinya; ia terlalu lama ragu, sementara Gus Azkar bergerak secepat kilat.

Gus Azkar menepuk pundak Zidan pelan. "Kami duluan ya, Ustadz. Keluarga dari Arab Saudi sudah menunggu di dalam."

Gus Azkar pun melangkah pergi sambil terus menggandeng Rina, meninggalkan Ustadz Zidan yang mematung dengan hati yang patah di tengah keriuhan pesantren.

Gus Azkar dan Rina berjalan beriringan melintasi area asrama putra menuju arah ndalem. Meski Rina sudah mengenakan gamis marun yang anggun dan cadar yang senada, langkahnya tetap terlihat sedikit terburu-buru karena merasa canggung menjadi pusat perhatian para santri yang sedang berlalu-lalang.

"Aww!" pekik Rina tiba-tiba.

Langkahnya terhenti mendadak. Karena jalanan asrama yang sedikit tidak rata dan rasa gugup yang melanda, kaki Rina mendarat di posisi yang salah. Ia keseleo. Tubuhnya hampir limbung ke depan jika saja Gus Azkar tidak dengan sigap menangkap pinggangnya.

"Astagfirullah! Rina!" seru Gus Azkar panik.

Rina terduduk di tanah sambil memegangi

pergelangan kakinya. Air mata langsung mengalir di balik cadarnya. Rasa sakitnya luar biasa, ditambah rasa malu karena beberapa santri putra mulai berhenti dan menoleh ke arah mereka.

"Sakit, Mas... hiks... sakit banget," isak Rina pelan.

Gus Azkar berlutut di depan istrinya, mengabaikan debu yang menempel pada celana kain hitamnya. Ia mencoba menyentuh kaki Rina, namun Rina meringis kesakitan. Melihat istrinya yang menangis tersedu-sedu dan kondisi jalan yang masih cukup jauh menuju ndalem, Gus Azkar tidak berpikir dua kali.

Tanpa mempedulikan puluhan pasang mata santri yang menatap dengan mulut ternganga, Gus Azkar menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggung Rina. Dalam satu gerakan mantap, ia mengangkat tubuh istrinya ke dalam gendongan bridal style.

"Mas! Turunin! Banyak santri, Mas!" protes Rina panik di balik tangisnya. Wajahnya yang sudah merah karena menangis kini semakin panas karena malu.

"Diamlah, Sayang. Kakimu sedang sakit, Mas tidak mungkin membiarkanmu merangkak sampai rumah,"

ucap Gus Azkar tegas namun lembut. Ia mendekap Rina erat, seolah menunjukkan pada dunia bahwa wanita dalam dekapannya ini adalah tanggung jawab dan permata hatinya yang paling berharga.

Ustadz Zidan, yang ternyata masih memperhatikan dari kejauhan, hanya bisa mengepalkan tangan di samping tubuh. Hatinya yang sudah patah kini terasa makin hancur melihat betapa Gus Azkar begitu memuliakan dan menjaga Rina di depan umum tanpa rasa ragu sedikit pun.

Gus Azkar berjalan dengan langkah lebar dan penuh wibawa melewati asrama putra. Para santri yang lewat langsung menundukkan pandangan sambil berbisik takjub, "Gus Azkar romantis banget ya..."

Di dalam gendongan itu, Rina akhirnya menyerah. Ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Gus Azkar, menghirup aroma parfum suaminya yang menenangkan. Rasa sakit di kakinya perlahan terkalahkan oleh rasa aman yang diberikan laki-laki yang baru saja menjadi suaminya itu.

Gus Azkar terus melangkah mantap, mengabaikan bisik-bisik santri yang memenuhi lorong asrama. Di dalam dekapannya, Rina terus terisak kecil, bukan hanya karena nyeri di pergelangan kakinya, tapi juga karena rasa malu yang membumbung tinggi.

Pintu besar kayu jati khas ndalem sudah terbuka lebar. Di dalam ruang tamu utama yang luas, suasana tampak sangat formal. Kyai Muhammad duduk di kursi kebesarannya, dikelilingi oleh paman dan sepupu Gus Azkar yang baru saja tiba dari Arab Saudi—pria-pria berjubah putih dan bersorban yang tampak sangat berwibawa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!