NovelToon NovelToon
Tabib Miskin Dan Dewi Bunga Teratai

Tabib Miskin Dan Dewi Bunga Teratai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Reinkarnasi / Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:553
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Shen Yi, tabib desa yang bajunya penuh tambalan, berlutut di sampingnya.
Tanpa ragu, ia pegang pergelangan tangan itu
dan racun dingin yang seharusnya membunuh siapa pun... tak menyentuhnya sama sekali.

Wanita itu membuka mata indahnya, suaranya dingin bagai embun pagi
"Beraninya kau menyentuh Dewi Teratai?"

Shen Yi garuk kepala, polos seperti biasa.

"Maaf, Nona Lian'er. Kalau nggak dicek nadi, bisa mati kedinginan.
Ini ramuan penghangat dulu, ya? Gratis kok."

Dia tak tahu...
sentuhannya adalah satu-satunya harapan Lian'er untuk mencairkan kutukan abadi yang menggerogoti tubuhnya.
Dan juga satu-satunya yang bisa menghancurkannya selamanya.

Dari gubuk reyot di lereng gunung terpencil, hingga dunia jianghu penuh darah dan rahasia,
seorang tabib miskin dan dewi teratai terikat oleh takdir yang tak terucap.

Apa yang terjadi ketika manusia biasa jatuh cinta pada dewi yang terlarang disentuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prasasti Kuno

“Siapa yang berani melangkah ke kuil ini tanpa hati yang murni?”

Suara itu bergema lagi, kali ini lebih dalam, seperti datang dari batu prasasti besar di tengah ruang utama kuil. Cahaya samar dari kristal teratai yang tergantung di langit-langit memantul di lantai marmer putih, membuat bayangan rombongan itu memanjang seperti roh-roh kuno.

Shen Yi memimpin langkah masuk, tangannya masih menggenggam tangan Lian'er. Xiao Feng dan Shi Jun mengikuti di belakang, pedang mereka sudah ditarik tapi belum dihunus sepenuhnya.

Di depan mereka, prasasti kuno setinggi dua orang dewasa berdiri tegak. Permukaannya halus seperti sutra beku, tapi diukir dengan huruf kuno yang bercahaya pelan biru keperakan. Di bawah prasasti, ada lingkaran batu kecil dengan lubang berbentuk teratai—seolah menunggu sesuatu dimasukkan.

Suara itu berbicara lagi, kali ini terdengar seperti bisikan dari segala arah sekaligus.

“Hanya yang memahami hati teratai yang bisa membuka jalan.

Baca puisi ini dengan benar, pecahkan teka-tekinya,

atau pulau ini akan menelan kalian selamanya.”

Prasasti mulai menyala lebih terang. Huruf-huruf kuno berubah menjadi bahasa yang bisa mereka baca. Seolah pulau itu menyesuaikan dengan pemahaman mereka. Puisi muncul baris demi baris:

Puisi Teratai Abadi

Di danau tanpa riak, teratai mekar sendirian,

Tak disentuh angin, tak diganggu hujan deras.

Kelopak putihnya menyimpan rahasia dingin,

Tapi akarnya haus akan hangat yang tak pernah datang.

Satu sentuhan membekukan jiwa yang mendekat,

Satu pelukan mencairkan es yang abadi.

Tapi yang mencairkan bukan api, bukan matahari,

Melainkan hati yang tak pernah meminta balasan.

Carilah yang hilang di antara dua bayang,

Yang satu cahaya, yang lain kegelapan,

Bersama mereka, teratai akan mekar kembali,

Tapi hanya jika yang murni memimpin, bukan yang kuat.

Masukkan kunci ke lubang teratai,

Atau pulau ini akan kembali tidur selamanya.

...****************...

Suara itu diam. Ruangan hening, hanya hembusan angin samar dari luar kuil.

Xiao Feng menggaruk kepala. “Ini puisi atau teka-teki? Aku nggak jago sastra kuno begini.”

Shi Jun mendekat ke prasasti, matanya menyipit membaca ulang baris demi baris. “Ini bukan puisi biasa. Ada teka-teki di dalamnya. Kata-kata kunci: teratai sendirian, sentuhan membekukan, pelukan mencairkan, dua bayang, yang murni memimpin.”

Lian'er melepaskan tangan Shen Yi pelan, melangkah maju. Matanya tertuju pada baris tengah.

“Aku tahu bagian ini

‘satu sentuhan membekukan jiwa yang mendekat, satu pelukan mencairkan es yang abadi.’ Itu kutukanku. Dan ‘yang mencairkan bukan api, bukan matahari, melainkan hati yang tak pernah meminta balasan.’

"Itu Shen Yi.”

Shen Yi menggeleng pelan.

“Tapi puisi ini bicara tentang ‘dua bayang’. Yang satu cahaya, yang lain kegelapan. Itu pasti aku dan Shi Jun.”

Shi Jun mengangguk. “Ramalan sekte: dua darah teratai murni. Aku yang gelap karena ego dan kesombongan, kau yang cahaya karena kepolosan dan kebaikan.”

Xiao Feng menyilangkan tangan. “Jadi kuncinya apa? Harus masukin apa ke lubang teratai itu?”

Shen Yi mendekat ke lingkaran batu kecil di bawah prasasti. Lubangnya berbentuk teratai dengan lima kelopak. Di sekitar lingkaran, ada ukiran kecil: simbol hati, simbol tangan saling genggam, simbol dua orang berdiri berdampingan.

“‘Carilah yang hilang di antara dua bayang’,” gumam Shen Yi. “Yang hilang mungkin sesuatu yang menyatukan dua bayang itu.”

Lian'er tiba-tiba tersentak. “Hangat. Itu yang hilang. Hangat yang kau berikan padaku sejak awal, Shen Yi. Hati yang tak pernah meminta balasan.”

Shi Jun memandang Shen Yi. “Kau punya sesuatu yang bisa jadi kunci?”

Shen Yi merogoh saku mantelnya. Dia mengeluarkan botol kecil ramuan penghangat yang dia buat dari akar teratai salju. Ramuan yang pertama kali dia berikan pada Lian'er di hutan. Botol itu sudah hampir kosong, tapi masih ada sisa cairan hangat di dalamnya.

“Ini ramuan yang selalu aku bawa. Hangat yang sederhana, dari herbal gunung.”

Lian'er memandang botol itu. “Itu simbol hati yang tak meminta balasan. Kau beri aku tanpa harap apa-apa.”

Shen Yi mengangguk. “Mungkin ini kuncinya. Tapi puisi bilang ‘yang murni memimpin’. Siapa yang murni di antara kita?”

Xiao Feng tertawa kecil. “Jelas kau, Tabib Shen. Kami bertiga ini penuh dosa dan ego. Kau satu-satunya yang polos dari awal sampai akhir.”

Shi Jun mengangguk pelan. “Aku setuju. Aku yang dulu sombong, Lian'er yang dikutuk karena masa lalu, Xiao Feng yang suka cari masalah… kau satu-satunya yang tak pernah berubah. Hati murni itu kau.”

Shen Yi menatap mereka bertiga. “Tapi ini bukan soal aku sendirian. Puisi bilang ‘bersama mereka, teratai akan mekar kembali’. Kita harus lakukan bersama.”

Lian'er mengangguk. “Benar. Dua bayang. kau dan Shi Jun harus bersama. Dan aku sebagai teratai yang membutuhkan hangat itu.”

Shen Yi membuka botol ramuan. Dia menuangkan sisa cairan hangat itu ke telapak tangannya, lalu menggenggam tangan Lian'er dengan satu tangan, dan mengulurkan tangan yang lain ke Shi Jun.

“Mari kita coba. Bersama.”

Shi Jun ragu sejenak, lalu menggenggam tangan Shen Yi. Xiao Feng ikut maju, meletakkan tangannya di atas genggaman mereka bertiga—seolah menambah kekuatan.

Hangat dari tubuh Shen Yi mengalir ke Lian'er dan Shi Jun. Es di tubuh Lian'er mencair sepenuhnya untuk pertama kalinya. Di tubuh Shi Jun, energi teratai yang kasar mulai melunak, seperti es yang retak dan mencair.

Shen Yi menuangkan sisa ramuan ke lubang teratai di lantai. Cairan itu mengalir masuk, dan tiba-tiba lingkaran batu menyala terang.

Prasasti bergetar. Huruf-huruf kuno berubah menjadi cahaya putih yang naik ke atas, membentuk teratai raksasa dari cahaya di langit-langit kuil.

Suara itu terdengar lagi, kali ini lembut dan penuh pujian.

“Hati yang murni telah memimpin. Dua bayang bersatu. Teratai mekar kembali.”

Lantai di bawah mereka bergoyang pelan. Lingkaran batu terbuka, memperlihatkan tangga spiral yang menurun ke bawah—menuju ruang rahasia di bawah kuil.

Xiao Feng bersiul. “Kita lolos ujian pertama! Mantap, Tabib Shen!”

Shi Jun melepaskan genggaman, tapi matanya penuh rasa hormat baru pada Shen Yi. “Kau benar. Bukan kekuatan, tapi hati.”

Lian'er memandang Shen Yi dengan mata berkaca-kaca. “Shen Yi terima kasih. Es di tubuhku benar-benar hilang untuk pertama kalinya.”

Shen Yi tersenyum lelah tapi bahagia. “Belum selesai. Air Teratai Abadi pasti ada di bawah sana. Mari kita ambil.”

Mereka berempat melangkah ke tangga spiral. Cahaya teratai dari atas mengikuti mereka, menerangi jalan.

Di dasar tangga, ruangan kecil terbuka. Di tengahnya, sebuah danau kecil berbentuk teratai sempurna, airnya jernih seperti kristal, memancarkan cahaya biru lembut. Di tengah danau, satu bunga teratai abadi mekar—kelopaknya putih sempurna, inti di tengah bercahaya emas.

Tapi di sekitar danau, ada tiga patung batu—tiga sosok pendekar kuno yang membeku, tangan mereka terulur seolah mencoba meraih bunga itu.

Suara terakhir bergema.

“Ini ujian terakhir. Hanya satu yang bisa mengambil Air Teratai Abadi. yang benar-benar tak meminta apa pun untuk dirinya sendiri. Yang lain akan membeku selamanya.”

Ruangan hening. Mereka saling pandang.

Lian'er melangkah maju. “Ini kutukanku. Biar aku yang ambil.”

Shen Yi memegang lengannya. “Tunggu. Puisi bilang ‘yang murni memimpin’. Dan ‘hati yang tak pernah meminta balasan’. Mungkin aku yang harus ambil, untuk Nona.”

Shi Jun menggeleng. “Tidak. Kalau kau ambil, kau mungkin tak kembali. Biar aku. Aku yang dulu gelap mungkin ini penebusanku.”

Xiao Feng menghela napas. “Kalian bertiga ini romantis banget. Tapi kalau kalian semua maju, kita bisa mati bareng. Harus ada satu yang benar-benar tak punya pamrih.”

Shen Yi memandang bunga teratai itu. Lalu dia tersenyum pelan.

“Aku yang ambil. Bukan karena aku paling murni. Tapi karena aku cuma mau Nona Lian'er sembuh. Aku nggak minta apa-apa lagi selain itu.”

Lian'er menahan napas. “Shen Yi jangan!"

Shen Yi melepaskan tangannya pelan. “Percaya padaku.”

Dia melangkah ke tepi danau. Airnya dingin menusuk, tapi dia tak berhenti. Langkah demi langkah, dia masuk ke dalam air, menuju bunga teratai di tengah.

Saat tangannya hampir menyentuh kelopak, patung-patung batu mulai bergerak—seolah hidup kembali, tangan mereka terulur menghalangi.

Tapi Shen Yi tak mundur. Dia bicara pelan, seolah pada dirinya sendiri.

“Aku nggak minta kekuatan. Aku nggak minta keabadian. Aku cuma mau Lian'er bisa tersenyum tanpa dingin lagi. Itu aja.”

Saat jarinya menyentuh kelopak teratai, cahaya emas meledak. Patung-patung batu retak dan runtuh menjadi debu. Air danau naik, membungkus Shen Yi dalam cahaya hangat.

Lian'er berteriak. “Shen Yi!”

Cahaya meredup. Shen Yi keluar dari danau, di tangannya ada botol kristal kecil berisi air bening yang bercahaya—Air Teratai Abadi.

Dia tersenyum lelah, tapi hidup. “Aku… baik-baik saja.”

Lian'er berlari memeluknya. “Kau benar-benar mengambilnya untukku.”

Shen Yi memeluk balik. “Ya. Sekarang minum. Kutukanmu akan hilang.”

Lian'er mengambil botol itu dengan tangan gemetar. Dia meneguk setetes. Tubuhnya bergetar. Es terakhir di dalamnya mencair sepenuhnya, digantikan kehangatan yang abadi.

Dia menatap Shen Yi dengan mata penuh air mata bahagia. “Aku… bebas.”

Xiao Feng dan Shi Jun tersenyum lega. Ruangan kuil mulai bergetar pelan. seolah pulau puas dengan ujian yang selesai.

Suara terakhir bergema.

“Ujian selesai. Teratai mekar abadi. Pulanglah, dan bawa kehangatan itu ke dunia fana.”

Cahaya teratai menyelimuti mereka. Saat cahaya meredup, mereka sudah berada di pantai luar pulau. kabut abadi terbuka, kapal Kapten Liu menunggu di kejauhan.

Shen Yi memandang Lian'er. “Pulang?”

Lian'er mengangguk, tersenyum lebar—senyum manusia biasa, tanpa dingin. “Pulang. Ke gunung. Bersamamu.”

Shi Jun menepuk bahu Shen Yi. “Saudara… terima kasih. Aku akan bilang ke sekte. ramalan itu salah. Cahaya dan kegelapan bisa bersatu tanpa malapetaka.”

Xiao Feng tertawa. “Ayo naik kapal! Aku sudah kangen arak hangat!”

Mereka berjalan ke kapal, meninggalkan Pulau Teratai Mistis yang perlahan menghilang kembali ke kabut.

Di hati mereka, teratai telah mekar. bukan hanya satu, tapi untuk selamanya.

1
Kashvatama
Ceritanya semakin jauh bab semakin menegangkan. tidak cuma bercerita tentang drama tetapi konflik eksternal
Kashvatama
yuk follow akunku untuk dapat info update terbaru. sebentar lagi aku release judul baru nih 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!