"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.
Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.
Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rona merah
Perasaan canggung itu terus bertahan, seperti kabut pagi yang enggan beranjak, hingga Andersen menginjak rem dengan halus dan menghentikan mobil tepat di depan lobi sebuah supermarket besar.
Seila melangkah keluar dari mobil dengan terburu-buru, mencoba mencari udara segar untuk mendinginkan wajahnya yang masih terasa panas. Andersen menyusul di belakang, langkah kakinya terdengar mantap di atas aspal parkiran.
Di dalam supermarket yang luas dan beraroma roti panggang itu, suasana canggung justru semakin menjadi-jadi. Lorong-lorong yang sempit memaksa mereka untuk terus berdekatan.
Saat Andersen membacakan daftar belanjaan dalam bahasa yang kaku, Seila sibuk memindai rak-rak tinggi. Beberapa kali, jemari mereka bersentuhan secara tidak sengaja saat hendak mengambil kotak sereal yang sama atau saat Andersen menyerahkan kantong plastik belanjaan.
Setiap sentuhan itu bagaikan sengatan listrik kecil yang membuat Seila menarik tangannya dengan cepat, hatinya semakin ambigu; antara rasa malu yang meledak dan rasa bersalah yang terus menghantui akibat kejadian tadi.
"Kita sudah mendapatkan semuanya?" tanya Andersen pelan, suaranya terdengar sangat dekat di samping telinga Seila, membuat gadis itu hampir menjatuhkan botol susu yang dipegangnya.
"I-iya, kurasa cukup," jawab Seila gugup, matanya tak berani menatap langsung ke arah Andersen.
Dalam perjalanan pulang, saat mobil melintasi deretan pertokoan dengan arsitektur klasik, pandangan Seila tertangkap oleh sebuah butik pakaian yang baru saja menyingkap tirainya. "Andersen, berhenti di depan toko itu," pintanya tiba-tiba.
Andersen menginjak rem dengan halus. Ia menatap toko itu, lalu menatap dirinya sendiri melalui spion. Ia baru menyadari betapa kontras penampilannya dengan lingkungan Utrecht yang rapi.
Ia masih mengenakan kemeja dari hari kemarin yang sudah kusut, dilapisi jaket tebal lusuh berwarna kusam yang ia temukan di pojok lemari kamarnya.
"Ayo masuk," ajak Seila, nada suaranya kini lebih tenang namun penuh penekanan.
Di dalam butik yang berlantai kayu hangat itu, Seila bergerak lincah di antara jajaran manekin. Jemarinya menelusuri berbagai tekstur kain, mulai dari wol yang lembut hingga bahan kedap air yang kokoh. Ia beberapa kali melirik Andersen, mencoba membayangkan warna apa yang paling cocok dengan karakter pria itu yang tenang.
"Andersen, apakah kamu suka model yang seperti ini?" tanya Seila sambil mengangkat sebuah parka berwarna merah dingin.
Andersen mendekat, aroma dingin dari luar masih tertinggal di jaket lusuhnya. Ia mengamati pilihan Seila sejenak sebelum pandangannya beralih ke deretan pakaian di sisi lain. "Euhmmm... sepertinya warna yang lebih gelap akan lebih bagus, Shel. Sesuatu yang tidak terlalu mencolok," jawabnya rendah.
Seila mengangguk setuju, matanya berbinar penuh semangat. Sementara Andersen mulai memilih beberapa kaus katun polos yang nyaman untuk dikenakan di dalam rumah, Seila justru semakin tenggelam dalam perburuannya mencari jaket tebal.
Ia memilah setiap gantungan dengan teliti, memastikan bahan di dalamnya cukup hangat untuk melindungi Andersen dari angin Belanda yang kejam.
Andersen yang sudah menyelesaikan pilihannya, berdiri beberapa langkah di belakang Seila. Ia memperhatikan bagaimana gadis itu begitu serius... dahinya sedikit berkerut dan ia menggigit bibir bawahnya saat membandingkan dua buah jaket.
Ia melangkah maju dan dengan lembut mengambil alih tumpukan jaket tebal yang sedang didekap Seila. "Sudah cukup, Shel. Biar aku yang bawa," ucap Andersen. Tangannya sempat bersentuhan dengan tangan Seila, menciptakan getaran kecil yang membuat mereka berdua terdiam sejenak.
Seila mendongak, menatap mata Andersen dengan jarak yang sangat dekat. "Coba yang ini dulu," ucap Seila sambil menarik sebuah jaket winter berwarna abu-abu gelap dari tumpukan itu. "Warna ini akan sangat cocok dengan matamu. Masuklah ke ruang ganti, aku ingin melihatnya."
Andersen menerima jaket abu-abu gelap yang terasa berat itu. Ia melangkah menuju ruang ganti yang tertutup tirai beludru. Di dalam ruangan sempit yang harum itu, ia menanggalkan jaket lusuhnya.
Andersen menyibak tirai dan melangkah keluar. Seila, yang sedang menunggu sambil ingin membayar dengan cemas, langsung terpaku. Ia menatap Andersen dan menyadari bahwa pria di depannya kini terlihat jauh lebih gagah, seolah ia memang ditakdirkan untuk berada di sini, di sisi dirinya.
Andersen melangkah menuju meja kasir, jaket abu-abu gelap yang baru dikenakannya. "Hoeveel kost het alles?" tanya Andersen dalam bahasa Belanda yang cukup fasih, mengejutkan Seila yang berdiri di sampingnya.
"Seribu enam ratus Euro, Tuan," jawab wanita kasir itu dengan ramah sembari memindai barang-barang di layar monitor.
Seila tersentak mendengar nominal tersebut. Ia segera merogoh tas kecilnya dengan terburu-buru. "Andersen, tunggu! Biar aku saja yang bayar, ini kan hadiah dariku!" gerutunya dengan wajah panik.
Namun, Andersen sudah lebih dulu menyodorkan ponselnya, menunjukkan kode QR pembayaran yang langsung dipindai oleh sang kasir dengan suara pip yang nyaring.
Seila mendengus kesal, bibirnya sedikit mengerucut. Andersen tahu persis, meski Seila adalah putri seorang yang memiliki pengaruh, ia tidak membawa uang tunai atau saldo sebanyak itu di dompet harian yang ia bawa ke pasar.
"Tidak apa-apa, Shel," ucap Andersen dengan suara rendah yang menenangkan.
Tanpa diduga, Andersen mengangkat tangan kanannya. Dengan gerakan yang sangat lembut, ia menangkup kedua pipi Seila, memaksa gadis itu untuk berhenti menggerutu dan menatap langsung ke matanya.
Ibu jari Andersen mengusap permukaan kulit pipi Seila yang masih terasa dingin karena udara luar, namun perlahan mulai menghangat akibat rona merah yang muncul.
Andersen sedikit merunduk, mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa inci. Seila terpaku, napasnya tertahan di tenggorokan.
Jantungnya berdegup kencang hingga ia takut wanita kasir itu bisa mendengarnya. Karena terkejut sekaligus malu yang luar biasa, Seila segera memalingkan wajahnya ke arah deretan manekin di sudut toko.
Wanita kasir itu memperhatikan interaksi mereka dengan senyum simpul yang penuh arti. Ia mencetak struk belanjaan dan menyerahkannya kepada Andersen. "Ini struknya, Tuan," ucapnya sambil melirik Seila yang masih salah tingkah. "Beruntung sekali gadis Anda memiliki pria yang sangat perhatian."
Andersen menerima kertas itu dengan senyum tipis, sementara Seila hanya bisa menunduk dalam-dalam, berharap lantai toko itu bisa menelannya saat itu juga.
Pagi itu, langit Utrecht berwarna biru pucat saat Seila dan Andersen melangkah memasuki gerbang sekolah baru mereka.
Bangunan utamanya memadukan kemegahan arsitektur neoklasik dengan sentuhan modernitas minimalis. Jendela-jendela kaca besar memantulkan cahaya matahari pagi, memberikan aura mewah namun tetap rendah hati... khas sekolah-sekolah elite di Eropa Barat.
"Halaman sekolah ini sangat luas..." gumam Andersen dalam benaknya. Ia menatap hamparan taman yang tertata rapi. Andersen dan Seila berjalan berdampingan di tengah arus siswa dari berbagai negara yang bercakap-cakap dalam beragam bahasa.