NovelToon NovelToon
Istriku Ratu Iblis Dunia Murim

Istriku Ratu Iblis Dunia Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mafia / Time Travel / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Kang Yun-seo, seorang pemuda biasa dari dunia modern yang doyan main game, tiba-tiba terbangun di dunia Murim yang penuh intrik dan seni bela diri. Ia dipanggil oleh Hwang Yehwa, ratu iblis yang sekarat akibat pengkhianatan, dan kini kehilangan kekuatannya, berubah wujud menjadi manusia biasa. Untuk bertahan di wilayah manusia yang memusuhi iblis, Yun-seo harus berpura-pura sebagai suaminya. Dengan pengetahuan modernnya, Yun-seo beradaptasi di akademi pedang, menghadapi turnamen, konspirasi gelap, dan bangkitnya kekuatan iblis, sambil menumbuhkan ikatan tak terduga dengan ratu dingin itu. Sebuah kisah isekai penuh aksi, komedi, dan romansa di antara dua dunia yang bertabrakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: NAMA PALSU

Perjalanan hari pertama terasa seperti mimpi buruk bagi Yun-seo.

Pantatnya sakit. Pinggangnya pegal. Pahanya perih tergesek pelana kuda yang keras. Ia sudah berganti posisi puluhan kali—miring kiri, miring kanan, duduk tegak, membungkuk—tapi tidak ada posisi yang nyaman.

"Aduh," erangnya pelan. "Ini siksaan."

Di depannya, Yehwa duduk dengan sempurna. Punggung tegak, bahu rileks, tubuh mengikuti irama langkah kuda dengan alami. Ia seperti lahir di atas kuda.

"Kau mengeluh terus," kata Yehwa tanpa menoleh. "Sudah tiga jam kau mengeluh."

"Karena sakit, njeng!"

Yehwa mendengus. "Dasar manusia lemah. Di alam iblis, anak umur lima tahun sudah bisa naik kuda perang."

"Untunglah aku bukan anak umur lima tahun alam iblis."

Di belakang mereka, salah satu prajurit terkekeh. "Tahan, Nak. Besok kau akan terbiasa. Atau mati rasa, salah satunya."

Yun-seo meringis. "Terima kasih, sangat menenangkan."

Rombongan Jin-ho terdiri dari sekitar lima puluh prajurit. Dua puluh di antaranya berkuda, sisanya berjalan kaki. Mereka membawa beberapa gerobak logistik—makanan, senjata cadangan, tenda. Di sepanjang jalan, Yun-seo mengamati pemandangan dengan rasa ingin tahu.

Dunia Murim ini... indah sekaligus menyeramkan.

Hutan di kiri kanan jalan dipenuhi pohon-pohon raksasa dengan daun berwarna hijau tua kebiruan. Di kejauhan, gunung menjulang dengan puncak tertutup awan. Kadang mereka melewati desa-desa kecil—rumah kayu beratap jerami, sawah bertingkat, anak-anak berlarian tanpa alas kaki. Penduduk desa akan berhenti, menatap rombongan prajurit dengan campuran hormat dan takut, lalu membungkuk dalam-dalam.

"Murim," gumam Yun-seo. "Jadi ini rasanya dunia persilatan beneran."

"Apa?" Yehwa menoleh.

"Nggak. Cuma... takjub. Di duniaku, cerita kayak gini cuma ada di film dan game."

Yehwa mengerutkan kening. "Kau aneh. Sering bicara sendiri."

"Biasa aja tuh."

"Biasa menurut standar duniamu?"

"Mungkin."

Yehwa diam sebentar, lalu bertanya, "Ceritakan tentang duniamu."

Yun-seo terkejut. "Serius?"

"Aku penasaran. Manusia dari dunia lain yang dipanggil cincinku. Pasti duniamu sangat berbeda."

Yun-seo berpikir sejenak, lalu mulai bercerita. Tentang Korea Selatan, tentang gedung pencakar langit di Seoul, tentang kereta bawah tanah yang melesat cepat, tentang internet yang menghubungkan miliaran manusia, tentang pesawat terbang yang bisa melintasi lautan dalam hitungan jam.

Yehwa mendengarkan dengan saksama. Kadang alisnya terangkat, kadang matanya melebar.

"Kalian terbang di dalam burung besi?" tanyanya tidak percaya.

"Bukan burung. Pesawat. Mesin."

"Dan kalian bisa bicara dengan orang di seberang lautan hanya dengan alat kecil?"

"Handphone. Iya."

Yehwa diam, mencerna. Lalu, dengan nada getir, "Tidak heran manusia bisa mengalahkan iblis. Kalian punya teknologi yang bahkan tidak bisa kupahami."

"Hei, tenang. Ini bukan kompetisi. Dan di duniaku, iblis cuma ada di cerita."

"Beruntung kalian."

Yun-seo merasakan kepahitan dalam suaranya. Ia ingin menghibur, tapi tidak tahu harus berkata apa. Akhirnya ia hanya diam, membiarkan Yehwa menatap hamparan hutan yang lewat.

---

Menjelang sore, rombongan berhenti di sebuah lapangan dekat sungai.

Para prajurit mulai mendirikan tenda, menyalakan api unggun, dan menyiapkan makanan. Yun-seo turun dari kuda dengan gerakan kaku—ia hampir jatuh tersungkur kalau tidak ditahan Yehwa.

"Hati-hati," kata Yehwa dingin. Tapi tangannya memegang lengan Yun-seo cukup lama.

"Makasih."

Mereka duduk di dekat api unggun bersama prajurit lainnya. Suasana mulai santai. Beberapa prajurit bercanda, yang lain bercerita tentang pengalaman perang. Seorang prajurit muda—mungkin baru 18 tahun—memberi mereka roti kering dan sup sayur.

"Ini saja yang ada," katanya malu-malu. "Maaf kalau tidak enak."

"Terima kasih," jawab Yun-seo hangat. "Kami sangat menghargai."

Prajurit muda itu tersenyum, lalu berlari kembali ke kelompoknya.

Yehwa menatap Yun-seo dengan tatapan aneh. "Kau ramah sekali pada manusia."

"Mereka manusia. Aku juga manusia. Wajar."

"Tapi mereka musuh bangsaku."

Yun-seo menghela napas. "Dengar, Yehwa. Aku tahu kau benci manusia. Tapi di sini, kau harus bertahan. Dan untuk bertahan, kau butuh mereka. Setidaknya, jangan tunjukkan kebencianmu."

"Aku tahu." Yehwa menunduk. "Aku tidak bodoh. Hanya... sulit."

"Aku ngerti."

Mereka makan dalam diam. Supnya sederhana—sayuran dan potongan daging asin—tapi hangat dan mengenyangkan. Yun-seo menyendoknya pelan, menikmati kehangatan di tengah udara sore yang mulai dingin.

Dari seberang api unggun, Jin-ho duduk bersama beberapa perwiranya. Tatapannya sesekali mengarah ke mereka. Yun-seo pura-pura tidak melihat, tapi dalam hati waspada.

Prajurit bermata satu itu terlalu jeli.

---

Malam semakin dalam.

Para prajurit mulai masuk ke tenda masing-masing. Hanya dua orang yang berjaga di pinggir perkemahan. Yun-seo dan Yehwa diberi satu tenda kecil—hanya cukup untuk dua orang tidur beralas tikar.

"Ini... canggung," gumam Yun-seo di luar tenda.

Yehwa sudah masuk lebih dulu, duduk bersila di sudut dengan punggung tegak. Ia menatap Yun-seo. "Masuklah. Kau kedinginan."

Yun-seo ragu, tapi udara malam memang mulai menusuk tulang. Ia masuk, duduk di sudut berlawanan.

Mereka diam. Hanya suara jangkrik dan gemericik sungai terdengar.

"Kau takut?" tanya Yehwa tiba-tiba.

"Apa?"

"Takut padaku. Aku iblis."

Yun-seo berpikir. "Jujur? Awalnya iya. Waktu pertama lihat kau dengan tanduk dan sayap, aku hampir pipis di celana."

Yehwa mengerutkan kening. "Pipis?"

"Eh, buang air kecil. Pokoknya takut banget." Yun-seo tertawa kecil. "Tapi sekarang? Mungkin nggak. Kau kelihatan... manusiawi."

Yehwa menatapnya lama. "Kau aneh."

"Udah sering dibilang gitu."

"Di alam iblis, tidak ada yang berani bicara santai padaku. Semua takut, semua tunduk. Aku ratu. Aku penguasa." Suaranya pelan. "Tapi kau... kau bicara padaku seperti... teman."

Yun-seo mengangkat bahu. "Karena di duniaku, nggak ada ratu. Yang ada cuma selebriti dan idol K-pop. Mereka juga dipuja-puja, tapi kalau ketemu langsung, ya biasa aja."

"K-pop?"

"Lain kali kujelasin. Pokoknya, intinya kau manusia sekarang. Mungkin... kau bisa coba nikmati jadi manusia. Untuk sementara."

Yehwa diam. Lalu, untuk pertama kalinya, ia tersenyum—bukan senyum sinis atau diplomatis, tapi senyum kecil yang tulus.

"Mungkin."

Yun-seo membalas senyum. Lalu menguap lebar. "Ah, maaf. Capek banget hari ini."

"Tidurlah."

"Kau nggak tidur?"

"Aku akan berjaga. Biasakan tidur dengan satu mata terbuka."

Yun-seo menggeleng. "Di sini aman. Kau juga perlu istirahat."

"Aku tidak bisa tidur di dekat—" Yehwa berhenti.

"Di dekat manusia?"

Yehwa mengangguk pelan.

Yun-seo menghela napas. "Kalau gitu, aku tidur di luar."

Ia bangkit, tapi tangan Yehwa meraih pergelangannya. Cepat, seperti refleks.

"Jangan." Suaranya pelan. "Di luar dingin. Kau bisa sakit."

Yun-seo menatapnya. Yehwa menatap balik. Beberapa detik mereka diam, saling pandang.

"Tapi kau—"

"Aku akan coba." Yehwa melepas tangannya. "Untuk malam ini. Aku akan coba."

Yun-seo duduk kembali. Ia merebahkan diri di tikar, memunggungi Yehwa—memberinya privasi. "Selamat malam, Yehwa-ssi."

"Selamat malam... suami palsu."

Yun-seo tersenyum dalam gelap.

---

Pagi datang terlalu cepat.

Yun-seo terbangun dengan sensasi hangat di punggungnya. Ia menoleh pelan dan mendapati Yehwa tidur meringkuk di sampingnya, tangannya secara refleks meraih lengan Yun-seo seperti anak kecil mencari kehangatan.

Wajahnya tenang. Bebas dari ketegangan yang biasa menghiasinya. Untuk pertama kalinya, Yun-seo melihat sisi lain ratu iblis itu—sisi rentan yang mungkin tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.

Yun-seo tidak berani bergerak. Ia takut membangunkan Yehwa dan merusak momen damai ini.

Tapi nasib berkata lain.

"Hei, kalian sudah bangun?" Suara prajurit muda dari luar membuat Yehwa tersentak bangun. Matanya terbuka lebar, langsung waspada. Ia menatap Yun-seo, lalu ke posisi mereka—tangannya masih di lengan Yun-seo.

Wajahnya merah padam.

Ia menarik tangan cepat-cepat, membalikkan badan memunggungi Yun-seo.

"Aku... hanya... dingin," gumamnya terbata.

Yun-seo tersenyum. "Iya, aku tahu."

"Jangan tertawa!"

"Aku nggak tertawa."

"Kau tertawa dalam hati!"

Yun-seo terkekeh pelan. "Ayo mandi. Kita harus bersiap."

Mereka keluar tenda dengan wajah canggung. Yehwa berusaha terlihat dingin seperti biasa, tapi pipinya masih merah. Beberapa prajurit menyapa dengan ramah, tidak menyadari keanehan di antara pasangan palsu itu.

Di sungai, Yun-seo membasuh muka. Airnya dingin, menyegarkan. Ia memandang bayangannya sendiri di permukaan air.

"Kang Yun-seo, kau tinggal di dunia asing, jadi suami palsu ratu iblis, dan sekarang mulai punya perasaan aneh. Apa nggak terlalu cepat?"

Tapi hati tidak pernah bisa diatur.

---

Perjalanan hari kedua dimulai.

Yun-seo naik kuda dengan posisi lebih baik—pantatnya sudah mati rasa, jadi tidak terlalu sakit. Yehwa di depan, diam seperti biasa. Tapi Yun-seo merasakan ada yang berbeda. Yehwa tidak sekaku kemarin. Kadang ia menoleh, memastikan Yun-seo tidak jatuh.

Di tengah perjalanan, Jin-ho menyusul mereka dengan kudanya.

"Kang Yun-seo, Hwang Yehwa. Kita akan tiba di Ibu Kota besok sore. Kalian harus siap."

"Siap untuk apa?" tanya Yun-seo.

"Pemeriksaan identitas. Di Ibu Kota, semua penduduk harus terdaftar. Kalian butuh surat identitas baru." Jin-ho menatap mereka tajam. "Kau bilang dari desa Gunung Yongdu, benar?"

Yun-seo mengangguk, meski dalam hati panik. Ia tidak tahu apa-apa tentang desa itu.

"Nama desa kalian?" tanya Jin-ho.

Yehwa menjawab cepat, "Sancheong. Desa kecil di lereng timur, dekat air terjun."

Jin-ho mengerutkan kening. "Kau tahu persis."

"Aku lahir di sana, Tuan. Sebelum diculik iblis." Suara Yehwa stabil. "Masih ingat setiap sudutnya. Rumahku di dekat pohon beringin tua, dekat sawah milik keluarga Park."

Yun-seo terkejut. Yehwa tidak hanya tahu nama desa, tapi detailnya?

Jin-ho mengangguk, tampak puas. "Bagus. Itu akan memudahkan pemeriksaan." Ia menatap Yehwa dengan rasa hormat baru. "Kau wanita kuat, Nyonya Hwang. Bertahun-tahun ditawan, tapi masih ingat kampung halaman."

Yehwa menunduk sopan. "Kampung halaman adalah satu-satunya yang membuatku bertahan, Tuan."

Setelah Jin-ho pergi, Yun-seo berbisik, "Kau tahu desa itu dari mana?"

"Aku baca laporan intelijen. Dinasti Iblis punya data tentang desa-desa manusia yang diserang. Sancheong dihancurkan sepuluh tahun lalu, semua penduduk mati. Aman dipakai."

Yun-seo merinding. Yehwa tidak hanya cantik dan kuat, tapi juga cerdas dan licik. Pantas ia bisa bertahan 200 tahun sebagai ratu.

"Kau hebat," bisiknya tulus.

Yehwa menoleh, alis terangkat. "Baru sadar?"

Mereka tersenyum—untuk pertama kalinya, benar-benar tersenyum bersama.

---

Sore harinya, rombongan melewati sebuah desa yang masih dalam proses pembangunan kembali.

Beberapa rumah baru setengah jadi. Penduduk sibuk mengangkut kayu dan batu. Di pinggir jalan, seorang nenek tua duduk di kursi rotan, menatap kosong ke kejauhan.

Yun-seo bertanya pada prajurit di sampingnya, "Desa apa itu?"

"Desa Hwangchon. Dihancurkan iblis tiga tahun lalu. Baru mulai dibangun lagi tahun ini." Prajurit itu menghela napas. "Banyak korban. Keluarga hancur."

Yun-seo menatap Yehwa. Wajah ratu iblis itu tidak terbaca. Tapi Yun-seo bisa merasakan tubuhnya menegang.

Di balik topeng dinginnya, mungkin Yehwa juga bergulat dengan perasaan bersalah. Perang ini bukan salah satu pihak. Semua jadi korban.

Malam itu, saat istirahat, Yehwa lebih pendiam dari biasanya. Ia duduk sendiri di pinggir sungai, memandangi bulan yang mulai naik.

Yun-seo mendekat, duduk di sampingnya tanpa bicara.

Beberapa menit berlalu.

"Aku tidak pernah menyuruh mereka membunuh warga sipil," kata Yehwa tiba-tiba. "Perangku dengan Aliansi Murim, bukan dengan rakyat biasa. Tapi prajurit iblis... mereka tidak selalu patuh. Apalagi setelah aku lemah."

Yun-seo diam, membiarkannya bicara.

"Mereka bilang aku ratu kejam. Tapi aku tidak pernah ingin perang ini. Aku hanya ingin bangsaku hidup damai, tanpa dikejar-kejar manusia." Suaranya bergetar. "Tapi manusia tidak pernah memberi kami kesempatan."

"Apa yang terjadi?"

Yehwa menarik napas panjang. "Dulu, iblis dan manusia hidup berdampingan. Seribu tahun lalu, ada kesepakatan—iblis di alam mereka, manusia di sini. Tapi manusia selalu serakah. Mereka ingin kekuatan iblis, ingin menjadikan kami budak. Perang pecah. Kami mundur ke alam iblis, menutup pintu." Ia mengepalkan tangan. "Lalu sepuluh tahun lalu, pintu itu dibuka paksa. Bukan oleh kami, tapi oleh manusia. Penguasa Kegelapan, katanya. Ia membuka celah dan mengirim prajuritnya untuk menyerang kami. Kami membela diri. Dan manusia menyebut kami penyerbu."

Yun-seo terdiam. Cerita selalu punya dua sisi.

"Maaf," katanya akhirnya.

"Kau tidak perlu minta maaf. Kau tidak terlibat." Yehwa menatapnya. "Tapi kau manusia pertama yang mau mendengar cerita dari sisiku."

"Karena aku netral. Aku bukan dari dunia ini."

"Mungkin itu sebabnya." Yehwa tersenyum tipis. "Atau mungkin karena kau memang bodoh."

Yun-seo tertawa. "Mungkin."

Mereka duduk bersama di bawah rembulan, dua makhluk dari dunia berbeda, berbagi keheningan yang nyaman.

---

1
Amiera Syaqilla
hello author😄
Q. Zlatan Ibrahim: halo juga terimalasih sudah mampir
total 1 replies
Manusia Biasa
emang manusia kadang lebih dari iblis
Q. Zlatan Ibrahim: seringkali
total 1 replies
Manusia Biasa
wkwkw ngakak gua baca sandiwaranya, lucu🗿😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!