Bagi orang lain, ia adalah definisi kemandirian yang sempurna. Namun, di balik punggungnya yang tegap, tersimpan luka yang tak pernah dipeluk siapa pun.
Ia tumbuh dalam rumah yang penuh, tetapi merasa seperti yatim piatu di tengah hiruk-pikuknya. Sejak kecil, ia dipaksa menelan rindu pada orang tua yang merantau, hanya untuk kembali dan mendapati dirinya sebagai orang asing yang selalu salah. Tanpa pembelaan, tanpa kasih sayang, ia belajar satu hal: satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.
Namun, sampai kapan seseorang bisa terus menjadi "langit" yang kokoh tanpa pernah runtuh? Ketika semua keinginan harus dipenuhi sendiri dan setiap air mata harus disembunyikan, ia mulai kehilangan jejak akan perasaannya sendiri.
Di rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan, ia justru tenggelam dalam kesepian yang paling sunyi. Mampukah ia menemukan jalan pulang ke dirinya sendiri, ataukah ia akan terus menopang langit itu sampai hancur berkeping-keping?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Setelah menempuh penerbangan pagi yang melelahkan, Pradipta melangkah keluar dari lift lantai eksekutif kantor pusat di Jakarta dengan aura yang mencekam. Kemeja putihnya yang tadi pagi masih sedikit kusut karena terburu-buru, kini sudah diganti dengan setelan jas custom-made berwarna abu-abu gelap yang memberikan kesan otoritas mutlak.
Rina, sekretarisnya, sudah menunggu di depan pintu ruang rapat besar dengan wajah yang sangat pucat. "Pak, mereka sudah di dalam sejak sepuluh menit yang lalu. Suasananya sangat panas."
Pradipta tidak menjawab. Ia hanya mengangguk singkat, membetulkan letak jam tangannya, dan mendorong pintu ganda kayu jati itu dengan satu hentakan tegas.
Sepuluh pasang mata dewan komisaris langsung tertuju padanya. Di ujung meja, duduk Pak Surya, salah satu komisaris paling senior yang juga merupakan rekan lama ayah Pradipta yang sekarang sudah pensiun
"Akhirnya sang CEO tiba," sindir Pak Surya sambil melempar sebuah koran bisnis ke tengah meja. "Bisa Anda jelaskan kenapa proyek akuisisi di Kalimantan bocor ke kompetitor saat Anda sedang 'asyik' meninjau proyek kecil di Bali?"
Pradipta duduk di kursi kebesarannya, menyandarkan punggung dengan tenang, sangat kontras dengan ketegangan di ruangan itu. "Proyek di Bali bukan proyek kecil, Pak Surya. Itu adalah wajah baru perusahaan kita di sektor pariwisata. Dan soal kebocoran data..."
Pradipta memberi kode pada Rina. Seketika, layar proyektor menampilkan diagram arus komunikasi internal perusahaan.
"Data itu tidak bocor dari Bali. Data itu bocor dari salah satu perangkat di ruangan ini," lanjut Pradipta dengan suara rendah yang mengancam. "Saya sudah meminta tim IT dan firma hukum saya untuk melacak jejak digitalnya sejak saya masih di atas pesawat tadi."
Suasana ruangan mendadak hening. Beberapa komisaris mulai gelisah di kursi mereka.
Di tengah perdebatan sengit mengenai angka kerugian dan langkah hukum, pikiran Pradipta sempat melayang kembali ke tebing Uluwatu. Ia teringat pesan singkat dari Alana: "Aku sudah melakukannya, Dipta."
Senyum tipis yang nyaris tak terlihat muncul di sudut bibirnya, membuat para komisaris bingung. Mereka mengira Pradipta sedang menertawakan gertakan mereka, padahal pria itu sedang merasa bangga pada wanita yang terpaku di hatinya.
"Pak Pradipta! Apakah Anda mendengarkan?" tegur Pak Surya keras.
Pradipta kembali fokus, tatapannya berubah sedingin es. "Saya dengar. Dan ini keputusan saya: Audit internal akan dimulai jam satu siang ini. Siapa pun yang terlibat, saya tidak peduli berapa lama Anda sudah berada di perusahaan ini, Anda akan keluar dengan tangan diborgol."
Ia berdiri, menutup laptopnya dengan suara keras. "Meeting selesai. Saya punya urusan yang lebih penting untuk diurus."
Pradipta melangkah keluar dari ruang rapat dengan langkah lebar, mengabaikan gumaman protes para komisaris yang masih tertahan di dalam. Rina setengah berlari mengikutinya dari belakang, mencoba menyamai ritme langkah sang CEO yang tampak sangat terburu-buru.
Begitu pintu ruang kerja pribadinya tertutup rapat, Pradipta tidak langsung duduk di kursi kebesarannya. Ia berdiri menghadap jendela besar yang menampilkan kemacetan Jakarta, namun pikirannya masih tertinggal di pesisir Bali.
"Rina," panggil Pradipta tanpa menoleh.
"Iya, Pak?" jawab Rina sigap, sambil menyiapkan catatan untuk instruksi audit selanjutnya.
Pradipta terdiam sejenak, tampak ragu, sesuatu yang sangat jarang terjadi pada seorang pria sepertinya. Ia berdehem kecil sebelum akhirnya berbalik. "Menurutmu... perempuan seperti Bu Alana, apa yang biasanya dia sukai?"
Rina tertegun. Pena di tangannya hampir saja terjatuh. Ia mengerjapkan mata berkali-kali, memastikan bahwa bosnya yang berhati dingin ini baru saja bertanya tentang preferensi seorang wanita.
"Maksud Bapak... hadiah?" tanya Rina hati-hati.
"Sesuatu yang bisa membuatnya merasa dihargai. Bukan sebagai karyawan, tapi sebagai... dirinya sendiri," gumam Pradipta sambil memijat pangkal hidungnya. "Dia sudah terlalu lama dipaksa menjadi kuat. Aku ingin memberinya sesuatu yang lembut, tapi tidak berlebihan."
Rina tersenyum tipis, mulai memahami arah pembicaraan ini. "Kalau Bu Alana, saya rasa dia bukan tipe yang suka barang branded yang mencolok, Pak. Wanita setangguh dia biasanya lebih tersentuh dengan perhatian pada hal-hal kecil. Sesuatu yang membuatnya merasa 'didengar'."
Pradipta menyimak dengan saksama, jauh lebih serius daripada saat mendengarkan laporan keuangan tadi.
"Mungkin bunga dengan warna yang menenangkan, atau makanan favorit yang bisa membuatnya rileks setelah seharian di debu proyek," saran Rina lagi. "Atau mungkin... sebuah kejutan yang membuatnya tahu bahwa ada seseorang yang siap pasang badan untuknya tanpa dia minta."
Pradipta mengangguk perlahan. "Kirimkan bunga lily putih dan blue hydrangea ke hotelnya di Bali sore ini. Pastikan bunganya segar. Dan pesan satu paket perawatan spa terbaik di resort tempat dia menginap untuk nanti malam. Katakan itu 'apresiasi' dari kantor agar dia tidak menolaknya."
"Baik, Pak. Atas nama perusahaan?"
"Tidak," potong Pradipta cepat. "Kirimkan tanpa nama perusahaan. Biarkan dia menebak sendiri siapa pengirimnya."
Setelah Rina keluar, Pradipta kembali menatap ponselnya. Ia ingin sekali menelepon Alana, namun ia tahu wanita itu sedang sibuk di lapangan. Ia hanya bisa berharap, di tengah carut-marut masalah keluarga dan tekanan proyek, Alana bisa sedikit tersenyum hari ini.
"Kamu sudah terlalu lama mengurus orang lain, Alana," bisik Pradipta pada keheningan ruangannya. "Sekarang, biarkan aku yang mengurusmu."