NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Pewaris Terkaya Yang Diremehkan

Istri Kontrak Pewaris Terkaya Yang Diremehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Laskar Bintang

Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Alina menerima pernikahan kontrak dengan pewaris konglomerat yang dingin dan kejam. Di mata semua orang, ia hanyalah wanita murahan yang menikah demi uang.

Tak ada yang tahu, Alina sebenarnya pewaris keluarga finansial terbesar yang sengaja menyembunyikan identitasnya.

Saat kontrak hampir berakhir dan rahasianya terbongkar, sang suami justru jatuh cinta. Kini, ketika kebenaran terungkap siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan siapa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laskar Bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan yang Tersisa

Pengunduran diri Bima membawa ketenangan yang semu.

Secara formal, dewan kembali solid. Investor mengirim sinyal positif. Media tak lagi menggali isu lama. Proyek domestik yang sempat tertunda akhirnya diluncurkan dengan respons yang cukup baik.

Di atas kertas, semuanya membaik.

Namun Alina tahu, setelah badai besar berlalu, selalu ada puing yang tertinggal.

Dan puing itu kadang lebih berbahaya daripada badai itu sendiri.

Dua minggu setelah pengunduran diri Bima, sebuah email anonim kembali muncul di inbox pribadinya.

Bukan ancaman.

Bukan peringatan.

Hanya satu kalimat pendek.

Kau pikir dia satu-satunya?

Alina membaca pesan itu berulang kali.

Tidak ada lampiran.

Tidak ada petunjuk identitas.

Hanya kalimat itu.

Ia tidak langsung memberi tahu Arsen. Tidak karena ingin menyembunyikan, tetapi karena ia ingin memahami lebih dulu apakah ini sekadar provokasi atau sesuatu yang nyata.

Namun kalimat itu menancap di pikirannya sepanjang hari.

Kau pikir dia satu-satunya?

Apakah memang ada yang lain?

Sore itu, Alina memanggil kepala divisi audit internal.

“Kita perlu meninjau ulang semua transaksi dewan pra-merger,” katanya tanpa basa-basi.

Pria itu terlihat terkejut. “Semua?”

“Semua.”

“Termasuk yang tidak menunjukkan anomali?”

“Ya.”

Ia tidak menjelaskan soal email itu.

Ia hanya mengandalkan instingnya.

Insting yang selama ini jarang salah.

Malamnya, Arsen menemukan Alina masih duduk di ruang kerja dengan laptop terbuka.

“Kau belum berhenti sejak siang,” katanya pelan.

Alina menutup layar dan menghela napas.

“Ada sesuatu yang belum selesai.”

Arsen duduk di hadapannya.

“Apa lagi?”

Ia ragu sejenak sebelum akhirnya menunjukkan email itu.

Arsen membacanya dengan wajah datar.

“Kau pikir ini nyata?”

“Aku tidak tahu.”

“Bisa saja hanya upaya membuatmu terus waspada.”

“Justru itu yang membuatnya efektif,” jawab Alina pelan.

Arsen terdiam.

“Kau tidak bisa terus hidup dalam mode perang,” katanya akhirnya.

Alina menatapnya.

“Aku tidak hidup dalam perang.”

“Kau yakin?”

Pertanyaan itu membuatnya terdiam lebih lama dari yang ia kira.

Beberapa hari kemudian, audit tambahan menemukan sesuatu yang tidak besar tapi cukup mengganggu.

Seorang anggota dewan senior, yang selama ini netral, pernah menyetujui kontrak kerja sama dengan perusahaan yang ternyata memiliki afiliasi politik tertentu.

Tidak ilegal.

Namun konflik kepentingan potensial.

Nama itu membuat Alina menghela napas pelan.

Pak Surya.

Orang yang selama ini terlihat paling stabil dan bijak.

Ia tidak ingin mempercayainya begitu saja.

Maka ia memanggil Pak Surya secara pribadi.

Pertemuan berlangsung di ruang kecil, tanpa notulen resmi.

Pak Surya duduk dengan tenang, seperti biasa.

“Ada yang ingin Anda bicarakan?” tanyanya lembut.

Alina membuka map tipis di depannya.

“Kontrak kerja sama dengan Sagara Konsulting tiga tahun lalu.”

Pak Surya tidak langsung bereaksi.

“Saya ingin klarifikasi tentang hubungan kepemilikan perusahaan itu.”

Ada jeda.

Pak Surya menghela napas panjang.

“Itu perusahaan milik teman lama saya.”

“Apakah dewan mengetahui hubungan itu saat kontrak disetujui?”

“Tidak secara formal.”

“Kenapa?”

Pak Surya menatapnya lama.

“Saya tidak merasa perlu. Nilainya kecil.”

Nilainya memang tidak besar.

Namun bukan soal jumlahnya.

“Ini soal prinsip,” kata Alina pelan.

Pak Surya tersenyum samar.

“Prinsip sering kali fleksibel dalam praktik.”

Kalimat itu membuat udara di ruangan terasa lebih berat.

Alina pulang dengan perasaan campur aduk.

Ia menghormati Pak Surya.

Bahkan sempat menganggapnya sebagai penyeimbang di tengah konflik.

Namun kenyataan tidak selalu sesuai harapan.

Arsen mendengarkan ceritanya tanpa menyela.

“Kau akan melakukan hal yang sama seperti pada Bima?” tanyanya akhirnya.

Alina menatap kosong ke arah meja makan.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena ini berbeda.”

“Dalam hal apa?”

“Intensi.”

Arsen mengangkat alis.

“Bukankah prinsip tetap prinsip?”

Alina terdiam.

Ia tahu Arsen benar.

Namun kepemimpinan bukan hanya soal hitam dan putih.

Ini juga soal konteks.

“Pak Surya tidak memperkaya diri sendiri,” katanya pelan. “Tapi ia tetap melanggar standar transparansi.”

Arsen menyandarkan tubuhnya.

“Jadi?”

“Aku akan meminta ia mengumumkan konflik kepentingan itu secara terbuka di rapat berikutnya. Dan kita buat kebijakan baru yang lebih ketat.”

Arsen menatapnya dalam.

“Kau memilih memperbaiki, bukan menghukum.”

“Aku tidak ingin perusahaan ini dipimpin oleh rasa takut.”

Rapat berikutnya berlangsung tenang.

Pak Surya secara sukarela mengakui hubungan lamanya dengan Sagara Konsulting dan menyatakan penyesalan karena tidak mengungkapkannya sejak awal.

Beberapa anggota dewan tampak terkejut.

Namun tidak ada perlawanan.

Alina kemudian mengumumkan kebijakan baru mengenai deklarasi konflik kepentingan.

Transparansi penuh.

Tanpa pengecualian.

Ruang rapat terasa berbeda setelah itu.

Bukan karena ancaman.

Melainkan karena batas baru telah ditarik.

Malam itu, ketika semuanya kembali sunyi, Alina berdiri di depan cermin kamar.

Ia memandang bayangannya sendiri.

Perempuan yang dulu menikah demi kontrak.

Perempuan yang menyembunyikan identitasnya.

Perempuan yang kini berdiri di puncak perusahaan dengan segala tekanan di pundaknya.

Ia menyadari sesuatu yang sederhana namun berat—

Kekuasaan bukan hanya tentang mengalahkan musuh.

Tapi tentang menjaga diri agar tidak berubah menjadi mereka.

Arsen muncul di belakangnya dan memeluknya lembut.

“Kau terlihat lelah,” bisiknya.

“Aku hanya berpikir.”

“Tentang?”

“Apakah semua ini sepadan.”

Arsen menolehkan wajahnya agar mereka saling memandang melalui pantulan cermin.

“Jika kau berhenti sekarang, apakah kau akan menyesal?”

Alina memikirkan itu.

Ia membayangkan hidup tanpa rapat dewan, tanpa tekanan investor, tanpa ancaman anonim.

Lalu ia membayangkan perusahaan ini dipimpin oleh orang yang tidak peduli pada integritas.

Ia tahu jawabannya.

“Ya,” katanya pelan. “Aku akan menyesal.”

Arsen tersenyum kecil.

“Kalau begitu teruskan.”

Alina menarik napas dalam.

Bayangan di cermin tampak lebih tegas.

Badai besar mungkin sudah berlalu.

Pengkhianatan sudah dihadapi.

Serangan sudah dibalas.

Namun ia kini memahami satu hal yang lebih dalam

Ancaman terbesar bukan selalu datang dari luar.

Kadang ia muncul sebagai bayangan samar di antara sekutu.

Dan tugasnya bukan hanya menyingkirkan bayangan itu.

Melainkan memastikan cahaya yang ia nyalakan cukup terang untuk membuat siapa pun berpikir dua kali sebelum kembali bermain dalam gelap.

(BERSAMBUNG)

1
Laskar Bintang
tolong untuk semua fans dukung novel ini yaa dan baca sampe tamat terimakasih 🙏
Osie
mampir nih..baca sipnosis sepertinya seru..so lanjut baca dan moga ini cerita gak ngegantung kayak jemuran 🙏🙏
Nia nurhayati
mampirrr thorr
Lusi Sabila
kayaknya seru nih.. buat bucin yaa Thor tuh yg dingin kayak kulkas 10 pintu Arsen 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!