Di tengah beban hidup yang menghimpit, Xiao Han— pemuda 22 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, berjuang mati-matian menghidupi ibunya yang lumpuh serta membiayai pendidikan adik perempuannya yang baru kelas 1 SMP. Gaji sebagai tukang antar surat tak pernah cukup untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.
Dengan putus asa namun tekad kuat, Xiao Han akhirnya membuka jasa panggilan pria, dan mempromosikannya secara diam-diam di media sosial. Awalnya hanya sebagai cara bertahan hidup, layanan ini perlahan membawanya masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: pertemuan-pertemuan rahasia, rahasia klien, dan batasan moral yang terus diuji.
Hingga suatu malam, satu panggilan khusus datang, sebuah pengalaman yang tak terduga, penuh risiko, dan emosi yang mengubah segalanya. Pertemuan itu bukan hanya mengguncang hidupnya saat ini, melainkan juga membuka pintu menuju masa depan yang akan mengubah kehidupannya secara drastis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Cahaya bulan memantul dari permukaan kolam koi yang biru lembut, membuat suasana halaman belakang rumah Rina Wijaya terasa seperti mimpi yang gelap dan menggoda. Rina berdiri telanjang di tepi kolam, tubuhnya yang berusia 40 tahun tetap memancarkan kecantikan luar biasa—kulitnya putih mulus seperti porselen, terawat dengan perawatan mahal seperti spa mingguan dan injeksi kolagen yang membuatnya tampak 10 tahun lebih muda. Payudaranya penuh dan tegas, naik-turun pelan mengikuti napasnya yang semakin cepat, dengan puting merah muda yang mengeras karena angin malam. Pinggangnya ramping, melengkung sempurna menuju pinggul yang berisi tapi kencang, hasil dari yoga dan pilates pribadi setiap pagi. Pahanya panjang dan atletis, otot-otot halus terlihat saat dia bergerak, dan danau surganya rapi terawat, ditumbuhi bulu halus yang tipis seperti kabut pagi. Rambut hitam panjangnya tergerai bebas, menyentuh punggung yang lurus dan halus, membuatnya terlihat seperti dewi feminin yang haus akan kendali.
Xiao Han berdiri di depannya, kemeja seragamnya sudah jatuh ke lantai batu tepi kolam. Tubuhnya atletis—bahu lebar, dada bidang dengan otot yang terbentuk dari kerja keras harian, perut rata dengan garis samar enam kotak, dan buah pisangnya sudah tegang karena godaan yang tak bisa dia abaikan sepenuhnya. Tapi matanya masih ragu.
“Mbak Rina… ini nggak—”
Rina tidak membiarkan dia selesai. Dengan gerakan ganas dan penuh kendali, dia mendorong dada Xiao Han kuat-kuat, membuat pria itu mundur sampai punggungnya menyentuh dinding batu tepi kolam. Mata Rina membara, seperti singa betina yang lapar.
“Jangan bicara. Kamu sudah dibayar. Sekarang biar aku yang kendalikan.”
Dia menekan tubuhnya ke tubuh Xiao Han, payudaranya yang penuh menekan dada pria itu, putingnya menggesek kulit yang panas. Tangan Rina turun cepat, menggenggam buah pisang Xiao Han dengan kuat, mengelusnya naik-turun dengan ritme kasar tapi ahli. Xiao Han mengerang pelan, tubuhnya bereaksi meski pikirannya menolak.
Rina mendorongnya lebih keras lagi, membuat Xiao Han duduk di tepi kolam, kakinya menyentuh air dingin. Wanita itu naik ke pangkuannya dengan cepat, kakinya membuka lebar, danau surganya langsung menekan buah pisang Xiao Han. Dia bergoyang pelan dulu, menggesek dengan ganas, napasnya terengah di telinga pria itu.
“Kamu kuat, ya? Tubuhmu enak sekali disentuh. Aku suka pria seperti kamu—muda, atletis, tapi bisa dikendalikan.”
Rina menekan bibirnya ke bibir Xiao Han, ciuman yang kasar dan mendominasi, giginya menggigit bibir bawah pria itu pelan tapi sakit. Tangan satunya meremas dada Xiao Han, kuku-kukunya meninggalkan bekas merah tipis. Dia naik-turun lebih cepat, danau surganya basah dan hangat, siap menelan buah pisang itu sepenuhnya.
Dengan satu dorongan kuat, Rina menurunkan tubuhnya, memasukkan buah pisang Xiao Han ke dalam dirinya dalam sekali gerak. Xiao Han mengerang keras, tangannya secara refleks memegang pinggul Rina. Wanita itu mulai bergerak ganas, naik-turun dengan ritme cepat dan mendominasi, pinggulnya berputar seperti sedang menghukum dan menikmati sekaligus. Payudaranya bergoyang liar di depan wajah Xiao Han, putingnya menggesek bibir pria itu setiap dorongan.
“Lebih keras… pegang aku lebih kuat!” desah Rina, suaranya seperti perintah. Tangan Xiao Han memegang pinggulnya lebih erat, membantu ritme, tapi Rina tetap yang mengendalikan—dia yang menentukan kecepatan, dia yang mengerang lebih keras, tubuhnya yang berkeringat dan berkilau di bawah cahaya bulan.
Rina membalikkan posisi dengan cepat, mendorong Xiao Han telentang di tepi kolam, air dingin menyentuh punggungnya. Wanita itu naik lagi, kali ini lebih liar, tangannya menekan dada Xiao Han, kuku-kukunya mencakar pelan. Napasnya semakin cepat, tubuhnya menegang, mendekati puncak.
Tapi tiba-tiba, suara benturan keras terdengar dari halaman belakang—seperti besi membentur batu, atau pagar yang dipaksa terbuka. Xiao Han langsung kaget, tubuhnya menegang bukan karena kenikmatan tapi karena insting keamanan.
“Mbak… ada suara!”
Dia buru-buru mendorong Rina pelan ke samping, berdiri cepat, dan meraih kemeja seragam basahnya dari lantai. Rina terengah, masih lelah tapi juga terkejut.
“Tunggu, Kak… itu pasti—”
Xiao Han tidak menunggu. Dia buru-buru memakai celana dan kemeja sambil berlari ke sumber suara, meninggalkan Rina yang masih telanjang di tepi kolam. Jantungnya berdegup kencang, pikiran langsung ke tugas utamanya: jaga rumah.
Di halaman belakang, di dekat pagar samping, dia melihat bayangan gelap bergerak. Seorang pencuri bertopeng hitam, pakaian serba hitam, terlihat sedang memasuki rumah melalui jendela kecil yang baru saja dibuka paksa.