NovelToon NovelToon
Reinkarnasi CEO Ke Dunia Murim

Reinkarnasi CEO Ke Dunia Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Saundra Handara

Wei Chen, CEO perusahaan teknologi dan energi terkemuka di Asia Tenggara, mati di usia 40 tahun karena diracun oleh rekan bisnisnya sendiri, Hartono Lim — orang yang selama 15 tahun ia percayai.

Namun takdir berkata lain. Wei Chen terbangun di tubuh seorang pemuda di dunia asing: Shenzhou, dunia Murim yang dihuni para kultivator, pedang terbang, dan klan-klan besar yang menguasai segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saundra Handara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SERANGAN DI TENGAH MALAM

Dua minggu setelah Guru Anta berangkat ke Gunung Es...

Malam itu, bulan bersinar terang. Langit cerah tanpa awan. Bintang-bintang bertaburan seperti permata di atas kain hitam.

Wei Chen duduk di beranda rumahnya, seperti biasa. Matanya menatap ke selatan, ke arah ibu kota. Ada firasat buruk di dadanya. Firasat yang tidak bisa dijelaskan.

Mei Ling keluar, membawa dua cangkir teh hangat. Dia duduk di samping Wei Chen, menyandarkan kepala di bahunya.

"Kau belum tidur?" tanyanya pelan.

"Tidak bisa."

"Pikirkan Hartono?"

Wei Chen mengangguk.

Mei Ling menghela napas. "Aku juga. Setiap malam aku doa, semoga dia tidak datang."

"Dia akan datang. Hanya masalah waktu."

Mei Ling diam. Tangannya meraih Wei Chen, menggenggam erat.

"Kalau dia datang, kita hadapi bersama."

Wei Chen menoleh. Wajah Mei Ling tegas di bawah cahaya bulan. Tidak ada rasa takut di matanya.

"Aku tidak mau kau terluka."

"Aku juga tidak mau kau terluka." Dia tersenyum. "Tapi kita hadapi bersama. Itu janji."

Wei Chen mengangguk. Memeluknya.

Mereka diam. Menikmati kehangatan di tengah dinginnya malam.

---

Tengah malam.

Suara berisik membangunkan Wei Chen.

Dia duduk tegak di tempat tidur. Telinganya menajam. Ada suara langkah kaki. Banyak. Di kejauhan.

Mei Ling juga terbangun. "Chen?"

"Diam." Wei Chen mengangkat tangan. "Ada sesuatu."

Dia bangun, berjalan ke jendela. Membuka sedikit. Melihat ke luar.

Di ujung desa, dekat pos jaga utara, api berkobar. Teriakan terdengar. Bentrokan senjata.

"Celaka." Wei Chen berbalik. "Mereka datang."

Mei Ling memucat. "Hartono?"

"Pasti."

Wei Chen meraih pedang pendek di samping tempat tidur. Memberikannya pada Mei Ling.

"Pegang ini. Kalau ada yang masuk, jangan ragu."

"Tapi aku tidak bisa—"

"Kau bisa." Wei Chen menatapnya tajam. "Aku percaya kau bisa."

Mei Ling menggenggam pedang itu. Tangannya gemetar, tapi matanya tegas.

Wei Chen meraih tombak panjang di sudut ruangan. Lalu berjalan ke pintu.

"Aku harus ke pos jaga."

"Chen!" Mei Ling meraih tangannya. "Hati-hati."

Wei Chen mencium keningnya. "Aku akan kembali. Janji."

Dia pergi. Berlari ke arah api.

---

Di pos jaga utara, pertempuran sudah sengit.

Jarwo dan dua puluh pemuda desa bertahan di balik pagar kayu. Mereka melempari para penyerang dengan tombak dan panah. Tapi jumlah penyerang jauh lebih banyak — mungkin seratus orang, semuanya bersenjata lengkap.

Kakek Li sudah di sana. Tubuhnya bergerak seperti angin di antara para penyerang. Setiap tebasan, satu orang jatuh. Tapi dia sudah tua. Napasnya mulai terengah-engah.

"Wei Chen!" teriaknya melihat Wei Chen datang. "Cepat! Mereka terlalu banyak!"

Wei Chen tidak menjawab. Dia langsung terjun ke pertempuran.

Tombaknya menusuk. Seorang penyerang jatuh. Dia menarik tombak, menusuk lagi. Satu lagi jatuh.

Gerakannya tidak secepat Kakek Li, tapi efisien. Setiap tusukan tepat sasaran. Ini ilmu dari bumi — ilmu bertahan hidup di dunia bisnis — diterapkan di medan perang.

Tapi jumlah mereka terlalu banyak.

"Kita kalah jumlah!" teriak Jarwo di sampingnya. "Harus mundur!"

"Kalau mundur, mereka masuk desa!" balas Wei Chen. "Kita tahan!"

---

Di dalam desa, Mei Ling duduk di rumah, menggenggam pedang.

Suara pertempuran terdengar jelas. Teriakan. Ringisan. Benturan senjata.

Dia ingin lari. Ingin sembunyi. Tapi kakinya tidak bisa bergerak.

Chen...

Tiba-tiba, pintu depan pecah.

Dua orang bertopeng masuk. Mata mereka liar, senyum mereka keji.

"Di sini dia!" satu berteriak. "Gadis itu!"

Mei Ling mundur. Pedang di tangannya terangkat.

"Jangan dekat!"

Mereka tertawa. "Kau pikir bisa lawan kami?"

Mereka maju. Satu langkah. Dua langkah.

Mei Ling memejamkan mata. Tangannya gemetar.

Chen... maaf...

Tapi tiba-tiba, suara benturan.

Mei Ling membuka mata. Kedua penyerang itu sudah tergeletak di lantai. Di atas mereka, berdiri seorang pria berjubah putih.

Guru Anta.

"Guru?" Mei Ling tidak percaya.

Guru Anta tersenyum. "Aku pulang. Dan untungnya tidak terlambat."

"Tapi... kau harusnya di Gunung Es..."

"Aku sudah dapat Embun Giok." Dia menunjukkan kantong kecil di pinggangnya. "Tapi dalam perjalanan pulang, aku lihat pasukan ini. Langsung aku ikuti."

Dia meraih tangan Mei Ling. "Ayo. Kita bantu yang lain."

---

Di pos jaga utara, pertahanan mulai jebol.

Sepuluh pemuda desa sudah terluka. Jarwo berlumuran darah. Kakek Li mulai kelelahan.

Wei Chen bertahan di depan, tombaknya masih menusuk. Tapi lengannya sudah lelah. Pandangannya mulai kabur.

Tiba-tiba, dua sosok datang dari belakang.

Guru Anta dan Mei Ling.

Guru Anta langsung terjun ke pertempuran. Pedangnya menari. Setiap tebasan, tiga orang jatuh. Dia seperti dewa perang — kejam, cepat, mematikan.

Mei Ling berlari ke Wei Chen.

"Chen!"

Wei Chen menoleh. Matanya melebar. "Kau... kenapa di sini?!"

"Aku bawa bantuan." Dia menunjuk Guru Anta. "Dia pulang."

Wei Chen melihat Guru Anta bertarung. Lega.

"Syukurlah."

Tapi Mei Ling melihat lukanya. Darah mengucur dari lengan Wei Chen.

"Kau terluka!"

"Ini cuma goresan." Wei Chen tersenyum tipis. "Yang penting kau selamat."

Mei Ling memeluknya. Menangis.

---

Dengan kedatangan Guru Anta, pertempuran berbalik.

Dia bukan kultivator biasa. Level Inti Emas Puncak — hampir mencapai Jiwa Lahir Baru. Para penyerang yang hanya level menengah tidak bisa melawannya.

Dalam waktu setengah jam, 50 penyerang tewas. Sisanya lari.

Kakek Li duduk di tanah, mengatur napas. Guru Anta mendekat.

"Kau hebat," kata Kakek Li.

"Kau juga." Guru Anta tersenyum. "Untuk seusiamu."

Mereka tertawa. Dua orang tua yang baru bertemu, tapi sudah seperti kawan lama.

Wei Chen dan Mei Ling duduk di samping mereka. Lelah. Tapi selamat.

---

Pagi harinya, Desa Qinghe mulai membersihkan kekacauan.

30 penyerang tewas. 20 luka-luka dan ditawan. Pemuda desa yang terluka dirawat di klinik.

Wei Chen duduk di kantornya, lengannya dibalut. Mei Ling di sampingnya, tidak mau pergi.

Guru Anta masuk. Meletakkan kantong kecil di meja.

"Embun Giok. Seperti janji."

Wei Chen mengambil kantong itu. Membukanya. Di dalam, butiran-butiran kecil berkilau seperti embun beku.

"Terima kasih, Guru."

"Tugasku." Guru Anta duduk. "Tapi kita masih jauh dari selesai. Bahan lain masih harus dicari."

"Aku tahu. Tapi ini langkah besar."

Guru Anta mengangguk. Lalu, "Hartono tidak akan berhenti. Dia akan kirim lagi. Lebih banyak."

Wei Chen diam. Itu benar.

"Tapi kali ini kita siap," kata Mei Ling tiba-tiba.

Mereka menoleh.

"Dia sudah lihat kita bertahan. Dia sudah lihat kita punya Guru Anta, Kakek Li, pemuda desa yang berani." Matanya tegas. "Dia akan berpikir dua kali sebelum serang lagi."

Wei Chen tersenyum. Mei Ling berubah. Dari gadis desa penakut, jadi wanita pemberani.

"Kau benar." Dia meraih tangannya. "Kita siap."

---

Di ibu kota, Hartono membaca laporan.

Wajahnya gelap. Tangannya mengepal.

"100 orang? Gagal?"

Asistennya menunduk. "Maaf, Tuan. Mereka punya kultivator kuat. Mantan tetua Sekte Gunung Es."

Hartono diam. Lalu tersenyum — senyum dingin.

"Menarik. Wei Chen punya banyak teman." Dia berdiri, berjalan ke jendela. "Tapi teman bisa mati. Satu per satu."

Dia menoleh. "Siapkan rencana berikutnya. Kali ini, kita serang dari dalam."

Asistennya mengangguk. "Baik, Tuan."

Hartono menatap langit.

Wei Chen... kau pikir kau menang?

Ini baru awal.

---

Di Desa Qinghe, Wei Chen dan Mei Ling duduk di beranda.

Malam itu tenang. Tidak ada api. Tidak ada teriakan. Hanya suara jangkrik dan angin malam.

"Chen... aku takut."

Wei Chen menoleh. "Takut apa?"

"Takut kalau suatu hari, kau tidak kembali." Matanya berkaca-kaca. "Hari ini, aku hampir kehilangan kau."

Wei Chen memeluknya.

"Aku di sini. Aku tidak pergi."

"Tapi kau bisa."

"Aku akan selalu kembali." Suaranya pelan. "Untukmu."

Mei Ling menangis di dadanya. Pelukan mereka erat.

Di langit, bintang-bintang bersinar. Malam itu, mereka berdua bersyukur.

Masih bersama.

---

Chapter 25 END.

---

1
Jack Strom
Bikin puyeng, lawannya itu-itu saja... 😁
Jack Strom
Kill them all!!! 😁😛
Jack Strom
Sip!!! 😁
Jack Strom
Mantap!!! 😁
Jack Strom
Wow... Sangat mengharukan... 😁
Jeffie Firmansyah
cukup menghibur 👍💪
Jeffie Firmansyah
mulai tumbuh arti cinta
Jeffie Firmansyah
3 bab sudah di baca bagus natral💪
Jeffie Firmansyah: natural*
total 1 replies
Jeffie Firmansyah
3bab sdh di baca bagus alurnya natural semangat /Good/
Jeffie Firmansyah
sippp semangat Thor 💪💪💪
Jeffie Firmansyah
hadir gabung permulaan lumayan alur enak di baca semoga kedepannya tambah seru dan tdk ngegantung ceritanya karena lama update nya semangat Thor💪💪💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!