NovelToon NovelToon
TERIKAT PERNIKAHAN DENGAN KAPTEN CANTIK

TERIKAT PERNIKAHAN DENGAN KAPTEN CANTIK

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Romansa
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Kim

Ravela Natakusuma, seorang kapten TNI-AD, tiba-tiba harus menerima perjodohan dengan Kaivan Wiratama, seorang CEO pewaris perusahaan besar, demi memenuhi permintaan ayah Kaivan yang tengah kritis.

Mereka sepakat menikah tanpa pernah benar-benar bertemu. Kaivan hanya mengenal Ravela dari satu foto saat Ravela baru lulus sebagai perwira yang diberikan oleh Ibunya, sementara Ravela bahkan tak tahu wajah calon suaminya.

Sehari sebelum pernikahan, Ravela mendadak ditugaskan ke Timur Tengah untuk misi perdamaian. Meski keluarga memintanya menolak, Ravela tetap berangkat sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai abdi negara.

Hari pernikahan pun berlangsung tanpa mempelai wanita. Kaivan menikah seorang diri, sementara istrinya berada di medan konflik.

Lalu, bagaimana kisah pernikahan dua orang asing ini akan berlanjut ketika jarak, bahaya, dan takdir terus memisahkan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bibir bersentuhan

Ravela tersenyum sambil membagikan mainan pada beberapa anak yang berlarian di sekitar posko. Bola, mobil-mobilan, boneka semuanya membuat wajah mereka berseri-seri. Tawa mereka bergema, menembus kesibukan pagi hari di tengah bencana.

“Waduh, jangan lempar terlalu jauh, nanti jatuh ke lumpur,” ujar Ravela sambil tertawa pelan, menahan mainan agar anak-anak tetap aman.

“Kapten, lihat ini!” teriak seorang anak perempuan sambil menunjuk boneka yang baru saja diberikan. “Ini buat aku?”

“Ya, buat kamu,” jawab Ravela lembut, menepuk lembut kepala si anak. “Jaga baik-baik ya.”

Dari kejauhan, Kaivan mengamati pemandangan itu. Dadanya terasa hangat melihat Ravela begitu ramah dan akrab dengan anak-anak.

Ia ingat awal-awal akan dijodohkan dengannya, membayangkan wanita itu kaku dan sulit didekati. Tapi kini, melihat Ravela tertawa bersama anak-anak, Kaivan tahu ia salah besar.

“Lagi liatin istri ya, Pak?” goda seseorang.

Kaivan menoleh, sedikit kaget, melihat Raynand berdiri di sampingnya sambil tersenyum nakal. “Diam, Ray! Jangan sampai ada orang yang dengar,” ujar Kaivan cepat, menatap ke arah Ravela lagi.

“Oke, oke. Kamu tidak ke proyek?” tanya Raynand santai.

“Pergi. Tapi aku mau mandi dulu,” jawab Kaivan.

Raynand mengangguk dan menunjuk ke barisan kamar mandi darurat yang sudah disiapkan. “Ya sudah lebih baik kita ke kamar mandi sekarang, takutnya nanti keburu ramai. Aku juga mau mandi.”

Kaivan mengangguk dan mengikuti Raynand.

Malamnya Ravela berjalan pelan menuju tenda tim proyek, memegang sebuah map berisi dokumen yang harus ditandatangani Kaivan atas perintah Komandan Posko. Di depan tenda tim proyek, ia bertemu dengan Sandy.

“Permisi,” ucap Ravela dengan nada sopan.

“Oh, Kapten. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Sandy sambil tersenyum, matanya berbinar.

“Saya ingin bertemu Pak Kaivan. Saya membutuhkan tanda tangannya,” jelas Ravela sambil menunjukkan map tersebut.

“Oh, begitu ya. Pak Kaivan ada di dalam. Silakan masuk saja, Kapten,” sahut Sandy sambil membuka jalan.

Ravela mengangguk, mengambil napas sejenak, entah mengapa kalau dekat dengan Kaivan membuat dadanya selalu berdebar. Lalu ia masuk ke dalam tenda.

Di dalam, Kaivan sedang menatap dokumen di atas meja, beberapa lembar terlihat berserakan, lampu meja menerangi wajahnya yang fokus.

“Permisi, Pak Kaivan,” sapa Ravela.

Kaivan menoleh, tersenyum hangat saat melihat istrinya. Ravela datang mengenakan kaos dan celana militer, hanya menggunakan pakaian seperti itu saja membuat lekuk tubuh Ravela terlihat seksi gimana kalau kenakan pakaian lain.

“Astaga, apa sih yang kamu pikirkan, Kai,” batin Kaivan merutuki diri.

“Silakan duduk,” ucap Kaivan sambil menunjuk kursi di depan meja.

Ravela mengangguk, kemudian mengambil kursi dan duduk, mencoba menenangkan detak jantungnya.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Kaivan sambil menatap Ravela dalam. Nada suaranya biasa saja, namun tatapannya membuat Ravela sedikit kikuk.

“Saya membutuhkan tanda tangan Anda di sini, Pak Kaivan, untuk dokumen terkait distribusi bantuan ke posko tim proyek,” jawab Ravela sambil menyerahkan map ke Kaivan.

“Panggil Mas saja, seperti biasa,” ujar Kaivan tersenyum tipis.

Ravela mengangguk, menyerahkan map, dan Kaivan mulai membacanya. Saat hendak menandatangani, pulpen yang dipegangnya tak sengaja terpleset dari tangannya dan terjatuh ke tanah.

Ravela dan Kaivan langsung refleks menunduk untuk mengambil pulpen tesebut dan saat ini posisi mereka begitu dekat.

Kaivan sampai menelan ludahnya, wangi lembut Ravela membuatnya benar-benar merasa nyaman. Kaivan berdoa agar Ravela tidak lebih dulu mendongakkan kepalanya.

Namun entah keberuntungan atau malah nasib sial, doa Kaivan tidak terkabul, Ravela malah mengangkat pandangannya lebih dulu.

Bak adegan slow motion, pergerakan kepala Ravela begitu teratur, kening Ravela menyentuh bibir Kaivan, kemudian berpindah hidungnya, dan yang paling tidak diinginkan Kaivan, bibir mereka bertemu. Membuat Kaivan menahan nafas.

Keduanya sama-sama terdiam sejenak, hanya detak jantung mereka yang terdengar kencang saling berkejaran.

Ravela yang tersadar segera menjauhkan wajahnya, membuat raut wajah Ravela bersemu merah bak kepiting rebus, terlihat dengan jelas bahwa Ravela tengah menahan sesal, malu, gugup dan bingung menjadi satu.

“Maaf,” ujar Kaivan. Ia menandatangani map tersebut dengan tangan sedikit gemetar, telinganya pun sampai memerah pertanda kalau Kaivan sedang menahan malu.

Ravela hanya diam, bingung hendak merespon apa, karena jelas ini bukan kesalahan Kaivan dan bukan juga unsur kesengajaan.

Namun entah mengapa hatinya merasa sangat bersalah, bagaimana pun dia sudah memiliki suami, meskipun Ravela sama sekali belum pernah bertemu dengan suaminya, namun sebagai seorang wanita, tentu saja hal ini begitu memalukan untuknya.

“Terima kasih,” ucap Ravela cepat saat Kaivan menyerahkan map itu padanya. “Saya pamit dulu,” tambahnya sambil berdiri.

Tapi sebelum Ravela sempat melangkah, Kaivan berdiri dan menahan tangannya.

“Tunggu sebentar,” ucapnya.

Ravela menatap Kaivan datar. “Apa lagi, Mas?”

“Sebenarnya aku itu–” Ucapan Kaivan berhenti mendadak saat beberapa tim proyek masuk ke tenda.

Ravela segera melepas tangan Kaivan, menunduk sedikit, dan melangkah keluar tenda dengan cepat.

Kaivan hanya bisa menghela napas panjang, menatap punggung Ravela yang menjauh. Ia kembali menunduk, menatap berkas di depannya, mencoba menenangkan pikirannya.

Di luar tenda, Tari datang berjalan sambil membawa sesuatu, wajahnya terlihat sedikit gugup. Di depan tenda ia bertemu dengan Sandy yang sedang duduk.

“Akang Sandy,” sapa Tari.

Sandy menoleh dan tersenyum, “Iya Tari, ada apa?”

Tari menyerahkan sebuah plastik pada Sandy. “Ini ada jajanan untuk Akang Kaivan, saya titip buat dia,” ucapnya sambil tersenyum malu-malu.

Sandy mengambil plastik itu dengan hati-hati. “Kamu tidak antar sendiri ke Pak Kaivan?” tanyanya, sedikit heran.

Tari menggeleng, wajahnya memerah tipis. “Tidak usah, Kang. Saya malu. Pasti di dalam sana banyak orang.”

Sandy hanya mengangguk. “Baiklah. Terima kasih, ya.”

“Sama-sama, Kang. Kalau begitu, saya permisi. Salam ya buat Akang Kaivan,” ucap Tari, lalu melangkah pergi meninggalkan depan tenda tim proyek.

Karena penasaran, Sandy membuka plastik tersebut, “Wah... ini kan jajanan kesukaan, Bos.”

Tanpa menunda waktu, Sandy masuk ke dalam tenda melangkah pelan, berhenti di sisi meja atasannya. “Pak, ini ada jajanan titipan dari Tari buat Bapak,” ucapnya.

Kaivan menoleh, menatap plastik itu sejenak, lalu menghela napas panjang. Ia sudah cukup risih dengan perhatian-perhatian dari Tari. Sepertinya Kaivan harus lebih tegas menghadapi perempuan itu, agar tidak mengganggu bahkan berharap padanya lagi.

“Kamu makan saja. Atau bagi-bagi sama yang lain,” suruh Kaivan.

“Tapi Pak, ini salah satu jajanan kesukaan–”

Kaivan menatap Sandy tajam dan memotong cepat. “Bisa tidak, jangan bikin saya ngomong berkali-kali?” ucapnya dingin dan tegas.

Sandy terkesiap, sedikit merinding melihat tatapan Kaivan. “B–baik, Pak,” jawabnya cepat, menunduk sejenak sebelum berbalik pergi. Ia melangkah ke arah staf lain, meninggalkan Kaivan.

Kaivan kembali menunduk, menatap berkasnya. Meski sibuk, pikirannya sesekali melayang pada Ravela. “Apa dia marah?” gumamnya pelan.

1
Sunaryati
Kaivan jadi gak bisa tidur nik kebayang istri
Dara afifa
Selalu suka bca novel dan cs mu thor
Gina Amara
Jdi teringat drakor DOTS, tpi ini versi tentara cewek 🥰
Raja Tampan
tinggal kaivan yg blm selesai tgsnya
Raja Tampan
bruan dftrkan pernikahan kalian ke pgadilan agama biar sah semua
Raja Tampan
untng sj kirana tdk bocor
Raja Tampan
ngk liat tmpt mas kaivan🤣👍
Raja Tampan
smua cwok d sukai sm tari, trlalu pd
Sunaryati
Makanya cepat- cepat diurus sesuai aturan negara, untuk nikah secara resmi
Sinchan Gabut
lah, apa hub status tentara sama di gombalin suami Vel Vel... melemah d gombalin cwo lain baru salah 🤣🤣
Sinchan Gabut
Bangun Tari bangun... perlu di guyang air seember? 😏🤣
Kreatif Sendiri
terharu
Alessandro
pas mendung..... bab ini 🙈
Mutia Kim🍑: Hussttt😂
total 1 replies
Alessandro
kamu yg stromg aja meleleh, vela. gmn pembaca ini... meleyot lah pasti
Sunaryati
Kirain Kirana akan marah, syukur dia malah senang. Kalian jangan bersentuhan terlalu jauh sebelum sah di mata hukum.
Mutia Kim🍑: Huhuhu iya kak😭
total 1 replies
tami
plot twist nya bakal lucu kalo suaranya ga merdu 🤣
tami
jirr pede banget tuh si tari 😭
Sinchan Gabut
Gimana, gimana? Sudah SAH tp masih mikir di kira jd wanita gampangan? kalau km g hobah yg ada laki mu yg pindah haluan Vel...
Sinchan Gabut
Bagus Pak Kai, biar sekali2 Vella jg tau kalau lakinya jg butuh penjelasan 😏
Gisha Putri🌛
Tari kepedean bgt🥴
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!