Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.
Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.
Sudah cukup!
Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Pintu terbuka berderit pelan. Danish menatap, sementara Hana baru saja menidurkan baby Keira di box bayinya.
Hana cukup terkejut, mendapati Danish berdiam diambang pintu tanpa pergerakan apapun. Wajahnya datar, senyumnya nyaris tak ada. Suasana mendadak kaku.
"Ada apa, Pak?"
"Sudah waktunya makan malam. Biarkan saja Keira tidur. Nanti Bik Jumi akan datang." Danish tahu keresahan yang Hana rasakan.
Hana mengangguk. Sudah pukul 7 malam, dan pas sekali perutnya terasa lapar setelah Asinya terpompa.
Hana berjalan dibelakang Danish. Suasana meja makan yang semula kaku, kini mendadak pecah karena terdapat sanak saudara Bu Ana yang datang.
Danish juga ikut tersentak.
Disana, seorang wanita berusia 28 tahun, tengah tersenyum kuda tanpa suara menatap kearahnya. Wajahnya cantik, senyumnya merekah tulus. Dan disamping wanita tadi, seorang pria yang usianya tak jauh dari Danish, mengangkat tangan rendah-menyapa dengan senyum tengilnya.
"Mas Danish, tambah gagah saja," goda pria tadi. Namanya Ruben, keponakan Bu Ana, putra dari adiknya.
Danish menatap malas. "Kapan kalian datang?" tanyanya sambil menarik kursi yang akan ia duduki.
Sementara disamping Lukman, seorang bocah kecil berusia 3 tahun, menyahut pertanyaan Danish dengan khas cadelnya. "Paman, cenyum dong! Alka takut nih!"
Semua orang menahan tawanya, begitu juga dengan Hana. Wanita cantik itu masih terpaku, merasa segan berada di tengah-tengah keluarga besar itu.
"Vanesh, Ruben... Ini Hana, ibu susunya Keira," Bu Ana memperkenalkan Hana dengan senyum lembutnya.
Hana sedikit tertunduk, "Saya Hana...." ucapnya sebelum duduk.
Sementara bocah kecil-Arka, ia langsung mendorong tangan Lukman yang menggantung dengan sendok, lebih memilih menatap Hana-menelisik. Sorot mata kecil itu berbinar, hingga suara cadelnya kembali terlontar, "Wah... Tantiknya Ante Hana. Pelkenalkan, caya Alka! Anak gantengnya Mami Vanesh, dan Dady Luben!"
Hana kembali terkekeh tanpa suara. Tanganya terulur menjamah kepada Arka dengan lembut. Namun dengan percaya dirinya, bocah kecil itu malah menurunkan tangan Hana agar mengusap pipinya.
"Wajah Alka juga nggak kalah gemesin kok. Di cini aja talo usap, hihi...." serunya lagi.
Danish berdesis, "Dasar playboy sejak dini. Heh, Arka... Pasti itu pelajaran Dady kamu 'kan?!" badanya mencondong kearah Arka.
Sementara Ruben hanya mampu tertawa pecah. "Hahaha... Anak Dady tahu aja kalau ada yang bening-bening!" namun setelah itu mulutnya memekik,
Awhhh!!!
Vanesha tersenyum kearah Hana merasa tak enak. Namun tanganya meremat sisi perut chuby Ruben. "Maaf ya, Mbak Hana... Ayah sama anak selalu saja bikin pusing."
Hana mengangguk. "Nggak papa, Mbak Vanesh, Arka anak yang hebat kok."
Lukman yang sejak tadi menatap kearah Hana reflek ikut tersenyum. Danish yang tak terima, langsung saja menimpuk lengan adiknya dengan sendok.
Tok!
"Duh... Mah... Itu... Si Danish rese banget!" adunya merengek kepada Bu Ana.
Arka yang melihat superheronya terluka, bukanya menolong, malah ikut tertawa paling kencang. "Hahaa... Cudah gede nangis... Ndak malu cama Alka, ya Mom?" ledeknya, lalu menoleh kearah Vanesha untuk memastikan.
Bu Ana semakin di buat gemas oleh cucunya itu. Lalu menatap keluarganya, "Sudah... Kita mulai saja makan malam ini."
"Nah gitu dong, Oma... cudah lapel nih pelut alka," gerutunya menggemaskan. Lukman yang sejak tadi menyuapinya hanya mampu gereget dengan sikap lucu keponakannya itu.
Hana dengan hati-hati mulai menyuapkan nasinya, dengan lauk yang mudah tanganya jangkau.
Udang ukuran besar melayang sampai atas piringnya. Dengan suara dingin, namun tersirat rasa peduli, Danish berbisik, "Kamu harus makan banyak! Jangan sampai putri saya kelaparan gara-gara kamu makan seperti itu!"
Meskipun terdengar menyebalkan, namun Hana menangkapnya sebagai bentuk rasa peduli.
****
Pagi itu, sebelum mendi, Hana mengajak Bayi asuhnya berjemur terlebih dulu. Dalam kereta bayinya, Keira tampak asik menatap mainan yang menggantung. Sementara hangatnya mentari pagi, membuat udara yang Keira hirup lebih terasa manis.
Hana duduk di bangku, menatap Keira penuh waspada. Ia tidak ingin bayi kecil itu dihinggapi nyamuk maupun debu.
Suara deritan ban mobil terseret lantai paving, sontak membuat Hana menoleh ke arah halaman.
Hana berkesiap-bangkit, tanganya reflek memegang handle kereta bayi itu. Sementara sorot matanya penuh rasa waspada, sebab dua orang dibalik mobil itu turun dengan ekspresi menahan amarah.
Dua pasangan paru baya itu sempat mengamati posisi Hana beberapa detik, hingga langkah tergesanya membawa sampai batas teras.
Tok!
Tok!
Ketukan pintu itu beruntun, seolah merasa tak sabar dan juga dorongan emosi yang siap untuk di ledakan.
Saat itu juga Hana berkesiap, menggendong Keira untuk mendekat, sekedar mempersilahkan masuk.
"Permisi, Bapak sama Ibu ini cari siapa, ya?" tegur Hana dari belakang.
Reflek saja wanita tadi menoleh. Sempat menatap Hana sekilas, namun kini tatapanya jatuh pada sosok bayi yang Hana gendong. Wajahnya tersirat rasa tidak suka, melihat cucunya berada dalam dekapan wanita lain.
"Saya ini neneknya Keira, bayi yang kamu gendong! Di mana penghuni rumah ini?" tanyanya cetus.
Hana cukup tersentak. Ia menelan ludahnya, dan kini wajahnya berubah serius. Senyumnya hilang, berganti kerutan dalam pada dahinya. "Maaf ya, Bu... Bisa 'kan bertanya dengan baik?! Saya juga nggak tahu kalau Ibu itu Neneknya Keira," bantah Hana menepis rasa hormat.
Pria tua bernama Johan itu menyela. Wajahnya menatap remeh, namun sorot matanya terbaluk emosi. "Heh, siapa kamu berani-beraninya menggendong cucu saya dengan lancang?!"
Dada Hana mulai berdesir. Wajahnya menegak, suaranya tegas namun cukup rendah. "Saya disini be-"
"Dasar wanita tidak tahu diri!"
Plak!
Wajah Hana terhempas kesamping, hingga tangisan Keira pecah.
Dari dalam, Bu Ana memekik kencang, "Astagaaaa... Heiii... Apa yang kalian lakukan!"
Danish yang baru saja turun dari tangga, matanya terbuka lebar mendengar keributan di teras. Dengan langkah tergesa, dirinya segera mendekat.
Lukman juga ikut keluar bersama Bik Inem. Melihat Keira menangis, Bik Inem mengambil alih baby Keira yang masih menangis.
Sementara Bu Ana, melihat wajah kanan Hana memerah bekas cap tangan besannya, matanya terhunus tajam dengan dada yang sudah terguncang hebat.
Danish merasa tak tega, ia menarik tubuh Hana menyingkir terlebih dulu. "Apa maksud kalian pagi-pagi membuat onar dirumah saya?" suara itu tegas, nadanya penuh penekanan.
"Danish... Ini semua pasti gara-gara kamu 'kan, Rani pergi dari rumah?" sentak Johan menuding wajah menantunya.
Tak sampai itu, Risma-selaku Ibu Rani, ia juga langsung menimpali dengan kalimat pedasnya. "Saya yakin, wanita itu pasti selingkuhan kamu 'kan, Danish! Itu sebabnya putri saya pergi, karena sudah tidak tahan lagi!" tunjuknya ke arah Hana.
Tangan Danish terkepal kuat. Dibalik rasa tidak terimanya melihat Hana ditampar, dadanya juga sudah teramat remuk, putrinya ditinggalkan Rani-wanita bergelar Ibu serta Istri untuk keluarga kecilnya.
Luka itu sampai mengkelupas membentuk dendam yang tersulut.
"Jaga ucapan kalian!" Bu Ana membalas dengan bentakan.
Dengan wajah yang sudah meledak oleh amarah, Danish mulai membuka suara. "Asal kalian berdua tahu, jika Putri Anda tercinta, dialah yang sudah meninggalkan putrinya begitu saja! Dimana hati nuraninya sebagai wanita, apalagi seorang Ibu! Rani bahkan tidak pernah mengakui putri saya sebagai putrinya."
Risma mengeluarkan sebuah surat, lalu dengan gerakan secepat kilat, ia lemparkan pada tubuh Danish. "Sebagai orang tua, kami tidak terima putri saya kamu gugat, Danish!"
Pandangan Bu Ana jatuh pada selembar surat yang jatuh dibawa kaki putranya. Rupanya, setelah kepergian Rani, Danish diam-diam mengajukan gugatan cerai untuk Istrinya.
Hana cukup terpaku dengan masalah majikannya kini. Kisah Bosnya itu tak jauh berbeda dari kisah hidupnya. Namun, sebagai wanita, hati Hana tidak sebesar Danish.