NovelToon NovelToon
Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Status: tamat
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Keluarga & Kasih Sayang / Tamat
Popularitas:3.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: uutami

"Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?"
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki, seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.

"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.

"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."

Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.

"Ning, ayo nikah sama Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 17

Di ruang keluarga yang mulai sunyi, Dewi duduk bersila di lantai, punggungnya bersandar pada sofa. Bu Sumi mondar-mandir, jemarinya sibuk memutar-mutar ujung rambut nya.

"Kamu yakin foto itu satu-satunya?" tanya Bu Sumi akhirnya.

Dewi mengangguk cepat. "Aku sudah cek seisi kamar. Cuma itu. Dan jelas… Mas Ridho nyimpen diam-diam."

Bu Sumi mendengus. "Dasar bocah itu. Masih aja nyantol sama perempuan enggak jelas."

"Bu, kita enggak bisa santai," ujar Dewi, nada suaranya menurun, berubah cemas. "Kalau suatu hari ingatannya balik..."

"Makanya," potong Bu Sumi tegas. "Sebelum itu terjadi, kamu harus sah jadi istrinya."

Dewi terdiam sejenak. "Nikah?"

"Iya. Ikat. Biar secara hukum, secara agama, kamu aman," lanjut Bu Sumi. "Laki-laki itu, sekalinya merasa bertanggung jawab, susah lepas."

Pintu samping terbuka. Pak Hasto masuk dengan wajah lelah, kemeja kerjanya masih belum diganti. Ia menangkap potongan kalimat terakhir.

"Nikah?" alisnya berkerut. "Nikah siapa?"

"Ridho dan Dewi," jawab Bu Sumi cepat. "Waktu yang tepat."

Pak Hasto meletakkan tasnya pelan, lalu duduk. "Bu, Ridho itu lagi sakit. Ingatannya belum pulih. Apa enggak sebaiknya nunggu dia benar-benar sembuh?"

Dewi langsung menoleh. "Yah, aku justru mau nemenin Mas Ridho pas lagi susah."

"Nemenin iya. Tapi menikah di kondisi seperti ini…" Pak Hasto menghela napas. "Apa adil buat dia?"

Bu Sumi memutar badan, matanya tajam. "Kamu ini gimana sih, Mas? Kamu enggak mau anakmu bahagia?"

"Itu bukan soal bahagia atau enggak..."

"Ini soal kamu selalu meragukan Dewi!" suara Bu Sumi meninggi. "Seolah-olah cuma perempuan lain yang layak buat Ridho!"

"Dari dulu kamu selalu begitu. Enggak pernah mikirin kebahagiaan anak sendiri! Keluarga sendiri dibuat menderita!"

Pak Hasto terdiam. Kata-kata itu seperti pisau. Ia menatap Dewi yang kini menunduk, tampak rapuh... terlalu rapuh untuk orang yang baru saja merencanakan sesuatu.

"Ya sudah," ucapnya akhirnya lirih. "Kalau kalian sudah memutuskan… saya enggak bisa apa-apa."

"Ya memang harus begitu, Mas!"

Dewi tersenyum tipis. Bu Sumi mengangguk puas.

****

Sementara itu, di kontrakan kecil yang hangat oleh cahaya lampu kuning, Yuda baru saja menutup pintu. Helm diletakkannya di rak seadanya.

"Mas!"

Ning muncul dari dapur dengan kruk yang menyangga tubuhnya, wajahnya cerah. "Kok malam?"

Yuda tersenyum lebar. "Iya, lagi banyak orderan tadi."

"Pasti capek ya?"

"Capeknya langsung ilang kalau kamu nyambut gini."

Ning tersenyum, pipinya memerah, "Mandi dulu, Mas. Ning udah masak."

Mereka makan malam sederhana...nasi, sayur bening, dan telur dadar. Tak ada yang istimewa, tapi keheningan di antara mereka terasa nyaman.

"Biar aku beresin," kata Yuda sambil berdiri.

"Enggak usah, Mas..."

Yuda sudah lebih dulu meraih piring. "Sekali-sekali tukang ojek juga bisa jadi tukang dapur."

Ning tertawa kecil. Setelah semuanya rapi, Yuda duduk di lantai, menyandarkan punggung ke dinding. Ning menghampiri, memijat pundak dan lengannya pelan.

"Keras banget," gumam Ning.

"Seharian narik. Ada aja penumpang aneh," Yuda terkekeh. "Tadi ada yang minta dianter muter dulu karena dia belum siap pulang."

"Terus?"

"Ya aku anter. Dibayar juga." Yuda tertawa, Ning ikut tertawa sampai matanya menyipit.

Yuda mengeluarkan dompet, menyerahkan beberapa lembar uang. "Ini. Buat kamu."

Ning menggeleng cepat. "Uang Ning masih banyak, Mas."

"Itu kan uangnya Ning," ucap Yuda."Yang ini, buat kebutuhan rumah. Mahar itu… jangan dipakai."

Ning tampak bingung. "Ning juga enggak tau mau dipakai apa. Banyak banget. Kalau engak dipake, bisa dimakan rayap."

Yuda tertawa lepas. "Ya ampun, istriku polos amat."

Ia menatap Ning lama, dadanya terasa penuh. Ada cinta yang tumbuh tanpa ribut, tanpa paksaan.

Yuda mendekat. Tiba-tiba saja lelaki itu mengecup bibir ranum istrinya. Ning membeku, tegang, kaku, tapi kali ini tak seperti sebelumnya.

"Udah pinter sekarang," puji Yuda saat wajah mereka berjarak. Wajah Ning langsung memerah bak kepiting rebus. "Mas suka."

Ning menunduk.

"Ning…"

Ning mendongak, memberanikan diri menatap suaminya.

"Mas belum pernah lihat kamu tanpa ini..." katanya menyentuh jilbab Ning. "Boleh, nggak?"

Ning mengangguk pelan.

Jilbab itu dilepas perlahan. Rambut Ning terurai sederhana, wajahnya tampak lebih lembut. Yuda terdiam sesaat.

"Kamu indah banget," ucapnya jujur.

Ia mengecup bibir Ning. Ciuman itu hangat, penuh rasa aman. Yuda memangku Ning, hingga gadis itu memekik kecil dan reflek merangkul pundak dan leher Yuda.

Tatapan keduanya bertemu. Saling mengunci. Seperti isyarat untuk saling menyelam lebih jauh. Yuda melangkahkan kakinya memasuki kamar, membaringkan Ning di ranjang, membelai rambut dan wajahnya.

"Boleh Mas lebih jauh?"

Ning mengangguk lagi. Yuda tersenyum menyentuh lebih lembut dan dalam.

****

Pagi datang dengan aroma tempe goreng.

Yuda terbangun, mendapati Ning sudah rapi. Jilbab terpasang kembali.

"Loh, kok masih dipake?"

Ning kaget, menoleh. Pipinya kembali bersemu mengingat semalam mereka melebur bersama. Rambutnya saja masih basah sudah ditutup dengan jilbab.

"Kamu udah bangun dari tadi?" tanya Yuda mendekat. Ning masih diam membeku. "Masak apa?"

"Cuma goreng tempe aja, Mas."

Tiba-tiba Yuda mencium pipinya. Lalu bersikap biasa mengambil piring, tak tau Ning sudah tak karuan.

"Kalau di rumah, sama Mas, jilbabnya enggak usah dipakai," kata Yuda sambil duduk.

"Iya, Mas."

"Sini!"

Yuda menepuk pahanya. Ning malah salah tingkah sendiri.

"Sini! Udah selesai, kan masaknya?" lagi-lagi, Yuda menepuk pahanya agar Ning duduk di sana.

Namun, Ning yang tak biasa duduk dipangkuan orang lain memilih menjaga jantungnya tetap aman. Ia menarik kursi di sisi Yuda dan mulai hendak duduk. Namun, Yuda menendang Kruk Ning sampai gadis itu oleng. Suara kruk berdentang di lantai.

"Kyaaaa!" Ning reflek menjerit.

Dengan cepat Yuda menarik tangan Ning, sampai gadis itu duduk di pangkuannya.

"Bandel sih! Dibilang sini ya, sini! Malah narik kursi!" omel Yuda memeluk tubuh Ning.

1
Rebecca Jaimin
aku cari ternyata dia masih perawan ngk ada tuh
Rebecca Jaimin
karya yang hebat..mengajar apa itu keredhaan,kemaafan dan keikhlasan serta keindahan didalam semuanya itu..teruskan berkarya yg mampu membuka mata hati nurani..moga kita hidup tidak didasari dgn kepahitan masa lalu,tapi menjadikan teladan dn pengalaman di titi usia untuk menjadi insin yg lebih baik dari kemarin,lebih dewasa hari ini untuk hari ini dan dewasa memotivasikan hari esok..
Marina Tarigan
semoga jgn yg nya lina lqqmembenci ningsih Dewi Ranu dan nenek
Marina Tarigan
lanjut yg tetbsik bagi mereka ksrena sdh kedal dipertengahan jln deh
Marina Tarigan
keyemu kuntilanak cantik. hi hi hiii aku cinta kamu zRanu jgn istri juda pantang kualat kamu nanti Ningsih juga ngeri dan jijik melihatmu . bagus pak Deni anakmu tdk normal
Marina Tarigan
rRanu lesong alias gila alias bodoh mencintai istri orang sadarlah tuan kamu tdk laku ya cinta sm idtri orang ningsih taat agama dia bukan jalang tolol kamu mau hancurkan keluargamu sendiri
Marina Tarigan
ranu gila ys dia sakitin yg di tabrak sampai pincang kamu perlu dijebloskan kepenjsra tanpa bertanggung jswab apapun sm korban tabrskanmu otakmu kemana larinya tolol
Marina Tarigan
la jut ceritanya
Marina Tarigan
lanjutkan semoga semua stroke kecuali ningdih
Marina Tarigan
ya elah Ranu sdh iistrimu pun bisa pisah diambil orang ini kamu tabrak dia menferita tdk punya kuasa pincang tdk punya dans berobat dlm segi apapun tdk afa hakmu persoalkan itu juds menjsga dan merswat sampai operadi juga srmbuh total tdk ada sedikitpun jasamu di tubuh ningsinh berpikir jernih lah demi ketenanganmu ningsih bukan barang bisa diofer sesuma hatimu Arun aneh otakmu
Marina Tarigan
salon ning akan berkembang jgn saling merebut harta kalau orang tuamu tdk bijak biarkan saja tinggalkan semua juga ibumu itu yg tdk tegas sejal awsl doa hanya mikirkan Arun bukan rmh tgha mu
Marina Tarigan
bagus tak usah punya saudara begitu ning nukan pacarmu Ranu gomans sekarang ibu zaanggun radakan akibst perbuatsnmu itu anakmu akan saling menghancurkan
Marina Tarigan
biadap kamu Ranu awal kehancuran keluargamu Anggun
Marina Tarigan
salahkan ibumu tdk berterus terang terus maksa ningsih terus bantu therapimu tuan kelusrgamu tdk punya adab ya kalau adst kami ssngst pantang dekat sm ipsr sendiri apalagi sempst pegang apapun ceritanya mknya sussh dekat sama orang tdl punya adsb khusus ibumu dua2 anaknya tetluka korban ningsih jgn mau lagi ningsih biadap mertuamu itu
Marina Tarigan
pindsh saja Ning sm suamimu ke Salon kalian Ranu tdk tahu ning idtri juda ibu Anggun cari masallah
Marina Tarigan
keluarga kaya raya tapi punya ibu biadap jgn2 anakmu berdua saling membunuh aru tahu rasa dan ning kembali pd ridho karena merema saling mencintai dulu
Marina Tarigan
mama anggun tfk benar seorang ibu wataknya menyakiti anak sendiri Ranu belum tahu Ning istri juda fan dulupun ning bukan pacar Ranu dia merasa bersalah karena menabrkaknya dia mencari diA tdk ning istri adiknya juda apa ibu mau menghilir ning ke anak ibu berdua ning bukan barang ibu apa mau ning punya dua suami atau ibu
Marina Tarigan
ning kan bukan pacar Ranu Ning istrimu biadap sia2 kamu pintar dan masa sangsi sm Ranu dan ning bukan barang tak ada masallah apapun ningsih idyrimu atau kamu mau sm zDewi cerita aneh
Marina Tarigan
ning kan sdj fisayang sangat dinikahi juda dan ning sdh dioperasi hingga mormal kembali pikiran keluarga ini kok picik kali
Marina Tarigan
kepoĺosanmu ning bisa bawa petala pd
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!