NovelToon NovelToon
Meminjam Ibu Sehari

Meminjam Ibu Sehari

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Duda / Cintapertama
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: ririn rira

Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.

"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sedikit akrab

Sebria berbaring di pangkuan ibu Sandrina sambil melihat tabletnya. Ia merasakan rambut panjangnya di elus lembut. Rasa hangat dan di cintai mengalir di tiap tendon tubuhnya. Rasanya seperti ada yang meletup-letup di dalam dada. Rasa itu pernah menghilang setahun lalu ketika ibu Adelia di nyatakan meninggal di meja operasi. Sebria cukup lama mengurung diri di kamarnya. Kehilangan itu memukulnya telak sampai tidak bisa melakukan apa-apa.

"Bunga yang kamu rangkai apa sudah selesai semua?"

"Belum, Ma. Besok aku harus bangun pagi untuk mengirimnya." Sahut Sebria sambil membenarkan posisi kepalanya.

"Sekarang tidur lah kamu pasti capek habis merangkai bunga seharian."

"Ayo kak." Keona berdiri dari tempatnya duduk.

"Mau kemana kalian?" Ibu Sandria bingung karena Keona terlihat rapi.

"Keluar sebentar, Ma. Keona mau jajan diluar." Ujar Sebria mencepol rambutnya ke atas. Mengenakan kaos kedodoran berwarna putih dan bawahan agak pendek membuat tubuh Sebria semakin mungil.

"Pakai mobil ya. Nanti kakak kamu masuk angin , Keo."

"Iya."

Ibu Sandrina tersenyum hangat dan Pak Fendy melepaskan kaca matanya. Tatapan kedua nya begitu bergetar haru berembun. Tenggorokan tercekat. Melihat punggung kedua anaknya menjauh ke arah pintu. Andai saja dulu mereka lebih berani pasti mereka menikmati tumbuh kembang Sebria dan Keona secara bersamaan. Ah, mengingat dosa masa lalu itu rasanya waktu saat ini tidak cukup menebus semuanya.

Langit malam menyajikan ribuan bintang, bercahaya dan cerah. Tidak ada tanda-tanda mendung disana. Sebria dan Keona menyusuri trotoar yang mulai sepi, hanya ditemani lampu jalan yang temaram. Sebria berjalan dengan santai sambil sesekali menggoda adiknya yang asyik memotret sudut kota yang estetik.

"Jangan jauh-jauh, Keona. Kalau hilang, susah carinya," canda Sebria sambil merangkul pundak adiknya. Dan itu tampak lucu karena tubuh Sebria yang pendek

Keona tertawa kecil, "Tenang saja, Kak. Lagian, siapa yang mau hilang kalau ada aroma martabak di depan sana?"

Mereka akhirnya berhenti di sebuah kedai pinggir jalan, duduk di kursi plastik sambil menikmati kepulan uap teh manis hangat. Tidak ada pembicaraan berat, hanya obrolan ringan tentang keseharian, diselingi tawa saat mengenang tingkah konyol mereka waktu sewaktu-waktu. Bagi mereka, jalan-jalan malam bukan soal tujuannya, tapi tentang kebersamaan yang membuat penat seharian menguap begitu saja.

...----------------...

Dalam keheningan fajar. Roda empat milik Sebria sudah menggema mengisi jalan yang masih tergolong sunyi. Sesuai janji hari ini ia akan mengirim bunga yang sudah dirangkainya. Setiba di depan toko, wanita itu membuka pintu lalu menguaplah aroma segar dari dalam sana. Mengambil gunting dan juga perlengkapan lainnya ia mulai memotong. Bunga itu akan di kirim ke acara pernikahan beberapa jam lagi. Sebria begitu fokus di temani musik jazz di sudut ruang sehingga tidak menyadari jika matahari sepenuhnya terang.

"Selamat pagi, tante." Suara cempreng menyusup di antara dentingan lonceng.

Sebria tersentak kecil lalu melempar senyum. "Selamat pagi, kamu tidak ke sekolah?"

"Sekolah, tadi aku minta bibi di rumah membuatkan sarapan untuk tante sebagai ucapan terimakasih karena sudah memberikan bunga matahari. Papa ku sangat senang." Byan menceritakan dengan binar bahagia.

"Syukurlah, terimakasih sudah di bawakan sarapan."

Byan mengangguk sambil memperhatikan pergerakan tangan Sebria. "Bunganya cantik sekali tante, kenapa besar sekali."

"Bunga mawar ini sejumlah tanggal hari ini sesuai pesanan." Jelas Sebria tanpa melepaskan pekerjaannya.

"Kalau begitu aku bisa pesan sama tante bunga matahari kalau nanti papa ulang tahun." Terlintas ide di benak anak laki-lak itu.

"Boleh, sekarang Byan ke sekolah dulu ya. Kamu bisa terlambat nanti."

"Iya tante. Pulang sekolah aku kesini ya..." Suara sepatu menjauh anak itu berlari kecil menemui sopir nya.

Sebria tersenyum. Anak itu semakin akrab dengannya. Melirik sekilas ke dalam paper bag. Sebria belum berniat sarapan jadi melanjutkan pekerjaannya. Seperti nya ia harus mempelajari apa yang di sukai dan tidak disukai Byan. Untuk membalas kebaikan anak itu. Cukup menyenangkan pikir Sebria.

...----------------...

Pendar lampu meja di ruang kerja lantai tiga puluh itu menjadi satu-satunya sumber cahaya di antara deretan dinding kaca yang memperlihatkan kerlap-kerlip kota. Di atas meja jati yang solid, tumpukan berkas laporan kuartal dan tablet yang terus berkedip menunjukkan kesibukan sang direktur.

Di atas meja terpampang ukiran nama bertinta emas. Dengan gaya huruf yang indah dan tegas seperti sosok pemiliknya.

Jehan Kelvin Sanjaya

Meski jemarinya lincah menari di atas keyboard, fokusnya sesekali teralihkan pada sebuah vas kecil di sudut meja.

Di sana, setangkai bunga matahari tampak kontras dengan suasana ruangan yang kaku dan formal. Namun, sudut bibirnya berkedut ketika mengingat kembali percakapan nya dengan putra nya saat itu.

Ada rasa penasaran yang mengusik di tengah rutinitasnya yang serba terukur. Ia terbiasa dengan transaksi yang saling menguntungkan, namun ketulusan sederhana dari penjual bunga itu terasa seperti teka-teki yang sulit ia pecahkan dari balik meja kerjanya yang mewah.

Ruangan yang biasanya menjadi simbol kendali dan otoritas, kini terasa sunyi, menyisakan tanya tentang siapa sosok di balik pemberian kuning cerah yang kini menghiasi sudut dunianya.

Tidak sedikit orang-orang yang mendekatinya melalui Byan —putra nya. Tidak sedikit juga orang mengirim hadiah tanpa sebab seolah ingin menarik perhatian putra nya. Namun kali ini Byan yang meminta bantuan orang itu. Dan hadiah yang Byan terima cukup sederhana. Apakah ini semacam trik? Jehan menghembus nafas kasar.

Sejak beberapa tahun lalu ia fokus membesarkan perusahaan dan melebarkan bisnisnya. Ia menutup diri dari infomasi masalalu. Fokusnya hanya masa depan Byan.

Jehan mematikan layar di depannya dan menutup berkas yang tadi terbuka. Merapikan meja lalu meraih jas tergantung di belakang. Jehan bersiap pulang karena malam semakin larut. Di sepanjang jalan ia sesekali menatap bunga matahari di dalam vas. Byan memintanya membawa setiap hari supaya ayahnya tetap semangat bekerja.

Jehan terkekeh. Entah kapan bunga itu layu. Saat ini saja kelopaknya mulai menggulung. Rasa penasaran menggelitik, Jehan berniat lewat depan sekolah Byan. Roda empat miliknya melaju pelan sambil memperhatikan toko bunga kecil di pinggir jalan. Halaman yang cukup untuk parkir dan bentuk bangunan yang estetik. Lampunya sudah padam hanya menyisakan lampu halaman. Di atasnya terpasang nama toko 'Toko bunga Adree' Cukup cantik tapi sedikit akrab. Jehan menoleh ke samping memperlihatkan sekolah Byan. Berapa lama ia tidak lewat sini. Seingatnya dulu tempat itu adalah bangunan kosong saja. Kemudian ia mengangguk jaraknya memang dekat pantas saja Byan sering mampir kesitu. Tapi Jehan tidak boleh lengah siapa tahu pemilik bunga itu memanfaatkan putra nya. Bisa saja pemilik toko itu sudah mencari tahu siapa Byan.

1
Lisa
Senangnya akhirnya Bria menerima lamaran dr Jehan..
Ayuwidia
Berada di posisi Bria itu nggak mudah. Ada Luka tak kasat mata yang sulit untuk sembuh, apalagi ketika melihat foto dan vidio Ayusa. Ah Sebria, terbuat dari apa hatimu?
Ririn Rira: Iya kak kalau kata Keona ada cermin masa lalu di antara Jehan sama Sebria
total 1 replies
Lisa
Bria sayang banget sama Byan..moga kalian menjadi 1 keluarga yg utuh y..amin..
Ririn Rira: semoga ya kak
total 1 replies
Ayuwidia
Selalu berharap, Jehan & Sebria bisa bersatu
Lisa
Percayalah pdJehan Bria..dia sungguh2 mencintaimu dan menerimamu apa adanya
Ayuwidia
Itu artinya... kamu melamar Bria, Je?
Ayuwidia: tho the point dia, nggak mau kehilangan lagi 😄
total 2 replies
Ayuwidia
Bener banget, Jehan
Ayuwidia
Keliatan banget si Delia cembokur
Lisa
Wah Jehan secara tidak langsung melamar Sebria nih 😊
Ririn Rira: Gercep si Jehan 🤭
total 1 replies
Lisa
Syukurlah akhirnya sudah ditemukan penyebab kekacauan..moga Bria mau membuka hati lg utk Byan
Lisa
Kasihan Byan..ayo Bria jgn terpengaruh dgn ucapan sekretaris itu..dia ada hati sama Jehan makanya berkata spt itu..
Lisa
Sok banget si Delia itu..ngapain dia ikut campur urusannya Bria & Jehan..pasti dia naksir Jehan..
Ririn Rira
Deric mulai muncu ya kak 🤭
Ayuwidia
Betoel kata Kanaga. Dan asal kamu tau, Ric... berlian yang sudah dibuang tidak bisa dipungut lagi
Lisa: Bener banget Kak Ayu
total 1 replies
Ayuwidia
Pemandangan yang hangat dan indah. Semoga hati Sebria terbuka lebar lagi untuk Jehan. Menerimanya sebagai pasangan hidup, dan menjadikan Byan seperti anaknya sendiri 🥰
Lisa
Papa & anak kompak nih 😊
Ayuwidia
Selalu nyesek tiap keinget kisah 'Luka Sebria'. Ada Ayusa di antara Jehan & Sebria. Masih berharap, Jehan & Sebria bisa bersatu
Lisa: Benar Kak Ayu..aku jg berharap seperti itu.
total 1 replies
Ayuwidia
Keona... dia sosok adik yang teramat sayang pada kakaknya. Dia tidak ingin dan tidak rela kakaknya kembali terluka. Makanya, dia super tegas. Tugas Jehan menaklukan hati Keona
Lisa
Wah Keona benar² protektif nih
Ayuwidia
Bagus banget. Kisahnya bikin baper. Semangat berkarya Kak Author ✍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!