💞💞Ini kisah remaja si triple dari "Ratu Bar-Bar Milik Pilot Tampan"💞💞
______________________________________________
"Akankah 'Pilot's Barbaric Triplets' terbang tinggi, atau jatuh berkeping-keping ketika identitas mereka terungkap?
Alvaro Alexio Nugroho (Varo): di mata dunia, ia adalah pewaris ketenangan sang pilot Nathan. Namun, di balik senyumnya, Varo menyimpan pikiran setajam pisau, selalu selangkah lebih maju dari dua saudara kembarnya. Ia sangat protektif pada Cia.
Alvano Alexio Nugroho (Vano): dengan pesonanya memikat, melindungi saudara-saudaranya dengan caranya sendiri. Ia juga sangat menyayangi Cia.
Alicia Alexio Nugroho (Cia): Ia mendominasi jiwa Bar-bar sang ibunya Ratu, ia tak kenal rasa takut, ceplas-ceplos dan juga bisa sangat manja di saat-saat tertentu pada keluarganya namun siap membela orang yang dicintai.
Terlahir sebagai pewaris dari dua keluarga kaya raya dan terkenal, triplets malah merendahkan kehidupan normal remaja pada umumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Cia mendengus kesal. Bayangan Aksa berputar di kepalanya, seperti kaset rusak yang terus mengulang adegan yang sama. Ia mencoba mengabaikan suara hatinya yang berbisik lirih, mengakui bahwa ada sesuatu dalam diri cowok itu yang membuatnya terusik. Sejak pertemuan pertama mereka di kantin sekolah, Aksa memang tak pernah lelah mengejarnya.
Di satu sisi, Cia merasa terganggu dengan perhatian Aksa. Ia benci menjadi pusat perhatian, apalagi jika itu menyangkut urusan cinta. Baginya, cinta hanyalah drama murahan yang tak pantas masuk dalam hidupnya yang keras. Namun, di sisi lain, jauh di lubuk hatinya, ia mengakui ada sesuatu dalam diri Aksa yang membuatnya penasaran. Mungkin keteguhan hatinya, atau keberaniannya untuk terus mendekatinya meski sudah ditolak mentah-mentah. Cia tak bisa memastikan, yang jelas, setiap kali nama Aksa disebut, ada gejolak aneh yang muncul di dalam dirinya, seperti sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuh.
"Apa... apa gue beneran suka sama Aksa?" bisiknya lirih, hampir tak terdengar.
Ia menggeleng keras, berusaha menepis pikiran itu jauh-jauh. "Nggak mungkin! Gak mungkin gue jatuh cinta sama cowok nyebelin kayak Aksa!" bantahnya dalam hati. Ia memejamkan mata, mencoba mengusir bayangan wajah Aksa yang selalu hadir dalam benaknya. Hingga tak terasa, bel pulang sekolah berdering nyaring, memecah lamunannya. Cia menghela napas panjang dan mulai membereskan buku-bukunya. Ia memutuskan untuk pulang duluan, tanpa menunggu Vano dan Varo yang masih harus membantu guru piket. Pesan dari kedua kakaknya ia abaikan. Ia butuh waktu sendiri untuk menjernihkan pikirannya dari segala macam gangguan yang sejak tadi menghantuinya.
Saat melajukan motor metiknya di jalanan yang ramai, tiba-tiba matanya menangkap pemandangan yang membuatnya mengerem mendadak. Di kejauhan, ia melihat sekelompok remaja yang sedang terlibat tawuran. Ia menyipitkan mata, mencoba memastikan sosok yang familiar di antara mereka. Benar saja, itu Aksa dan teman-temannya yang dikepung oleh sekelompok geng motor yang tak ia kenal. Jumlah mereka jauh lebih banyak, dan Aksa terlihat kewalahan menghadapi serangan mereka. Bima, Galang, dan Arya juga tampak babak belur, namun tetap berusaha melawan.
Cia mendengus kesal. "Kenapa sih selalu ada masalah di mana pun gue berada? Nih cowok satu lagi, kenapa demen banget tawuran di jalan!" gerutunya dalam hati.
Namun, meski hatinya menggerutu tanpa henti, ia tak bisa membiarkan Aksa dan teman-temannya dikeroyok begitu saja. Tanpa pikir panjang, ia memarkirkan motornya di pinggir jalan dan berlari menghampiri mereka. Rambutnya yang panjang berkibar tertiup angin, matanya memancarkan amarah yang membara.
Tanpa basa-basi, Cia langsung menendang salah satu anggota geng motor itu dengan keras. Tendangannya telak mengenai ulu hati lawannya, membuatnya tersungkur kesakitan. Aksa menoleh ke arahnya dengan tatapan terkejut, namun kemudian tersenyum tipis.
"Cia? Lo ngapain di sini?" tanya Aksa, sambil menangkis pukulan dari lawannya. Keringat membasahi wajahnya, napasnya tersengal-sengal.
Bima, Galang, dan Arya ikut menoleh saat mendengar nama Cia disebut. Mereka hanya tersenyum lega, tak bisa berkomentar karena serangan lawan tak memberi mereka waktu.
"Bukan urusan lo," jawab Cia ketus, sambil terus menyerang musuh-musuh The Mavericks. Gerakannya lincah dan mematikan, seperti penari balet yang sedang bertarung.
Aksa tak punya waktu untuk berdebat dengan Cia. Ia kembali fokus melawan musuhnya, berusaha melindungi teman-temannya dari serangan yang semakin brutal.
Kehadiran Cia membuat keadaan berbalik. Geng motor yang awalnya mendominasi mulai kewalahan menghadapi serangan Cia yang gesit dan tak kenal ampun. Tak lama kemudian, Vano dan Varo datang membantu, membuat kekuatan mereka semakin bertambah.
Pertarungan sengit itu akhirnya dimenangkan oleh pihak Aksa. Meskipun wajah mereka babak belur dan pakaian mereka kotor, mereka berhasil mengusir geng motor itu. Mereka berdiri dengan napas terengah-engah, memandang satu sama lain dengan senyum kemenangan yang menghiasi wajah mereka.
Cia menatap Aksa dan teman-temannya dengan tatapan datar, namun tersirat rasa khawatir di matanya. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, berusaha menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.
"Kalian nggak apa-apa?" tanyanya, berusaha menyembunyikan nada khawatirnya.
Aksa tersenyum tipis mendengar perhatian Cia. "Kami nggak apa-apa. Makasih udah bantuin," ujarnya tulus, dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya yang babak belur. Matanya menatap Cia dengan tatapan penuh rasa syukur.
"Hm," jawab Cia singkat, berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya. Ia mengalihkan pandangannya, tak berani menatap mata Aksa yang menatapnya dengan intens.
"Tapi luka kalian harus segera diobati loh. Ayo gue bantu," tawar Cia tiba-tiba. Ia terkejut dengan ucapannya sendiri. Mengapa ia tiba-tiba menawarkan bantuan? Apa ia sudah mulai peduli pada cowok ini?
Aksa tak ingin membuang kesempatan emas ini. Ia sangat senang ternyata Cia perhatian juga padanya, meskipun tersembunyi di balik wajah juteknya. "Beneran lo mau obatin luka-luka kita? Kalau gitu, obatin di markas gue aja. Nggak jauh dari sini, gimana?" tawar Aksa dengan nada antusias. Matanya berbinar-binar menatap Cia, berharap gadis itu akan setuju.
Vano dan Varo langsung menyahut, "Kita juga ikut!" timpal Vano tegas. Matanya menatap Aksa dengan tatapan memperingatkan. Mereka tak mungkin membiarkan adik kembar kesayangannya pergi sendirian dengan cowok, apalagi cowok yang jelas-jelas sedang mendekatinya.
Aksa sedikit kecewa, tapi ia tak bisa menolak tawaran Vano dan Varo. Bagaimanapun, mereka juga sudah membantunya tadi.
"Ok! Kalian boleh ikut!" ucapnya pasrah. Ia menghela napas dalam hati, berharap ada kesempatan lain untuk bisa berduaan dengan Cia.
Cia tak membantah. Ia justru terlihat bersemangat karena penasaran dengan markas The Mavericks. Ia selalu tertarik dengan hal-hal yang berbau geng motor, namun ia tahu kedua orang tuanya pasti tak akan pernah mengizinkan ia bergabung dengan geng motor. Dan ini kesempatan langka. Ia bisa masuk ke markas geng motor tanpa harus jadi anggota geng motor itu lebih dulu. Ia sangat penasaran seperti apa markas The Mavericks yang dipimpin Aksa.
Benar saja, tak butuh waktu lama kini mereka tiba di markas The Mavericks. Cia mengamati bangunan dua lantai itu dengan seksama. Di luar bangunan terdapat halaman yang lumayan luas. Beberapa motor sport dengan berbagai merek terparkir rapi, ia yakin itu pasti milik anggota The Mavericks.
"Hm! Lumayan juga anggota The Mavericks!" batin Cia, mengangguk-angguk pelan. Matanya menyapu setiap sudut bangunan. Di sisi samping bangunan juga ada lapangan basket.
Aksa langsung berjalan di sisi Cia, mengajaknya masuk. "Kita masuk dulu aja ya, P3K ada di dalam!" ujarnya lembut. Ia menyentuh lengan Cia dengan lembut, membuat gadis itu sedikit tersentak.
Di susul Bima, Galang, Arya, Varo, dan juga Vano di belakang mereka. Mereka berjalan beriringan menuju pintu masuk markas The Mavericks.
Begitu masuk, terlihat beberapa anggota mereka yang sedang bersantai di sofa dengan berbagai aktivitas masing-masing. Mereka sedikit terkejut dengan kehadiran gadis cantik di sisi ketua mereka. Bisik-bisik mulai terdengar di antara mereka.
Lalu fokus mereka kembali teralihkan saat melihat Bima, Galang, Arya, dan dua cowok kembar tampan masuk dengan keadaan wajah yang babak belur.
"Apa yang terjadi, ketua? Kenapa kalian bisa babak belur? Siapa yang melakukan ini?" tanya Bayu, salah satu anggota The Mavericks dengan nada khawatir. Ia menghampiri Aksa dan teman-temannya, memeriksa luka-luka mereka dengan cemas.
"Geng Cobra!" jawab Aksa singkat, lalu langsung duduk di atas sofa. Ia memejamkan mata sejenak, merasakan denyutan nyeri di sekujur tubuhnya.
"Bay, tolong ambilkan P3K di laci!" lanjutnya.
Tanpa bertanya lagi, Bayu langsung bergegas menuju laci dan mengambil kotak P3K. Ia menyerahkannya pada Aksa dengan tatapan prihatin.
Cia langsung mengambil alih kotak itu dari tangan Bayu tanpa banyak bicara dan mulai mengobati luka-luka Aksa. Ia membersihkan luka di wajah Aksa dengan hati-hati, berusaha tidak membuatnya kesakitan.
Bayu dan teman-temannya yang lain ikut mengobati luka Bima, Arya, dan Galang yang terlihat lebih parah dari Aksa. Mereka bekerja sama dengan cekatan, menunjukkan solidaritas dan kepedulian mereka sebagai anggota geng motor.
Cia membersihkan luka Aksa dengan telaten. "Aw!" ringis Aksa saat Cia menekan sudut bibirnya yang sedikit robek dengan kapas yang sudah dioles alkohol. Ia memejamkan mata, menahan rasa perih yang menusuk.
"Tahan sedikit ya! Ini sedikit perih, tapi hanya sebentar," ujar Cia sambil meniup-niup luka Aksa tanpa mengalihkan perhatiannya pada luka yang sedang ia obati. Ia berusaha bersikap profesional, namun jantungnya berdegup kencang saat berada sedekat ini dengan Aksa.
Aksa mengangguk pelan, menatap lekat wajah cantik Cia dari jarak dekat. "Cantik, dan... menggemaskan!" batin Aksa bersorak ria. Ia tak bisa menahan senyumnya. Ia merasa sangat beruntung bisa berada sedekat ini dengan gadis yang selama ini ia cintai.
Tanpa mereka sadari dari sudut ruangan, seorang gadis dengan rambut di ikat ekor kuda menatap Cia dengan tatapan iri dan cemburu. Dia adalah Monica, salah satu anggota wanita dari geng The Mavericks. Monica sudah lama memendam perasaan suka pada Aksa. Namun, Aksa tak pernah memberinya kesempatan untuk mendekat padanya. Aksa terkenal dingin dan tak tersentuh. Selama ini ia bahkan tak pernah mau berdekatan dengan wanita.
Tapi kini, Cia datang tanpa perlu berusaha, begitu mudah merebut perhatian seorang Aksa. Dan itu membuat Monica menaruh benci dan dendam pada sosok Cia. Tangannya mengepal kuat, matanya memancarkan amarah yang membara.
"Siapa sih gadis itu?" gumam Monica dalam hati, "Kenapa Aksa terlihat begitu lembut dan akrab sama tuh cewek! Gue nggak akan biarin gadis itu merebut Aksa begitu saja!" ucapnya hanya berani dari relung hatinya. Ia menggigit bibirnya, berusaha menahan emosi yang meluap-luap dalam dirinya.
Bersambung ...
yg disini kalang kabut yg disana tenang tenang saja😄
waah mereka emang berjodoh ya😄
suka banget ma story ny kk
beda level sama km
🤭🤭
kak dtggu next bab ny yx ,,
cerita ny baguuuus ,,