NovelToon NovelToon
Fated Across Borders: Shared Wounds

Fated Across Borders: Shared Wounds

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Berbaikan / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Zildiano R

Merupakan cerita alternatif dari light novel Fated Across Borders; Menceritakan Amayah yang terjebak dalam trauma masa lalu, ia berubah menjadi gadis keras yang melampiaskan lukanya lewat kekerasan dan penindasan.

Brian melihat sisi rapuh di balik sikapnya dan berusaha membantunya keluar dari kegelapan, namun kehadirannya selalu diabaikan seolah tak pernah ada. Di tengah luka yang terus menghantui Amayah, muncul satu pertanyaan: bisakah Brian benar-benar menolongnya, atau kegelapan itu telah menjadi bagian dari dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiano R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23

Suatu tengah malam, Brian terbangun tanpa sengaja. Rasa kantuk masih berat di kelopak matanya, namun keinginan buang air kecil memaksanya bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.

Saat melangkah melewati ruang tamu, langkahnya terhenti. Di atas sofa, ia melihat sosok Amayah terbaring pulas.

"Amayah? Mengapa dia bisa tidur di sofa…?" tanyanya dalam hati.

Brian mendekat perlahan. "Hei Amayah, bangun..." katanya pelan.

Tetapi suaranya tidak membangunkan Amayah.

"Dia tidur tanpa selimut. Pasti akan kedinginan," gumamnya pelan.

Ia terdiam sejenak, ragu dengan apa yang akan dilakukannya. Beberapa kemungkinan terlintas di kepalanya, hingga akhirnya ia menghela napas panjang.

"Aku terpaksa melakukannya. Mungkin dia tidak akan senang," batin Brian.

Dengan hati-hati, ia menggendong Amayah agar tidak terbangun. Langkahnya perlahan saat menuju kamar. Setibanya di sana, Brian menurunkannya ke atas ranjang, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh Amayah.

Setelah memastikan Amayah tertidur dengan nyaman, Brian keluar dari kamar dan memilih tidur di sofa.

"Sepertinya dia benar-benar kelelahan," gumamnya pelan.

Namun pagi harinya, Brian terbangun karena teriakan Amayah yang menggema dari kamarnya. Ia langsung bangkit dan bergegas menghampiri, memastikan tidak terjadi apa-apa.

"Ada apa?" tanya Brian datar.

Begitu Brian masuk, Amayah langsung berlari ke belakangnya dan memegang lengannya erat.

"A-Ada kecoak…" katanya gemetar.

Brian terdiam sejenak. "Kau ini… berani menghadapi orang, tapi takut pada serangga," ucapnya datar.

"Itu dua hal yang berbeda! Lagipula, mengapa ada kecoak di kamarmu? Jorok sekali!" balas Amayah kesal.

"Iya, iya. Aku akan menyingkirkannya. Sekarang lepaskan lenganku," kata Brian letih.

Barulah Amayah tersadar bahwa ia memegang lengan Brian terlalu erat. Wajahnya langsung memerah.

"M-Maaf…" ucapnya pelan.

Brian menoleh ke sekeliling kamar. "Ambilkan sapu," katanya singkat.

"Ah… ya," balas Amayah gugup.

Amayah segera mengambil sapu dan menyerahkannya. Tak lama kemudian, Brian memukul kecoak itu dengan cepat hingga mati. Amayah mengangguk beberapa kali, entah apa yang sedang ia pikirkan. Lalu Brian menyemprotkan sesuatu ke tempat serangga itu mati agar tidak meninggalkan bakteri dan kuman.

Brian menghela napas singkat. "Sudah."

"Syukurlah. Lain kali jaga kebersihan kamarmu. Mana mungkin kau ingin tidur ditemani serangga?" oceh Amayah kesal.

Ia lalu melanjutkan dengan nada kesal, "Lagipula, kenapa aku bisa tidur di kamarmu? Aku memang ketiduran, tapi menyelimutiku di sofa itu juga bukan masalah besar."

Mendengar ocehannya, Brian justru bertindak usil. Ia mengambil kecoak yang baru saja dibunuh dan melemparkannya ke arah Amayah.

"Aaa!!!" teriak Amayah ketakutan.

Brian tertawa kecil. "Hahaha."

"Kau bodoh! Mengapa kau melakukan itu?!" teriak Amayah marah, air mata mulai jatuh.

Melihat Amayah menangis dalam keadaan marah, Brian langsung merasa bersalah. "Maafkan aku…"

Namun Amayah sudah berbalik dan meninggalkan kamar.

"Aku tidak akan memaafkanmu!" teriaknya sebelum pergi.

Brian menghela napas panjang. "Sepertinya dia benar-benar marah," ujarnya datar.

"Nanti juga dia akan membaik," tambahnya, mencoba menenangkan diri.

Namun dugaannya salah. Pagi itu Amayah tidak kembali ke rumahnya seperti biasa. Tak ada sarapan, tak ada suara di dapur.

Brian merasa gelisah. Dengan perasaan bersalah, ia memutuskan untuk menghampiri rumah Amayah.

"Dia sepertinya marah sungguhan…" gumamnya.

Ia menekan bel beberapa kali, namun tak ada jawaban. Akhirnya, Brian berteriak.

"Amayah, maafkan aku! Aku benar-benar menyesal!" teriaknya dengan datar.

"Amayah sudah berangkat ke sekolah," jawab seorang wanita tua, tetangga mereka.

Brian menoleh. "Sungguh?"

"Ya, dia pergi beberapa menit lalu," jawab wanita itu santai.

"Kalau begitu, terima kasih," ujar Brian pelan.

"Sama-sama."

Brian pun berangkat ke sekolah dengan perasaan tidak tenang. Ia bahkan hanya sempat sarapan seadanya. Ia masih tidak mengerti mengapa Amayah begitu marah, hanya karena serangga itu. Namun perasaan bersalah tetap menghantuinya.

---

Di sekolah, Amayah masih terlihat menyendiri—sesuatu yang sebenarnya selalu Brian sadari setiap hari, mengingat posisi bangku mereka yang cukup berjauhan.

Namun kali ini terasa berbeda. Seolah ada jarak tak kasatmata yang semakin menjauhkan Amayah darinya.

Brian menatap ke arah Amayah dari tempat duduknya. Tatapannya kosong, pikirannya penuh. Lena, yang duduk di sebelahnya, menangkap ekspresi aneh itu dan tampak kebingungan.

"Ada apa, Brian?" tanyanya santai.

"Tidak ada apa-apa," jawab Brian cepat.

Meski begitu, Lena yakin ada sesuatu yang mengganggu pikiran Brian.

Saat jam pelajaran olahraga tiba, mereka melakukan kegiatan lari estafet—berlari untuk mengantarkan sebuah stik kepada anggota tim berikutnya.

Kebetulan, Brian dan Amayah berada dalam satu tim.

Amayah berlari kencang dengan wajah serius. Napasnya teratur, langkahnya mantap. Ketika ia sampai di hadapan Brian, ia langsung menyerahkan stik tanpa sepatah kata pun. Setelah itu, Amayah memalingkan wajahnya dengan ekspresi cemberut, jelas menunjukkan bahwa ia masih kesal pada Brian.

Brian terdiam sesaat, kebingungan. Namun ia tak punya waktu untuk berpikir. Ia segera berlari melanjutkan estafet, meski sempat menoleh sekilas ke belakang. Amayah masih berdiri di sana dengan raut marah, tetap diam tanpa menatapnya.

Usai pelajaran olahraga, Brian duduk di tempat teduh di dekat lapangan. Melihatnya sendirian, Lena pun menghampiri.

"Brian, ternyata kamu bisa lari juga," ejek Lena sambil tersenyum santai.

Brian langsung tersinggung. "Kau pikir aku hanya bisa tidur?" tanyanya datar.

"Tentu saja!" jawab Lena ringan.

Setelah itu, suasana kembali hening. Brian menatap ke depan, memperhatikan Amayah yang perlahan meninggalkan lapangan. Lena mengikuti arah pandangnya dan mulai merasa khawatir.

"Apa kamu punya masalah dengan Amayah?" tanyanya hati-hati.

Brian terkejut karena Lena bisa menyadarinya. "Ya… bisa dibilang kami bertengkar," jawabnya singkat.

"Begitu ya," Lena mengangguk. "Lalu, apa yang akan kamu lakukan?"

"Entahlah…" Brian menghela napas panjang.

Jawaban itu membuat Lena tidak puas. "Jangan begitu. Kalau kamu punya masalah dengannya, selesaikan," ujarnya serius.

"Itu hanya masalah sepele," balas Brian santai.

"Tapi dari ekspresi Amayah tadi, jelas dia marah padamu. Kalau begitu, seharusnya kamu meminta maaf," lanjut Lena tegas.

Ucapan itu membuat Brian tersadar. Meski pertengkaran mereka berawal dari hal kecil, bukan berarti bisa dibiarkan begitu saja.

"Benar juga. Aku akan bicara padanya nanti," ucap Brian akhirnya.

"Nah, begitu dong! Kamu harus jadi pria sejati!" seru Lena ceria.

Brian tersenyum kecil, merasa sedikit lebih ringan berkat kehadiran Lena.

Di sisi lain, Amayah memperhatikan mereka dari kejauhan, berdiri di balik jendela sekolah. Tatapannya tertuju pada Brian dan Lena yang tampak akrab. Tanpa ia sadari, rasa cemburu perlahan menyelinap di hatinya.

"Oh ya, apakah saat ini kamu sedang menyukai seseorang?" tanya Lena dengan nada penasaran.

Brian menjawab dengan wajah datarnya. "Setiap orang bisa menyukai orang lain."

"Maksudku yang lebih istimewa, seperti cinta…" kata Lena santai.

Barulah Brian memahami maksud pertanyaan itu. Ia menatap langit sejenak, seolah mencari jawaban di sana.

"Aku tidak terlalu mengerti tentang cinta," ujarnya akhirnya. "Karena itu, aku juga tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya."

Mendengar jawaban tersebut, Lena terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. "Maaf kalau aku bertanya sesuatu yang sulit…" katanya menyesal.

"Tidak apa-apa," balas Brian datar.

Namun Lena belum selesai. Dengan senyum menggoda, ia kembali bertanya, "Tapi saat melihat John dan pacarnya bermesraan, apa kamu tidak iri?"

"Tidak juga. Aku memang tidak tertarik pada hal seperti itu," jawab Brian singkat.

Lena tersenyum nakal. "Ingin mencobanya?" tanyanya jahil.

Mendengarnya, wajah Brian langsung memanas. "Apa maksudmu?"

"Hah? Aku bilang apa, ya?" Lena pura-pura bingung sambil melangkah menjauh perlahan dari Brian.

Brian terdiam di tempat, masih memikirkan kata-kata Lena barusan. Jantungnya berdegup semakin cepat.

"Apa yang dia maksud tadi…?" gumamnya bingung.

Ia refleks memegang dadanya sendiri.

"Kenapa jantungku berdebar kencang…?"

---

Join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini : https://whatsapp.com/channel/0029Vag3odvKQuJCLN490I0V (Jika tidak bisa dipencet, screenshot lalu pergi ke google lens)

---

"Tapi bagaimana cara membujuk Amayah agar memaafkanku, ya…?" pikir Brian sambil berjalan menyusuri trotoar.

Sepulang sekolah, langkahnya terasa lebih lambat dari biasanya. Pikirannya dipenuhi berbagai cara untuk membuat Amayah kembali memaafkannya. Namun, karena ia sama sekali tidak memahami perasaan wanita, semua itu terasa rumit dan membingungkan.

Di tengah lamunannya, tiba-tiba seseorang berjalan di sampingnya. Seorang wanita berambut pirang membawa tas belanja yang tampak sangat penuh. Tanpa diduga, tali tas itu putus, membuat seluruh isi di dalamnya—sayur-sayuran segar—berserakan di jalan.

"Eh…?" ujar wanita itu dengan nada sedih. Ia segera berjongkok, berusaha memunguti kembali belanjaannya yang tercecer.

Brian menghentikan langkahnya. Ia menatap sejenak, lalu masuk ke sebuah minimarket terdekat dan meminta dua kantong kertas. Setelah itu, ia menghampiri wanita tersebut, membantu memunguti sayuran, dan memasukkannya ke dalamnya.

"Terima kasih karena telah membantuku…" ucap wanita itu dengan suara lembut dan senyum hangat ke arah Brian.

Dengan ekspresi datar seperti biasa, Brian menjawab singkat, "Sama-sama."

Setelah semua sayuran berhasil dimasukkan ke dalam kantong kertas, Brian menyerahkannya kembali.

Wanita berambut pirang itu menerimanya dengan kedua tangan. "Sekali lagi terima kasih, ya… eee…" katanya ragu, memberi isyarat bahwa ia belum tahu nama Brian.

"Nama saya Brian Narendra," ujar Brian datar.

"Brian…?" gumam wanita itu pelan.

Brian sedikit kebingungan. "Apa ada masalah?" tanyanya.

"Tidak kok," jawab wanita itu cepat. Ia lalu tersenyum malu. "Oh ya, kalau tidak keberatan, bisakah kau membantu mengantarkan sayuran ini ke rumah saya? Sepertinya saya terlalu banyak berbelanja di supermarket."

Brian berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Baiklah."

Mereka pun berjalan bersama. Di sepanjang perjalanan, wanita itu sesekali mengajak Brian mengobrol ringan—menanyakan asal sekolahnya dan hal-hal sepele lainnya.

Brian mendengarkan sambil sesekali menjawab singkat.

"Wanita ini… rambut pirangnya asli…?" batin Brian tiba-tiba, rasa penasarannya muncul tanpa alasan yang jelas.

---

Setibanya di sebuah apartemen, wanita itu membuka pintu dengan kunci pribadinya. Setelah pintu terbuka, ia menoleh sambil tersenyum ramah.

"Ayo mampir dulu."

"Eh?" Brian terkejut sekaligus bingung.

"Saya ingin membalas kebaikanmu," ujar wanita itu santai.

"Tidak perlu, saya tidak ingin merepotkan Anda," ucap Brian datar dengan senyum tipis yang canggung.

Namun, wanita itu justru berjalan ke belakang Brian dan mendorong punggungnya pelan, seolah tak memberi ruang untuk menolak. "Sudah, ayo masuk~"

Brian yang masih kebingungan akhirnya hanya bisa menuruti. Ia duduk diam di sofa ruang tamu dengan tubuh sedikit kaku. Jantungnya berdebar, gugup karena niatnya pulang justru berubah menjadi kunjungan ke apartemen wanita asing yang baru ia temui.

"Tunggu sebentar ya."

"B-Baiklah..." balas Brian gugup.

Pandangan Brian menyapu seisi ruangan. Ruang tamu itu terlihat modern dan tertata rapi. Perhatiannya lalu tertarik pada sebuah bingkai foto besar di atas televisi. Dalam foto itu, tampak seorang pria berambut cokelat dengan tubuh berotot dan kekar.

"Pria itu… aku tidak akan bertemu dengannya, kan? Dia terlihat menyeramkan…" pikir Brian cemas.

Namun saat memperhatikan wajah-wajah lain dalam foto keluarga tersebut, ia sedikit terkejut.

"Itu kan…" gumamnya.

Sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya, pintu apartemen tiba-tiba terbuka. Sebuah suara terdengar—sangat familiar di telinga Brian.

"Harusnya kakak yang belanja. Padahal sedang nganggur," ujar seorang wanita dengan nada kesal.

Wanita lain membalas, "Kakak sedang ada urusan, tahu. Sangat sibuk!"

"Kakak kan pengangguran! Palingan juga kakak hanya berkumpul dengan teman-teman kakak dan—"

Namun ucapannya terhenti ketika matanya menangkap sosok Brian.

"Brian?" tanyanya kaget.

"Lena…?" Brian membalas, tak kalah bingung.

Ternyata wanita itu memang Lena. Pantas saja suaranya terdengar begitu familiar. Namun yang membuat Brian semakin heran adalah alasan keberadaannya di tempat ini.

"Mengapa kamu ada di sini?" tanya wanita yang berdiri di samping Lena.

"Eh? Kakak mengenalnya juga?" Lena balik bertanya dengan wajah bingung.

Brian pun menjelaskan, "Kalau tidak salah, kita bertemu di sebuah mal, ya?"

"Benar," ujar wanita berambut pirang itu

"Waktu itu aku hendak masuk ke elevator, tapi pintunya hampir tertutup. Untung pria ini menahannya," jelasnya pada Lena.

Rambut pirang wanita itu sangat mirip dengan wanita yang sebelumnya ditolong Brian—yang kini mengundangnya ke apartemen ini, meski sedikit pucat.

"Tunggu, kau memanggilnya ‘kakak’?" tanya Brian kebingungan.

"Ya, dia kakakku," jawab Lena santai.

"Yo! Pria yang telah membuat adik imutku ini galau," kata wanita itu dengan nada sarkas.

Mendengar kakaknya menyinggung kejadian saat ia menangis karena Brian mengabaikannya, Lena langsung kesal. "Duh, Kakak! Jangan bahas itu!"

"Iya, iya…" balasnya acuh.

Tak lama kemudian, wanita yang mengundang Brian tadi keluar dari kamar. "Maaf mengejutkan kalian. Brian menolong ibu tadi, dan saat ibu tahu namanya, ibu jadi terpikir untuk mengundangnya makan malam," jelasnya.

"Seharusnya ibu bilang dulu…" gumam Lena pelan.

Lalu Lena tersenyum ke arah Brian.

"Ini kakakku, Liisa Paavola. Dan wanita itu ibuku, Kaisa Laitinen. Maaf karena ibu memaksamu," katanya dengan nada menyesal.

"Ah… iya…" Brian hanya mengangguk canggung.

Mendengar itu, Kaisa berbicara menggunakan bahasa Finlandia, bahasa sehari-hari mereka di rumah. "Tapi kamu senang kan? Karena orang yang kamu ceritakan pada ibu dan kamu sukai ada di rumah?" tanyanya dengan nada menggoda.

"Ibu…! Apa sih!" balas Lena tersipu, wajahnya memerah, juga dalam bahasa Finlandia.

"Hahaha!" tawa Liisa menggema.

Namun bukan hanya Lena yang malu. Pipi Brian ikut memerah. Ia segera memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan rasa canggungnya. Liisa yang menyadari reaksi itu justru terlihat bingung.

"Silakan bersantai dulu, Nak Brian. Saya akan menyiapkan makan malam," ucap Kaisa dengan ramah.

"Tapi saya tidak ingin merepotkan Anda…" ujar Brian ragu.

"Tidak usah dipikirkan," sela Lena sambil tersenyum. "Ini cara keluarga kami membalas kebaikan."

"Itu benar, mumpung datang kemari, nikmati saja waktu bersama kami," tambah Liiisa santai.

Lena dan Kaisa tersenyum hangat ke arah Brian. Tatapan itu membuatnya tak sanggup menolak, meski rasa gugup dan malu masih menyelimuti.

"Baiklah…"

"Yeay!" seru Lena ceria. "Brian, mau masuk ke kamarku? Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan!"

"Ah… ya…" Brian hanya bisa mengangguk.

Mereka pun masuk ke kamar Lena. Di dalamnya, Brian melihat banyak rak buku yang tersusun rapi.

"Tidak basa-basi terlebih dahulu, ia langsung mengajaknya ke kamar... Keren, Lena!" gumam Liisa bersemangat, sedangkan Liisa hanya bisa tersenyum heran.

Bersambung.

1
Rama Iskandar
end ny gk nikah?
Zildiano R: Ini baru tamat part 1, part 2 nya menyusul, join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini 🙏
total 1 replies
Rama Iskandar
p
Rama Iskandar
sepi amat
Rama Iskandar
p
SaeKanai
Saya puas dengan endingnya🤣🤣
semangat terus bang!!!
Zildiano R: thank you👍
total 1 replies
sakura
...
gralsyah
diam-diam menghanyutkan tuh si amayah ya 😭 gk ketebak wkwk
Zildiano R: wkkwk🤣
total 1 replies
gralsyah
mampir kak author. ihh seruuuu. ceritanya
Zildiano R: terima kasih~
total 1 replies
Marley Howard
keren cuy
Zildiano R: makasih🙏
total 1 replies
Arisell
semangat oi
Zildiano R: makasih, siap🙏
total 1 replies
Khai Dok
udah chat ke editor ya... covernya?
Zildiano R: sudah👍
total 1 replies
Khai Dok
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!