Kayla dikenal sebagai Queen, seorang kupu-kupu malam yang terkenal akan kecantikan wajahnya dan bermata indah.
Suatu hari Kayla menghindar motor yang tiba-tiba muncul dari arah samping, sehingga mengalami kecelakaan dan koma. Dalam alam bawah sadarnya, Kayla melihat mendiang kedua orang tuanya sedang disiksa di dalam neraka, begitu juga dengan ketiga adik kesayangannya. Begitu sadar dari koma, Kayla berjanji akan bertaubat.
Ashabi, orang yang menyebabkan Kayla kecelakaan, mendukung perubahannya. Dia menebus pembebasan Kayla dari Mami Rose, sebanyak 100 juta.
Ketika Kayla diajak ke rumah Ashabi, dia melihat Dalfa, pria yang merudapaksa dirinya saat masih remaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Pagi Minggu tiba, langit cerah, matahari menyelinap malu-malu di balik tirai tipis awan, dan angin berhembus pelan membawa aroma tanah basah dari halaman rumah besar milik keluarga Ramlan. Namun, bagi Kayla, pagi ini tidak terasa semangat. Justru ada perasaan berat yang menekan dadanya sejak bangun tidur.
Sejak subuh tadi, ia sudah merasa tidak tenang.
Di atas sajadah lusuh di sudut kamar kontrakannya, Kayla berdoa panjang. Suaranya bergetar, tangannya gemetar, air matanya menetes tanpa ia sadari.
“Ya Allah, semoga hari ini Dalfa tidak ada di rumah. Jangan biarkan aku bertemu dengannya. Beri aku kekuatan jika itu terjadi.”
Tetapi takdir seolah memilih sebaliknya.
Ketika Kayla tiba di rumah Pak Ramlan pagi itu, mobil hitam mengilap milik Dalfa sudah terparkir di halaman.
Jantung Kayla seperti berhenti seketika. Langkahnya terhenti di depan gerbang. Napasan Kayla tertahan. Tangannya mencengkeram erat tali tas kain yang ia bawa.
“Rupanya dia ada di rumah,” batin Kayla bergejolak.
Beberapa detik Kayla hanya berdiri mematung, menatap mobil itu dengan dada naik turun. Ia hampir berbalik, hampir memilih pulang. Namun, wajah adik-adiknya kembali terbayang. Senyum mereka, kebutuhan mereka, masa depan mereka.
Kayla menarik napas panjang, menguatkan diri, lalu melangkah masuk dengan kepala tertunduk. Di ruang tamu, suasana rumah tampak lebih santai dari biasanya. Hari Minggu memang berbeda suasana lebih ramai dan hangat, terasa benar-benar “rumah”.
Bu Aisyah menyambut Kayla dengan senyum ramah. “Pagi, Kayla. Kamu datang lebih pagi lagi hari ini,” katanya lembut.
“Pagi, Bu,” jawab Kayla sopan, berusaha tersenyum meski hatinya gelisah.
Pak Ramlan duduk di sofa, membaca koran sambil menyeruput kopi.
“Kayla, hari ini kamu masak yang spesial, ya? Minggu ini rasanya ingin makan yang sederhana, tapi bikin kangen,” ucapnya sambil menurunkan koran.
Kayla mengangguk. “InsyaAllah, Pak. Saya sudah ada rencana.”
Di dalam hati, ia memang sudah menyiapkan menu sejak kemarin, menu yang ia tahu akan disukai Pak Ramlan. Namun, di sudut lain rumah itu, ada satu sosok yang membuat seluruh tubuh Kayla tegang.
Dalfa. Pria itu duduk di ruang makan, bersandar di kursi dengan tangan terlipat di dada. Wajahnya tetap datar, ekspresinya sulit ditebak. Matanya tajam, dingin, dan penuh penilaian, diam-diam mengikuti setiap gerak Kayla.
Kayla sengaja tidak menoleh ke arahnya. Ia memilih masuk cepat ke dapur, berusaha menghilang dari pandangan pria itu.
Di dapur, Kayla menghembuskan napas panjang.
Ruangan itu luas, bersih, dan terang. Bau sabun pembersih masih tercium samar. Ia membuka kulkas, mengeluarkan bahan-bahan yang sudah disiapkannya, beras, ikan segar, kangkung hijau, cabai merah, bawang, tomat, terasi, dan beberapa bumbu dapur lainnya.
Kayla menyiapkan nasi liwet dengan hati-hati. Ia mencuci beras perlahan, memasukkannya ke dalam panci besar bersama serai, daun salam, dan sedikit santan.
Api kompor dinyalakan pelan. Aroma harum mulai tercium saat nasi mulai matang. Di samping itu, ia membersihkan ikan, membumbuinya dengan garam, jeruk nipis, dan sedikit kunyit, lalu membakarnya di atas panggangan.
Suara “sss…” terdengar ketika kulit ikan mulai mengering di atas bara.
Kayla lalu menumis kangkung dengan bawang putih, cabai, dan sedikit kecap. Masakan sederhana, tetapi menggugah selera. Terakhir, ia mengulek sambal di cobek batu, cabai merah, bawang, tomat, dan terasi yang dibakar terlebih dahulu.
Setiap gerakan Kayla terampil dan penuh perhitungan. Namun, di balik semua itu, hatinya tidak pernah benar-benar tenang. Sesekali ia melirik ke arah pintu dapur, khawatir Dalfa akan muncul tiba-tiba.
Di ruang makan, Pak Ramlan mulai mencium aroma masakan. Beliau bangkit dari sofa, berjalan perlahan ke arah dapur.
“Wah, bau nasi liwet,” ucap Pak Ramlan, matanya berbinar.
Kayla menoleh dan langsung menunduk sopan. “Iya, Pak. Saya sengaja masak liwet hari ini,” jawabnya pelan.
Pak Ramlan tersenyum lebar, senyum yang jarang terlihat di wajah tegasnya.
“Ini mengingatkan Bapak pada masa kecil di kampung. Ibu Bapak dulu sering masak liwet seperti ini, dimakan bareng-bareng di tikar,” katanya, suaranya sedikit bergetar.
Kayla terharu melihat ekspresi itu.
Beberapa menit kemudian, makanan sudah siap disajikan. Nasi liwet mengepul hangat di tengah meja, ditemani ikan bakar yang kecokelatan, sambal merah menggoda, dan tumis kangkung hijau segar.
Bu Aisyah tersenyum puas. “Kayla, kamu benar-benar pandai memasak.”
Dalfa duduk di salah satu kursi, tetapi masih belum banyak bicara. Ia mengambil nasi perlahan, mencicipi ikan bakar, lalu sambal. Beberapa detik ia diam. Matanya sedikit menyipit, bukan marah, tetapi berpikir.
“Apa ini pertama kalinya kamu masak liwet?” tanyanya tiba-tiba, suaranya rendah.
Kayla terkejut mendengar pertanyaan itu.
Ia menunduk. “Tidak, Mas. Dulu saya sering masak di rumah.”
Dalfa tidak menanggapi lagi. Ia hanya terus makan, tetapi diam-diam memperhatikan Kayla yang berdiri tidak jauh dari meja. Ada sesuatu yang mengganggunya.
Bola mata Kayla berwarna amber, bukan cokelat gelap seperti kebanyakan orang, bukan juga hijau atau biru. Warna itu unik, hangat, tetapi menyimpan kesedihan yang dalam.
Dalfa merasa tidak asing dengan tatapan itu. Seolah pernah ia lihat sebelumnya. Namun, ia tidak bisa mengingat di mana.
Di sisi lain, Kayla merasa semakin tidak nyaman setiap kali merasakan tatapan Dalfa padanya. Dadanya berdegup kencang. Tangannya gemetar memegang lap. Ia sengaja menyibukkan diri membersihkan meja dapur, menghindari kontak mata.
Sementara itu, Pak Ramlan menikmati makanannya dengan penuh kenangan. “Kayla, Bapak sudah lama tidak makan seenak ini. Terima kasih,” ucapnya tulus.
Kayla menunduk lebih dalam. “Alhamdulillah, kalau Bapak suka.”
Di luar rumah, matahari mulai naik tinggi, memantulkan cahaya hangat ke halaman luas.
Namun, di dalam rumah itu, suasana bagi Kayla terasa dingin dan menekan. Bukan karena perlakuan majikan, tetapi karena kehadiran Dalfa.
Menjelang siang, Bu Aisyah mengajak Kayla duduk sebentar di ruang makan. “Kayla, kamu sudah dua bulan lebih di sini. Kami sangat senang dengan kinerjamu,” katanya lembut.
Kayla terkejut, matanya berkaca-kaca. “Terima kasih, Bu. Saya hanya berusaha bekerja sebaik mungkin,” jawabnya lirih.
Di sudut ruangan, Dalfa masih memperhatikan. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding, tangan di saku celana, wajah tetap datar, tetapi pikirannya tidak tenang. Ada sesuatu tentang Kayla yang terus mengusiknya.
Cara wanita itu berjalan. Caranya menunduk. Juga cara dia menghindari tatapannya.
Bola mata berwarna amber itu telihat hangat, tetapi penuh luka. Seolah menyimpan rahasia kelam yang tidak ingin terungkap.
Sore hari tiba, Kayla bersiap pulang, membereskan barang-barangnya dengan cepat. Di luar, langit mulai berubah jingga. Ia melangkah keluar dapur, melewati ruang makan dan tanpa sengaja, matanya bertemu dengan mata Dalfa.
Hanya sepersekian detik. Namun, itu cukup membuat napasnya tercekat.
Dalfa menatapnya tanpa ekspresi, tetapi dalam diam ia semakin yakin, ada sesuatu yang mengikat mereka, meski ia belum tahu apa.
Kayla menunduk cepat, berjalan terburu-buru keluar rumah. Di gerbang, ia menghembuskan napas panjang, seolah baru terbebas dari tekanan. Namun, di dalam hatinya, kegelisahan itu tetap ada.
dan ahh masih bikin bgg
trus duit dr mna dia apa g di lertanyakan sm org tuanya ya
nnti ada wktunya itu klo sudah autornya berkehendak 🙈🙈🙈
kemasa saja ini orang knp baru muncul aja
trus se enak nya ya
ini baru permulaan ya