NovelToon NovelToon
Agri-Tech King: Rahasia Proyek Pewaris

Agri-Tech King: Rahasia Proyek Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas dendam pengganti / Dunia Lain
Popularitas:593
Nilai: 5
Nama Author: indri sanafila

Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.

Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".

Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.

Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Opsi Ketiga di Titik Nol

Adrian ngerasa dunianya kayak lagi diputer balik di dalem mesin cuci. Kepalanya pusing bukan main. Di depannya, warga desa Malabar yang biasanya ramah dan suka nawarin kopi tubruk, sekarang jalan kaku kayak zombi di film-film bioskop.

Mata mereka kosong, tapi ada cahaya biru redup yang keluar dari pupilnya. Dan yang paling bikin hati Adrian ambyar adalah ngelihat Sekar. Gadis agronomis yang galaknya minta ampun itu sekarang lagi pegangan ke pundak Adrian, badannya lemes, dan urat-urat biru di pelipisnya makin kelihatan jelas.

"Adrian... dingin... kepalaku rasanya mau pecah..." bisik Sekar. Suaranya kecil banget, hampir ilang ditelan suara dengungan menara kristal di belakang mereka. Wanita dengan bekas luka di leher itu ketawa makin kenceng. "Gimana, Tuan Muda? Rasanya jadi Tuhan itu nggak gampang, kan? Satu perintah dari lu, dan mereka semua bakal sujud. Tapi satu kesalahan kecil, dan saraf mereka bakal angus kena overload energi."

Adrian ngencengin pegangannya ke ponsel. Suara ibunya yang tadi lewat telepon masih ngering di telinganya. Opsi ketiga di bawah akar pohon teh induk... yang asli. Kalimat itu terus muter-muter. Adrian mikir keras. Kalau pohon yang tadi dia gali itu cuma umpan, berarti ada pohon lain. Tapi pohon teh induk di perkebunan ini kan cuma satu?

Tunggu. Adrian inget sesuatu. Waktu dia pertama kali dateng ke sini dan baca-baca arsip tua di rumah panggung yang berdebu itu, ada satu denah lama yang digambar tangan. Di denah itu, ada simbol pohon teh yang letaknya bukan di area perkebunan yang sekarang, tapi jauh di belakang rumah panggung, di area yang udah ketutup semak belukar dan dianggap "tanah mati" karena nggak bisa ditanemin apa-apa.

"Administrator Adrian, menunggu perintah," suara robot yang mirip bokapnya itu balik lagi. Dia berdiri tegak, nunggu instruksi. Adrian narik napas dalem-dalam. Dia harus akting. Dia harus kelihatan kayak dia udah nerima takdirnya supaya wanita itu dan anak buahnya lengah.

"Oke, oke, lu menang!" teriak Adrian ke arah wanita bermasker itu. "Gua bakal jalanin sistem ini. Tapi gua butuh waktu buat kalibrasi. Sinyal globalnya masih belum stabil di dahi warga." Wanita itu nyipitin matanya. "Jangan coba-coba nipu gua, Adrian. Gua tahu isi otak lu."

"Gua nggak punya pilihan, kan?" Adrian nunjuk ke arah Sekar yang makin pucat. "Gua butuh dia hidup. Gua bakal bawa dia ke lab buat dicek energinya. Lu dan anak buah lu, jagain menara itu. Jangan sampai ada yang nyentuh sampai gua kasih aba-aba dari dalem."

Kelihatannya wanita itu kemakan omongan Adrian. Dia ngerasa udah menang telak karena posisi Adrian bener-bener kejepit. Dia ngasih isyarat ke anak buahnya buat nurunin senjata dan fokus ke menara kristal yang makin terang itu.

Adrian nggak nunggu lama. Dia langsung ngerangkul Sekar, ngebopong badannya yang mulai kerasa berat. "Ikut gua, Kar. Lu harus tahan sebentar lagi," bisiknya. Dia jalan ngelewatin kerumunan warga yang diem aja pas dia lewat mungkin karena status "Administrator"-nya bikin dia dianggap bagian dari sistem. Tapi Adrian nggak masuk ke lab. Pas dia udah deket pintu lab, dia tiba-tiba belok tajem, lari ke arah jalur tikus yang nuju ke belakang rumah panggung.

"Woi! Dia mau kabur!" Teriak salah satu anak buah wanita itu. Suara tembakan mulai kedengeran lagi, tapi kali ini Adrian udah masuk ke dalem rimbunnya hutan pinus. Dia lari sekenceng mungkin sambil ngebopong Sekar. Adrenalin bener-bener jadi bahan bakar utamanya sekarang. Jas mahalnya udah robek sana-sini, kemeja putihnya penuh noda tanah, tapi dia nggak peduli. Satu-satunya hal yang ada di otaknya cuma nyampe ke "pohon teh induk yang asli".

Setelah lari jungkir balik selama hampir lima belas menit, mereka nyampe di area yang bener-bener sunyi. Nggak ada suara mesin, nggak ada cahaya biru menara. Cuma ada satu area kecil yang dikelilingi pagar kawat tua yang udah karatan parah. Di tengahnya, ada satu pohon teh yang ukurannya nggak masuk akal. Pohon itu nggak tinggi, tapi batangnya lebar banget, dan daunnya warnanya bukan hijau tua, tapi kuning emas yang bening.

"Ini dia..." gumam Adrian. Dia naruh Sekar pelan-pelan di bawah pohon itu. Anehnya, begitu Sekar deket sama pohon itu, cahaya biru di pelipisnya mulai redup. Sekar narik napas panjang, kayak orang yang baru aja dapet oksigen setelah tenggelam. "Tempat ini... auranya beda banget, Adrian," kata Sekar parau. Dia mulai bisa duduk sendiri meskipun masih lemes.

Adrian nggak buang waktu. Dia nyari titik di bawah akar pohon itu. Dia ngelihat ada satu batu ubin kecil yang kayaknya sengaja ditaruh di sana. Begitu dia angkat ubinnya, ada sebuah panel digital kuno yang layarnya udah retak-retak. "Lu siapa sih sebenarnya yang nelpon gua pakai suara nyokap?" tanya Adrian pelan sambil ngetik kode yang tadi dikirim lewat pesan singkat.

Layar itu nyala. Muncul video rekaman singkat. Tapi yang ada di video itu bukan nyokapnya, melainkan bokapnya yang asli wajahnya kelihatan capek banget, ada perban di kepalanya, dan dia kayak lagi sembunyi di suatu tempat.

"Adrian, kalau kau melihat ini, berarti kau sudah menemukan 'Antivirus'-nya. Maafkan Ayah karena harus membuat skenario gila ini. Baskara dan kelompok bunga lili itu adalah pengkhianat. Mereka mengubah penelitian Ayah yang tadinya untuk energi bersih jadi alat kontrol massa.

Pohon emas di depanmu ini adalah satu-satunya tanaman yang nggak terinfeksi jaringan biru. Di dalamnya ada senyawa yang bisa mutusin koneksi saraf manusia dari jaringan global itu tanpa ngebunuh mereka."

Adrian ngerasa tenggorokannya tercekat. Jadi bokapnya beneran masih hidup, tapi mungkin lagi disekap atau lagi sembunyi. "Ambil ekstrak dari akar pohon ini, campurin sama cairan perak di tabungmu. Itu bakal jadi 'Grounding'. Kalau kau suntikkan ke menara pusat, semua jaringan biru bakal mati selamanya, dan warga bakal sadar lagi. Tapi ingat, Adrian... begitu kau lakukan itu, seluruh kekayaan Dirgantara Group bakal musnah karena teknologinya bakal hancur total. Kau bakal bener-bener jadi orang miskin lagi."

Adrian diem sejenak. Dia ngelihat ke arah Sekar. Terus dia mikirin apartemen mewahnya, mobil-mobilnya, dan statusnya sebagai "The Shark" di Jakarta. Kalau dia ancurin sistem ini, dia bakal balik jadi orang biasa yang punya utang segunung.

"Adrian," Sekar megang tangan Adrian. Matanya sekarang udah bener-bener jernih lagi. "Harta bisa dicari. Tapi kalau lu biarin sistem ini jalan, lu nggak bakal pernah bisa tidur nyenyak seumur hidup lu."

Adrian senyum tipis. "Lu bener, Kar. Lagian, gua bosen juga pakai jas terus. Panas."

Adrian mulai ngikutin instruksi di video itu. Dia ngambil sedikit cairan bening dari akar pohon emas itu pakai alat suntik kecil yang tersedia di panel bawah tanah. Dia nyampurin cairan itu ke tabung perak miliknya. Seketika, warna birunya ilang, ganti jadi warna putih bening yang tenang banget.

Tapi pas dia mau berdiri buat balik ke puncak gunung, suara langkah kaki pelan terdengar dari balik semak belukar. Baskara muncul. Tapi kali ini dia sendirian. Wajahnya nggak lagi kelihatan menang, tapi malah ketakutan setengah mati. Bajunya compang-camping dan ada darah di lengannya.

"Adrian! Tolong gua!" Baskara jatuh berlutut di depan Adrian. "Wanita itu... dia gila! Dia baru aja ngaktifin protokol pembersihan. Dia mau ngebakar seluruh desa Malabar pakai energi dari menara itu kalau sistem globalnya nggak sinkron dalam sepuluh menit! Dia nggak butuh lu lagi, dia cuma butuh tabung itu!"

Adrian kaget. "Maksud lu pembersihan?" "Dia mau ngapus semua jejak! Dia bakal nembakin energi panas dari menara ke seluruh titik koordinat di desa. Semuanya bakal jadi abu supaya rahasianya nggak bocor ke pemerintah! Gua dikhianatin, Adrian... tolong bawa gua pergi!"

Adrian ngelihat ke arah jam tangannya. Sepuluh menit. Desa Malabar, tempat tinggal ratusan orang yang baru aja mulai dia sayangi, terancam musnah. "Gua harus balik ke puncak," kata Adrian tegas. "Lu gila? Di sana ada pasukan bersenjata dan wanita iblis itu!" teriak Baskara. "Gua punya administrator akses," Adrian ngangkat ponselnya. "Gua bakal perintah si robot bokap buat lawan mereka. Kar, lu jagain tempat ini. Kalau dalam lima belas menit gua nggak balik, lu lari sejauh mungkin dari gunung ini."

"Nggak! Gua ikut!" Sekar berdiri, mukanya nunjukin kalau dia nggak bakal bisa didebat. Mereka bertiga Adrian, Sekar, dan Baskara yang masih gemeteran mulai lari balik ke arah puncak gunung. Tapi pas mereka udah nyampe di perbatasan hutan, mereka berhenti.

Pemandangan di depan mereka bener-bener kayak kiamat. Menara kristal itu sekarang muter kenceng banget, ngeluarin suara raungan yang bikin tanah bergetar hebat. Langit di atas Malabar bener-bener merah membara. Dan yang paling nakutin, si sosok robot mirip bokap Adrian sekarang lagi berantem sama pasukan wanita itu. Gerakannya brutal banget, dia ngelempar orang-orang kayak ngelempar boneka kapas.

Tapi wanita bermasker itu tetep berdiri tenang di depan menara. Dia megang sebuah detonator manual. "Adrian! Dateng juga lu!" Teriak wanita itu tanpa noleh. "Lu telat satu menit. Sistemnya udah lockdown. Sekarang, bukan lu lagi administratornya. Sistem ini udah punya pikirannya sendiri, dan dia minta tumbal buat stabilin energinya!"

Tiba-tiba, menara itu ngeluarin sulur-sulur cahaya biru yang mulai narik warga desa yang ada di deket situ masuk ke dalem pusaran energinya. Adrian ngelihat Wak Haji dan beberapa petani lain mulai ketarik, kaki mereka keseret di tanah.

"Adrian, lakuin sesuatu!" teriak Sekar. Adrian lari nerjang ke arah menara, tapi tiba-tiba ponselnya bunyi lagi. Video call dari nomor misterius itu tersambung otomatis. Begitu layarnya nyala, Adrian ngelihat pemandangan yang bikin dia membeku.

Di layar itu, ada ibunya. Bukan rekaman tua, tapi ibunya yang kelihatan nyata, lagi duduk di sebuah ruangan serba putih yang mirip laboratorium masa depan. "Adrian, dengarkan baik-baik. Jangan masukkan cairannya ke menara. Masukkan cairannya ke dalam tubuhmu sendiri. Kau adalah 'Kunci' yang sebenarnya. Kau lahir untuk ini."

Adrian berhenti lari. Dia ngelihat tabung di tangannya, terus ngelihat ke arah menara yang makin gila, lalu ke arah ibunya di layar ponsel. "Maksud Ibu apa? Kalau gua suntik ini ke diri gua, gua bakal mati kan?" tanya Adrian histeris. Ibunya cuma senyum sedih. "Kau nggak akan mati, Sayang. Kau cuma akan... terhubung. Selamanya."

Di saat yang sama, wanita bermasker itu nembak ke arah Adrian, pelurunya nyerempet bahu Adrian. Adrian jatuh tersungkur, tabung bening di tangannya terlempar ke arah jurang di pinggir puncak gunung.

Tabung berisi "antivirus" itu sekarang melayang di udara, menuju jurang yang dalam. Adrian terluka di bahu, warga mulai terserap ke dalam menara energi, dan ibunya memberikan instruksi yang terdengar seperti hukuman seumur hidup.

Apakah Adrian akan melompat mengejar tabung itu, ataukah dia akan menyerah pada takdir yang sudah dirancang untuknya sejak lahir? Dan siapa sebenarnya ibunya yang muncul dalam video call tersebut apakah itu manusia, atau bagian dari kecerdasan buatan yang sudah menguasai Malabar?

1
Arifa
menarik ceritanya bisa di bilang mind blowing.
semangat update terus tor..
indri sanafila: terima kasih semangatnya dan sudah setia mengikuti perjalanan Adrian🙏
total 1 replies
~($@&)~%
bang,ga di kontrak kah ,novel nya
indri sanafila: lagi proses pengajuan kontrak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!