Intan harus berjuang membuktikan pada keluarga sang suami bahwa dia bukanlah pelacur walaupun dia terlahir dari rahim seorang pelacur. Namun akibat pengkhianatan sang suami yang menikah lagi tanpa sepengetahuan darinya dan tidak diperlakukan dengan adil oleh suaminya, akhirnya Intan terjerumus dalam sebuah dosa dengan kakak iparnya . Dan hal itu lah yang menjadi penyebab hancurnya rumah tangganya bersama dengan Aldy. Dan intan harus rela dibenci oleh anak kandungnya sendir hingga bertahun- tahun lamanya akibat sang anak dipengaruhi oleh keuarga Aldy jika sang ibu bukan orang baik. Apakah Intan bisa kuat menjalani kehidupannya yang dipenuhi dengan kebencian dari keluarga Aldy dan juga anak kandungnya...? Yuk baca cerita selengkapnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Belum sepenuhnya percaya
Sebagai permintaan maaf Aldy kepada Intan, hari minggu ini Aldy mengajak istri dan anaknya jalan- jalan ke mall. Aldy mengajak Intan belanja. Mereka pun mendatangi toko pakaian. Di sana Intan membeli beberapa pakaian untuknya, Aldy dan juga Arkan. Tak lupa Aldy juga mengajak Intan ke toko sandal, tas dan juga jam tangan.
Iya, hari ini Aldy benar- benar memanjakan Intan. Tentu saja Intan senang. Ini adalah kali pertama Aldy mengajaknya pergi ke mall dan juga belanja keperluannya.
Setelah belanja, mereka bertiga pergi ke food court untuk makan siang. Setelah sekitar satu jam makan di food court mereka bertiga pun memutuskan untuk pulang. Karena selain mereka sudah capek keliling mall, Arkan juga sudah ngantuk.
Aldy menggendong Arkan yang sedang tidur, sedangkan Intan yang membawa barang belanjaan. Mereka berjalan menuju parkiran mall. Namun di tengah jalan tiba- tiba ada seorang laki- laki berumur sekitar lima puluh tahun memanggil nama Intan.
"Halo Intan sayang... Ke mana saja kamu... ? Lama nggak ketemu..." ucap laki- laki berbadan tinggi besar yang berpapasan dengan Intan.
Aldy yang berjalan di depan Intan sambil menggendong Arkan pun langsung berhenti dan menoleh pada sang Istri.
Sedangkan Intan tentu saja kaget melihat laki- laki yang dia kenal bernama om Haris salah satu pelanggan di diskotik tempat Intan bekerja dulu.
"O...om Haris..." ucap Intan.
"Iya Intan... Syukurlah kamu masih mengenali om..." sahut om Haris sambil menampilkan senyuman nakal serta mencolek dagu Intan.
"Om... Tolong jangan seperti itu..." Intan mundur satu langkah dari om Haris.
Melihat sang istri dicolek dagunya oleh laki- laki lain tentu saja Aldy geram.
"Ke mana saja kamu sayang... ? Om kangen tahu, sudah lama kita tidak bertemu...?'' tanya oma Haris lagi- lagi sambil tersenyum nakal pada Intan.
"Lama tidak bertemu, kamu terlihat semakin cantik saja Intan. Badan kamu lebih berisi dari sebelumnya, tapi justru kamu malah terlihat lebih seksi Intan..." om Haris menatap Intan dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Mendengar pujian dari om Haris tentu saja Intan kaget. Apalagi pujian itu dilontarkan di depan suaminya. Tentu saja Intan merasa tidak enak hati pada Aldy. Intan tahu jika Aldy pasti merasa tidak nyaman mendengar pujian yang dilontarkan oleh om Haris.
"Intan...! Apa yang kamu lakukan...!'' Aldy nampak marah.
"Ma..mas Aldy..." Intan segera berjalan mendekati Aldy.
Om Haris pun menoleh ke arah Aldy.
"Itu siapa Intan sayang...?'' tanya om Haris sambil menoleh ke arah Intan dan Aldy yang sedang menggendong Arkan yang sedang tidur.
"I..ini suami Intan om...'' jawab Intan merasa canggung dan tidak enak dengan keadaan ini.
Iya, Intan bingung harus berbuat apa saat melihat om Haris yang menampilkan wajah genit dan di sisi lain Intan juga melihat muka Aldy memerah karena marah. Iya, Aldy merasa tidak terima dengan perlakuan om Haris pada Intan. Aldy sebagai suami merasa tidak dihargai.
"Oh... Jadi kamu sudah menikah toh...'' ucap oma Haris terlihat kecewa.
"Iya om... Dan ini anak Intan..." jawab Intan sambil mengusap kepala Arkan.
"Yah... Sayang sekali... Kau tahu Intan, sejak kamu tidak bekerja lagi di diskotik, om rasanya tidak semangat lagi datang ke sana. Ibarat langit yang tidak ada bintang, tempat itu jadi tidak menarik lagi sejak kamu pergi..." ucap om Haris.
"Kamu ini kan ibaratnya primadona di diskotik itu Intan. Begitu kamu pergi dari tempat itu, ya, suasananya jadi beda..." sambung om Haris.
Mendengar perkataan om Haris, Intan kembali dibuat canggung. Sedangkan Aldy yang begitu muak mendengar perkataan oma Haris langsung pergi begitu saja tanpa bicara apapun pada Intan ataupun om Haris.
Perkataan oma Haris benar- benar membuat Aldy kesal dan jijik. Iya, suami mana yang tidak akan marah jika ada seorang laki- laki hidung belang dengan tidak tahu dirinya memuji kecantikan istrinya di depan matanya sendiri.
Dan bukan itu saja, laki- laki hidung belang itu juga menatap Intan dengan tatapan nakal. Tentu saja sebagai suami Aldy marah. Namun Aldy harus bisa menahan amarahnya karena dia berada di tempat umum. Tentu saja dia akan malu jika dia marah dan membuat keributan di sana karena akan menjadi pusat perhatian para pengunjung mall.
Melihat Aldy pergi meninggalkannya Intan segera mengejarnya.
"Mas...mas Aldy tunggu mas..." Intan terus mengejar Aldy hingga sampai mobil.
Sedangkan om Haris masih terus menatap Intan dari kejauhan. Iya, om Haris adalah salah satu pengunjung diskotik yang menyukai Intan. Bahkan dia pernah mengungkapkan perasaannya pada Intan. Hanya saja Intan menolaknya dengan halus.
"Sayang sekali... " ucap om Haris kecewa untuk kedua kalinya karena tidak berhasil mendapatkan hati Intan, dan sekarang malah om Haris mengetahui jika Intan telah menikah dengan laki- laki yang lebih tampan dan muda darinya.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
"Mas...mas...tolong dengerin aku dulu mas..." ucap Intan yang begitu khawatir karena sejak di mobil tadi Aldy sama sekali tidak mau bicara dengannya.
Iya, Aldy sungguh marah dengan sikap om Haris kepada Intan.
"Mas... Tolong jangan diam saja... Bicara sama aku mas..." Intan memengikuti Aldy masuk ke kamar Arkan.
Setelah Aldy menidurkan Arkan di tempat tidur, Aldy segera keluar dari kamar dan berjalan menuju kamarnya. Dan Intan terus saja mengikuti Aldy.
"Mas... Aku minta maaf kalau aku salah. Tapi katakan mas salah aku apa...?'' tanya Intan setelah mereka berdua masuk ke dalam kamar.
"Salah kamu apa...? Hem...? Kamu tanya salah kamu apa...? Salah kamu itu, kenapa kamu harus kenal dengan laki- laki hidung belang...!" seru Aldy sambil menatap sengit Intan.
"Kamu pikir aku tidak malu dengan kejadian tadi, hah...! Bahkan bukan hanya malu, tapi aku jijik dengan cara laki- laki itu bicara dan menatap kamu Intan...!'' sambung Aldy dengan penuh emosi.
"Dan kamu... Bukannya kamu langsung pergi, tapi kamu malah meladeni laki- laki itu....! Kamu biarkan tubuh kamu disentuh oleh laki- laki mata keranjang...! Atau jangan - jangan kamu sedang mengenang saat kamu melayani para pelanggan kamu...? Iya begitu Intan...!'' bentak Aldy dengan mata tajam menatap Intan.
Melihat kemarahan sang suami dan kalimat yang dia lontarkan padanya, tentu saja Intan kaget dan juga sakit hati.
"Pelanggan...? Pelanggan apa maksud mas Aldy...?'' tanya Intan dengan air mata mulai menetes.
Aldy terdiam tidak menyahut pertanyaan Intan. Kemudian Aldy mengusap wajahnya dengan kasar. Iya, setelah melihat apa yang dilakukan oleh om Haris kepada Intan tadi, Aldy yang selama ini berusaha mempercayai Intan kalau dia tidak pernah menjadi pelacur, kini kepercayaannya mulai goyah.
Apa lagi om Haris tadi sempat mengatakan kalau Intan adalah primadona di diskotik langganannya. Dan dalam pikiran Aldy pun langsung mengatakan kalau om Haris termasuk salah satu pria hidung belang yang memakai jasa Intan untuk memuaskan hasratnya.
"Selama ini aku sedang berusaha mempercayaimu kalau kamu tidak pernah menjadi perempuan pemuas nafsu laki- laki hidung belang. Tapi dengan adanya kejadian tadi di mall, kepercayaan yang sedang aku bangun kembali terkikis, Intan..." ucap Aldy sambil mengarahkan pandangannya ke arah jendela kamar.
Mendengar apa yang diucapkan oleh sang suami, Intan kembali menangis. Iya, Intan tidak menyangka kalau selama ini ternyata Aldy belum sepenuhnya percaya padanya.
Kaki Intan terasa lemas, dan dia langsung menjatuhkan tubuhnya dan terduduk di lantai. Air matanya tak berhenti mengalir. Intan menangis dalam diam. Sedangkan Aldy segera keluar dari kamar meninggalkan Intan seorang diri.
Malam ini Intan dan Aldy tidur terpisah. Aldy memilih tidur bersama Arkan. Sedangkan Intan tidur sendirian di kamarnya.
Namun tengah malam Arkan menangis karena tidak menemukan sang mama ada di sampingnya. Aldy lalu membawa Arkan ke kamar agar dia tidur dengan Intan. Sedangkan Aldy kembali ke kamar Arkan dan tidur di sana hingga pagi.
Keesokan harinya seperti biasa Intan memasak untuk sarapan. Namun sarapan kali ini Aldy hanya diam tak mengucapkan sepatah katapun. Begitu juga dengan Intan, yang memilih diam.
Iya, mereka berdua sama- sama merasa kecewa. Aldy merasa kecewa pada Intan karena menurutnya masa lalu Intan tidak baik. Bahkan sangatlah buruk. Begitu juga dengan Intan yang kecewa pada Aldy karena ternyata Aldy belum juga mempercayainya bahwa hanya dia lah laki- laki yang menyentuhnya selain Ridwan almarhum suami pertamanya.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
Dua minggu berlalu hubungan Intan dan Aldy belum begitu membaik. Mereka masih sering diam dan hanya bicara seperlunya saja. Intan sudah pasti sedih. Bukan rumah tangga seperti ini yang Intan inginkan. Tapi rumah tangga yang harmonis dan bahagia serta saling percaya. Tapi pada kenyataannya banyak kesedihan, pertengkaran dan salah paham yang terjadi dalam rumah tangganya.
Jika sedang sedih seperti ini, Intan jadi teringat dengan almarhum suaminya yaitu Ridwan. Iya, walaupun rumah tangganya bersama Ridwan hanya berlangsung selama enam bulan saja, tapi saat itu rumah tangganya begitu bahagia.
Ridwan begitu sayang dan mencintai Intan dengan sepenuh hati. Bahkan Ridwan begitu memanjakan Intan. Ridwan tidak akan membiarkan Intan mengerjakan pekerjaan rumah sendiri. Dia selalu menyempatkan waktu untuk membantu Intan. Begitu juga dengan Intan yang begitu menghormati Ridwan. Intan melayani Ridwan dengan ikhlas .
Intan menghapus air matanya mengingat kenangannya bersama dengan Ridwan.
"Mama..." ucap Arkan sambil menghampiri Intan.
"Iya sayang..." Intan tersenyum kepada Arkan.
Iya, untung saja ada Arkan yang bisa mengobati kesedihan Intan. Arkan selalu bisa membuat Intan tersenyum walaupun ketika dia sedang sedih.
"Mama nanis ya...? Kok mata mama melah...? '' tanya Arkan sambil menatap Intan.
"Nggak sayang... Mata mama kelilipan..." jawab Intan sambil mengangkat tubuh Arkan dan mendudukkannya di pangkuan.
"Kelilipan itu apa mama...?'' tanya Arkan.
"Ada debu masuk ke mata mama, makanya mata mama pedih dan merah ..." jawab Intan.
Arkan pun meniup mata Intan supaya debunya hilang. Tentu saja Intan gemas sekali melihat tingkah sang putra yang menggemaskan.
Tak lama kemudian Aldy pulang dari kantor. Setelah membersihkan diri di kamar mandi, Aldy mengajak Intan untuk bicara. Intan mengira, Aldy mau membahas permasalahannya dan mengajaknya untuk baikan seperti sedia kala. Namun ternyata apa yang dikatakan oleh Aldy membuat Intan terkejut.
"Apa mas... Mas Aldy pindah kerja ke Bandung...?'' tanya Intan.
"Iya... Aku dipindahkan ke cabang perusahaan. Dan di sana jabatanku naik, bukan lagi staf kantor, tapi diangkat jadi manager..." jawab Aldy.
"Tapi jarak Jakarta Bandung kan cukup jauh mas, nanti mas Aldy capek bolak- baliknya..." sambung Intan.
"Nggak Intan, aku nggak akan bolak- balik setiap hari..." sahut Aldy.
"Maksud mas Aldy...?'' tanya Intan.
"Ya aku nggak akan bolak- balik setiap hari Intan, tapi aku akan tinggal di Bandung..." jawab Aldy.
"Maksud mas Aldy, kita semua akan pindah ke Bandung mas...?" tanya Intan.
Aldy tersenyum datar, kamudian dia menggelengkan kepalanya. Kemudian Aldy memberitahu Intan jika hanya dia yang akan tinggal di Bandung. Pulangnya bisa sebulan sekali. Tapi untuk bulan pertama hingga bulan ketiga Aldy tidak bisa pulang karena dia harus mengurus banyak hal yang berkaitan dengan kantor.
"A..apa...? Jadi kita nggak akan bertemu selama tiga bulan mas...?'' Intan terlihat sedih kalau harus berjauhan dengan Aldy.
"Iya, tapi untuk bulan berikutnya aku bisa pulang setiap bulan sekali..." jawab Aldy.
"Tapi mas... Bagaimana dengan aku dan Arkan...?" Intan merasa keputusan Aldy sangat berat untuknya.
Aldy menghela nafas.
"Intan... Kamu tuh seharusnya bersyukur, walaupun aku dipindahkan ke kantor cabang, tapi di sana jabatanku lebih tinggi, dan gajiku lebih besar dari sebelumnya. Nanti jatah bulanan kamu juga bakalan aku tambahi..." ucap Aldy.
"Bukan masalah itu mas... Tapi aku nggak mau hanya berduaan saja sama Arkan. Aku takut mas..." sahut Intan tentu saja akan merasa berat hidup berbulan- bulan tanpa Aldy.
"Apa yang kamu takutkan Intan, aku sudah bilang sama Umi supaya dia sering menjengukmu ke sini. Dan ibumu juga bisa main ke sini kan. Lagi pula sebelum kita menikah kamu sudah terbiasa tinggal di sini tanpa aku..." jawab Aldy terus menyakinkan Intan kalau dia akan baik- baik saja bersama Arkan.
Iya, Intan memang sudah pernah tinggal di rumah ini hanya bersama Arkan. Bahkan sebelum Arkan lahir Intan tinggal seorang diri. Namun saat itu Intan dan Aldy belum menikah, sedangkan sekarang mereka sudah menjadi suami istri. Intan merasa tidak akan tenang jika mereka tinggal berjauhan.
"Mas... Memangnya nggak bisa ya, mas Aldy bawa aku dan Arkan ikut tinggal di Bandung...?'' tanya Aldy.
"Nggak bisa Intan. Kalau kamu ikut, lalu bagaimana dengan rumah ini. Sayang kan kalau rumah ini dibiarkan kosong, nanti malah rusak, apa lagi rumah ini kan cicilannya belum lunas..." jawab Aldy.
"Tapi mas..."
"Kamu nggak usah khawatir Intan... Semuanya akan baik- baik saja. Percayalah, walaupun kita tinggal berjauhan, tapi kan kita bisa telponan setiap hari..." ucap Aldy sambil memegang kedua pundak Intan.
Intan pun terdiam. Mau tidak mau Intan harus menerima keputusan Aldy untuk pindah ke Bandung dan tinggal berjauhan dengannya. Walaupun entah mengapa, hati Intan begitu berat melepas sang suami.
Bersambung...