Sasha difitnah hamil oleh adik seorang konglomerat, dan hidupnya hancur dalam semalam. Untuk menutup skandal keluarga, Gio Artha Wijaya dipaksa menikahinya.
Di mata publik, Sasha adalah istri sah pewaris Wijaya. Di dalam rumah itu, ia hanyalah perempuan yang dibeli untuk menjaga reputasi. Gio membencinya. Menganggapnya jebakan.
Sasha membencinya karena telah menjadikan hidupnya alat tawar-menawar. Namun semakin lama mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta itu, Sasha mulai menyadari satu hal yang lebih menakutkan dari kebencian Gio.
Ia mungkin tidak pernah difitnah secara kebetulan. Seseorang telah merencanakan semua ini dan Sasha hanyalah bidak pertama.
Akankah Sasha mengetahui siapa dalang dari kejadian yang menimpanya selama ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ratu Tanpa Mahkota
Fajar akhirnya benar-benar datang, tapi bukan cahaya matahari yang membangunkan Sasha. Itu adalah suara notifikasi terenkripsi dari ponsel khusus yang ia simpan di laci nakas.
Sasha membuka mata lebih dulu daripada Gio. Tatapannya langsung berubah tajam, tidak lagi lembut seperti beberapa jam sebelumnya. Ia meraih ponsel itu tanpa mengganggu pria yang masih memeluknya erat.
Satu pesan dari nomor anonim.
“Dokumen pelabuhan sudah bocor. Ada pihak ketiga yang tahu kau memegangnya.”
Sasha tidak bereaksi panik. Bibirnya justru melengkung tipis. Baginya, permainan dimulai lebih cepat dari yang ia perkirakan.
Ia melepaskan diri perlahan dari pelukan Gio, mengenakan robe hitamnya, lalu berjalan ke balkon. Angin pagi Jakarta menyambutnya dengan dingin yang menusuk. Ia membaca ulang pesan itu, lalu menekan satu nomor.
“Arga,” ucapnya begitu sambungan terhubung. “Aktifkan protokol Hydra.”
Di ujung sana terdengar tarikan napas tertahan. “Sekarang?”
“Sekarang.”
Ia menutup telepon.
Protokol Hydra adalah sistem jebakan yang ia siapkan semalam. Dokumen yang ia tunjukkan pada Pak Surya hanyalah salinan lapis kedua. Dokumen asli tersebar dalam tiga server berbeda, dengan akses yang hanya bisa dibuka jika ada percobaan pelacakan digital.
Jika seseorang mencoba menyentuhnya, mereka akan meninggalkan jejak.
Dan Sasha tidak pernah bermain tanpa umpan.
“Sudah bangun dan langsung berperang lagi?” suara Gio terdengar dari balik pintu kaca.
Sasha menoleh. Pria itu berdiri bersandar di kusen, rambutnya masih sedikit berantakan, tapi matanya sudah waspada.
“Ada yang mencoba menggigit umpan,” jawab Sasha tenang.
Gio mendekat. “Siapa?”
“Belum tahu. Tapi mereka cukup bodoh untuk berpikir aku hanya memegang satu salinan.”
Sasha menyerahkan ponselnya. Gio membaca cepat, lalu menatapnya.
“Kau sengaja membiarkan ini bocor.”
Sasha tersenyum tipis. “Aku ingin tahu siapa yang lebih takut di antara mereka… atau orang yang menyuruh mereka.”
Pukul sepuluh pagi, ruang rapat utama Wijaya Group berubah menjadi arena eksekusi yang elegan.
Empat direktur senior duduk di meja panjang, wajah mereka tegang. Di layar besar terpampang grafik anomali transaksi keuangan yang terjadi tiga tahun lalu, masa kepemimpinan Dimas Satya.
Sasha berdiri di ujung meja, mengenakan setelan blazer hitam dengan garis tegas. Rambutnya disanggul rapi. Tatapannya dingin seperti baja.
“Selama ini,” ucapnya pelan namun jelas, “kalian berpikir aku hanya pewaris simbolis saja yang hanya diam, begitu??”
Tak ada yang berani menyela.
Sasha menekan remote. Layar berubah menampilkan rekaman transfer dana ilegal.
“Saya sudah memeriksa ulang semua audit internal. Dan menarik sekali, beberapa di antara kalian menandatangani laporan palsu.”
Salah satu direktur, pria berusia lima puluhan, berdeham gugup. “Nyonya Wijaya, itu atas perintah langsung Pak Dimas—”
“Jangan,” potong Sasha.
Suaranya tidak keras. Tapi cukup untuk membuat ruangan membeku.
“Jangan pernah gunakan nama itu untuk membenarkan ketidakmampuan kalian menolak korupsi.”
Ia berjalan mengelilingi meja, langkahnya terukur.
“Kalian punya dua pilihan,” lanjutnya. “Mengundurkan diri hari ini dengan kompensasi yang masih cukup terhormat. Atau saya serahkan nama kalian ke jaksa bersama seluruh bukti ini.”
Keheningan berat menyelimuti ruangan.
Sasha berhenti di belakang kursi direktur yang paling senior. Ia membungkuk sedikit, berbisik di dekat telinga pria itu.
“Dan percayalah… saya tidak sedang menggertak.”
Sepuluh menit kemudian, empat surat pengunduran diri ditandatangani.
Gio yang berdiri di sudut ruangan hanya memperhatikan dengan tatapan bangga yang tersembunyi. Sasha tidak lagi bermain bertahan.
Ia menyerang.
Namun badai belum selesai.
Siang itu Arga menelepon kembali.
“Sha… jejak digitalnya mengarah ke kantor kementerian.”
Sasha mengangkat alis. “Level mana?”
“Langsung ke staf khusus wakil menteri.”
Sasha tertawa pelan.
“Berani sekali.”
Gio yang mendengar itu langsung mengambil kunci mobil. “Kita ke sana?”
“Tidak,” jawab Sasha cepat. “Kita undang mereka.”
Ia membuka laptopnya, mengetik cepat. Dalam lima belas menit, sebuah email resmi terkirim ke kantor kementerian, undangan rapat kerja sama ekspansi pelabuhan dengan tembusan media bisnis nasional.
Sebuahn langkah yang halus.
Jika mereka menolak, publik akan bertanya. Jika mereka datang, mereka masuk ke wilayah Sasha.
“Kadang aku lupa,” gumam Gio pelan, “kau lebih berbahaya daripada semua pria yang pernah meremehkanmu.”
Sasha menutup laptopnya. “Aku tidak berbahaya, Gio.”
Ia berdiri, mendekatinya.
“Aku hanya berhenti menjadi korban.”
Gio menatap penuh kagum kepada istrinya, ia tidak menyangka jika Sasha adalah perempuan yang begitu gagah, diluar instingnya selama ini.
"Tak kusangka, ternyata istriku sangat pintar dan gagah."
"Semua berawal dari ulah kalian membangunkan seekor harimau yang sedang tidur."
Malamnya, saat kembali ke rumah, suasana berbeda dari sebelumnya.
Tidak ada kelelahan rapuh seperti kemarin. Yang ada adalah energi yang berdenyut kuat.
Sasha berdiri di ruang kerja pribadinya, memandangi peta jaringan relasi kekuasaan yang ia tempel di dinding kaca. Garis merah, biru, dan hitam saling terhubung seperti sarang laba-laba.
Gio masuk tanpa suara.
“Pak Surya menelepon lagi,” katanya. “Dia ingin memastikan ‘dukungan penuh’-nya masih cukup.”
Sasha tersenyum tanpa menoleh. “Jawab saja, cukup… selama ia ingat siapa yang menyelamatkannya.”
Gio mendekat dan memeluknya dari belakang.
“Kau menikmati ini.”
Sasha memegang tangan Gio yang melingkar di pinggangnya.
“Aku menikmati kontrol,” jawabnya jujur. “Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak menunggu diserang. Aku yang menentukan siapa yang jatuh lebih dulu.”
Ia berbalik, menatap Gio langsung.
“Tapi ada satu hal yang tidak akan pernah aku kendalikan.”
“Apa itu?” tanya Gio rendah.
Sasha mengangkat dagunya sedikit, tatapan matanya membara.
“Hatimu.”
Gio menyeringai tipis. “Kau yakin?”
Sasha mendekat hingga hanya tersisa jarak tipis di antara mereka.
“Karena berbeda dengan pejabat, berbeda dengan direksi, berbeda dengan musuh-musuhku…” bisiknya pelan, “kau memilih berlutut bukan karena takut. Tapi karena kau mau.”
Mata Gio menggelap.
Ia meraih pergelangan tangan Sasha, menahannya lembut namun kuat.
“Jangan pernah salah paham, Ratu,” suaranya dalam dan berat. “Aku tidak berlutut. Aku hanya berdiri di belakangmu… supaya siapa pun yang mencoba menyentuhmu, harus melewati mayatku dulu.”
Sasha tersenyum, tetapi bukan senyum lembut, tapi senyum kemenangan.
Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Gio dan berbisik,
“Kalau begitu, bersiaplah. Karena besok… kita tidak hanya melindungi kerajaan ini.”
Ia menarik diri sedikit, menatap mata hitam pria itu dengan api yang tak tergoyahkan.
“Besok kita mulai menghancurkan kerajaan orang lain.”
Gio terkekeh rendah.
“Perintahmu, Ratu?”
Sasha berjalan menjauh, berhenti di ambang pintu, siluetnya diterpa cahaya lampu koridor.
Ia menoleh sedikit, tatapannya dingin dan berbahaya.
“Buat mereka takut tidur malam ini, Gio.”
Dan untuk pertama kalinya, bukan hanya musuh-musuhnya yang merasakan getaran perang.
Seluruh kota akan segera tahu bahwa seorang Sasha telah bangkit.