NovelToon NovelToon
PLEASURE AND PUNISHMENT

PLEASURE AND PUNISHMENT

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Kriminal dan Bidadari / Misteri / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:882
Nilai: 5
Nama Author: lanasyah

"Satu tubuh dicumbu, satu jiwa diburu; saat kehormatan dicuri, kenikmatan adalah hukuman mati yang paling sunyi."
​Dunia Valerie adalah logika. Sebagai psikolog forensik, ia terbiasa membedah kegelapan. Namun, insiden misterius melempar jiwanya ke raga yang paling ia benci: Zura, bintang film dewasa yang baru saja dieksekusi rapi. Valerie terbangun di hotel pengap, menyadari ia terjebak dalam raga seorang "pendosa".
​Ia terpaksa memasuki "Klub 0,1%", lingkaran elit berisi penguasa dengan fantasi gelap. Valerie harus memerankan Zura demi membongkar konspirasi pembunuhannya. Namun,kejutan mengerikan menanti; tubuh asli Valerie telah bangun, dihuni jiwa Zura yang licik. Zura sengaja menukar nasib untuk mencuci masa lalunya, menjadikan Valerie tumbal bagi musuh-musuhnya. Kini, Valerie harus bertarung melawan waktu dan adiksi fisik sebelum identitasnya hancur total. Dalam dunia noir ini,kehormatan dan kehancuran hanya setipis kulit yang mereka kenakan. Kesucian mati,kini waktunya pembalasan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lanasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: JEJAK YANG HILANG

Hujan di Distrik 9 mulai mereda, menyisakan kabut tipis yang menyelimuti gang-gang sempit seperti kain kafan. Ambulans yang kami tumpangi kini terasa seperti peti mati logam yang menunggu untuk ditemukan. Aku berdiri di samping badan mobil, membiarkan tetesan air dingin jatuh dari ujung rambut pirangku, mencoba menenangkan badai kimiawi yang baru saja dilepaskan Zura di dalam kepalaku.

Julian bersandar pada dinding bata di hadapanku. Kemejanya yang robek menyingkap luka tembak yang mengerikan, namun ia tampak lebih terganggu oleh apa yang baru saja terjadi di antara kami daripada oleh peluru Adrian Vane.

"Kita tidak bisa hanya berlari, Valerie," suara Julian berat, memecah kesunyian. "Vane memiliki akses ke setiap kamera CCTV di kota ini. Dia memiliki pengenal wajah, pelacak plat nomor, dan ribuan orang di jalanan yang akan menjual kita demi satu dosis atau sekoper uang. Jika kita tetap di sini, kita akan mati dalam hitungan jam."

Aku menoleh padanya, memaksakan otak forensikku untuk bekerja melampaui gangguan Zura. "Dia benar, Valerie," gumamku pada diriku sendiri. "Kita harus berhenti menjadi mangsa. Kita harus menjadi hantu."

“Hantu tidak bisa merasakan nikmatnya sampanye di luar negeri, Dokter,” Zura menyela, suaranya kini lebih tenang, seolah ia sedang menikmati pemandangan kehancuran kami. “Tapi aku setuju. Jika kita tertangkap, Adrian akan mengunci kita di lab lagi. Dan kali ini, dia tidak akan memberimu kesempatan untuk melawan.”

“Aku butuh peralatan, Julian,” kataku dengan nada dingin yang kembali terkendali. “Dan aku butuh akses ke jaringan gelap yang tidak bisa disentuh oleh Klub 0,1%. Kau masih punya kontak di unit intelijen yang bisa dipercaya?”

Julian tersenyum pahit. “Unit yang bisa dipercaya? Tidak ada. Tapi aku punya seorang 'pembersih'. Seorang pria yang berhutang nyawa padaku karena aku tidak memasukkannya ke penjara lima tahun lalu. Dia spesialis dalam menghapus keberadaan seseorang.”

OPERASI PENGHAPUSAN

Kami meninggalkan ambulans itu di sebuah gudang pemotongan mobil ilegal, setelah sebelumnya aku menghapus semua data GPS dan sidik jari kami dengan cairan kimia pembersih. Julian membawaku ke sebuah apartemen bawah tanah di bawah toko kelontong tua yang berbau rempah-rempah kuat—bau yang cukup untuk mengecoh anjing pelacak.

Di sana, kami bertemu dengan "Sang Pembersih", seorang pria paruh baya bernama Silas yang jemarinya selalu bergerak gelisah di atas papan ketik.

"Julian... kau membawa masalah besar ke pintuku," kata Silas tanpa menoleh dari deretan monitornya yang menampilkan aliran data global. "Adrian Vane sudah mengeluarkan Red Notice di pasar gelap. Kepalamu dihargai sepuluh juta dolar. Dan wanita itu..." Silas menoleh, menatapku dengan mata yang tajam. "Dia ingin wanita itu hidup-hidup, tapi dalam kondisi 'tidak bisa bicara'."

"Hapus kami, Silas," perintah Julian sambil melempar sebuah kantong berisi berlian mentah yang ia curi dari brankas bukti kepolisian bertahun-tahun lalu. "Kami butuh identitas baru, paspor yang tidak bisa dideteksi oleh Interpol, dan jalur keluar dari negara ini malam ini juga."

Silas memeriksa berlian itu, lalu mengangguk. "Itu akan memakan waktu. Aku harus masuk ke basis data biometrik pusat. Valerie, kau harus mengganti wajahmu. Bukan operasi plastik, tapi modifikasi sementara yang cukup untuk menipu algoritma pengenal wajah Vane."

Selama tiga jam berikutnya, aku bekerja bersama Silas. Di sinilah kejeniusan medisku dan keahlian digital Silas menyatu. Aku menggunakan pengetahuan anatomi wajahku untuk menyuntikkan filler lemak ke titik-titik tertentu di bawah kulitku—tulang pipi, garis rahang, dan dahi—untuk mengubah struktur bayangan wajahku secara halus. Aku memotong rambut pirangku menjadi pendek dan mewarnainya menjadi hitam legam dengan bahan kimia yang sulit luntur.

Zura meronta saat aku memotong rambut itu. “Rambut indah itu! Kau merusaknya, Dokter!”

“Ini bukan soal kecantikan, Zura. Ini soal kelangsungan hidup,” balasku tajam di dalam batin.

Sementara itu, Julian mengganti seluruh profil biometriknya. Silas memasukkan sidik jari baru ke dalam paspor mereka menggunakan membran silikon tipis yang telah disinkronkan dengan identitas orang yang sudah meninggal namun masih tercatat aktif di negara-negara Amerika Selatan.

"Kalian akan menjadi Dr. Elena Rossi dan asistennya, Marco," Silas menyerahkan dua paspor Italia yang tampak sangat otentik. "Kalian adalah peneliti biologi yang sedang dalam perjalanan pulang dari misi kemanusiaan. Aku sudah menyisipkan nama kalian ke dalam manifes penerbangan kargo yang berangkat satu jam lagi dari bandara militer swasta."

PELARIAN KE CAKRAWALA

Kami bergerak dalam kegelapan, menggunakan mobil tua yang tidak terdaftar. Julian mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menekan luka yang sudah kujahit secara darurat di apartemen Silas.

Setiap lampu merah terasa seperti detak bom. Setiap mobil polisi yang lewat dengan sirine menyala membuat jantungku berdegup kencang, memicu Zura untuk kembali mencoba mengambil alih. Namun kali ini, aku menggunakan teknik meditasi klinis untuk mengunci semua emosiku di dalam sebuah kotak hitam.

Kami sampai di bandara militer swasta di pinggiran kota. Sebuah pesawat kargo raksasa bermesin turboprop sudah menunggu dengan baling-baling yang berputar, menciptakan angin kencang yang menerbangkan debu di sekitar landasan.

"Ini tiket kita, Valerie," bisik Julian saat kami berjalan cepat menuju tanjakan kargo pesawat.

Tiba-tiba, sebuah konvoi SUV hitam muncul di gerbang bandara. Lampu sorot mereka menyapu landasan. Adrian Vane tidak sebodoh yang kami kira. Dia telah melacak pergerakan berlian yang diberikan Julian kepada Silas.

"Cepat! Masuk!" teriak Julian.

Peluru mulai berdesing di sekitar kami. Julian berbalik, melepaskan tembakan balasan terakhirnya untuk menghambat mereka, sementara aku menariknya naik ke dalam perut pesawat. Pintu kargo mulai menutup perlahan. Aku melihat Adrian Vane keluar dari salah satu mobil, berdiri di tengah hujan yang kembali turun, menatap pesawat yang mulai bergerak dengan tatapan yang menjanjikan kematian jika kami pernah kembali.

Saat pesawat lepas landas dan tekanan udara mulai berubah, aku jatuh terduduk di atas peti-peti kayu. Julian tersungkur di sampingku, napasnya berat namun ada binar kemenangan di matanya.

Kami telah keluar. Kami bersih. Di atas kertas, Valerie dan Julian sudah tidak ada lagi di dunia ini.

“Kita pergi, Valerie,” suara Zura terdengar lesu, mungkin karena perubahan tekanan udara atau kelelahan mental. “Tapi ingat... kau membawaku bersamamu. Di mana pun kau mendarat, aku akan selalu ada di sana, menunggu di bawah kulitmu.”

Aku menatap ke luar jendela kecil pesawat kargo itu, melihat lampu-lampu kota yang menjadi penjara kami perlahan mengecil dan menghilang di balik awan. Kami menuju Zurich, lalu berpindah ke sebuah tempat di pegunungan Alpen di mana identitas baru kami akan benar-benar berakar.

Aku menyentuh wajah baruku yang terasa asing. Aku telah mendapatkan kebebasanku, namun aku menyadari satu hal yang mengerikan: Adrian Vane hanyalah musuh di luar. Musuh yang sebenarnya sedang duduk bersamaku di dalam kabin pesawat ini, berbagi detak jantung yang sama, siap untuk meledak kapan saja nafsu atau gairah kembali memanggil.

“Identitas boleh berganti, Julian,” kataku lirih sambil menggenggam tangannya yang dingin. “Tapi perang ini baru saja berpindah medan ke dalam darah kita sendiri.”

1
ayin muPp
SEMANGAT KAKK, isi novel yang kamu buat berbobot banget ga cuma cinta'an gitu. anw ga ada niatan buat up di apk lain gituu? biar lebih ramee
XXAURORA: apaaaa terimakasih yaaa, ada rekomendasi apk apa kira²?/Slight/
total 1 replies
Rani Saraswaty
sbg pembaca agaknya ikut mikir lama nih, penuh dg analisa utk menambah ilmu
XXAURORA: biar ikut mikir, jadi author ada temen🤭
total 1 replies
pocong
semangat
XXAURORA: terimakasih, terus ikutin ceritanya yaaa/Kiss/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!