"Manut yo, nek gak manut koe mau jadi anak durhaka!?"
"Perempuan iku musti ayu! musti lues! musti biso sekabehane! Koe ndak perlu berpendidikan tinggi, cukup jadi perempuan yang cantik, semua materi datang padamu, nduk."
Lahir dari keluarga miskin, tinggal di rumah gubuk, tapi memiliki orang tua yang berambisi tinggi untuk menjadi kaya. Rukmini, di tempa menjadi anak yang serba bisa. Dia anak satu - satunya tapi tercekik oleh ke egoisan orang tuanya, sehingga tumbuh dendam dan kebencian pada orang tua nya.
Dia melawan aturan, melawan takdir bahkan melawan Tuhan nya, dengan membuat ikatan perjanjian darah dengan yang gelap hanya agar dia bebas dari orang tua nya, tidak peduli apa konsekunsinya..
"WANI TEKO WANI MATI!"
[Novel RUKMINI ini adalah kisah lengkap tentang Rukmini, Sosok ibu yang ada di novel SUARA]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS.35. Aku tidak tahu apa itu salah dan benar. [RUKMINI]
Rukmini berada di rumah nya, di rumah lama nya. Sebenar nya dia seharus nya berada di rumah londo itu, tapi Rukmini berih keras meminta agar di pulangkan. Setelah sedikit alot berbicara dengan pria yang di panggil bapak, Rukmini akhir nya mendapat ijin untuk menjalani kehamilan nya di rumah tapi dengan 3 syarat.
Syarat pertama, makanan Rukmini harus pihak anggota kultus itu yang siapkan dan wa Minten di minta untuk menemani Rukmini sehari - hari. Syarat kedua, setiap hari jumat Rukmini harus tetap datang ke rumah londo untuk menjalankan kegiatan seperti biasanya, Dan syarat ketiga..
Syarat ketiga adalah saat usia kandungan Rukmini sudah 7 bulan, Rukmini harus mau di bawa untuk tinggal di rumah londo tanpa perlawanan. Dan Rukmini menyetujui itu..
"Den ayu, waktunya makan." Ucap wa Minten, dia membawakan makanan yang di siapkan.
"Wa, aku bosen setiap hari makan mentah - mentahan begini, apa ndak bisa di masak dulu?" Tanya Rukmini, wa Minten menggeleng.
"Ndak bisa den ayu, ini buat bayi den ayu." Ucap wa Minten, Rukmini menghela nafas.
Setiap hari makanan nya adalah, daging mentah, jeroan mentah, hati sapi mentah, dan bahkan.. sesuatu yang Rukmini yakini itu adalah ari - ari bayi. Setiap hari juga minum nya adalah darah, ya.. Darah.
Rukmini tentu tidak tahu menahu apa yang boleh dan ditak boleh dia makan oleh ibu hamil kebanyakan selama hamil, dia hanya manut saja dengan apa yang di arahkan oleh wa Minten.
"Den ayu, saya pulang dulu. Nanti kesini lagi, ada yang butuh bantuan saya." Ucap wa Minten, Rukmini mengangguk.
Saat itu adalah sore hari sekitar jam 5 sore, matahari sudah berada di ujung barat dan kebetulan jendela kamar Rukmini menghadap ke arah barat.
"Matahari sore lagi bagus, tumben ndak turun hujan." Gumam Rukmini.
"BRAK!!"
DEG!
Rukmini tertegun saat mendengar pintu terbanting, seperti ada yang membanting. Rukmini lalu mencari sumber suaranya dia menatap ke arah pintu kamar orang tua nya, dari sana bunyi nya berasal..
"BRAK!"
"BRAK!"
Pintu kamar orang tua nya yang terbuat dari bambu itu terbuka dan tertutup sendiri seperti ada yang memainkan nya. Rukmini makin maju dan makin maju kemudian pintu itu terbuka dan tidak tertutup lagi.
"Ndak usah nakut - nakuti saya, saya ndak takut." Ucap Rukmini.
Hening.. Pintu itu sudah tidak bergerak lagi. Rukmini lalu berjalan pergi hendak masuk kedalam kamar nya tapi tiba - tiba.. Langit yang semula cerah dengan matahari jingga ke emasan itu tiba - tiba gelap begitu saja.
Gelap nya tidak wajar, seolah dari siang tiba - tiba jadi malam, Rukmini menyaksikan itu dari jendela. Akhir nya Rukmini berjalan menuju ke arah jendela dan menutup nya.
"BRAK!!"
Jendela kayu yang semula tertutup itu kembali terbuka, angin rasanya seperti hendak merobohkan rumah itu, sangat besar sampai hordeng jendela juga beterbangan. Rukmini tidak takut sama sekali, dia kembali menutup jendela dan menguncinya.
"Baru tak bilang mataharinya bagus, sudah gelap." Gumam Rukmini, dia lalu berbalik badan.
Tapi Rukmini terkejut saat melihat siapa yang berdiri di belakang nya, ada sosok yang terlihat begitu mengerikan, perut nya terbuka dengan isian perut yang tidak ada, matanya putih dan dia menangis kesakitan.. Ayah nya Rukmini.
"Kkkkkhhhhkk!!"
"Koe sudah mati masih mau ganggu aku? Koe sudah ndak punya daya lagi." Ucap Rukmini, dia sama sekali tidak takut.
"Hhkkkhh!!! Kkkhhh!!" Ayah Rukmini seperti ingin mencekik Rukmini tapi jelas tidak bisa.
"Koe saiki.. Dadi budakku!" Ucap Rukmini, dia lalu membaca sesuatu dan kemudian sosok ayah Rukmini itu hilang.
Bukan doa yang Rukmini baca, sejak dia menjadi perempuan penghibur dia sudah tidak pernah menyentuh air wudhu. Yang dia baca adalah sebuah mantra, mantra yang dia dengar dari "Suara" Suami ghoib nya.
Hujan deras turun tiba - tiba, Rukmini agak sedikit terkejut saat melihat sosok ayah nya datang menghantui nya dan bahkan seolah ingin mencekik nya. Setelah sosok ayah nya hilang, Rukmini lalu pergi ke kamar nya sendiri.
"Hm.. hm.. hm.. hm.." Rukmini bersenandung di dalam kamar nya sambil menyisir rambut nya di depan cermin.
Saat ini, setiap Rukmini bercermin.. Pantukan nya di cermin terlihat sangat cantik dengan paes jawa, di pantulan nya Rukmini hanya memakai kain jarik pinjungan sebatas dada dan rambut nya di sanggul dengan roncean melati, sangat cantik.
"Nanti, nek kamu lahir.. Ibu akan kasih nama yang bagus. Nek perempuan, ibu kasin nama Nina dan Noni.. nek laki - laki.. Ibu kasih nama Nakulo dan Sadewo." Ucap Rukmini, sambil mengusap perut nya yang sudah terlihat membesar.
Tidak tahu kenapa, perut Rukmini lebih cepat membesar dari ibu hamil kebanyakan. Entah karena dia hamil kembar atau karena tubuh nya yang sintal dan berisi.
"Dog! Dog! Dog!"
Rukmini terkejut saat mendengar pintu rumah nya di ketuk, padahal semua orang sudah tau bahwa tempat hiburan Rukmini sudah pindah di pasar. Rukmini bangun dan dia berjalan menuju ke arah pintu.
"Dog! Dog! Dog! Dog! Dog!" Lagi, suara pintu nya makin kencang di ketuk.
"Den ayu, iki simbok." Rukmini lalu membuka pintu nya, dan benar.. Ternyata wa Minten yang datang dengan basah kuyup.
"Den ayu, iki.." Ucap nya, wa Minten memberikan Rukmini sesuatu yang di buntel daun.
"Opo iki, mbok?" Tanya Rukmini, wa Minten lebih dulu menutup pintu dan menguncinya.
"Iki ari - ari bayi, den ayu. Saya baru saja bantu orang lahiran, ari - ari nya saya bawa buat makan den ayu." Ucap wa Minten, Rukmini mengangguk.
"Terimakasih, mbok. Simbok mandi dulu, ganti baju." Ucap Rukmini, wa Minten mengangguk dan pergi.
Rukmini mencium bungkusan daun itu, saking terbiasa nya dia makan hal tak lazim itu dia sampai suka wangi nya. Ya tentu saja tidak wangi, tapi bagi Rukmini itu wangi..
Di tempat lain.. Di rumah londo.
Sejak kandungan nya di gugurkan, ibunya Rukmini menjadi sangat pendiam dan tidak berbicara apapun, dia hanya bisa terkulai di lantai dan hanya keluar dari kamar saat akan di pakai.
"Sudah waktu nya dia di pulangkan, biar den Ayu urus sisa nya." Ucap pria yang di panggil bapak pada ki Gading.
"Nggih, bapak." Ucap ki Gading.
"Bawa dia ke kamar itu dulu." Ucap Bapak, dan ki Gading manggut.
Ibunya Rukmini di bangunkan dan di bawa masuk ke dalam kamar yang selalu di gunakan oleh orang - orang itu saat menyetubuhi ibunya Rukmini. Kain nya di lucuti dan kemudian pria yang di panggil Bapak itu mendorong ibunya Rukmini sampai jatuh tengkurap di atas meja lalu menyetubuhi ibunya Rukmini.
Ibunya Rukmini sudah tidak melawan, dia hanya diam saja saat tubuh nya di guncang dengan air mata nya yang meleleh.
"Kamu akan di pulangkan, den ayu sudah memanggilmu pulang." Ucap Bapak, setelah selesai dengan kegiatan nya.
Ibunya Rukmini bergeming saat mendengar kata pulang, meski tubuh nya lemas tapi dia sedikit memiliki harapan.
"Pulang.." Gumam nya, senyum nya terbit.
"Hm, jadi koe layani kita semua dulu." Ucap ki Gading dan dia orang yang berikut nya menyetubuhi ibunya Rukmini setelah pria yang di panggil bapak selesai.
"Aa! Sakit!! Hiks! Hiks!" Ibunya Rukmini hanya bisa mencengkeram ujung meja.
BERSAMBUNG!