NovelToon NovelToon
Suami Untuk Kirana

Suami Untuk Kirana

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Tamat
Popularitas:7.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Red Lily

Kirana, dalam hembusan terakhir sang Kakek dia menikah dengan sosok pria yang diyakini Kakeknya akan menjaganya dan membahagiakannya. Namun, siapa sangka kalau Arjuna adalah sosok suami yang menganggap Kirana sebagai musuh, bukan istri.

"Aku akan terus melafalkan namamu dalam doaku, karena aku mencintaimu." -Kirana Anindy.

"Menghilanglah dan pergi. Jika harta yang kamu inginkan, bawa itu bersamamu." -Arjuna Braja Satya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Air mata yang mengering

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK, EMAK SAYANG BANGET SAMA KALIAN.🌹

🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹

🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹

Mario, pria itu tengah mencari keberadaan Kirana. Dia khawatir, dia takut perempuan itu akan terluka di luar sana. Mario tidak mendapati Kirana di mana pun. Teman kuliahnya, bahkan Mario mengetahui kalau Kirana tengah mengambil cuti.

"Dimana kamu berada Kirana?"

"Kirana?" Tanya seseorang yang mana membuat Mario menengok, di sana ada adiknya yang menatap Mario tidak percaya.

"Ngapain kakak nyari-nyari itu anak? Mau dijadiin kakak ipar gue hah?!" 

"Nggar, Mer. Lu salah paham, gak kayak gitu."

"Najiss ya kalau gue punya ipar kayak dia, mending gue mati."

"Mer, jangan mikir yang aneh aneh."

"Gak usah sentuh-sentuh gue. Lu gak sayang sama gue, Kak." Merlinda menepis tangan Mario yang hendak menahannya.

Sementara Mario khawatir, adiknya ini belum stabil. Dia masih menyalahkan Kirana atas apa yang terjadi dengan dirinya.

"Gue sayang sama lu. Lu adik gue."

"Tapi lu nyari dia mau apa hah?!"

"Gue cuma kasihan dia sama lakinya lagi gak bener."

"Lu penghulu apa gimana ikut campur urusan orang?!"

"Jangan teriak-teriak, Mer. Nanti Mama denger." Mario menarik adiknya masuk ke dalam kamar, dia segera mengunci pintu kemudian mendudukan adiknya di sofa.

Tangan Mario berada di pundak Merlinda. "Gak gitu, gue sayang sama lu."

"Mana hape kakak?"

"Mau apa?"

"Lu sayang gak sama gue?"

Mario memejamkan matanya dan kemudian memberikannya. Sedetik kemudian Merlinda melemparkan ponselnya kuat sampai layarnya menjadi mati.

Mario memejamkan matanya, dia tahu ini akan terjadi.

"Gak usah terlibat lagi sama mereka, gue muak, Kak. Gue capek…. Hiks…"

Mario langsung memeluk adiknya, mendekapnya sangat erat.

"Janji sama gue, lu gak bakalan peduliin lagi mereka."

"Iya, gue janji."

🌹🌹🌹

Arjuna termenung mendengar penuturan bundanya, matanya memanas, tapi tidak mengeluarkan air mata. Seolah semua air mata itu telah hilang ditelan oleh bumi, menghilang begitu saja.

"Kamu sekarang paham 'kan, Bang? Kamu paham kan kenapa Bunda minta kamu harus jaga Rana?"

Arjuna mengangguk tanpa mengucapkan apapun.

Bunda Eliza memeluk anaknya dari samping, mendekap Arjuna erat. Dia tau betul, anaknya pasti kini sedang menyesali semuanya.

"Cari dia, Bang. Temukan Kirana, lalu bawa dia pulang. Dia gak punya siapa siapa lagi selain kita. Dia mau pergi kemana? Abang tega kalau Kirana kehujanan di luar sana?"

Arjuna menggeleng dalam dekapan ibunya. Bunda Eliza meneteskan air matanya berulang kali. "Makanya cari dia, Bang. Kasihan Papanya, dia mau lihat anaknya tumbuh dengan kebahagiaan."

Arjuna mengangguk, dia mendapat usapan di kepalanya dari sang bunda.

"Udah malem, abang istirahat dulu. Bunda sama Ayah juga mau nginep di sini. Udah besok kita cari Kirana."

"Arjuna menyesal, Bun."

"Iya, Bunda tau. Besok kamu ke makam papahnya Kirana ya, minta maaf sama beliau. Kamu juga harus temukan Kirana, Bang. Tebus dosa dosa kamu. Hari ini istirahatlah dahulu."

Arjuna merasa kekosongan saat bundanya melepaskan pelukannya kemudian menjauhinya. Hal yang terakhir Arjuna rasakan adalah sebuah tepukan di bahunya, disusul oleh suara sang ayah yang berkata, "Maaf."

Kemudian pergi meninggalkannya sendiri di sana. Tidak ada air mata yang keluar, tapi Arjuna benar benar merasakan sakit di ulu hatinya. Kenapa tidak ada yang mengatakan ini? Betapa jahatnya dia telah melukai sosok yang telah kehilangan ayahnya sejak kecil. Di tambah dua orang yang merawatnya, dan Arjuna hanya memberikan rasa sakit, menggoreskan luka di hati istrinya.

Pria itu mengusap wajahnya kasar dan melangkah menaiki lantai dua. Gerakannya terhenti saat hendak membuka pintu kamar, dia menoleh ke kamar sebelah. Dimana seharusnya di jam-jam ini dia mendengarkan lantunan yang penuh dengan ketenangan.

Kaki Arjuna otomatis melangkah ke sana, membuka pintu dan mendapati ruangan yang kosong. Dia duduk di bibir ranjang, kemudian mencoba menghubungi nomor yang selalu mengkhawatirkannya.

"Nomor yang anda tuju…."

Selalu sama, jawaban itu didapatkan oleh Arjuna selama beberapa hari belakangan ini. Beralih menelpon Hank, Arjuna perlu tahu perkembangannya.

"Hallo, Tuan?"

"Bagaimana?"

"Dompet milik Nyonya Kirana ditemukan di daerah Cirebon. Sepertinya ini adalah pencurian, kami sedang mencari pencurinya supaya bisa mengetahui dimana dia mengambilnya dari Nyonya Kirana."

Arjuna memejamkan matanya. "Dan bagaimana dengan ponselnya?"

"Ditemukan sudah dijual."

Pria itu memijat pelipisnya. "Cari dia, kau harus menemukannya."

"Baik, Tuan. Dan mengenai cincin yang anda inginkan, saya sudah menyuruh seseorang mengantarkannya. Itu akan tiba besok, Tuan."

"Fokus saja pada tugasmu mencari Kirana."

"Baik, Tuan."

Setelah menutup telpon, tangan-tangan Arjuna memijat kepalanya sendiri. Dia menarik napasnya dalam. "Maaf untuk semuanya. Kumohon kembalilah."

Bahkan Arjuna tidak sanggup melihat dirinya sendiri, dia terlalu membenci dirinya. Bagaimana bisa dirinya melihat sosok itu dengan penuh kebencian, disertai kata-kata kasar yang menyakitkan.

"Kumohon kembalilah, berikan aku kesempatan kedua."

Membayangkan bagaimana istrinya menangis dalam diamnya, mengadu dalam doa. Arjuna membenci dirinya sendiri. Demi Tuhan, pada kenyataannya dia tidak rela jika ada pria lain yang menyentuh Kirana selain dirinya.

Kirana miliknya, istrinya. Dan akan dia jadikan ratu di hatinya.

Tidak ada air mata yang keluar dari manik Arjuna, sepertinya sosok pemilik mata yang sebenarnya itu sudah lelah menangisi putrinya yang tidak bahagia.

"Maaf, tolong berikan kesempatan kedua."

🌹🌹🌹

TO BE CONTINUE

1
dwie 2025
kutunggu cerita selanjutnya keluarga ArjunaKirana Emak cantik sukses sehat dg karya yg semakin TOP....
/Kiss//Kiss//Kiss//Heart//Heart//Heart/
dwie 2025
suka bgt karakter bunda Eliza...apalgi klo sdh berdebat dg Arjuna bener2 terhibur dan sedikit melupakan kisah pilu Kirana 🤭
dwie 2025
visual kirana di bab brp Mak....
dwie 2025
ko ak nangis😭
dwie 2025
Kan ..
kan...
kan...
cerita semakin bikin gedeg...
dwie 2025
sdhlah terserah Emak ak sdh kecewa...knp hamil to Mak 🤣🤣🤣kpn it Arjuna tersiksa krn tllu cinta....puyeeengg ga sesuai ekspektasi 🤣
dwie 2025
jln ceritany sulit diprediksi bmkg🤣
dwie 2025
ak pilih Mario mak tolong kawinkan ak sama dia Mak 🤣🤣🤣
dwie 2025
Emak berikan hukuman yg selayaknya untuk Arjuna...pisahin ja Mak kan Kirana msh prawan...
dwie 2025
Emak ak mohon lindungi Kirana🤭
dwie 2025
Kirana jgn dibuat kecintaan dehh mak ak ga ridho/NosePick/
dwie 2025
Emak knp tega membuat anak gadis menangis dg status istri tak di anggap mana lihat lg ciuman sama gadis lain😭😭😭
Rika
bagus
Novita Sari
Luar biasa
Siti Sopiah
ya Allah begitu ceritanya.dan kau Arjuna mata yg kau untuk melotot itu bukan matamu..tp cornea yg kau dpt dr ayannya kirana.yaitu mertua mu sendiri bodoh
Carlina Carlina
eeee eyaang tar lu duluan yg mati dr pd kirana tauuuu
orang dah ma tanah bukan nya berbuat baik😏😏😏
iya usir aja juna eyang mu ,trus jngn boleh dteng" lg 😏😏😏😡😡😡
Carlina Carlina
si gobloggg😡😡😡😡
Carlina Carlina
eeyaaaaaangg lu dah tuaaa jahat bngeett😡😡😡😡😡
Carlina Carlina
iiihhh si eyang bner" otak nya nya dan g punya prasaan😡😡😡😡
Carlina Carlina
aaaahhhh air mata ini g bisa berhenti thorrr😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!