Serah Spencer adalah seorang Ratu yang terkhianati oleh tunangannya sendiri, Raja Louis dari kerajaan Mathilda.
Awalnya ia mengira dengan status pertunangannya akan membawa ketenangan juga kedamaian untuk rakyat dan kerajaannya di Regina yang sedang menjadi wilayah perebutan. Namun, setelah mengetahui rencana Louis yang licik, Serah memutuskan untuk tak tinggal diam.
Dia akan membalas Louis dan berdiri sendiri demi kerajaannya. Namun, sebelum itu ia harus lolos dari genggaman Louis.
Apakah Serah akan berhasil kembali ke kerajaannya sendiri yang sedang menjadi wilayah konflik antar Raja Louis dan Raja Grenseal? Sementara kedua Raja itu mulai jatuh cinta kepada Serah.
Apa yang akan dilakukannya nanti untuk melawan Louis sekaligus melindungi kekuasaannya sebagai Negeri yang bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 : Sang Dewi keberuntungan
Sore itu rombongan dari delegasi akhirnya meninggalkan kerajaan Mathilda. Satu-persatu dari mereka menaiki kereta kuda masing-masing. Grenseal, saat itu melihat ke sekeliling, seakan sedang mencari sosok Ratu Regina yang ingin dilihatnya sebelum ia benar-benar pergi. Tapi sayang, sosok Serah sama sekali tidak kelihatan, membuat hati kecil pria itu agak kecewa.
"Hmph...." Ia mendengus kasar karena tak berhasil bertemu dengan Serah.
Lalu tatapannya tanpa sengaja beralih ke arah Louis yang sedang berdiri tegak dengan senyum palsunya mengantar kepergian para tamu.
"Dia sangat pintar memakai topeng," ucap Grenseal dalam hati yang ingin sekali merobek senyum palsu yang ditampilkan Louis. "Dasar penjahat moral!" Rutuknya sekali lagi.
"Yang mulia?" Carles menatap Grenseal dengan heran saat melihat Raja muda mereka seperti sedang mengutuk Louis dalam hati. "Ehem...!" Carles sampai berdeham, menegur Grenseal yang masih melempar pandangan tajam pada Louis.
"Ah, maaf, ayo kita berangkat," ujar Grenseal setelah membalikkan badan.
Di dalam kereta kuda hitam dengan simbol khas pedang dan perisai yang saling berbenturan dari kerajaan Duncan pada bagian pintu keretanya, Carles yang duduk di sebelah Grenseal mengeluarkan surat yang tadi diterimanya dari Serah.
"Yang mulia, ini adalah surat dari Ratu Regina yang ia titipkan untuk anda," ucapnya sambil menyerahkan surat itu.
Grenseal menatap Carles seolah mempertanyakan apa isi dan maksud dari surat tersebut.
"Dia bilang anda bisa membukanya setelah keluar dari Mathilda," jelas Carles.
"Bukalah, Yang mulia," ujar salah seorang pengawal bernama Andreas. Dua orang lainnya tampak menatap antusias.
Grenseal kemudian membuka surat tersebut dan membacanya dengan seksama. Carles beserta tiga orang pengawal lainnya menunggu dengan penasaran. Masing-masing dari mereka berusaha menerka sendiri mengenai isi surat pemberian dari sang Ratu.
Tak berapa lama Grenseal meremas surat di tangannya sampai tidak berbentuk. Empat orang yang ada di dalam terkejut dengan reaksi sang Raja.
"Yang mulia ada apa?" Carles bertanya dengan cemas, pun ketiga orang yang tadinya antusias berubah jadi tegang.
"Dia membantu kita...," jawab Grenseal dengan seringai tipis yang muncul pada permukaan bibirnya.
Carles saling berpandangan dengan tiga orang lainnya. Lalu salah seorang dari mereka bertanya, "tapi mengapa anda merusak surat itu? Kami sempat berpikir kalau...."
"Aku hanya melakukan apa yang tertulis di dalam surat itu. Selesai membaca surat ini harus dirusak dan dilenyapkan," balasnya dengan ringan. "Apa ada yang membawa korek api? Aku ingin membakarnya," tanyanya kemudian menatap satu-persatu dari mereka.
"A-aku bawa," sambar seorang pemuda yang hampir seumuran dengan sang Raja. Ia merogoh saku bajunya dengan cepat. "Silahkan, Yang mulia," ucapnya sambil menyerahkan sebuah korek api berbentuk pistol kecil uang terbuat dari kayu.
.
.
Kereta kuda itu berhenti sejenak di pinggiran jalan, melipir ke bagian pinggir jalan. Kuda-kuda itu diberi makan oleh pengawal kusir kerajaan, sementara Grenseal bersama empat orang lainnya sedang membakar kertas pemberian Serah di bawah sebuah pohon ek.
Perlahan surat itu terbakar hingga menjadi debu yang ditiup oleh hembusan angin bersamaan dengan dedaunan pohon yang berjatuhan.
"Sebenarnya apa isi dari surat itu, Yang mulia?" Carles memulai percakapan dengan rasa ingin tahu.
"Dia akan membantu pemasokan pangan saat mengirimkannya ke kerajaan lain agar terlihat samar oleh Louis dan dia juga akan coba membicarakan ke Kerajaan sekitar untuk melakukan hal sama saat kereta-kereta pangan itu melewati jalur Duncan."
Akhirnya Grenseal menjelaskan juga isi dari surat yang diberikan oleh Serah.
"Tuhan, dia benar-benar Dewi keberuntungan bagi kita!" Mikael berseru dengan mata berkaca-kaca. akhirnya setelah beberapa bulan mereka memiliki harapan untuk bertahan.
"Rahasia ini harus dijaga, jangan sampai bocor keluar, kalian mengerti?" Grenseal menatap satu-persatu para pengikutnya dengan serius.
"Kami mengerti, Yang mulia, tenang saja!" Ucap Andreas memberi jaminan.
"Lalu, apa ada yang diinginkan oleh Ratu itu sebagai pertukaran?" Tanya pengawal pria yang paling tua di antara mereka itu.
"Dia ingin dibebaskan...."
Semua orang langsung terdiam setelah mendengar pernyataan Grenseal barusan, saling memandang dan melempar tanya satu sama lain.
.
.
Sementara itu kembali ke kerajaan Mathilda....
Louis terlihat berjalan menuju ke ruangan kamar Serah dengan wajah dingin. Kekesalan jelas tampak di raut wajahnya, karena wanita itu telah menggagalkan rencananya untuk mengambil alih Duncan di pertemuan tadi.
Tapi ekspresi muramnya seketika berubah tenang, bahkan terkesan ramah begitu ia memasuki ruangan kamar sang Ratu. Semua pelayan yang sedang berada di dalam sana segera membungkuk memberikan hormat, termasuk Serah sendiri.
"Yang mulia," ucap gadis-gadis itu dan juga Serah.
"Berdirilah," balas Louis dengan cepat lalu ia berjalan mendekati Serah, sementara Helena yang sedang ada di sana hanya menatap sebal.
Louis terdiam sejenak di sana sambil menatap Serah yang sepertinya menunggu ia untuk berbicara. Pandangan mata pria itu beralih kepada para pelayan, dan meski pandangannya bertemu dengan Helena, pria itu tak mengindahkan keberadaannya.
"Tinggalkan kami berdua," tegasnya.
Gadis-gadis itu langsung membungkuk dan undur diri secara teratur dari dalam ruangan. Helena menjadi yang paling terakhir keluar dan sempat melempar tatapan tajam pada Serah yang sedikit tersenyum sinis kepada gadis muda itu. Helena hanya mampu mendecak kesal lalu menutup pintu tersebut.
"Apa ada yang ingin anda katakan, Yang mulia?" Ucap Serah langsung setelah Louis kembali beralih menatapnya.
"Mengenai pertemuan tadi..., ada yang ingin aku tanyakan...." Matanya menatap tajam ke arah Serah. "Kenapa, kau melakukan keputusan itu, hm?" Tanyanya dengan emosi tertahan. Tapi Serah dapat menangkap amarah yang tersirat darinya.
"Aku hanya ingin membantu menolong mereka," ucap Serah berusaha agar dirinya terdengar seperti wanita yang naif.
"Kau yakin hanya itu?" Louis memandang curiga. Ia memicingkan mata untuk menyelidiki sang Ratu.
"Yang mulia, tindakanku hanya didasari atas kemanusiaan," jawab Serah dengan kata-kata yang lemah-lembut, "lagipula sebentar lagi aku akan menjadi bagian dari Kerajaan Mathilda, bukankah itu menjadi poin bagus? Citra anda akan terlihat baik," ujarnya sambil tersenyum tipis, seolah-olah ia telah merasa menjadi Ratu yang paling cerdik dan bijaksana dengan semua rencananya itu.
"Ah, jadi begitu...?" Louis berpura-pura terkejut, "Hahahaha, anda sangat pintar! Benar juga, semua orang pasti nantinya juga akan menganggap ku sebagai Raja yang bijaksana!" Sambungnya sambil tertawa. Serah pun mengangguk antusias sambil tersenyum.
"Dia ternyata hanya wanita bodoh, memikirkan cara paling naif untuk menarik simpati dan langsung merasa telah berjasa besar kepadaku...," Ujarnya dalam hati langsung meremehkan Serah. "Teruslah begini Ratu Serah, cepat atau lambat kau akan kehilangan mahkota mu...." Sebuah gambaran dalam pikirannya di mana Serah berdiri di atas papan catur raksasa sendirian dan dia menebas mahkota Ratu itu dari kepala Serah membuatnya menyeringai licik.
"Baguslah, terus saja berpikir aku adalah Ratu bodoh," ucap Serah dalam hati terkekeh kecil karena sandiwaranya cukup berhasil. "Tanpa kau sadari ada Raja lain yang akan bergerak melawanmu...."
Bayangan papan catur sebelumnya kini berganti dengan Serah yang berdiri menjauh dari posisinya di belakang, lalu Grenseal muncul sebagai posisi Raja yang akan siap melawan Louis nantinya.
Apa akan terjadi pertempuran di antara kedua Raja itu?
ato lewat hutan, tinggalkan sj dia😁
serah akan sukarela menyerahkan louis pdmu
jgn ampe louis jd sm serah, gk rela qu
jadi tumbal Louis buat muja kerang ajaib