Lisa Kanaya, meninggalkan keluarganya yang toxic untuk bertugas di pelosok desa. Siapa sangka dia berada di tengah tim yang absurd. Trio semprul dan dokter yang diam-diam menghanyutkan.
"Mana tahu beres tugas ini saya dapat jodoh," ucap Lisa.
“Boleh saya amin-kan? Kebetulan saya juga lagi cari jodoh," sahut Asoka.
“Eh -- "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Diam Atau Aku ....
Bab 33
Asoka meninggalkan ruangan, melihat Lisa sudah melewati lobby.
“Mau kemana dia?”
Khawatir kalau ditinggal pulang padahal masih tinggal di atap yang sama. Harus sabar dan hati-hati menghadapi gadis itu. Bisa-bisanya dia titip cowok ganteng pada Beni, meski hanya kelakar.
Semakin dekat, malah mendengar perdebatan dan suara merdu kekasih hatinya. Dengan siapa lagi dia berurusan, masalah Cecep saja sungguh meresahkan. Perdebatan yang dia dengar sepertinya memojokan Lisa, sebenarnya siapa yang datang.
“Ya ampun Lisa, miris banget hidup lo. Lepas dari Doni dapat yang begitu.”
“Doni,” ucap Asoka semakin bergegas dan ….
“Ada apa ini? Siapa yang berani menghina pacar saya?”
Kedatangannya menjadi perhatian, kecuali Lisa yang tidak menoleh. Berdiri di samping gadis itu merangkul bahu dan sedikit merem4s pelan seraya menyampaikan kalau dia ada di sini.
“Hah, mamposs lo. Udah datang bodyguardnya,” sentak Rama. “Kita nonton aja yang, dipojokan situ.” Rama menarik Yuli menjauh lalu duduk di undakan tangga lobby puskes.
Inka terdiam, lebih tepatnya terpukau dengan sosok yang baru datang. Siapa pula pria itu, tampannya. Meski pria yang sebelumnya dia duga kekasih Lisa juga lumayan tampan, tapi yang ini super sekali.
Kemeja lengan panjang maroon yang sudah digulung sampai siku dengan bawahan hitam dan alas kaki loafers hitam tanpa kaus kaki, melengkapi penampilan pria itu. Bahkan ia rela menukar Doni sekarang juga.
Inka berdehem lalu merubah gayanya menjadi lebih feminim. “Anda siapa?”
“Justru saya yang harusnya bertanya, kalian siapa dan mau apa? Datang langsung buat ribut.”
“Sebenarnya tidak mau ribut, kami datang baik-baik. Lisa yang selalu saja cari masalah,” tutur Inka.
“Drama queen,” ejek Rama dialas lirikan sinis oleh Inka.
“Masalah apa, biar saya yang selesaikan. Jadi, kalian siapa?”
Doni sejak melihat kedatangan Asoka sudah ketar-ketir. Khawatir kalau dia dikenali.
“Aku Inka,” ujar perempuan itu sambil mendekat dan mengulurkan tangan, tapi Lisa yang menyambut uluran tangan itu.
“Aku udah kenal, jadi silahkan pergi. Doni, bawa kekasihmu ini pulang. Bahkan Ayah pun tidak tahu lokasi tugasku sekarang, pasti kamu yang kasih info. Sejak kapan petugas boleh memberikan informasi ini pada pihak luar.” Penuturan Lisa membuat Doni semakin tidak karuan.
“Ck, nggak usah berlebihan. Doni hanya kasih alamat disini dan wajar karena kita keluarga. Salahnya di mana?”
“Maksudnya gimana? Informasi apa?” cecar Asoka. Lisa pun menoleh pada Asoka lalu kembali menatap Inka dan Doni sambil menunjuk. “Dia bekerja di rumah sakit juga.”
“Benarkah?” Asoka memperhatikan Doni mencoba mengingat di mana pernah bertemu atau mengenal pria itu. “Bagian apa?”
“Dia Doni,” seru Inka. “Pacar saya dan si Lisa ini nggak bisa move on karena pernah diputus oleh Doni. Dia bekerja di Sentral Medika, wakil manager HRD dan sebentar lagi akan naik jabatan. Iya ‘kan sayang?” Inka sampai menoleh agar Doni ikut menjelaskan apa yang sudah dia banggakan.
“Wakil manager,” gumam Lisa lalu terkekeh. “Sejak kapan?”
Asoka membuka ponselnya entah melakukan apa lalu menatap Doni.
“Doni Romdoni, staf HRD Sentra Medika. Bergabung sejak tahun 20xx,” tutur Asoka setelah membaca profil seorang Doni dari sistem rumah sakit. “Aku bisa laporkan kalau kamu sudah menyebarkan informasi yang seharusnya tidak boleh dipublish dan pemalsuan identitas.”
Doni semakin panik, dia mengenal sosok pria yang sedang bicara itu. Asoka Harsa, dokter yang diandalkan di UGD. Bahkan ia dengar selentingan, kalau pria ini memungkinkan menjadi kepala departemen setelah memiliki gelar spesialis.
“Ma-af dokter Asoka, saya tidak berniat begitu. Tapi, situasi yang … tolong maafkan saya. Lisa, jangan laporkan saya, kita pernah dekat masa kamu tega.” Doni bahkan sampai menghampiri dan berdiri di depan Asoka dengan kedua tangan menangkup di depan dad4
“Lah, kamu yang salah kenapa harus libatkan aku.”
“Doni, apaan sih. Kamu kenapa mohon-mohon dan yang dia bilang nggak bener ‘kan? ” Inka menarik lengan Doni agar menjauh.
Rama tergelak. “Ada yang ketipu.”
“Diam Inka,” sentak Doni. “Semua karena kamu, kalau kamu tidak merengek terus ingin selalu lebih hebat dari Lisa mana mungkin aku mengaku menjabat wakil manager.”
“Jadi benar, kamu Cuma staf di rumah sakit itu?”
“Bukan, kayaknya dia anak yang punya rumah sakit.” Yuli ikut bicara.
“Diam kalian!” pekik Inka. “Don, katakan kalau semua ini nggak benar? Lo bener wakil manager HRD dan bentar lagi bakal diangkat jadi manager ‘kan?”
Doni membisu, tatapannya mengiba pada Lisa agar tidak melakukan apa yang dokter Asoka ancam. Cari kerja susah dan sekarang dia terancam dipecat karena menyalahgunakan wewenangnya untuk mencuri informasi dari sistem.
“Doni!” teriak Inka lagi dan kali ini menarik perhatian. Ujang yang baru datang mengawasi dari jauh. Bidan magang yang sedang berjaga di IGD pun keluar untuk melihat ada masalah apa. Pun dengan Sapri yang baru datang membawa makan siang pesanan tim ikut menyimak meski tidak tahu ada masalah apa.
“Inka, sebaiknya kamu pergi. Doni bawa dia pergi, jangan bikin malu.”
“Lisa, tolong aku ya. Dokter Oka, saya mohon. Saya minta maaf,” tutur Doni.
Merasa tertipu dan kedatangannya bukan untuk pamer malah mendapatkan malu, Inka merangsek menghampiri Lisa. “Dasar wanita gil4, rasakan ini!”
Asoka sigap langsung menarik Lisa ke dalam pelukan menjauh dari Inka dan serangannya.
“Inka,” pekik Doni lalu menjauhkan wanita itu meski berontak dan berteriak histeris.
“Kamu yang gil4,” sahut Lisa dan menunjuk Inka.
“Hei, tenang.” Asoka menahan tubuh Lisa yang akan menyerang balik Inka. “Kalian pergi dan jangan mengganggu pacar saya.” Meski dengan ucapan datar, tapi raut wajah Asoka cukup mengintimidasi.
“Pa-car? Kalian pacaran?” tanya Inka heran memandang Asoka lalu Doni. Ingin mengalahkan nyatanya dia yang kalah bahkan sangat telak.
“Iya, kenapa? Kamu mau coba rebut pacarku, lihat saja kalau berani!” ancam Lisa. “Lepas, aku harus beri dia pelajaran.”
Namun, tangan Asoka menjauhkan bahkan sedikit mengangkat tubuh Lisa yang mungil dan membawanya ke dalam.
“Lepas!”
Agak khawatir dengan kekasihnya itu. Terkadang bisa sangat lembut, menggemaskan bahkan juga bar-bar seperti sekarang ini.
“Udah sana, pulang kalian,” usir Rama sudah berdiri. “Mana nasi gue Sap, lapar juga habis nonton drama.”
Di dalam Lisa masih berontak agar dilepaskan.
“Iket aja dok, kalau perlu bawa ke kamar. Cip0k sampe lemes, biar kapok. Kalau lepas bisa jamb4k-jamb4kan tuh.”
“Rama,” tegur Yuli.
“Diam atau aku cium?”
“Nah, ‘kan, ‘kan ….”