Nethaniel adalah pria muda tampan, sukses, dan berkarisma. Lahir di tengah keluarga konglomerat dan hidup berkelimpahan. Namun ada yang kurang dan sulit diperoleh adalah pasangan hidup yang tulus mencintainya.
Ketika orang tua mendesak agar segera berkeluarga, dia tidak bisa mengelak. Dia harus menentukan pilihan, atau terima pasangan yang dipilih orang tua.
Dalam situasi terdesak, tanpa sengaja dia bertemu Athalia, gadis cantik sederhana dan menarik perhatiannya. Namun pertemuan mereka membawa Nethaniel pada pusaran konflik batin berkepanjangan dan menciptakan kekosongan batin, ketika Athalia menolaknya.
》Apa yang terjadi dengan Nethaniel dan Athalia?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "I Miss You Because I Love You."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. IMU coz ILU
...~•Happy Reading•~...
Ethan melihat Athalia sambil berpikir cepat. Pertanyaan Athalia dan matanya menunjukan keyakinan dan keteguhan hati. "Anda tidak ingat saya?" Athalia kembali bertanya kedua kali, tanpa mengalihkan mata.
Ethan tidak menjawab dan tidak jadi melangkah. "Silahkan keluar." Ethan menahan pintu lift dan menggerakan tangan, mempersilahkan Athalia keluar.
Athalia tidak merespon, hanya menatapnya dan tidak beranjak. Kakinya seakan terpantek di lantai lift. Hal itu membuat Ethan terperanjak.
"Anda mau bicara di sini?" Tanya Ethan yang melihat Athalia belum mau bergerak, hanya menatap dengan mata hitam bening, menuntut kepastian. Sehingga Ethan menggerakan kepala ke arah pintu, namun Athalia tetap di tempat.
Refleks Ethan menjentikkan jari di depan wajah Athalia dan kembali menggerakan kepala ke pintu saat matanya bergerak. Athalia tersentak dan menggelengkan kepala melihat pintu lift.
Jantungnya tidak tenang setelah melihat raut wajah Ethan dengan jelas. Tidak seperti sebelumnya, kotor dan dibaurkan oleh kacamata hitam juga topi. Sehingga dia jadi ragu dan keyakinannya goyah.
Namun melihat Ethan masih menahan pintu lift agar tetap terbuka, Athalia terpaksa harus melangkah keluar.
Ketika Athalia telah berdiri di luar lift, Ethan menggerakan kepala agar Athalia mengikuti dia. Supaya mereka menjauh dari pintu lift. Athalia berjalan mengikuti dalam pikiran dan perasaan bingung.
"Silahkan bicara." Ethan menggerakan tangan, mempersilahkan Athalia bicara setelah cukup jauh dari lift dan dekat dengan ruang kerjanya.
Ethan berusaha tenang dan memberikan isyarat kepada Rion yang mendekat agar menyingkir. Karena dia sudah tidak bisa mengelak atau menghindar dari rasa ingin tahu Athalia.
Athalia yang tadinya yakin dengan penglihatan, bahwa pria di depannya adalah orang yang ditolong sebagai penyandang tuna netra, jadi goyah dan makin ragu.
Selain wajahnya bersih, mulus dan sangat tampan, sikapnya sangat berbeda. Dingin dan tegas. Sehingga Athalia terkejut sendiri dengan sikapnya yang sudah berani dan bertanya tidak sopan.
Dia mengatupkan tangan di dada. "Maaf, Pak. Mungkin saya salah kenal orang." Athalia jadi mundur karena dia sadar sedang di lantai mana. Apa lagi melihat ada yang mendekat, tapi langsung menyingkir.
Ethan berpikir cepat melihat perubahan sikap Athalia. "Mengapa tadi anda yakin, saya kenal anda?" Ethan bertanya menggunakan suara rendah dan dalam seperti pernah bicara dengan Athalia di caffee shop.
Sontak Athalia menatap Ethan dengan mata membulat. "Benar, itu anda. Sekarang saya yakin, setelah dengar suara anda." Ucap Athalia dengan suara tegas dan kembali mendekat.
"Suara saya? Suara seperti apa?" Ethan jadi lega melihat reaksi Athalia. Dia menyerah dan berusaha bisa menyelesaikan salah paham di antara mereka, setelah yakin dengan attitude Athalia.
"Seperti tadi. Saya tidak bisa tiru, tapi saya sangat ingat suara anda." Athalia makin yakin dan mengekspresikan dengan wajahnya.
"Seperti ini? Saya mau ke sebrang." Ethan meniru kalimat yang pernah dia katakan.
Athalia refleks menepuk telapak tangan dengan ujung jarinya. "Benar. Seperti itu. Tapi mengapa anda bisa melihat?" Mata Athalia membulat, setelah menyadari situasi dan bisa keluar dari pesona Ethan.
Ethan menahan senyum dalam hati melihat respon Athalia yang membuat mereka seakan teman lama sedang reuni dan mengenang yang pernah terjadi di antara mereka.
Ethan agak membungkuk dan memajukan wajahnya ke arah Athalia. "Saya bisa melihat wajah anda dengan jelas."
Athalia mundur selangkah. "Jadi hari itu anda menipu saya?" Athalia jadi emosi dan mengangkat tangan hendak memukul Ethan.
"Sssttt... pelankan suara anda." Mata Ethan menunjuk ke arah pintu ruang kerja. "Jangan katakan saya menipu. Karna saya tidak meminta tolong anda."
"Tapi anda pegang white cane. Jadi saya mengira...." Athalia tidak meneruskan yang akan dikatakan. Dia ingat kembali pertemuan mereka.
"Anda yang mengira, jadi bukan saya menipu. Anda sendiri yang datang pegang siku saya, dan menolong saya nyebrang." Ethan bersyukur dapat ide yang bisa meloloskan dia dari tuduhan menipu.
"Karna saya mengira..." Athalia berhenti. "Tapi setelah di sebrang anda minta tolong pesan minuman..." Athalia tidak terima dan jadi emosi.
"Oh, itu reaksi refleks sepertimu." Ucap Ethan.
"Jadi saat itu anda mengerjai saya?" Athalia makin emosi.
"Saya tidak mungkin mengerjai anda. Selain tidak berniat, saya tidak kenal anda. Jangan lupa, anda sendiri datang dan memarahi saya." Ucap Ethan serius, walau hatinya tersenyum. Wajah Athalia memerah dengar ucapan Ethan.
"Waktu itu kalau sudah di sebrang dan saya bilang: 'Terima kasih, tapi saya bukan penyandang disabilitas netra.' Apa yang anda lakukan? Bagaimana perasaan anda?"
"Saya akan memukul anda." Jawab Athalia cepat, karena emosi.
"Saya yakin, anda tidak memukul, tapi mendorong saya jatuh di trotoar. Jadi lebih baik diteruskan, agar bisa kenal gadis baik hati yang rela beli kopi, walau belum gajian..." Ucapan Ethan membuat wajah Athalia seperti udang rebus. Apa yang sudah dilupakan kembali terbayang.
"Anda keterlaluan. I hate you." Ucap Athalia dengan dada bergemuruh, lalu berlari menuju lift untuk menyembunyikan rasa hatinya.
Ethan berjalan cepat mengikuti ke lift, agar Athalia bisa turun. Karena tanpa kartu akses dari lantai itu, dia tidak bisa turun.
"Tidak baik, pagi-pagi sudah membenci orang. Saya akan mentraktirmu, minum kopi. Siap-siap saja." Bisik Ethan lalu meletakan kartu dan menekan G pada lift.
Ethan jadi tersenyum sendiri ingat mata Athalia melotot marah saat pintu lift hampir tertutup.
Athalia yang sudah sendiri dalam lift, seperti orang tersihir melihat Ethan dalam versi berbeda. Sangat tampan dan mempesona. Sikap dan mimik wajah Ethan sebelum pintu tertutup serta kata-katanya bagaikan panah yang menusuk dada. Hati dan jantungnya bergetar hebat.
Ketika keluar dari lift di lantai dasar, dia langsung ke toilet untuk menenangkan diri. 'Siapa pria itu? Mengapa hari itu dia hanya duduk di caffee?' Apa dia pejabat di perusahaan ini?' Athalia membatin di depan cermin.
'Tapi mengapa baru hari ini aku melihatnya? Padahal aku sudah tiga bulan lebih di sini. Apa karena dia tidak pernah lewat lobby? Tapi kenapa tadi dia lewat lobby?' Berbagai pertanyaan muncul di benak Athalia sambil melihat wajahnya yang terus berubah warna di cermin. Sehingga dia menyiram wajahnya yang panas dengan air dari kran wastafel berkali-kali.
Pertemuan tidak terduga, wajah dan sikap pria yang pernah ditolong terus mengaduk hatinya. Apa lagi mengetahui pria yang ditolong bisa melihat, alam pikirannya seakan dihanyutkan oleh gelombang dan sensasi unik yang tidak bisa dia defenisikan.
Athalia mengetuk pinggiran kepala berulang kali karena telah mengucapkan kata yang tidak pantas, tidak sopan dan tidak sesuai dengan hatinya.
Dia menarik nafas dan menghembuskan dengan kuat berulang kali agar bisa berpikir baik dan menemukan alasan, mengapa terlambat masuk kerja.
Setelah berpikir, Athalia keluar dari toilet lalu berjalan cepat menuju ruangan administrasi.
"Asyik, ya. Karyawan baru, masih traning, bisa masuk kerja suka-suka." Athalia disambut ucapan sinis Marci.
...~•••~...
...~•○♡○•~...